Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Keuntungan


__ADS_3

"Cantik suaramu benar-benar enak di dengar!" Pria gemuk itu meneteskan air liur, dan air liur itu jatuh di atas leher putih Lexie.


Lexie mual dan ingin muntah, setelah mual beberapa saat, dia kemudian bergegas berkata: "Aku, aku adalah wanita Raja Victor!"


"Raja Victor?" Ketika pria gemuk itu mendengar nama itu, tubuhnya jelas kaku sesaat, tapi pada saat berikutnya, tangannya masih terulur ke arah Lexie, "Cantik, jangan kira dengan kamu menggunakan nama raja Victor maka aku akan melepaskannya, lihatlah dirimu, bukannya kamu berbohong padaku kamu ini wanita milik siapa, tapi kamu malah mengatakan bahwa kami adalah wanita raja Victor? apa kamu tidak tahu bahwa raja Victor paling kejam terhadap wanita, dia itu suka bermain wanita, sudah berapa banyak wanita yang di mainkan, bahkan sampai sekarang aku belum melihat wanita yang berada di sisinya. Jadi, bahkan jika kamu pernah memiliki hubungan denganya sebelumnya, aku juga tidak akan takut, apa kamu pikir dia masih mengingatmu?"


Pintu dan jendela di ruangan itu tertutup sangat rapat, bahkan dupa masih menyala di sudut ruangan, aromanya sangat unik, Lexie yang semula menderita di karenakan obat itu seketika makin tidak terkendali ketika menghirup aroma ini.


Lexie menggertakan giginya meremas pecahan mangkuk di tangannya, darah merah segar di tepak tangannya mengalir keluar hanya rasa sakit yang bisa membuatnya terjaga.


Pada saat ini Lexie tiba-tiba teringat akan Victor.


Di katakan bahwa cantik dan buru rupa, cinta dan kebencian merupakan hal yang bertentangan, Victor menindasnya, jadi Lexie membencinya, tapi di bandingkan dengan Victor, pria jelek dan menjijikan ini tampaknya membuat Lexie membencinya lebih dalam, jika di bandingkan seperti itu terhadap Victor, Lexie tidak begitu membencinya.


Sangat hening hanya suara pakaian yang di sobek yang terdengar dalam ruangan.


Di depan gerbang kuil Tao, Morgan menunggu sementara waktu kemudian sudah melihat Victor yang dengan cepat mendekat, sekejap mata saja Victor sudah muncul di depan dirinya sendiri.


Pakaiannya yang berantakan itu, menunjukan bahwa Victor sangat cemas, meskipun wajahnya masih sedingin biasanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Victor bertanya dengan dingin.


Morgan berkata: "Tiba-tiba hujan lebat, kami mengikuti penduduk desa ke sini untuk berlindung dari hujan, aku melihat pakaian nona Lexie basah, jadi membiarkannya masuk ke dalam kuil untuk berganti pakaian bersih, di sini semuanya bhikkuni jadi aku tidak di perbolehkan masuk, jadi nona Lexie masuk sendirian, tidak kusangka ketika nona Lexie masuk dia tidak keluar lagi, bhikkuni itu berkata jika nona Lexie telah pergi melalui pintu belakang ..."

__ADS_1


"Dia tidak akan pergi." Victor menjawab dengan tegas pandangan matanya jatuh pada Lucas, "Jika dia ingin pergi, dia sudah pasti akan membawanya."


"Ya ... Lucas juga berkata seperti itu, jadi kupikir, terjadi sesuatu pada nona Lexie." Setelah Morgan selesai berbicara, Morgan menarik Lucas, dan mundur ke samping, jika bukan karena memikirkan anak ini, dia sudah pasti menerjang masuk sendiri tadi.


Victor terdiam, tetapi pandangan matanya dingin daan mengerikan, dia mengangkat tangannya, kemudian pintu itu terbuka oleh angin.


Panel pintu itu sudah tua ketua terbuka menciptakan suara yang sangat keras, Victor berjalan memasuki pintu, tidak lihat bagaimana dia bergerak, detik berikutnya, Victor sudah muncul di pelataran dalam.


Meskipun Morgan tahu seni bela diri tuannya itu sangat hebat, tapi, setiap kali melihat kecepatan berlebihan ini dia selalu kagum, kemudian dia menarik Lucas ke samping, memerintahkan berkata: "Kamu tetap di sini dan jangan bergerak, nanti kami akan keluar untuk mencarimu. Jika kamu ingin menyelamatkan kakakmu maka jangan menyusahkan kami."


Lucas tadinya ingin mengikutinya, dia tidak takut bahaya, tapi, ketika Morgan mengatakan kalimat ini, langkah yang tadinya ingin diambil di tariknya kembali, kemudian mengangguk dengan serius.


Victor menembus masuk ke pelantara sepanjang jalan, sama sekali tidak bertemu dengan bhikkuni seorang pun, apakah para bhikkuni ini biasanya melayani tamu di malam hari, jadi mereka beristirahat di siang hari, di pagi harinya hanya beberapa orang yang memiliki kegiatan, di tambah seni bela diri Victor, para bhikkuni ini sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


Sayangnya reaksinya itu membuat Victor merasa kesal, menggunakan kekuatan tangannya untuk menghancurkan leher bhikkuni itu, kemudian Victor menggunakan kecepatan yang tercepat untuk mencari dari ruangan ke ruangan.


Tiba-tiba, Victor menoleh menatap sebuah ruangan yang berada di sudut, wajahnya seketika suram dan berjalan ke sana, dia mengangkat tangannya, hanya melihat dia menyentuh panel pintu kemudian pintu itu terjatuh.


Pria gemuk yang berada di atas tubuh Lexie itu tampak terkejut dan menoleh, "Siapa yang tidak memiliki mata yang mencari ..." Kata itu belum selesai diucapkan, pria itu dengan takut bergulir turun dari ranjang.


"Kukira siapa, ternyata adalah seorang prajurit kecil!" Victor mendengus dingin suaranya sedingin es.


"Aku, aku, aku pernah bertemu dengan Raja Victor ..."

__ADS_1


Pria gemuk itu berlutut di tanah dengan gemetaran, dia adalah wakil jendral dari Wesly, di pandangan Victor, dia hanya dikatakan sebagai prajurit kecil, memang benar, dengan status Victor, jika ingin menghukumnya itu hanyalah hal kecil.


Victor maju selangkah demi selangkah, menendang pria gemuk yang menghalangi jalan itu, ketika Victor berdiri di samping ranjang, memandangi wanita di ranjang dengan pakaian yang berantakan dan juga dengan raut wajah memerah yang tidak normal, pandangan matanya semakin dingin.


Victor perlahan-lahan menoleh dan menatap pria gemuk itu.


Mungkin karena pandangan mata Victor yang terlalu mengerikan, pria gemuk itu langsung membenturkan kepalanya dan meminta ampun, "Yang Mulia, mohon maafkan aku, maafkan aku, aku tidak tahu apa-apa, aku berdosa, aku bersalah ..."


"Jika kamu bersalah maka kamu harus mati." Victor berbicara dengan tenang, tapi sekujur tubuhnya memancarkan aura membunuh yang sangat kuat yang sangat membuat pria gemuk itu ketakutan dan terjatuh di tanah.


"Yang Mulia, Yang Mulia ... Aku tidak bermaksud padanya ..."


Pria gemuk itu masih ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak memiliki kesempatan untuk menyebutkan kata "dia" dari mulutnya, Victor merasa jijik, kemudian Victor menendangnya di bagian dada yang membuat orang itu mati tertendang.


Victor kembali tersadar, menatap orang yang sedang menoleh di sisi ranjang, wajahnya sangat merah, Victor kemudian berteriak, "Lexie!"


Mata Lexie kabur, dalam pandanganya terdapat raut wajah tampan Victor, tapi Lexie merasa itu tidak nyata, dia sepertinya sudah sangat tidak sabar.


Tiba-tiba Lexie berteriak dengan ketakutan, "Jangan, jangan sentuh aku! Aku cinta pada Yang Mulia, tubuhku hanya kuberikan pada Yang Mulia! Kalian jangan sentuh aku, jangan sentuh aku, atau aku akan mati ..."


Lexie tampaknya sudah tidak sadarkan diri, hanya melambaikan tangannya dengan linglung, semakin dia berkata semakin emosional, mengambil pecahan mangkuk di tangannya dan mengarahkan ke lehernya sendiri.


"Wanita bodoh!" Victor menghela nafas, dengan mudah menghentikan tangan Lexie, kemudian menariknya masuk ke dalam pelukannya, hanya mendengarkan gumaman rendah Victor, "Pada saat ini, masih merindukanku? Apa itu tulus atau tidak? Tapi tidak masalah, aku juga tidak butuh ketulusanmu."

__ADS_1


Lexie dengan linglung terkunci di dalam pelukan Victor, mungkin karena efek obat, kedua tangan Lexie meraba-raba dengan gelisah.


__ADS_2