
Malam ini, lilin di kamar Lexie padam lebih awal, tapi dia tidak tertidur, hanya berbaring di ranjang dengan tenang, kemudian menatap ke arah jendela, dia tidak pernah mengharapkan kedatangan orang itu seperti ini.
Tapi Lexie menunggu sedikit lama, sampai matanya perih dan bengkak, tapi dia masih belum datang.
Dulu, bukankah dia selalu masuk ke dalam kamarnya tengah malam? Tapi, sekarang ketika Lexie menginginkan dia datang, dia malah tidak datang?
Tidak tahu mengapa Lexie merasakan sedikit keluhan di hatinya, air matanya menetes, dia membersihkan hidungnya, dengan asal menarik sisi selimut untuk menyeka air matanya.
"Sedang menungguku?"
Suara yang tiba-tiba membuat Lexie langsung berbalik dan duduk, bahkan tidak menyembunyikannya pikirannya dan langsung berkata: "Kenapa kamu baru datang?"
"Sepertinya benar sedang menungguku?" Tapi ketika Victor mengucapkan hal ini wajahnya tidak enak dilihat, "Sepertinya kamu tidak berniat untuk mendengarkan saranku."
Lexie mendongak menatapnya, lalu mengulurkan dua tangan kecilnya kemudian dengan lembut memegang tangan Victor yang besar, menariknya untuk duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya dan berkata dengan sedih: "Aku tidak bisa tidak melakukan apa-apa."
Terhadap kelembutan Lexie yang tiba-tiba, Victor menghela nafas panjang, mengulurkan tangan untuk meraih dagunya, "Kamu jauh lebih pintar dari pada yang kupikirkan, tahu bersikap lemah di depanku pada saat seperti ini untuk mendapatkan belas kasihanku."
Lexie mengambil jari-jari, masuk ke dalam mulutnya, memainkannya sebentar sebelum melepaskannya dan berkata: "Yang Mulia, guru sangat baik padaku, jika aku benar-benar tidak peduli, lalu apa bedanya aku hidup seperti zombie? Aku tahu yang bisa aku lakukan hanya sedikit, aku tahu bahwa orang-orang itu juga tidak dapat kutangani, tapi... Bukankah masih ada Yang Mulia?"
Keheningan tiba-tiba menyebar, dan dalam keheningan, hanya senyum Victor yang berangsur-angsur naik.
__ADS_1
"Lexie! Kamu hanyalah pelayan penghangat ranjangku, bukanlah istriku. Demi dirimu aku menyinggung seluruh pavilliun Heaven, apa menurutmu itu layak?" Victor menarik kembali senyumnya, tapi tidak menarik godaannya.
Tangan Lexie telah bergerilya di pinggangnya, ketika berbicara pipi Lexie telah menempel di dadanya yang panas, "Aku tahu statusku rendah, tapi Yang Mulia juga mengatakan bahwa tubuhku bisa membuat Yang Mulia puas untuk saat ini, jika hanya demi diriku tentu saja itu tidak bisa di katakan layak, tapi jika dalam rencana Yang Mulia, bisa sekalian menyelamatkan guruku, maka seharusnya itu tidak akan sulit."
"Rencanaku?" Pandangan mata Victor tiba-tiba memicing, bicaralah untuk kudengarkan."
Lexie tersenyum, ketika senyum itu mekar, dia menggigit pakaian Victor, menggunakan giginya untuk membuka penghalang di garis lehernya, menjatuhkan bibir merah itu di dada Victor, menghembuskan nafas dengan lembut dan berkata: "Aku tidak akan dengan sombong berpikir bahwa Yang Mulia mencoba masuk ke pavilliun Heaven, hanya demi pelayan penghangat ranjang seperti diriku, meskipun aku tidak tahu tujuan sebenarnya Yang Mulia, tapi aku berpikir jika bisa membuat Yang Mulia turun tangan secara pribadi, tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, hal yang paling penting di pavilliun Heaven tidak lebih dari senjata dan gambar, dan di pavilliun Heaven, beberapa pengrajin terkuat yang berada di sini bukankah berada di bawah tetua Damian? Jika Yang Mulia bisa membantu, aku berjanji mereka bisa berguna bagi Yang Mulia. Jika Yang Mulia, bisa menyelamatkan satu orang, maka bisa menukar kekuatan dari setengah pavilliun Heaven, bukankah ini layak?"
Tidak perlu membicarakan berapa banyak senjata yang telah di buat oleh guru Damian, kemampuannya seperti apa, apa yang bisa dia buat, itu merupakan hal paling berharga untuk dinanti.
Lexie berpikir sekian lama, akhirnya muncul pemikiran ini, saat ini hanya Victor yang berani berhadapan dengan pavilliun Heaven.
"Tapi apa?" Lexie mendongak, dirinya sudah berada di atas tubuh Victor.
"Namun, bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku masuk ke dalam pavilliun Heaven hanya demi dirimu?" Victor berkata dengan meremehkan.
Sudut bibir Lexie terangkat, jari telunjuknya berada di atas bibir tipis Victor, "Yang Mulia, kamu benar-benar pandai membuat orang bahagia."
Dia, Victor, demi seorang wanita berbaur di pavilliun Heaven? Apa itu mungkin? Sangat tidak mungkin! Jika bukan karena pernah melihat sisi hitamnya yang dingin itu, jika merupakan wanita lain yang bodoh, mungkin akan benar-benar percaya pada perkataannya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, tapi kamu tidak percaya, aku sangat sedih." Victor berkata sambil mengangkat dagu Lexie dan menciumnya: "Menolongnya atau tidak maka aku akan melihat penampilanmu malam ini..."
__ADS_1
Malam, tidak panjang, jika keduanya sedang melepaskan gairah mereka.
Saat fajar, Victor yang kelelahan karena pelepasan berbaring lemas di atas tubuh Lexie, tapi tidak terburu-buru untuk berhenti, dia menguburkan kepalanya di antara leher Lexie, dengan tidak bertenaga berkata: "Lexie, aku terkadang merasa benar suatu hari nanti, aku akan mati di atas tubuhmu..."
"Haha..." Lexie tidak berbicara hanya tertawa dalam gelap tanpa jejak, ketika seorang pria berada di dalam tubuh wanita dan berkata seperti itu, jika Lexie percaya, bukankah itu benar-benar bodoh?
Terutama orang yang mengatakan kalimat ini adalah Victor, yang telah melalui perjalanan cinta terlalu lama, yang di mana di kabarkan bahwa wanita yang di tidurinya bahkan lebih banyak daripada makanan yang di makan!
Keesokan paginya Alvaro dan Zacky mengetuk kamar Lexie begitu fajar menjelang.
Lexie membuka matanya, secara naluriah melihat ke sisi ranjangnya, untungnya, Victor sudah pergi tadi malam! Dia bangkit dan berpakaian tapi kemudian berjalan keluar dari pintu, melihat Alvaro dan Zacky yang sama-sama memiliki lingkaran hitam di bawah mata mereka, jelas sekali mereka tidak tidur semalam.
"Lexie, aku dan kak Alvaro sudah membuat sesuatu, kemari dan lihatlah?" Zacky sekarang mengeluarkan senyum yang lebar.
Lexie mengangguk, mengetahui benda yang mereka buat saat ini adalah benda yang berkaitan untuk menyelamatkan guru Damian, jadi dengan tidak sabat tanpa membersihkan dirinya, dan sudah mengikuti mereka di bengkel kecil.
Alvaro berjalan di depan, Zacky dan Lexie berjalan di belakang, ketika mereka membuka pintu bengkel kecil, mereka melihat 3 set baju hitam besi khusus yang di tempatkan di atas meja.
Lexie mendekati kemudian mengambil salah satunya kemudian melihatnya, terkejut, dan membelalakkan matanya: "Apakah ini adalah baju jirah tahan air?" Lexie benar-benar ingin mengatakan pakaian selam, tapi berpikir sepertinya kata ini tidak bisa di gunakan di sini, jadi dia mengatakannya dengan kata lain.
"Mata adik seperguruan benar-benar hebat, bisa melihat benda apa itu dalam sekilas." Zacky mengangguk kemudian berkata menjelaskan: "Kemarin malam aku sudah mendiskusikannya dengan kak Alvaro untuk waktu yang cukup lama, merasa harus memahami dulu sebenarnya apa tujuan dari pemilik pavilliun, mereka bisa melakukan tindakan dengan menghukum guru Damian, sudah pasti telah mengungkapkan ekornya, jika kita bisa menemui guru, maka kita dapat menyelesaikan keraguan ini dan mulai menemukan solusi."
__ADS_1