
"Apa-apaan sikapnya itu! Bukankah dia hanya murid pintu dalam yang batu masuk, bahkan jika dia adalah murid dari pavilliun, lalu memangnya kenapa? Berdasarkan status dia juga harus memanggil kita kakak seperguruan!" Alvaro sangat tidak senang dengan sikap Victor.
Zacky menepuk pundak Alvaro dan berkata: "Sudahlah, kamu tidak melihat mata Lexie sudah bengkak karena menangis?"
Alvaro menepuk kepalanya sendiri dan bergegas datang ke hadapan Lexie, "Hei, lihat aku, Lexie, kamu kenapa? Apa sudah menemui guru? Dia adalah tetua di pavilliun Heaven, bahkan jika di tangkap, mereka tidak akan berani berbuat sesuatu padanya bukan? Aku merasa siapa tahu dia makan dan minum enak di sana, kita bertiga begitu menyedihkan tidak ada yang memasak, sepertinya malam ini akan kelaparan ..."
"Kak!" Lexie tercekat air matanya, mengalir turun bahkan murid tertua dari guru Damian berkata seperti itu, dapat orang lain yang tahu bahwa tetua Damian yang di kurung juga pasti akan berpikiran seperti itu.
Semua orang berpikir guru Damian di kurung hanya untuk menggantikan muridnya, ingin mengunakan dirinya sendiri sebagai penjamin muridnya, tapi, tidak ada yang berpikir bahwa situasi yang sebenarnya tidak seperti itu!"
"Lexie, kenapa? Apa yang kukatakan salah?" Alvaro yang melihat reaksi Lexie seperti itu, hatinya sedikit terkejut, bergegas menarik kembali sikap bercandanya.
Lexie menyeka air matanya, melihat sekeliling dan berkata: "Mari kita masuk dan membicarakannya."
Alvaro dan Zacky saling memandang sekilas, bergegas memasuki rumah dengan Lexie.
Di aula Zacky sedikit gelisah, "Lexie apa kamu bertemu dengan guru?"
"Ya." Lexie mengangguk, adegan tadi yang di lihatnya kembali muncul di benaknya, tanpa sadar tubuhnya bergidik dan gemetar, "Kurasa masalah ini tidak sesederhana itu, setidaknya sangat jauh berbeda dari apa yang kita bayangkan."
__ADS_1
Lexie kemudian mengatakan pada Alvaro dan Zacky apa yang di lihatnya di dalam penjara air, awalnya Alvaro dan Zacky tidak mempercayainya, lagipula berita ini begitu mendadak tapi kemudian melihat tampang Lexie yang bagai kehilangan arwah dan juga matanya yang memerah di karenakan menangis, keduanya mulai menerima kenyataan dengan gelisah.
"Bukankah mengatakan bahwa Lexie, kamu ini adalah tersangka dan guru hanya menggunakan kebebasannya untuk memberikan jaminan?" Raut wajah Zacky sangat serius, duduk di kursi dan seketika dirinya menjadi tidak bersemangat.
Lexie menggelengkan kepalanya, "Kurasa, itulah yang ingin mereka perlihatkan pada semua orang, semua orang berpikir bahwa guru Damian hanya menggantikanku, jadi tidak ada yang berpikir bahwa guru Damian benar di penjara . Jika seperti itu, maka ada banyak keraguan mengenai pencurian di pavilliun Heaven ini ..."
"Setelah kamu mengatakan ini, aku juga merasa seperti itu. Pikirkanlah kami telah berada di pavilliun Heaven selama lebih dari sepuluh tahun, sejak kapan terjadi pencurian? Gambar dan senjata adalah darah kehidupan di pavilliun Heaven, karena itu adalah sumber kehidupan, maka secara alami penjagaannya tidak bisa di bicarakan, kuncinya adalah kalian jangan lupa, pavilliun Heaven adalah pemimpin desain dalam senjata di dunia, siapa yang dapat membobol apa yang telah di buat oleh pavilliun Heaven, dan bisa mundur dengan selamat? Itu hampir mustahil yang paling luar biasa adalah orang itu bisa mundur dengan selamat tanpa merusak apapun?" Alvaro mengetuk-ngetuk pahanya sendiri sambil menganalisis.
Mata Zacky seketika menyusut, tiba-tiba menggertakan giginya dan berkata, "Kecuali itu adalah orang dalam!"
Lexie berjalan mondar-mandir, langkahnya tiba-tiba terhenti, "Atau sama sekali tidak ada yang namanya pencurian, tapi itu adalah bom asap yang sengaja di lepaskan oleh beberapa orang."
Terhadap tebakan yang berani dari Lexie, Alvaro dan Zacky terkejut di waktu yang bersamaan, tapi keduanya berpikir dengan hati-hati, tapi mereka juga merasa tebakan ini juga masuk akal, hanya saja masih sulit untuk menyembunyikan keterkejutan mereka setelah mereka saling memandang, "Jika benar seperti itu, maka orang yang dapat melakukan hingga seperti itu di pavilliun Heaven adalah..."
"Tapi mengapa? Selama bertahun-tahun, tidak ada yang salah dengan semuanya, mengapa pemilik pavilliun tiba-tiba bertindak pada guru? Meskipun guru memiliki sifat yang aneh, tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar menyakiti orang lain, demi pavilliun Heaven, guru amat sangat betdedikasi, aku benar-benar tidak mengerti mengapa pemilik pavilliun bertindak pada guru?"
Alvaro mengerutkan kening, menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri, teh itu sudah dingin, tapi dia meminumnya dengan satu tarikan nafas.
Zacky juga berdiri sambil mengerutkan keningnya, setelah beberapa saat dia baru mendongak dan berkata, "Mungkin ini bukanlah tindakan yang tiba-tiba. Bukankah kita mengatakan tetua pertama yang mengurung diri, dan tetua kedua yang pergi terlalu lama, jika di pikirkan, apa terjadi sesuatu juga pada mereka?"
__ADS_1
"Tidak mungkin..." Alvaro tidak berani memikirkannya tali juga tidak bisa menghentikan rasa takutnya, "Haiya, Lexie kamu jangan mondar-mandir, aku pusing di buatmu."
Lexie kemudian berhenti lalu kembali fokus, dia melihat langit di luar pintu, langit telah meredup, setelah beberapa saat harusnya akan gelap, tidak tahu mengapa, Lexie tiba-tiba teringat saat ketika berada di pasar waktu itu, dia membeli kotak dari penjaja, dan ketika kotak itu di buka ternyata di dalamnya terdapat potongan gambar busur silang.
Kemudian, sepertinya Victor mengatakan bahwa kotak itu berasal dari pavilliun Heaven, sekarang jika di pikirkan orang tua aneh yang muncul saat itu adalah orang dari pavilliun Heaven, hanya saja apa orang itu adalah tetua kedua yang pergi keluar itu, jika demikian, mengapa tetua kedua bisa bersama dengan Wesly?
Dia merasa masalahnya menjadi semakin rumit.
Lexie memijat pelipisnya yang sakit dan mencari kursi untuk duduk.
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang, kita tidak bisa membiarkan guru terbunuh di dalam penjara air itu bukan?" Alvaro dengan marah menggeram, kemudian berkata: "Sia-sia kita telah berdedikasi melakukan hal untuk pavilliun Heaven selama bertahun-tahun, tidak di sangka akhirnya malah seperti ini! Guru berbuat dengan begitu sia-sia! Begitu masalah ini selesai, mari kita tinggalkan pavilliun Heaven!"
"Sekarang apa gunanya melakukan hal itu, pertama-tama selamatkan guru terlebih dahulu, lalu barumembicarakan hal lainnya." Zacky menghela nafas.
"Ya." Lexie kembali berdiri, "Ini sudah larut, aku akan memasak."
"Kamu memiliki niat untuk memasak pada saat seperti ini?" Alvaro sedikit marah, "Bukankah itu semua karena mu, jadinya orang-orang itu menemukan alasan untuk memasukkannya ke dalam sana?"
Lexie menundukkan kepalanya, tidak memaki kembali di karenakan amarahnya, hanya berkata dengan pelan, "Kak, di saat seperti ini, semakin kita tidak bisa membiarkannya waspada, kita jalani hidup sebagaimana mestinya, jika ada orang yang mengawasi, jika tindakan kita tidak seperti biasanya maka akan membuat mereka curiga."
__ADS_1
Ketika Lexie mengatakan seperti ini, tatapan mata Alvaro menjadi lunak, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Lexie langsung berjalan pergi keluar dari pintu.
Namu, malam itu mereka tidak ada yang memiliki nafsu makan, mkanan di atas meja yang di buat oleh Lexie hampir tidak tersentuh, hanya Lexie yang menggertakan giginya dan menelan beberapa suap nasi putih.