
Menggoda!
Lexie terpaku, sejak kapan dia menggoda orang?
Sayangnya Victor tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan, Hanya melepaskannya kemudian berbalik dan pergi.
Langit sudah benar-benar gelap, toko-toko di kota sudah diterangi dengan lentera, Lexie berdiri di sudut terpaku untuk sementara waktu sampai angin dingin berhembus, Lexie bergidik dan baru tersadar.
Setelah kembali ke dalam kediaman, guru Damian sudah menyiapkan makan malam, Alvaro dan Zacky sudah memegang sumpit sambil di ketukkan di meja diruang makan mendesak guru Damian untuk memulai makan.
Melihat guru Damian berkacak pinggang, sambil memaki celemek sambil menatap ke arah Alvaro dan Zacky, perasaan Lexie tiba-tiba membaik.
Alvaro yang pertama kali melihat Lexie kembali, segera bersorak, "Adik seperguruan, akhirnya kamu pulang, jika kamu tidak pulang maka guru tidak akan mengijinkan kita untuk makan, aku dan Zacky sudah akan mati kelaparan."
"Omong kosong, tubuhmu penuh dengan daging, bahkan jika tidak makan tidak akan mati kelaparan. Jika memulai makan dengan kecepatan makan kalian berdua, jika menunggu adik seperguruanmu kembali, apa masih ada makanan?" Tetua Damian melepaskan celemek, mengatur peralatan Lexie, segera mengubah raut wajahnya menjadi raut wajah penuh senyum, "Nak, cepat duduk dan makan, hari ini aku secara khusus membuatkanmu sup ayam."
Lexie menjawab sekilas, hatinya hangat, bahkan langkahnya menjadi lebih ringan.
Ketika dia duduk, Alvaro dan Zacky segera mengambil makanan, kecepatan mereka ketika makan benar-benar membuat orang terpana.
Lexie mengangkat peralatan makan, mencari beberapa potong daging di dalam sup ayam, dan meletakkannya di mangkuk gurunya dan juga para kakak seperguruannya, ketiga pria itu saling melirik satu sama lain, seketika tawa mereka makin lebar.
__ADS_1
Lexie tahu, meskipun Alvaro dan Zacky mengeluh, tapi sumpit berada di tangan mereka, jika mereka benar-benar ingin memulai makan, itu tidak bisa di hentikan oleh gurunya, tapi mereka tidak melakukannya, bahkan mencuri pun tidak.
Untuk sesaat mata Lexie kembali memerah.
Guru Damian memberi Lexie semangkuk sup dan diletakkan di depannya, "Nak, cepat minum, ini hanya ayam tua, aku ingin membunuhnya tahun lalu, tapi aku tidak pernah berani bertindak, ini untuk memberi asupan pada tubuhmu, mengatakan apapun juga aku tidak akan melepaskan ayam itu."
"Terima kasih guru." Lexie tersenyum dengan patuh.
Tetapi Alvaro yang berada di samping, hampir menyemburkan makanannya ketika mendengar perkataan ini, "Guru, kamu tidak mungkin pergi ke tetua Tobias dan mencuti bangau putih tua miliknya kan ... Kamu mengatakan bahwa kamu ingin membunuhnya tahun lalu ..."
Bangau putih tua?
"Ya, lagi pula Tobias tidak ada di sini sekarang, jika tidak bertindak sekarang, maka harus menunggu sampai kapan?" Guru Damian seperti itu sudah sewajarnya, "Lagipula, bangau putih tua itu bisa di gunakan untuk menambah nutrisi tubuh muridku, itu adlah berkahnya."
Mungkin karena kelelahan membaca buku seharian, di malam harinya Lexie benr-benar tertidur dengan sangat nyenyak, hanya saja dengan samar-samar, dia merasa orang itu sepertinya ada datang.
Kemudian beberapa hari berikutnya di lewati dengan sangat tenang, pada siang harinya, Lexie akan mencari tempat di lembah untuk berjemur di bawah matahari sambil membaca buku, malam harinya kembali ke kediaman mengobrol dengan guru dan yang lainnya, setiap kali melihat Alvaro dan Zacky diintimidasi oleh guru Damian, Lexie merasa itu sedikit lucu.
Seseorang pernah berkata, bahwa hari-hari baik tidak berlangsung lama, setelah melewati hari-hati baik seperti ini, sebuah peristiwa besar terjadi di pavilliun Heaven, dikatakan bahwa ada yang mencuri di pavilliun Heaven, gambar desain manufaktur dan sampel dari banyak senjata hilang, sebagian pendapatan besar pavilliun Heaven berasal dari pembuatan senjata, kehilangan benda-benda ini tentu saja kerugiannya tidak kecil.
Selain itu, sebagian besar senjata di buat khusus untuk pelanggan, yang membuat senjata itu kebanyakan aalah para pahlawan, tidak ingin senjata uni mereka jatuh ke tangan orang lain, karena itu, sebelum membuat senjata, mereka memiliki perjanjian dengan pavilliun Heaven, senjata khusus yang di pesan oleh mereka hanya dapat di berikan pada mereka, tidak ada orang lain yang memilikinya.
__ADS_1
Begitu senjata-senjata itu beredar, tidak hanya mempengaruhi reputasi pavilliun Heaven, tapi yang paling penting adalah menyinggung mereka yang telah membuat senjata, dalam sekejab menjadi musuh bagi banyak orang, walaupun pavilliun Heaven memiliki sejarah ratusan tahun tapi juga sulit untuk menghadapinya.
Jadi suasana di pavilliun Heaven menjadi sangat tegang, demi mengetahui siapa yang mencuri beberaoa hari ini pavilliun Heaven telah di blokir. Tetua Diego yang secara pribadi pergi ke lembah untuk mengatur formasi, tidak diizinkan untuk keluar masuk, pemilik pavilliun juga secara pribadi membawa orang untuk menyelidiki masalah ini.
Yang paling membuat orang curiga adalah beberapa murid yang baru saja masuk, lagi pula sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti itu di pavilliun Heaven, dan ini terjadi setelah murid baru masuk.
Malam ini, Langit ini di penuhi bintang, setelah selesai makan malam, Lexie menyedu teh dan membuat makanan kecil, menemani guru Damian dan yang lainnya di halaman, sekalian menunggu pemilik membawa orang untuk memeriksa. Menuruti keinginan pemilik, hati ini harus mencari di seluruh kediaman pavilliun Heaven.
Mengenai kejadian di pavilliun, guru Damian jelas sangat khawatir, seseorang mengalami kesulitan maka jelas seluruh keluarga juga akan ikut merasa kesulitan, guru Damian menghabiskan setengah dari hidupnya di pavilliun Heaven, ini adalah rumah baginya, kejadian seperti ini terjadi di pavilliun Heaven, tentu saja dia juga tertekan.
Lexie memegang secangkir teh, tapi pikirannya melayang jauh, ketika kejadian ini terjadi, dia pertama kali mencurigai Victor, sebagai seorang raja dia secara priabadi berbaur memasuki pavilliun Heaven, tentu saja tujuannya tidak sesederhana itu, tapi dalam dirinya Lexie tidak percaya, bahwa Victor adalah orang yang bisa melakukannya hal semacam ini, tidak bisa mengatakan mengapa, merasa bahwa Victor adalah orang yang begitu sombong, tidak mungkin akan melakukan hal semacam mencuri seperti ini.
Ketika menunggu, beberapa orang tidak berbicara sampai tehnya sedikit menjadi lebih dingin, pemilik pavilliun datang dengan membawa sekelompok orang, yang berjalan di belakangnya adalah Victor, dia masih seperti biasa tidak memiliki ekspresi, hanya ketika melihat Lexie, pandangan matanya berhenti untuk sejenak.
"Pemilik." Tetua Damian dengan para orang-orang lainnya bangkit dan menyapa.
Pemilik pavilliun, Samuel melambaikan tangannya, "Tidak perlu segan, ruang lingkup pavilliun Heaven sangat besar, waktu yang di butuhkan untuk pencarian sangat terbatas, kita tidak akan banyak berbicara, geledah kediaman ini terlebih dahulu baru bicarakan kembali. Damian, kamu juga jangan marah, pencarian ini juga semua diperlakukan sama, bukan hanya padamu saja, kediamanku juga di geledah."
"Pemilik tidak perlu mengatakannya, aku bisa mengerti. Aku juga berharap bajingan itu juga dapat segera di temukan!" Tetua Damian sangat kooperatif, sudah membuka pintu ruangan yang ada.
Setelah pemilik pavilliun memberi perintah, sudah ada orang yang mulai mencari di seluruh ruangan, tetua Damian sendiri yang secara pribadi menuangkan teh untuk Samuel, kemudian bertanya: "Ketika melakukan penyaringan murid, kudengar ada orang dari negara Beiming yang menyusup ke dalam formasi, menurutmu, apa masalah saat ini terkait dengan Beiming?"
__ADS_1
Samuel mengambil teh kemudian duduk, menggelengkan kepalanya dan berkata: "Sulit untuk di katakan, tapi orang dari negara Beiming itu sudah di usir saat itu. Karena orang dari negara Beiming bisa masuk, maka orang dari kelompok lain ada kemungkinan masuk ke dalam, jadi kita masih harus berhati-hati."