
kabar bahwa kelurga Elbert memilih memundurkan diri dari peperangan telah tersebar luar, seluruh pasukan kekaisaran telah kembali ke ibu kota untuk menyampaikan hasil kerja keras mereka kepada Kaisar Oktavia.
Dengan adanya kabar tersebut, Kitell yang merupakan Kaisar Oktavia memutuskan akan mengadakan pesta dansa untuk menyambut kemenangan mereka, tentu saja mendapatkan pemberitahuan itu seluruh kota Oktavia sangat gembira, semua penduduk Oktavia sangat antusias dengan kegiatan tersebut bahkan para nona bangsawan sekali pun.
"Luar biasa, ini merupakan kesempatan emas untuk diriku," pekik Kiana didalam kamarnya.
Sebuah kabar bahwa kaisar Oktavia akan mengadakan pesta dansa telah sampai ke telinganya Kiana, wajahnya langsung berubah ceria mendapatkan kabar itu.
"Aku... Tidak boleh membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu saja, ya... Ini adalah kesempatan emas yang tidak mungkin terjadi kedua kalinya."
"Aku harus mengunakan kesempatan ini sebaik-baiknya," ucap Kiana dengan tatapan yang begitu tajam.
...~*~...
"Anda berpikir bahwa kakak tiri anda akan melakukan itu?" tanya Lucas tak percaya.
Saat ini Elsa bersama dengan yang lainnya masih berada didalam hutan yang padat dengan pepohonan yang rimbun, Dawis nampak berpikir keras memikirkan ucapan dari Elsa yang mungkin saja bisa terjadi.
"Yang diucapkan Nona Prvis mungkin saja bisa terjadi, namun itu semua masih tidak seberapa."
"Apa maksud anda?" tanya Elsa bingung.
"Masih ada masalah yang lebih lebar dibanding pemilihan calon putri mahkota."
"Masalah lebih besar?" tanya Elsa mengulang.
Dawis langsung menganggukkan kepalanya, "Saat ini seluruh pasukan Elbert telah mengundurkan diri dari perang, dan sudah pasti ketua pasukan kekaisaran akan menyiapkan peristiwa ini pada Kaisar."
Lucas serta yang lainnya masih terdiam mendengar Dawis berbicara, "Sebentar lagi pesta dansa akan dilaksanakan, besar kemungkinan akan terjadi hal yang tidak diinginkan disana."
"Apa maksud anda Pangeran, saya masih tidak mengerti," ucap Elsa bingung.
"Saat pesta dansa terlaksanakan, akan banyak Nona yang berbondong-bondong mendekati Pangeran, aku sangat yakin diantara para Nona yang mendekati Eren, akan ada yang memiliki niat jahat."
Semua mata langsung terbuka lebar mendengar ucapan dari Dawis, bahkan mereka saja tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Untuk saat ini kita pergi dulu ke kediaman kelurga Elbert."
"Apa!" pekik Elsa dan Lucas bersamaan.
"Tunggu! Kenapa kita ke sana? Bukankah seharusnya kita harus ke Istana?" tanya Elsa bingung.
__ADS_1
"Justru itu kita ke sana, karena jika kita langsung ke Istana akan banyak konflik yang muncul," jawab Dawis.
"Aku masih tidak mengerti," ucap Elsa tak habis pikir.
"Kalian semua akan tau nanti jika kita sudah sampai disana, maka dari kita harus bergerak cepat sebelum pesta dansa dilaksanakan." pekik Dawis yang sudah berdiri.
"Apa kita pergi sekarang?" tanya Bima.
"Iya... Karena waktu kita tidak banyak, maka dari itu kalian cepatlah bangun sebelum aku tinggal kalian disini!" ancam Dawis pada kedua anak itu.
...~*~...
Disebuah desa yang berada di bagian selatan, salah satu prajurit kekaisaran menyampaikan sebuah pesan pada seluruh warga di sana, bahwa pesta dansa yang diselenggarakan Di Istana akan dimulai 5 hari lagi, tentu saja mendengar itu banyak para warga yang terlihat senang, karena sebentar lagi seluruh kekaisaran akan dihias secantik mungkin untuk merayakan keberhasilan negara mereka.
Dari jauh Dawis yang saat itu masih memakai jubah bersama dengan yang lainnya hanya bisa terdiam mendengar prajurit itu berbicara menyampaikan isi pesan.
"Mereka terlihat sangat senang," ucap Elsa menatap seluruh warga desa.
"Ya... Itu karena mereka tidak tau apa yang akan terjadi," jawab Dawis.
"Pangeran saya menemukan gerobak yang bisa kita gunakan," jawab Lucas yang tiba-tiba saja datang.
Elsa terdiam ditempat matanya terbuka lebar saat melihat gerobak yang akan mereka pakai, matanya seketika langsung melirik ke arah Dawis yang nampak biasa saja melihat gerobak itu.
"Hanya ini yang bisa kita tumpangi pangeran," bisik Lucas.
"Ini sudah lebih dari cukup, beri kurir itu emas sebagai bayarannya."
"Baik Pangeran."
Dawis langsung berjalan ke arah gerobak itu, dua anak itu masih setia mengikuti Dawis dari belakang, "Naiklah."
Tanpa membantah kedua anak itu langsung naik ke atas gerobak, Elsa masih terdiam ditempat, ini pertama kalinya dirinya naik ke gerobak yang tidak memiliki atap seperti itu, ini tidak seperti yang Elsa bayangkan, semuanya begitu jauh dengan apa yang dia pikirkan.
"Anda tidak mau naik Nona?" tanya Dawis.
Mata Elsa langsung berkedip saat mendengar suara dari Dawis, tanpa mau berbicara dirinya langsung berjalan menghampiri Dawis di sana.
"Wajah anda terlihat tidak senang, apa ini pertama kalinya anda naik gerobak?"
Mata Elsa langsung menatap tajam ke arah Dawis, "Bukan ini saja, bahkan tempat saya menetap pun, adalah hal pertama bagi saya," jawab Elsa acuh.
__ADS_1
"Maksud anda?"
"Sebuah gubuk yang tidak layak untuk ditepati, bahkan makan makanan yang tidak diberi bumbu, itu semuanya baru bagi saja."
Elsa langsung naik ke atas gerobak saat dirinya selesai mengeluarkan isi hatinya, bukannya marah Dawis malah terkekeh mendengar ucapan dari Elsa.
"Bukankah itu bagus, maka dengan ini anda bisa banyak belajar hal baru," ucap Dawis tersenyum.
Setelah semuanya sudah naik ke atas gerobak, kurir pun langsung memukul tali kuda penarik gerobak itu, Lucas duduk disamping kurir itu, sedangkan yang lainya memilih duduk dibelakang bersama dengan barang dagangan milik kurir itu.
"Perjalanan kita akan sangat panjang, Sebaiknya kalian memakai jubah kalian, karena cuaca saat ini begitu panas," ucap Dawis.
"Baik," jawab kedua anak itu secara serempak.
Elsa terdiam menatap ke arah depan, sebuah pemandangan rumput yang begitu luas terbentang dihadapannya, Elsa terdiam menatap sekumpulan warga di sana yang nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Mereka nampak bahagia," lirih Elsa.
Dawis langsung menoleh ke arah Elsa," Benar, hidup mereka sudah lebih dari cukup, air sungai yang jernih, tanah yang subur, serta suara dari anak-anak desa yang tertawa, tanpa ada yang merasa kelaparan."
"Dibanding hidup penuh dengan kemewahan mereka lebih nyaman hidup dengan sederhana," jawab Dawis.
Elsa langsung menoleh ke arah Dawis," Apa anda tau soal tempat kesehatan yang ada di seluruh desa?" tanya Elsa.
Mata Dawis kembali menoleh ke arah Elsa, "Mereka yang tidak punya uang akan memilih untuk mati, dibandingkan harus mengeluarkan uang demi kesehatan mereka," ucap Elsa.
"Kenapa harus ada sistem seperti itu? Apa kekaisaran ingin membunuh rakyatnya secara perlahan?" tanya Elsa.
"Seharusnya di setiap desa harus ada tempat kesehatan minimal 1 untuk rakyat yang kurang mampu, sehingga kesejahteraan rakyat terus berkembang," ucap Elsa, Dawis hanya tersenyum mendengar ucapan dari Elsa.
"Berbicara memang mudah, namun menjalankannya itu yang sulit, menurutmu merekrut dokter itu semudah yang kau pikir?" kekeh Dawis.
"Menjadi seorang dokter itu tidak mudah, dan tanggung jawab dari seorang dokter itu juga besar, karena yang dia pegang saat itu adalah nyawa orang."
Elsa langsung terdiam mendengar ucapan dari Dawis, Dawis tersenyum menatap wajah Elsa, "Pemikiran mu sudah sangat bagus, bisa memikirkan kesejahteraan rakyat kekaisaran, namun tidak memiliki dokter bukan berati kita tidak bisa membuka lapangan pengobatan."
"Iya?"
"Menjadi dokter itu memang sulit, tapi berbeda dengan yang namanya ahli obat," ucap Dawis tersenyum.
TBC
__ADS_1