Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
46


__ADS_3

Kiana bersama dengan ibunya berjalan menemui Elsa yang saat itu sedang bersantai di taman milik ibunya.


"Elsa!" panggil Lisa.


Elsa yang saat itu sedang meminum tehnya langsung menoleh ke arah Lisa dan Kiana. mereka berdua berjalan mendekati Elsa dengan beberapa pelayan yang mengikuti mereka dibelakang.


"Ada apa?" tanya Elsa.


"Ada apa? Kau pikir kenapa kami menemui mu hah?" tanya Lisa.


Wajah Elsa terlihat datar menatap ke arah Kiana dan juga ibunya, "Jika ini tidak penting lebih baik kalian pergi saja, aku sedang sibuk."


"Hah..." Pekik Kiana yang semakin tidak suka dengan Elsa.


Shut


"Apa-apan kau ini!" pekik Elsa tak suka.


Kiana tersenyum saat dia berhasil mengambil sebuah kertas dari tangan Elsa, "Kenapa tidak suka?"


"Kembalikan!" tekan Elsa pada Kiana.


"Baru kertas begini saja sudah bertingkah, memang isinya apa?" tanya Kiana yang langsung melihat isi kertas itu.


Mata Kiana langsung terbuka lebar saat melihat begitu banyak nominal harga pada kertas itu, Elsa tersenyum tipis melihat reaksi dari Kiana, sudah pasti Kiana sangat shock saat tau hasil penjualannya bulan ini sangat banyak.


"Apa kau sudah puas?" Tanya Elsa.


"Kembalikan!"


"Tunggu!" pekik Kiana yang langsung meninggikan tangannya.


"Apa lagi yang kau sembunyikan dari kami hah?" tanya Kiana.


"Apa maksud mu?"


Lisa berjalan kehadapan Elsa, dengan tangannya yang mengambil laporan penjualan itu dari tangan Kiana, matanya menatap secara teliti berapa jumlah penjualan Elsa selama ini.


"Kau! Dapat uang dari mana kau, berbuat ini hah?" tanya Lisa.


"Apa dapat dari mana? Dapat dari mana aku berlian ataupun uang itu, itu semua bukan urusan kalian, kembalikan kertas itu padaku!" tekan Elsa.


Plak


Mata Elsa langsung terbuka lebar saat Lisa secara tiba-tiba menampar wajahnya, dengan cepat Elsa langsung menyentuh pipinya, yang begitu terasa sakit.


"Kau ini sudah tidak punya sopan satun ya, Beraninya kau meninggikan suara mu dihadapan ku!"


Mata Elsa langsung menatap tajam ke arah Lisa, dia pikir Lisa dan Kiana itu siapa di rumah ini, beraninya wanita ini menampar wajahnya, tangan Elsa langsung terkepal dengan kuat.


Plak


"Mama!" teriak Kiana saat Elsa dengan berani menampar wajah Lisa.


"Elsa! Kenapa kau menampar wajah mama, kau ini_"


"Cukup!" potong Elsa.


Deg

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan kalian! Semakin hari sifat kalian makin kurang ajar, apa kalian semua tidak punya rasa malu bertemu dengan diriku hah!" tekan Elsa.


"Elsa! kenapa kau seperti ini? Ibu hanya memberi mu teguran Elsa!" teriak Lisa.


"Teguran? Teguran apa? Kelakuan kalian itu sudah kelewatan! Apa kalian tidak sadar? kalian di rumah sebagai apa? Kalian dimata ku itu hanya orang asing, Kalo bukan karena ayahku, sudah dari dulu kalian ku usir!" Tekan Elsa.


"Apa?"


"ELSA!"


Deg


Mata Elsa langsung terbuka lebar saat mendengar ada suara penuh berwibawa dibelakang tubuhnya, dengan sedikit kaku Elsa membalikkan badannya kehadapan Roan.


"Elsa! Apa-Apaan ini, apa perkataan mu itu suguhan?" tanya Roan.


"Ayah..."


"Jawab!"


Deg.


Mata Elsa langsung terbuka lebar menatap wajah Roan, wajah ayahnya yang terlihat tenang kini lebih terlihat mengerikan dimata Elsa.


"Iya."


"Apa?" tanya Roan mengulang.


"Yang Saya katakan itu benar, bahwa saya tidak suka dengan Kiana bersama ibunya."


"ELSA!" teriak Roan.


"Apa?"


"Saya sangat benci mereka!" tekan Elsa menatap tajam wajah ayahnya.


Plak


Dengan begitu kuat Roan menampar wajah Elsa, deru nafasnya tidak karuan keluar, Elsa terdiam merasakan perihnya tamparan yang diberikan Roan pada pipinya.


"Ayah?" gumam Elsa tak percaya.


"Kembali ke kamar mu! Dan jangan keluar jika bukan ayah yang mengizinkan."


Elsa diam membisu, dirinya hanya menunduk dengan kepala yang sedikit dia anggukan untuk membalas ucapan Roan.


Kiana dan Lisa terdiam saat Elsa sudah pergi dari hadapan mereka, tangan Lisa langsung terkepal kuat saat Roan sedang menatapnya dengan tajam.


"Berikan itu pada ku!" ucap Roan meminta laporan penjualan Elsa pada Lisa.


Tanpa membatah Lisa langsung memberikan kertas itu pada Roan, wajah Kiana terlihat tidak suka melihat Roan yang begitu menekan ibunya, dengan sedikit berani dia melawan Roan yang saat itu sudah menerima kertas laporan penjualan Elsa.


"Aku pikir Ayah sudah menerima kami di sini." ucap Kiana.


Roan langsung menoleh ke arah Kiana begitu juga dengan Lisa, "Padahal sudah banyak yang kami beri pada ayah, tapi kenapa ayah tidak mau memberi perhatian lebih pada kami?"


"Kiana," lirih Lisa.


"Berapa banyak uang yang sudah ayah berikan pada Elsa? Untuk membangun usaha itu? Kenapa ayah tidak pernah mau memberikan uang lebih pada kami?" tanya Kaiana.

__ADS_1


"Setiap kami ingin meminta uang, ayah akan memberikan kami dengan nilai yang begitu kecil, bahkan uang segitu hanya cukup untuk membeli satu gaun saja? Tapi Elsa, dengan uang sebanyak itu dia bisa membuka galeri ayah, Aku pun jika diberikan uang sebanyak itu juga ingin membuka usaha," isak Kiana.


Roan terdiam melihat wajah Kiana yang sedang menatapnya dengan tajam begitu juga dengan Lisa, yang terlihat tidak percaya Kiana anaknya akan berkata seperti itu.


"Usaha? Kau ingin membuka usaha? Usaha apa yang ingin kau bangun?" tanya Roan langsung.


Deg


Mata Kiana dan Lisa langsung terbuka lebar, tatapan Roan terlihat dingin saat menatap ke arah Kiana.


"Itu... Saya juga ingin membuka galeri sama seperti Elsa, ayah!" pekik Kiana.


Mata Lisa langsung terbuka lebar menatap wajah Kiana, Roan masih menatap datar wajah Kiana dengan dalam.


"Galeri?" tanya Rian mengulang.


Dengan cepat Kiana langsung menganggukkan kepalanya, "Apa kau tau Kiana, Elsa membangun Galeri ini tanpa modal?"


"Apa?" Tanya Kiana dan Lisa bingung.


"Aku sendiri pun baru tau, bahwa Elsa punya usaha seperti ini," ucap Roan yang kembali menatap Kiana dan Elsa.


"Elsa tidak pernah meminta uang pada ku, malah dia bilang, berikan saja uang bulanan ku pada ka Kiana."


Deg


Mata Kiana dan Lisa langsung terbuka lebar mendengar perkataan itu, "Uang bulanan mu sudah naik 2x lipat dari biasanya, itu karena permintaan dari Elsa sendiri, lantas kenapa uang sebanyak itu masih belum cukup?"


"Itu...."


"Kalian berdua tidak ada main ke Kasino kan?" tekan Roan.


Tubuh Kiana dan Lisa langsung menjadi kaku saat mendengar perkataan Roan, mereka takut sekarang jika Roan sudah menekan mereka seperti ini.


"Itu... Kami tidak akan pergi ke sana Tuan Duke," ucap Lisa cepat.


"Sudahlah lupakan saja, Kembalilah ke kamar kalian, aku akan berbicara dengan Elsa untuk membahas masalah ini," ucap Roan yang sudah membalikkan badan ke hadapan Lisa dan Kiana.


"Baik," jawab Kiana dan Lisa bersamaan.


Roan langsung kembali ke ruang kerjanya dengan menyuruh tangan kanannya memanggil Elsa di kamar, tanpa membantah, tangan kanan Roan itu langsung menurut.


...~*~...


Di ruang kerja Duke Pervis, Roan nampak sibuk melihat hasil penjualan dari usaha Elsa, tatapannya masih terlihat tidak percaya dengan jumlah uang yang sudah Elsa kumpulkan sebanyak ini.


"Tuan Duke saya datang."


"Masuklah," jawab Roan dari dalam.


Tangan kanan Roan itu langsung masuk ke ruang kerjanya, Mata Roan langsung menoleh ke depan saat dirinya tidak ada melihat kehadiran Elsa di sana.


"Di mana Elsa?" tanya Rona.


Dengan sedikit menundukkan badannya, pria itu menjawab, "Maaf Tuan, Nona Elsa tidak mau datang."


"Apa?"


"Beliau sendiri yang meminta, jika anda ingin bertemu dengan Nona, maka Tuan Duke sendiri yang jalan ke sana."

__ADS_1


TBC


__ADS_2