
Beberapa bhikkuni di belakangnya juga menghampiri dan melihat, wajah beberapa dari mereka terkejut, sepertinya mereka belum pernah melihat wanita yang begitu cantik, wajah beberapa orang dari mereka cemburu, dan juga tidak memiliki niat baik.
"Mengapa masih tetap diam di sana, cepat tahan tangan dan kakinya!" Kepala bhikkuni itu yang sedikit lebih tua berteriak pada bhikkuni yang berada di sekitarnya, beberapa orang itu kembali tersadar dan kemudian mengelilingi Lexie.
Lexie sendirian, tidak mampu menghadapi mereka, dia juga sama sekali tidak bisa ilmu bela diri, dengan cepat sudah di kendalikan oleh beberapa bhikkuni.
Kepala bhikkuni itu mendengus, berjalan mendekat dan mengeluarkan satu pil kemudian memasukkannya ke mulut Lexie, lalu membekap mulut Lexie memaksanya untuk menelannya.
Setelah beberapa perjuangan Lexie tetap tidak melawan tindakan beberapa orang itu, dia terbatuk kemudian pil itu tertelan olehnya. Untuk sesaat Lexie merasa tubuhnya panas sekali, seperti terbakar oleh api, meskipun dia tidak pernah mengalami perasaan seperti ini, tapi tubuhnya seakan membutuhkan sesuatu yang mendesak, keinginan seperti ini dia sudah mengerti secara personil.
Ini adalah obat perangsang!
Beberapa bhikkunj yang melihatnya terjatuh lemas di lantai, kemudian mereka melepaskan tangan mereka, salah satu bhikkuni itu membawakan satu set pakaian bersih, beberapa orang bersama menggantikan pakaian bhikkuni untuk di pakai Lexie, tidak lama, Lexie sudah menjadi seorang bhikkuni yang cantik.
"Aku sudah mengatakan bahwa gadis ini sudah pasti bisa." Bhikkuni pertama tadi tersenyum puas.
"Ya, kali ini kamu melakukan pekerjaan dengan baik, jika berhasil, maka jika orang itu memberikan hadiah uang sudah pasti akan ada bagianmu." Bhikkunj tua itu dengan puas memandang dua bhikkuni lainnya yang sedang menyeret Lexie keluar, kemudian dia berkata: "Oh iya, apa dia datang sendiri?"
"Tidak, dia masih memiliki kakak laki-laki dan seorang adik laki-laki yang menunggu di depan pintu, tapi bisa pergi ke tempat terpencil seperti ini untuk berlindung dari hujan, sepertinya bukan dari keluarga besar."
"Tetap saja tidak bisa dianggap enteng, jika membuat masalah pada tamu kita, maka kita tidak akan mendapatkan keuntungan melainkan mendapatkan masalah, kamu pergi ke depan pintu usir kedua orang itu." Kata bhikkunj itu memerintahkan.
"Baik." Bhikkuni itu menjawab sekilas, kemudian pergi ke depan pintu.
__ADS_1
Hujan sudah jauh lebih kecil dari sebelumnya, penduduk desa yang berlindung dari hujan itu sudah pergi, ketika hujan sudah mengecil hanya Morgan dan Lucas masih di depan pintu, melihat tidak ada pergerakkan di pintu hatinya cemas, ketika ingin mengetuk pintu, dia melihat pintu terbuka, dan yang keluar adalah bhikkuni sebelumnya.
Bhikkuni itu membuka pintu dan melihat mereka, menunjukkan ekspresi terkejut, "Hei, kalian masih di sini?"
"Perkataan macam apa itu, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan menunggu adikku di sini." Morgan memang telah menunggu lama, emosinya sudah tidak baik.
Bhikkuni itu menatapnya sekilas, "Adikmu baru saja sudah pergi meninggalkan kuil ini, untuk apa kalian menunggu di sini?"
"Sudah pergi? Bagaimana mungkin, kami terus menunggu dia di sini, kemana dia bisa pergi?" Morgan tidak percaya, hatinya mulai panik.
Bhikkuni itu memutar bola matanya, ingin menutup pintu, "Mana aku tahu, dia pergi melewati pintu belakang setelah berganti pakaian. Perayaan kuil ini adalah kesempatan bagi orang yang percaya untuk saling bertemu, mungkin adikmu itu pergi meninggalkan kalian karena ingin bertemu dengan pasangannya? Sudahlah, sekarang hujan Sudah tidak deras, kalian jangan berdiri di depan pintu kuil ini, cepatlah pergi, pergi!"
Setelah bhikkunj itu selesai bicara, dia kemudian menutup pintu.
"Kakak, tidak akan meninggalkanku!" Pandangan mata Lucas tegas, tidak ada keraguan, dia dengan panik meraih tangan Morgan, "Kita harus pergi melihat, apakah kakak menemui bahaya?"
Ketika Morgan mendengarkan Lucas berkata seperti itu, dia merasa itu tidak mungkin, dalam beberapa hari terakhir, Lexie tampaknya sudah memiliki rasa cinta terhadap Yang Mulia, dan juga dengan tingkat kepeduliannya dengan Lucas, tidak mungkin dia akan meninggalkan Lucas untuk pergi, satu-satunya kemungkinan adalah Lexie menemui bahaya.
Dan lagi nada bicara dan tindakan bhikkuni ini benar-benar tidak seperti bhikkuni!
Morgan berpikir, makin ada sesuatu yang terjadi, dia bergegas mengeluarkan tabung bambu kecil dari tangannya, menarik benang dan mengarahkannya ke langit, asap putih langsung membumbung naik, suara ledakkan tiba-tiba terdengar di pegunungan.
Di depan kuil Budha di puncak gunung, ada seorang biksu kecil yang memegang payung untuk Victor, dia mendongak dia melihat asap putih yang terlihat dari sisi gunung, alisnya mengkerut, detik berikutnya, dirinya sudah muncul di jarak yang sudah lumayan jauh.
__ADS_1
Biksu kecil itu dengan bodohnya mengerjabkan matanya, mengira matanya rabun, jelas-jelas orang tadi berada di bawah payungnya, tapi dalam sekejab dia sudah melangkah sejauh itu.
Hujan tidak besar tapi menyebarkan semacam warna yang menutupi langit dan bumi.
Lexie dalam keadaan setengah sadar, di seret ke sebuah kamar tersembunyi, dua bhikkuni bergegas keluar setelah mendorongnya masuk ke dalam ruangan.
Kesadarannya mulai hilang tapi dia dengan keras kepala, memegang pecahan mangkuk dengan erat, sekujur tubuhnya tidak bertenaga, tidak menggunakan pecahan mangkuk itu untuk melukai orang lain demi melindungi dirinya sendiri, tapi setidaknya dia bisa menggunakan pecahan itu untuk menggores telapak tanganya, menggunakan rasa sakit untuk membuat dirinya tetap terjaga.
Lexie di dorong ke tanah, sekujur tubuhnya tergeletak di atas tanah tidak bertenaga, mendengar suara langkah kaki yang datang dari depan, dia mendongak, matanya kabur tapi masih, anehnya dia masih bisa mempertahankan akal sehatnya.
Lexie tidak tahu matanya yang redup, memakai pakaian sebagai seorang bhikkuni, dan di tambah wajahnya yang cantik, seketika membuat pria yang berdiri di depanya itu bertepuk tangan dengan puas.
"Ya, ya ini bagus!" Tepukan tangan itu berasal dari pria gemuk berusia 30 tahunan, kualitas pakaian yang dikenakan sangat bagus, terdapat dua batu giok hijau yang tergantung di pinggangnya, lemak di perutnya itu bergoyang beberapa kali, dia kemudian berteriak pada orang-orang di luar pintu, "Ini bagus aku suka, jika aku sudah menikmatinya hingga puas, maka kalian akan mendapatkan hadiah!"
Pria seperti ini jika Lexie melihatnya pasti akan merasa mual dan ingin mutah, tapi pada saat ini, mungkin karena efek obat, ketika Lexie melihatnya Lexie tidak bisa menahan untuk tidak menelan air liurnya, sepertinya tubuhnya memiliki semacam perasaan mendamba.
"Wanita cantik, kemari kakak akan menyayangimu." Pria gemuk itu membungkuk dan menggendong Lexie, berjalan ke arah ranjang selangkah demi selangkah, tadinya dia ingin menunjukkan pesonanya sebagai seorang pria, tapi karena dia terlalu gemuk dan kurang olahraga dalam jangkah panjang, ketika menggendong Lexie dan berjalan beberapa langkah, langkahnya sudah tidak menentu, ketika sudah di samping ranjang, dia hanya bisa berguling sambil tetap memeluk Lexie.
Kepalan tangan Lexie makin erat, sangat ingin mengunakan potongan potongan mangkuk ini untuk memotong tenggorokannya secara langsung! Tapi, kenyataan begitu kejam tubuhnya tidak bertenaga, bahkan sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat tangannya.
Pria gemuk itu bangkit dari kasur, menggosok lengannya yang sakit, kemudian segera naik ke atas tubuh Lexie, masih belum naik saja dia sudah tidak sabar untuk menarik pakaian Lexie.
"Tidak ..." Lexie bergumam, tadinya dia ingin berteriak keras, tapi kata-kata yang di keluarkan itu sangat lemah, merangsang sifat buas pria itu.
__ADS_1