
"Aku benar-benar tidak melihatnya dengan jelas, atau kamu suruh dia melepasnya dan aku melihatnya lagi, aku bisa mempertimbangkan untuk bertanggung jawab. Tapi karena aku harus bertanggung jawab, maka aku harus melihat semuanya." Perkataan Lexie benar-benar mengejutkan, tatapannya jatuh pada pria yang sudah selesai berpakaian di kejauhan itu, wajah pria itu memerah ketika dilihat, bagaimana mungkin pria itu kembali melepas pakaian di depan Lexie?
Ketika pria tua berjubah putih itu mendengarnya, dia memandangi Lexie seperti memandangi benda aneh, selama beberapa saat, dia tiba-tiba tertawa, menatap balik ke muridnya dan berkata: "Hei, apa kamu dengar? Gadis ini ingin kamu melepasnya lagi untuk di lihatnya, dia akan bertanggung jawab jika sudah melihatnya dengan jelas. Bukankah kamu selalu mengatakan bahwa kamu tidak dapat menemukan seorang istri? Ada yang menyodorkan diri, sia-siakan! Cepat, cepat, cepat lepaskan!"
"Guru!" Pria itu terkejut dengan perkataan antara pria tua berjubah putih dan Lexie, tidak hanya wajahnya yang memerah, tetapi bahkan juga lehernya memerah, "Guru! Aku mengantuk, aku kembali untuk tidur, bermainlah sendiri!"
Pria itu berkata dengan sangat marah, dia berjalan maju, berbalik dan menghilang ke lorong lain.
Pria tua berjubah putih itu terkekeh untuk sesaat, "Muridku itu baik dalam segala aspek, hanya saja dia itu pemalu."
"Haha." Lexie juga ikut tersenyum canggung, "Pemalu itu baik, tahan godaan."
Ketika pria berjubah putih itu mendengarnya, dia langsung tertawa, menunjuk ke arah Lexie dan berkata: "Kamu benar-benar menarik, jauh lebih menyenangkan di bandingkan muridku yang lucu itu. Oh iya, kamu berasal dari mana?"
Kali ini yang menjawab untuk Lexie adalah pemuda yang sedari tadi tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, "Tetua keempat, ini adalah orang yang di bawah oleh kak Simon, katanya merupakan murid yang sudah disaring, pemilik berkata untuk membawanya untuk kamu lihat, apa kamu ingin menerimanya sebagai muridmu?"
Pria tua berbaju putih itu mendengarkan perkataan ini, kerutan di wajahnya segera menumpuk, "Menerima murid ya ... Aku sudah tidak menerima murid selama bertahun-tahun, terlalu malas untuk mengajar ..."
"Jika kamu tidak puas, maka aku akan segera membawanya keluar." Ketika pemuda itu mendengarnya, dia bergegas melihat ekspresi tetua, sepertinya tidak ingin tinggal di sini terlalu lama.
__ADS_1
"Begitu ..." Pria tua berjubah putih itu tampaknya agak tergoda, menyipitkan matanya menatap Lexie, "Tapi gadis ini cukup menarik, kalau tidak begini saja, jika kamu bisa menebak apa yang sedang kulakukan tadi, maka aku akan menerimamu menjadi murid."
Sudut bibir Lexie berkedut, tapi dia masih memikirkannya dengan hati-hati, kemudian bertanya: "Tetua Damian tadi sedang melakukan lukisan tubuh manusia?"
"Lukisan tubuh Manusi? Kata ini cukup menarik, apa maksudnya?" Mata tetua Damian berbinar cerah, sepertinya penasaran pada benda kata ini.
Saat itu, Lexie merasa bahwa Lexie memahami sifat pria ini, ternyata dia adalah seorang pria tua aneh yang dengan keingintahuan yang sangat kuat.
"Lukisan tubuh manusia itu adalah melukis pada tubuh manusia, membuat struktur tubuh manusia dapat terlihat hingga mencapai efek tampilan yang ajaib." Lexie menjelaskannya dengan sederhana, ternyata benar, Lexie melihat wajah tetua Damian semakin bersemangat.
"Haiya, ternyata kamu sesuai dengan seleraku, meskipun lukisan tubuh manusia seperti itu, tali itu kura-kira sama dengan pemikiranku."
"Tidak buruk, tidak buruk, kamu lebih pintar di bandingkan anak-anak itu." Tetua Damian mengangguk berkali-kali, berkata pada pemuda yang datang membawa Lexie: "Kamu beritahu Simon, aku menerima murid ini."
"Ah!" Pemuda itu menunjukkan ekspresi yang sangat terkejut, matanya yang menatap Lexie menjadi aneh, mereka semua mengatakan bahwa orang aneh akan berkumpul menjadi satu, gadis yang terlihat baik-baik saja ini, bagaimana bisa cocok dengan tempramen pria tua yang aneh ini? Tapi dia hanyalah seorang murid pintu luar, tidak berani bertanya terlalu banyak, hanya bisa menjawab sekilas kemudian berbalik dan berjalan pergi.
Tetua itu sedikit bersemangat berjalan ke sisi meja kecil serta meletakkan tinta dan kuas di tangannya, kemudian menarik lengan Lexie, dan pergi ke bagian yang lain, "Ayo, ayo, hari ini aku menerima seorang wanita cantik sebagai murid, sebagai guru aku akan membawamu untuk bertemu dengan dua kakak seperguruanmu!"
"Baik." Wajah Lexie mengulas senyum tulus, yang lain tidak mengerti, bagi Lexie yang dulunya ahli dalam pembuatan senjata, dia tahu, bisa menyembunyikan sebanyak mungkin bentuk senjata, juga merupakan cara untuk meningkatkan nilai senjata, sama seperti senjata militer, selalu di buat dengan kamuflase hijau dan hitam.
__ADS_1
Jadi, hal yang dilakukan oleh tetua Damian ini tampaknya sangat aneh tapi tujuannya sama, itu juga merupakan cara untuk meningkatkan pembuatan senjata tidak heran merupakan tetua di pavilliun Heaven, bisa mempertimbangkan pola senjata pada jaman seperti ini, merupakan seorang pengrajin yang sangat hebat.
Mungkin karena kekaguman di dalam hatinya, jadi Lexie memiliki kesan yang baik pada pria tua yang tampaknya aneh ini, setidaknya, Lexie lebih bersedia menjadi murid tetua Damian dari pada menjadi murid si Samuel pemilik pavilliun ini.
Melewati lorong ternyata sampai ke jalan keluar, masih belum keluar sudah ada aroma lezat yang tercium di hidungnya, sudah waktunya makan malam, Lexie tadi memang hanya makan beberapa suap nasi, begitu mencium aroma yang begitu lezat, perutnya langsung berbunyi tanpa kompromi.
"Agak lapar." Lexie melihat tetua Damian menatapnya dengan aneh, kemudian Lexie tersenyum canggung.
Tetua Damian kembali tertawa, "Jika kamu lapar maka makan, murid besarku itu paling mahir membuat makanan, akan makan paling banyak. Pergilah, ayo pergi, aku akan membawamu untuk memakan makanan lezat."
Dia membawa Lexie berjalan keluar dari pintu keluar, di pintu keluar itu ternyata adalah sebuah hutan bambu kecil, ada cahaya api yang terlihat di kedalaman hutan, dia berjalan ke arah cahaya api itu.
Lexie mengikutinya berjalan ke sana, ternyata ada ruang terbuka kecil di tengah-tengah hutan bambu, ada dua orang pria yang duduk di depan api unggun, dan juga ada seekor Hinata yang sedang di panggang di atas api, sepertinya sudah hampir terpanggang matang, hewan itu terlihat licin, berminyak dan halus.
Salah satu dari pria itu adalah pria pemalu tadi, dia kebetulan menghadap ke arah Lexie dan tetua, melihat yang berjalan datang adalah Lexie, dia segera berteriak, "Guru! Mengapa kamu membawanya kemari, apa kamu benar-benar ingin dia bertanggung jawab padaku!" Ketika dia berbicara, dia kembali tersipu malu.
Pria yang membelakangi itu, kemudian menoleh dan melihat ke arah orang yang datang, ketika dia melihat Lexie, dia juga terpaku, kemudian tertawa: "Guru, kulihat gadis itu berparas sangat cantik, sayang jika membiarkan dia menjadi istrimu, lebih baik aku saja yang membantumu menikah dengannya."
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan, dasar bocah busuk!" Tetua Damian berjalan mendekat, memukul kepala orang itu, "Muridku yang begitu cantik, bagaimana mungkin menikah dengan orang pembuat masalah seperti kalian? Sebagai guru, di kemudian hari aku akan memilihkan orang yang pantas untuk mendampinginya."
__ADS_1