Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Pemilihan Anggota Baru


__ADS_3

Lexie menatap pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tangan yang memegang secangkir teh lupa untuk di letakkan, setelah beberapa saat Lexie baru terfokus, "Apa kamu yakin ingin membuat tim bersamaku? Aku tidak memiliki apa-apa terhadap operasi mesin."


Yang Lexie bisa, tidak lebih dari pembuatan senjata yang memiliki beberapa kelebihan.


"Siapa yang memintamu untuk bisa? Aku sudah mengatakannya tadi, kamu cukup mengikutiku, bukankah sudah bisa jika aku bisa?" Pemuda itu menggelengkan kepalanya, duduk tepat di seberangnya, mengabaikan pandangan mata orang-orang di sekitarnya, tidak membiarkan Lexie untuk menolak dirinya, "Namaku Wilson Wu, sepertinya jika di lihat dari umurmu lebih kecil dariku, kamu bisa memanggilku kak Wilson."


"Kak Wilson?" Sudut bibir Lexie berkedut, "Apa tidak aku memanggilmu dengan tuan Wilson saja?"


"Apa maksudmu dengan tuan Wilson?" Wilson mendengarnya alisnya langsung berkerut.


"Haha ..." Lexie tersenyum canggung, melambaikan tangannya, "Tidak ada maksud apa-apa, kita hampir seumuran, lebih baik aku memanggilmu nama saja, namaku Lexie, dan dia bernama Ernie."


Terhadap rekan satu tim yang mengambil inisiatif untuk membantu ini, Lexie merasa dia tidak perlu menolak, bukankah pria berbaju hitam itu sudah berkata, agar Lexie bersikap rendah hati, maka dia sudah menang.


Awalnya berpikir bahwa ada Wilson yang tidak paham itu sudah cukup, tidak di sangka baru saja Wilson duduk, seorang pemuda kembali berjalan ke arah Lexie, pemuda itu mengenakan pakaian katun polos, tidak terlihat mewah, tapi jika di perhatikan dengan teliti, setiap jahitan di pakaian itu sangat elegan, kemewahan di sekujur tubuhnya itu cukup untuk membuat orang memandang rendah dirinya.


Dia berjalan ke sisi kiri Lexie dan duduk sambil tersenyum berkata: "Aku juga bersedia membentuk tim dengan nona, kuharap nona tidak akan menolak, orang banyak maka kekuatan akan lebih besar, meskipun aku tidak mungkin adalah yang paling kuat tapi aku mengerti mengenai operasi mesin."


"Bukankah aku sudah mengatakannya, aku bisa melakukannya sendiri, siapa yang ingin membentuk tim denganmu, kamu datang ingin merebut tim kan?" Lexie masih belum berbicara, Wilson sudah terlebih dulu berbicara, raut wajahnya dengan tidak baik menatap wajah orang di samping itu, pria itu memang agak tampan, seorang pria bertampang seperti ini, apa ingin berebut dengan para wanita?

__ADS_1


Otot-otot di wajah Lexie berkerut, tapi orang-orang masih mengejek Lexie karena tidak memiliki tim, sekarang sudah ada dua, benar-benar langsung menampar wajah mereka, jadi terdapat senyum di wajah Lexie lagi, "Ini, aku tidak keberatan bertambah 1 orang lagi, tapi temanku ini tampaknya tidak setuju. Atau kamu pergi ke sana dan melihat, lihatlah di sana sepertinya beberapa orang sedang mendiskusikan sedang membentuk tim."


Terhadap pria yang memiliki paras yang mempesona, Lexie juga merasakan kewaspadaan secara naluriah, jika ingin menyalahkan maka harus menyalahkan Victor yang meninggalkan kesan mendalam padanya, semakin tampan pria itu, maka semakin tidak tenang, jadi, maaf Lexie benar-benar memiliki pemikiran tidak baik terhadap pria tampan.


"Tidak, aku berharap menjadi 1 tim dengan nona, aku sangat tulus, dan lagi aku pasti akan bisa membantu." Pria itu mengeluarkan sepotong perkamen dari balik pakaiannya, di atas perkamen itu, merupakan sebuah peta, tapi itu bukan peta umum, tapi peta yang di gambar dalam lima arah, "Inilah kugambar dengan asal, bisa dianggap aku memperlihatkan kemampuanku."


Lexie tidak mengerti mengenai konsep lima arah, sekilas pandang dia merasa dirinya tidak mengerti sama sekali, tapi Wilson yang berada di sebelahnya setelah melihatnya seketika memiliki perubahan, jari-jari Lexie menggosok cangkir teh dan bertanya: "Dia demi membalas budiku karena membayar makanannya, kalau begitu bolehkah aku bertanya ... Mengapa kamu inhn satu tim denganku?"


Pria itu tersenyum, tawanya itu seperti ada kejutan, Lexie harus berkata pria ini adalah pria yang paling tampan yang pernah di lihat Lexie selain Victor.


"Karena aku merasa nona sangat cantik, hatiku menyukai wanita cantik, jadi aku tentu saj ingin satu tim dengan nona." Pria itu menjawab sambil tersenyum, untungnya hampir semua orang di restoran ini adalah pria, jika tidak, tidak tahu senyuman itu bisa membawa berapa hati wanita.


Ernie yang mendengar di sebelah, segera mengeluarkan cakar kecilnya, ingin menjaga reputasi Nona-nya sendiri, "Kamu ini, mengapa kamu berbicara seperti itu?"


Pria itu tertawa lagi, "Hanya ingin berkata jujur, aku tidak merasa tidak masalah, itu lebih baik ddi bandingkan mengatakan perkataan yang tidak sesuai hati untuk membohongi orang bukan."


Ernie masih ingin berdebat dengannya, tapi Lexie menahan tangannya, menggelengkan kepalanya, "Sudahlah untuk apa repot-repot berdebat? Meskipun aku tidak peduli jika bertambah satu orang di dalam tim, tapi aku harus melihat pendapat Wilson."


Pria itu menolehkan kepala, memandang ke arah Wilson, "Namaku Martin Nai, tidak tahu ujian ke depannya, lebih baik menjalin pertemanan bukan dari pada mencari musuh, bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


Wilson ragu-ragu, pandangannya tanpa sadar menyapu pada perkamen di tangannya, meskipun raut wajahnya masih tidak bersahabat, tapi pada akhirnya dia mengangguk, bisa dianggap sudah setuju pria itu untuk bergabung.


Tim di pihak mereka baru saja terbentuk, kemudian melihat orang-orang lain di restoran juga hampir selesai membentuk tim. Pria berbaju hitam itu memanggil beberapa teman dan mulai memberikan kain hitam untuk orang-orang yang berpartisipasi dalam penyisihan satu per satu, lalu semua orang dibawa menaiki kereta kuda.


Di kerta kuda, Lexie berpikir, begitu banyak orang , sudah pasti harus menggunakan lusinan gerbong kereta kuda, bagaimana pun tidak mungkin sama sekali tidak mnarik perhatian orang-orang di sekitar, pavilliun Heaven sebenarnya menggunakan cara apa untuk mengatasi masalah ini?


Sebenarnya jika di pikirkan baik-baik, paling-paling ada jalan rahasia di restoran ini, hanya tidak di ketahui kemana jalan rahasia itu tertuju.


Setelah sekitar setengah jam, pria berbaju hitam berteriak, "Sudah sampai, tolong semua lepaskan kain hitamnya."


Ketika semuanya sudah melepaskan kain hitam, mereka semua baru menyadari, neraka sudah berada di tengah lembah, mereka hanya bisa melihat dengan jelas beberapa meter di depan mereka, di atas kepala mereka adalah langit abu-abu, di kejauhan tidak ada yang bisa di lihat, berada di dalam kabut tebal bahkan tidak ada benda yang bisa membeda arahnya, jika ingin keluar sama sekali bukan hal yang mudah.


Bahkan penyaringan masuk ini sudah begitu sulit, itu menunjukan Mangala pavilliun Heaven begitu gemilang selama ratusan tahun.


Lexie tiba-tiba merasa untungnya saat itu ketika di kota Phoenix dia mengambil salah satu kuota masuk dari tangan Kevin, jika tidak Lexie pasti tidak akan bisa melewati penyaringan murid seperti ini.


"Dong."


Pria berbaju hitam itu membunyikan gong, mengumumkan bahwa dia sudah mulai menghitung waktu, setiap orang mulai menjelajahi jalan setapak sesuai dengan tim yang telah mereka buat sebelumnya, banyak orang yang memulai perhitungan dengan kompas, seketika pemandangan ini terlihat sedikit heboh.

__ADS_1


__ADS_2