Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
51


__ADS_3

Setelah kepergian Lisa dan juga Kiana, Elsa dibawa menuju taman milik ibundanya oleh Vani neneknya, wajah Vani yang terlihat santai itu membuat Elsa dan Juga Daniel seketika menjadi tidak nyaman.


"Kenapa Nenek mu hanya diam saja?" bisik Daniel.


"Shut... diam," balas Elsa, yang membuat Daniel langsung diam membisu.


"Jadi hubungan kalian itu seperti apa?"


Deg


Mata Elsa dan Daniel langsung terbuka lebar saat Vani tiba-tiba saja angkat suara, "Iya Nenek?" tanya Elsa mengulang.


"Aku tanya hubungan kalian sekarang apa?"


"Hubungan kami?" tanya Elsa.


Tangan Daniel tiba-tiba saja menggenggam kuat tangan Elsa, membuat Elsa secara spontan langsung melirik ke arah Daniel.


"Hubungan kami sangat spesial, begitu spesial sampai saya sendiri ingin membuat Elsa sebagai ratu di Istana saya."


"Apa!" pekik Elsa tak percaya.


Mata Daniel dan Vani bertemu, suasana di taman itu begitu mencekam, dengan sorat mata Daniel yang menatap serius wajah Vani.


"Kau ingin menjadikan cucuku Ratu? Tapi lihatlah posisi mu sekarang!" tekan Vani menatap wajah Daniel.


Vani kembali memejamkan matanya dengan tangannya yang sedang mengambil cangkir teh miliknya, "Berbicara soal pernikahan itu memang gampang, tapi tanggung jawab, dan pembuktian itu yang susah."


"Elsa," panggil Vani..


"Ah... Iya Nek?" jawab Elsa yang langsung menoleh ke arah Vani.


"Katakan pada pria yang disamping mu itu, apa arti dari sebuah mahkota untuk pria dan wanita."


"Mahkota?" tanya Daniel mengulang.


Dengan susah payah Elsa meneguk air liburnya, "Mahkota bagi wanita dan pria itu seperti, sebuah tanggung jawab bagi seorang pria, dan mahkota untuk wanita itu adalah harga diri."


Daniel langsung terdiam mendengar penjelasan dari Elsa, "Jadi... Tuan Daniel, apa sekarang kau tau maksud dari ucapan ku?" tanya Vani.


"Iya?"


"Apa perlu saya perjelas lagi?" tanya Vani.


Buk!


Mata Elsa dan Daniel langsung terbuka lebar saat Vani tiba-tiba saja memukul meja,"Mulai sekarang, sampai seterusnya kalian tidak boleh bertemu dulu!"


"Apa!" pekik Daniel tak terima.


"Apa anda masih belum paham Tuan Daniel? Mahkota dari seorang wanita adalah harga diri, maka dari itu saya yang merupakan Nenek dari Elsa Pervis menolak secara tegas kedekatan anda, apa lagi jika hubungan kalian saat ini belum sangat jelas."


"Apa? Tapi_"


"Jika kau ingin serius dengan Cucuk ku, maka buatlah dirimu diakui di Oktavia, buat semua orang menjadi kagum dengan dirimu termasuk dengan Duke Pervis dan juga aku yang merupakan nenek dari Elsa."


Vani sudah berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati Elsa yang masih diam, "Elsa berdiri!"

__ADS_1


"Iya," Jawab Elsa yang langsung berdiri.


"Mulai sekarang kalian akan aku pisahkan, untuk anda Tuan Daniel, buktikan lah pada kelurga Pervis serta kelurga besar Elisabeth bahwa kau memang layak untuk Elsa."


Daniel hanya diam, begitu juga dengan Elsa, "Ayo Elsa kita pergi," Ajak Vani yang langsung diikutin Elsa.


Melihat Elsa dan Vani yang sudah pergi, Lucas langsung berjalan mendekati Daniel yang sedari tadi hanya diam.


"Yang Mulia," tegur Lucas dengan pelan.


"Lucas!" panggil Daniel.


"Ya Tuan?"


"Menurutmu bagaimana caranya agar aku bisa diakui di Oktavia?" tanya Daniel dengan wajah datar.


Lucas tidak tau harus menjawab apa, karena dia sendiri pun tau bahwa tidak akan mudah mengembalikan sebuah nama, yang sudah lama dilupakan.


"Mungkin dengan berperang?" jawab Lucas ngasal.


"Apa?" tanya Daniel memastikan, "Perang?"


Lucas langsung menganggukkan kepalanya, "Benar Yang Mulia perang, bukankah ini adalah waktu yang tepat untuk anda balas dendam?"


Daniel langsung diam, dia sendiri pun tidak ada punya pemikiran akan melakukan pemberontakan pada keluarga Kaisar," Ini sudah waktunya Yang Mulia," ucap Lucas.


"Anda sudah cukup bersabar, atas kematian ibunda anda, saya sebagai pedang anda pun merasa tidak terima saat mengetahui masa lalu anda Yang Mulia," ucap Lucas, Daniel hanya diam.


...~*~...


Dua hari kemudian di Istana Oktavia, Kiana beserta dengan ibunya berjalan menuju bagian Barat Istana, untuk menghadap pada Ratu Oktavia.


Danyi yang saat itu sedang melihat beberapa bunga, langsung menolehkan wajahnya ke arah Kiana dan juga Lisa.


"Luar biasa," ucap Danyi tersenyum.


"Bisa-bisanya kelakuan kalian ketahuan? Pasti salah satu kalian ada yang bersikap bodoh!"


Lisa hanya diam begitu juga dengan Elsa, "Cepat atau lambat Tuan Duke pasti akan menceraikan mu Nona Lisa, dan status mu sebagai Duehees Pervis akan hilang."


Lisa langsung mengepalkan kedua tangannya. ucapan yang Danyi lontarkan memang benar adanya, apa lagi saat itu Vani yang merupakan ibu kandung dari mending istri Roan, merasa tidak terima cucunya Elsa diperlakukan secara tidak adil.


"Aku Jadi_"


"AGGGH!" teriak seseorang.


Semua mata langsung terbuka lebar, begitu juga dengan Danyi yang langsung menolehkan wajahnya ke sumber suara.


"Apa itu?" tanya Danyi.


"Biar saya liat dulu Yang Mulia Ratu," sahut salah satu pelayan disana.


"Tidak! Biar aku sendiri yang mendatangi pelayan tidak sopan itu, berani-beraninya dia berteriak didalam Istana," ucap Danyi dengan geram.


Lisa dan Kiana menjadi saling lirik, saat semua orang sudah berjalan meninggalkan mereka berdua, merasa penasaran dengan hal itu, Kiana dan Lisa pun ikut mendatangi pelayan itu.


"Ada apa ini? Siapa tadi yang berteriak?" tanya Danyi yang sudah tiba.

__ADS_1


semua pelayan yang membelakangi Danyi langsung menolehkan wajah mereka, menghadap ke arah Danyi.


"Yang Mulia Ratu," lirih mereka.


"Itu..." Tunjuk salah satu pelayan disana.


"Apa?" tanya Danyi penasaran, yang langsung berjalan mendekat.


Deg!


Mata Danyi langsung terbuka lebar begitu juga dengan Kiana dan Lisa saat tau, apa penyebab dari para pelayan istana disana berteriak.


"Apa ini?" lirih Danyi tak percaya.


Ada 4 Mayat pria yang terpapar di halaman istana, tepat dimana Danyi biasa bersantai, 4 mayat pria itu merupakan prajurit bayaran yang Danyi utus untuk mencari tau dimana berlian yang pernah Elsa dapatkan di hutan Kelora.


"Yang Mulia, ada tulisan di tubuh mayat ini," sahut salah satu pelayan disana.


"Apa?"


Danyi langsung berjalan mendekat ke arah Pelayan itu, untuk melihat secara jelas tulisan yang dimaksud pelayan disana.


Jangan usik punya ku Ratu.


Deg


Mata Danyi langsung terbuka lebar bahkan tangannya tanpa sadar menjadi bergetar.


"Ajal mu tidak akan lama lagi Ratu," ucap Kiana membaca salah satu kalimat disana.


Bukan itu saja, dari empat mayat itu semuanya memiliki sebuah kalimat, yang mampu membuat Danyi menjadi ketakutan.


Nyawa dibalas dengan nyawa.


Kematian Anda tidak akan lama lagi, maka tunggulah kedatangan ku Ratu*


"Apa ini? Apa ini? Bawa ini semua! BAWA SEMUA MAYAT INI DARI HADAPAN KU! "teriak Danyi.


Semua pelayan terkejut saat Danyi tiba-tiba saja berteriak, Matanya terbuka lebar, dan tubuhnya bergetar ketakutan saat melihat tulisan yang ada pada tubuh mayat itu.


"Ini mirip seperti kejadian malam itu!" sahut Kiana tiba-tiba.


"Apa maksud mu?" tanya Danyi yang langsung menoleh ke arah Kiana.


Mata Kiana langsung melirik ke arah Danyi, "Pada malam itu, dikediaman Duke Pervis pun pernah kedatangan mayat!"


"Apa!" pekik Danyi tak percaya.


"Iya, mayat itu... Adalah orang yang kita jadikan sebagai kurir pengantar barang."


"Saya yakin sekali, orang yang menaruh mayat ini, pasti orang yang sama," ucap Kiana penuh dengan kekhawatiran.


"Orang yang sama?" lirih Danyi mengulang.


"Nona Kiana!" panggil Danyi.


"Iya Yang Mulia."

__ADS_1


"Bisa kau ceritakan, kenapa mayat itu ada dikediaman Duke Pervis?"


TBC


__ADS_2