Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Benda Mencurigakan Di Kamar


__ADS_3

Tidak tahu apa itu karena ketakutan, atau tubuhnya sudah terbiasa dengan sentuhan Victor, Lexie uang semula mengantuk malah tidak tidur, smpai Victor mencapai pelepasan, Lexie baru memejamkan matanya dan pingsan.


Malam itu dia tidur dengan sangat lelap, sepertinya di dalam mimpi dia juga merasakan perasaan yang begitu intim, Lexie berpikir mungkin karena dia terlalu lelah, jadi dia bahkan melupakan suasana hatinya yang kesal, tapi ketika dia membuka matanya di pagi hari, dia baru tahu bahwa itu bukannya karena lelah, tapi karena Victor terus memeluknya sambil tidur.


"Sudah bangun?" Merasa orang dalam pelukannya bergerak, Victor membuka matanya, dan tangan yang memeluk Lexie makin erat.


Lexie juga terkejut, "Mengapa kamu masih ada di sini." Biasanya Victor akan pergi setelah selesai melakukannya, tidak pernah menghabiskan malam di kamarnya, apa yang terjadi hari ini, hari sudah terang, mengapa dia masih belum pergi?


"Tidak berharap aku ada di sini?" Victor mengernyitkan alisnya, tangan besar itu menenangkan dengan lembut di belakang punggungnya.


Lexie dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bagaimana mungkin, langit sudah sangat cerah, tidak baik jika di temukan oleh orang lain."


"Apanya yang tidak baik, pria dan wanita yang belum menikah, dan lagi kamu adalah wanitaku." Victor mengatakan seperti itu kemudian menekan kepala Lexie di dadanya, "Ini masih pagi, tidurlah sebentar lagi."


Lexie terpaku menatap Victor yang memejamkan matanya, ada semacam ilusi sepertinya dia masih belum tersadar, jika bukan karena tangan yang tidak tinggal diam itu terasa terlalu nyata, Lexie akan berpikir bahwa dia masih bermimpi.


Sepertinya merasakan tatapan Lexie, Victor kembali membuka matanya dengan tidak senang, "Untuk apa kamu masih membuka matamu, jika kamu masih menggunakan pandangan mata seperti ini memandangku, maka aku akan berpikir bahwa kamu marah karena gairahmu tidak terpuaskan, jika begitu, aku tidak keberatan membiarkanmu merasakan sekali lagi."


"Hei ..." Mata Lexie tertutup, bergegas melanjutkan tidurnya.


Hanya saja Lexie berpikir dalam keadaan seperti itu, dia tidak akan benar-benar tertidur, tapi tanpa di sadari, ujung hidung mengendus aroma samar tubuh Victor, seolah-olah hatinya yang gelisah beberapa hari ini menjadi tenang, Lexie tanpa sadar kembali tertidur.


Ketika Lexie bangun Victor sudah pergi, ketika Lexie sudah selesai membersihkan diri, dan berpakaian, kemudian keluar dari rumah, dia baru menyadari bahwa itu sudah siang hari.

__ADS_1


Hatinya sedikit aneh, jika biasanya gitu Damian sudah akan membangunkannya ketika dia sudah membuat sarapan di pagi hari, tapi ini tidak ada pergerakan sama sekali, Lexie mencari ke sekeliling rumah, tapi tidak menemukan guru Damian, Alvaro dan juga Zacky.


Setelah merenggangkan untuk sesaat, Lexie pergi ke bengkel kecil untuk mencari mereka, baru tiba di bengkel kecil, dia melihat Alvaro dan Zacky sedang bertengkar, tidak tahu keduanya sedang bertengkar mengenai masalah apa, ketika mereka melihat Lexie datang langsung menghentikan perdebatan mereka, hanya saja pandangan mata mereka melihat Lexi secara tidak wajar.


"Kak, ada masalah apa?" Lexie tidak suka perasaan ini, selalu merasa ada sesuatu yang telah terjadi ketika dia tidak ada.


Alvaro dan Zacky saling memandang sekilas, tapi Alvaro melambaikan tangannya dan berkata: "Tidak ada, hanya ada perbedaan pendapat mengenai gambar desain."


"Oh." Lexie menjawab sekilas, tidak lagi melanjutkan pertanyaan mengenai ini, "Mana guru?"


Alvaro terdiam sesaat, kemudian tersenyum dan berkata: "Ketika bangun pagi tadi, dia berkata ingin pergi memancing dengan pemilik pavilliun, seharusnya masih sedang memancing sekarang."


"Kalau begitu, aku akan membantu kalian untuk membuat senjata." Teringat kerja samanya tadi malam, Lexie sangat merindukannya, mengambil gambar dan siap untuk memulai bekerja, siapa sangka Alvaro malah merebut gambar di tangan Lexie.


Ada rasa tidak senang di raut wajah Alvaro, tapi dengan cepat dia memulihkan senyumnya, "Tidak perlu adik Lexie, biar aku dan Zacky saja, kamu beristirahatlah, atau kamu bisa mempelajari formasi."


"Ya, baiklah." Lexie memberikan hormat, pada keduanya kemudian berbalik dan pergi, hanya dalam waktu semalam sikap Alvaro dan Zacky terhadapnya benar-benar berubah, apa yang telah terjadi semalam?


Perasaan gelisah di hatinya menjadi lebih kuat, ketika kembali ke rumah, Lexie tidak bisa tenang, ketika memikirkannya, dia memutuskannya untuk keluar dan berjalan-jalan siapa tau dia bisa menemukan informasi yang berguna.


Karena ada masalah besar yang terjadi di pavilliun Heaven, suasana menjadi lebih tenang, di hari-hari sebelumnya, bahkan suara obrolan orang yang sesekali sedang minum teh sama sekali tidak terdengar.


Ketika Lexie pergi ke kota, orang-orang di toko tampaknya sedang melemparkan pandangan ragu-ragu, mungkin untuk menghindari kecurigaan, hampir tidak ada orang di jalan hari ini, sepertinya semua orang tetap tinggal di dalam rumah agar tidak mendapatkan masalah, jadi jika ada orang yang muncul di jalan, maka akan segera menarik perhatian semua orang.

__ADS_1


Lexie berjalan dari ujung jalan lain dan tidak menemukan informasi yang dia inginkan, seketika dia kecewa, dia melihat Anita yang datang dari kejauhan, dalam periode khusus ini, hanya anak pemilik saja yang berani beraktivitas bagai tidak terjadi sesuatu.


Mengenai Anita yang tidak ingin melihat dirinya, Lexie berbalik dan ingin pergi, tapi tidak di sangka Anita pergi menyusul, "Untuk apa terburu-buru, jika tidak melakukan kesalahan maka kamu tidak perlu takut. Apa yang kamu lakukan dengan begitu panik?"


"Apa maksudmu?" Langkah kaki Lexie terhenti, merasa ada maksud dari kata-kayanya.


Anita mendengus sekilas, melipat kedua tangan di depan dadanya kemudian mencibir: "Bukankah hanya mengandalkan wajah cantikmu itu, bahkan gurumu juga terpesona olehmu? Kalau tidak bagaimana mungkin gurumu masih melindungimu?"


"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan? Jika mau katakan secara langsung atau tolong kamu menyingkir." Alis Lexie berkerut, sangat jarang dia marah.


"Kamu ingin tahu?" Anita dengan bangga mendongak, "Aku tidak akan memberitahumu!"


Lexie sangat marah, hingga menggigit erat bibir bawahnya, langsung melewatinya dan berjalan maju, baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Lexie terpaku, berbalik kemudian kembali ke arah kediamannya.


Dia langsung pergi ke bengkel kecil untuk mencari Alvaro dan Zacky, mungkin karena ekspresinya yang sangat serius, keduanya yang sedang melakukan pekerjaan langsung, meletakkan pekerjaan di tangan mereka.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi, tidak peduli terhadap apa yang terjadi?Kuharap Kalian bisa percaya padaku." Kata Lexie dengan tulis pada keduanya.


Ketulusannya di lihat oleh Alvaro dan Zacky, tapi mereka berdua masih tidak mengatakan apa-apa.


"Meskipun kita belum lama berhubungan, tapi aku benar-benar menganggap kalian sebagai orang terdekatku, aku menyukai guru, menyukai kedua kakak, jadi kumohon tulus pada kalian, jangan membuatku menjadi orang terakhir yang tahu apa yang sedang terjadi, bahkan jika itu adalah hasil yang buruk, aku juga memiliki hak untuk tahu, kumohon pada kalian ..."


Berbicara dari awal sampai akhir, hanya ada suara tercekat di tenggorokan Lexie, dia menatap lekat pada Alvaro dan Zacky, pandanganya yang tulus dan cemas itu sama sekali tidak di tutupi.

__ADS_1


Pada akhirnya Zacky yang pertama kali membuka mulutnya, "Kak, atau lebih baik memberitahunya saja."


Alvaro sangat ragu, setelah hening sesaat dia baru mengangguk, hanya saja matanya saat menatap Lexie masih sedikit dingin, "Pencarian tadi malam tidak seperti yang kita kiri tidak menghasilkan apa-apa, di kamarmu di temukan beberapa barang ..."


__ADS_2