Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
48


__ADS_3

Suasana didalam ruangan berubah menjadi tegang, Elsa tersenyum ke arah Kiana yang terlihat pucat, mungkin dia takut rencana yang dia buat akan ketahuan malam ini.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan putra Mahkota, mau dia menikah dengan wanita lain ataupun kau aku sudah tidak peduli lagi," ucap Elsa.


Daniel tersenyum puas mendengar ucapan dari Elsa, dia senang Elsa bisa bertindak dengan tegas seperti ini.


"Lagian buat apa juga aku menikah dengan putra mahkota jika tidak ada dasar cintanya benar kan ayah?" tanya Elsa tersenyum.


Roan hanya diam, "Pernikahan yang dijalankan secara terpaksa itu tidak akan berjalan lama, begitu juga dengan pernikahan yang didasarkan demi sebuah kekuasaan benarkan Ka Kiana?" tanya Elsa.


"Apa?"


"Aku bertanya-tanya apakah kakak mencintai Putra Mahkota secara tulus? Atau kakak hanya menikahi dirinya karena sebuah harta?"


"Apa?" pekik Kiana tak terima.


"Aku jadi kasian dengan Putra Mahkota," ucap Kiana dengan mimik sedih


"Kenapa harus kasian?" tanya Daniel tersenyum.


"Ya... Kasian karena, ka Kiana kan tidak bisa mengurus keuangan, dia hanya bisa mengurangi keuangan aja," jawab Elsa dengan ceria.


"Hahaha kau ini polos sekali ya," sahut Daniel yang langsung mengelus kepala Elsa.


Kiana langsung mengepalkan kedua tangannya, wajahnya terlihat memerah, karena tidak terima atas ucapan Elsa barusan.


"Elsa hentikan, ucapan mu itu sudah keterlaluan!" tekan Roan, Elsa langsung menoleh ke arah ayahnya.


"Baik ayah, Ka Kiana aku minta maaf ya jika kata-kata ku ada membuat kakak tersinggung," ucap Elsa tersenyum.


"Daniel ayo duduk sini," ajak Elsa, Daniel langsung menurut.


Daniel dengan wajah tersenyum duduk disamping Elsa, wajah Elsa nampak ceria begitu pula dengan Daniel, berbeda sekali dengan Kiana dan Lisa, yang terlihat pucat menatap ke arah makannya.


"***** makan ku sudah hilang, singkirkan ini semua, berikan hidangan penutup sekarang!" perintah Roan.


"Baik Tuan Duke."


Seluruh pelayan dengan sigap langsung membersihkan meja makan, dan menggantinya dengan hidangan penutup.


Tak lama dari itu, segerombolan pelayan datang dengan membawa napan berisi hidangan penutup, semua makanan sudah terhidang dimeja, Elsa diam menatap makanan itu, dengan Daniel yang terus menggenggam kuat tangannya.


Mata mereka bertemu Daniel menganggukkan kepalanya ke arah Elsa, dengan penuh keberanian Elsa meremas kuat tangan Daniel.


"Silahkan makan," ucap Roan sambil memejamkan matanya.


"Tunggu!"

__ADS_1


Elsa berkata dengan tampang datar saat secangkir teh akan masuk ke dalam mulut ayahnya, semua orang terdiam saat Elsa tiba-tiba saja meninggikan suaranya.


Mata Elsa langsung melirik ke salah satu Pelayan yang ingin beranjak dari ruang makan, "Kau! Berhenti di sana!" tunjuk Elsa pada pelayan itu.


"Saya? Ada apa Nona?" tanyanya bingung.


"Mendekatlah ke arah ayah ku, dan cicipi teh yang sudah kau bawa!" perintah Elsa.


"Iya?" tanyanya bingung.


"Apa kau tuli? Aku bilang mendekatlah ke arah ayahku dan cicipi teh yang kau bawa!" tekan Elsa.


Semua orang langsung terdiam, Elsa menatap datar ke arah pelayan itu, membuat semua pasang mata langsung melirik ke arah pelayan itu.


"Kenapa? Kenapa hanya diam? Apa ada sesuatu di dalam teh milik ayah?" tanya Elsa.


"Ti..."


"Jika tidak ada, kenapa kau harus takut? Cicipilah teh yang kau bawa itu, dan buktikan pada semuanya, bahwa teh itu tidak mengandung racun!"


Deg


"Apa racun?" pekik Roan tak percaya.


Tubuh Lisa dan Kiana tiba-tiba saja menjadi kaku, mereka berdua langsung saling lirik satu sama lain, membuat Daniel semakin percaya, bahwa ada sesuatu didalam minuman milik Roan.


"Itu hanya pemikiran ku saja ayah, karena waktu sore hari tadi, salah satu pelayan ku memberitahu bahwa ada orang asing yang dengan lancang masuk ke dalam dapur," ucap Elsa menjelaskan.


"Jagan minum tehnya ayah, apa ayah tidak tau musuh itu bisa saja ada didekat kita," ucap Elsa.


"Maaf!" potong Daniel tiba-tiba.


"Bukankah ini terasa aneh? jika pelayan itu hanya diam, bukankah ini menjadi sangat jelas," sahut Daniel.


Semua pasang mata langsung melirik ke arah Daniel, "Jika pelayan itu tidak mau mencicipi teh yang dia bawa untuk tuan Duke, berati didalam teh itu memang sudah tercampur sesuatu, Tuan Duke anda harus cepat selidiki maksud pelayan itu," ucap Daniel menatap tajam pelayan itu.


"Apa! Tidak Tuan Duke... Saya tidak pernah mencampurkan apapun pada minuman anda, saya bersumpah!" ucapnya dengan mimik ketakutan.


"Kalo kau sangat yakin," Roan langsung mendorong cangkir tehnya ke arah pelayan itu.


"Minumlah dan buktikan bahwa teh ini tidak mengandung racun!"


"Iya?"


Semua yang ada didalam ruangan menjadi tegang, pelayan itu terlihat ketakutan saat Roan memberikan cangkir tehnya ke arah dirinya.


"Padahal Kau bisa hidup dengan nyaman, itupun jika kau mau berkata dengan jujur," sahut Elsa tiba-tiba.

__ADS_1


pelayan itu langsung melirik ke arah Elsa yang terlihat santai menatap dirinya, lalu matanya langsung beralih ke arah Lisa dan Kiana, dimana mereka hanya bisa diam memperhatikan situasi.


"Apa kau takut? Apa ada seseorang yang mengancam dirimu untuk berkata jujur?" tanya Elsa.


Tangan pelayan itu langsung terkepal kuat, Roan masih menatapnya tajam pelayan itu begitu juga dengan beberapa orang disana.


"Maafkan saya Nona, Saya hanya menjalankan perintah saja," ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Apa?"


BRAK!


Roan langsung memukul meja makan dengan kuat, membuat semua orang yang ada disana menjadi terdiam, tatapannya terlihat tajam menatap ke arah pelayan itu.


"Kurang ajar! Katakan siapa yang memberimu perintah!" tekan Roan.


Wajah Elsa terlihat datar menatap ke arah ayahnya begitu juga dengan Daniel, pelayan itu sangat ketakutan saat Roan meninggikan nada bicaranya, yang membuat pelayan itu dengan cepat bersujud memohon ampun pada Roan.


"Maafkan saya Tuan Duke," ucapnya penuh mohon


"Sepertinya dia diancam ayah, tidak ada gunanya juga ayah mendesak dirinya!" sahut Elsa.


"Penjaga bawa pelayan itu ke ruang bawa tanah, untuk diinterogasi!" perintah Elsa pada penjaga yang ada disana.


"Baik Nona!" jawab mereka serempak.


Pelayan itu menggelengkan kepalanya saat dua penjaga disana mulai menyerat tubuhnya, "Tuan Duke... Saya tidak bersalah, saya hanya diancam Tuan Duke, mohon maafkan saya," ucap pelayan itu penuh mohon.


Semua yang ada didalam ruanagan itu hanya diam saat pelayan itu telah dibawah pergi keluar ruangan, tidak ada satupun yang mau menolong pelayan itu, Mata Elsa langsung melirik ke arah ayahnya.


"Ayah!" Panggil Elsa.


"Iya."


"Ayah izinkan Saya dan Daniel yang menginterogasi pelayan itu."


"Apa?"


"Saya yakin pasti ada maksud lain kenapa pelayan itu melakukan hal ini pada kelurga kita."


"Elsa... Se-"


"Tidak ayah," potong Elsa.


"Jika kita menyerahkan begitu saya kasus ini pada Tuan Sam, mau sampai kapanpun pasti khusus ini akan terus berlanjut."


Roan langsung terdiam menatap ke arah putrinya, "Aku punya cara tersendiri agar kasus ini bisa cepat selesai ayah."

__ADS_1


"Serahkan saja semuanya pada ku," ucap Elsa penuh percaya diri.


TBC


__ADS_2