
Besok paginya suasana dikediaman kelurga Pervis begitu mencakam, sudah banyak para pelayan yang mulai mencari muka dihadapan Elsa, bahkan mereka yang dulunya menatap Elsa dengan sinis, kini dengan wajah tidak tau malunya berubah sikap menjadi baik ke arah dirinya.
"Semua pelayan berebutan ingin melayani anda Nona, Bahkan ada yang dengan lancang merampas bagian pekerjaan saya," ucap Rina dengan jengkel.
Elsa langsung tersenyum mendengar itu, "Biarkan saja, mungkin mereka mulai merasa terancam dengan berita tadi pagi," ucap Elsa tersenyum.
Beberapa jam yang lalu, Lisa serta Kiana dan satu kepala pelayan yang baru, dipanggil oleh Roan menuju ruang kerjanya.
"Ada apa sayang?" tanya Lisa bingung.
Wajah Roan nampak datar. saat berhadapan dengan Lisa, wajah yang penuh dengan sandiwara itu entah kenapa pintar sekali dalam menyembunyikan keburukannya.
"Hasil dari Interogasi sudah keluar," ucap Roan yang membuat Lisa serta Kiana menjadi terdiam.
"Benarkah? Lalu siapa pelaku yang ingin meracuni mu sayang?" tanya Lisa langsung.
Roan langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Lisa, "Pelaku? Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu itu?"
"Iya?"
"Lisa... Apa kau masih tidak sadar kenapa kau dipanggil ke sini?" tanya Roan, yang membuat Lisa semakin dibuat panik.
"A... Apa maksud mu sayang? aku tidak mengerti dengan ucapan mu, sungguh."
"Apa kau tau, bahwa pelayan yang kau suap itu baru saja mengatakan kebenarannya, bahwa kaulah pelaku dari ini semua."
"APA!" pekik Lisa tak percaya.
"Kenapa? Apa yang dia katakan itu bohong?" tekan Roan yang membuat Lisa dan Kiana menjadi diam membisu.
"Sayang aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba kau mengatakan ini? Buat apa juga aku melakukan itu sayang?"
"Buat apa? tentu saja untuk merampas harta keluarga ku!" Sahut Elsa yang tiba-tiba saja datang.
Semua pasang mata langsung menoleh ke arah Elsa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Elsa?"
Elsa berjalan memasuki ruang kerja ayahnya bersama dengan Daniel yang ikut dibelakangnya, tatapan Elsa begitu rendah saat melihat wajah Lisa yang terlihat menyedihkan.
"Apa maksud mu Elsa?" tanya Kiana tak terima.
"Apa kalian masih belum paham juga? Semua bukti sudah mengarah pada kalian, apa kalian masih belum mau mengaku?" ucap Elsa menatap sinis wajah Kiana.
Mendengar perkataan Elsa barusan, Lisa kembali memohon ampun pada Roan, "Sayang ini tidak seperti yang kau pikir! Aku tidak pernah punya niatan untuk meracuni mu, bahkan berencana untuk mengambil hartamu mu pun tidak ada," ucap Lisa penuh mohon.
"Tidak ada? Lantas kemana harta milik ibunda kau jual!" tekan Elsa menatap tajam wajah Lisa.
Brak!
Dengan penuh emosi Elsa memukul meja kerja ayahnya saat melihat tampang penuh sesal dari wajah Lisa dan Kiana.
__ADS_1
"Mereka semua ini tidak pantas berada disini, harta milik ibunda dijual, pendapatan kelurga Pervis habis terkuras karena dipakai berjudi, dan sekarang mereka malah ingin membunuh ayah dengan cara keji. sungguh mengerikan!"
"Elsa cukup!" ucap Roan memenangkan.
Roan memijit keningnya karena merasa pusing dengan masalah yang saat ini sedang dia hadapi, begitu berat masalah yang selama ini dia hadapi, lebih berat lagi masalah ini.
"Ha..." Roan menarik nafas panjang, sebelum akhirnya tatapannya kembali mengarah pada Kiana dan Lisa.
"Lisa... Kejahatan yang sudah kau buat ini sungguh kelewatan, aku tidak masalah kau menguras harta ku, tapi untuk yang ini, aku sungguh tidak terima."
Lisa terdiam menatap wajah Roan, "Mulai sekarang bereskan barang-barang mu, dan pergilah bersama dengan orang-orang mu!"
Deg
"Apa?" gumam Lisa tak percaya.
"Tidak!" Potong Kiana cepat.
Semua pasang mata langsung melirik ke arah Kiana, yang sedang meninggikan nada bicaranya, "Ayah tidak bisa mengusir kami begitu saja, apa ayah lupa aku ini siapa, aku adalah calon dari Putri Mahkota?"
Semua terdiam menatap Kiana, "Lantas, Kenapa?"
"Iya?"
Wajah Roan terlihat datar menatap Kiana, " Apa itu ada hubungannya dengan masalah ini?" tanya Roan, Kiana hanya diam.
"Jika kau memang merasa paling penting bagi negara Oktavia, kenapa kau tidak pergi saja ke Istana, untuk meminta perlindungan pada kelurga Kaisar?" tanya Roan, mendengar itu Elsa langsung tersenyum puas dengan tanggapan ayahnya.
"Apa! Ayah! Kenapa Ayah berkata seperti_"
"Penjaga! Bawa mereka semua keluar, termasuk dengan orang yang selama ini Nyonya Lisa bawa."
"Baik Nona!"
"Apa?"
Lisa dan Kiana dibuat panik saat penjaga di rumah mulai membawa tubuhnya keluar, Kiana memberontak dengan sangat kuat saat penjaga mulai menyeret tubuhnya.
"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Kiana.
Elsa hanya diam saat melihat Kiana yang terus memberontak, ada rasa puas pada dirinya saat melihat Kiana bersama ibunya dibawa keluar.
"Apa Ayah baik-baik saja?" tanya Elsa tanpa melirik wajah ayahnya.
"Ayah hanya ingin istirahat. kalian bisa keluar sekarang."
"Baiklah ayah, kami akan keluar, selamat beristirahat," jawab Elsa yang langsung keluar dari ruang kerja Roan.
...~*~...
Setelah keluar dari ruang kerja ayahnya, Rina langsung berlari mendatangi Elsa dan Juga Daniel disana.
__ADS_1
"Nona apa Anda baik-baik saja?" tanya Rina panik.
Elsa langsung tersenyum menanggapi respon dari Rina, " Aku baik-baik saja, Apa nenek sudah tiba?" tanya Elsa.
"Beliau sudah tiba bersamaan, dengan Nyonya Lisa dan Nona Kiana yang dibawa keluar."
"Benarkah? tepat sekali nenek datang," pekik Elsa senang.
"Ayo kita temui beliau," ajak Elsa.
Elsa dengan semangat berjalan keluar bersama dengan Daniel serta beberapa pelayan yang ikut dengannya dibelakang.
"Nenek?"
Langkah kaki Elsa terhenti saat melihat tatapan dingin dari Vani, semua para pelayan yang dulu diusir oleh Lisa kini telah kembali ke di kediaman Pervis termasuk dengan Hana yang merupakan ibu asuh dari Elsa.
"Akhirnya kejayaan mu sudah habis," ucap Vani menatap rendah wajah Lisa.
Vani berjalan melewati Lisa dengan banyak pelayan yang mengikutinya dari belakang, "Kenapa tidak dari dulu saja kalian pergi, bukankah itu lebih bagus?" tanya Vani dengan tenang.
"Roan pasti sangat menyesal sudah menikahi mu," ucapnya menatap ke arah jendela kerja Roan.
"Berharap bisa mendapatkan istri, yang bisa mengelola keuangan, malah dapat istri yang bisanya menghambur uang," sindir Vani.
"Ku dengar anakmu itu calon putri Mahkota, Apa itu benar?" tanya Vani, Lisa hanya menganggukkan Kepalanya.
"Apa selama dia tinggal disini sudah banyak mempelajari masalah politik?"
"Iya?"
"Kau harus tau Nona, gelar Putri Mahkota bukan hanya sekedar nama saja, tapi juga skill dan kemampuan dalam membangun suatu negara."
"Termasuk dengan masalah yang saat ini negara Oktavia alami!" tambah Vani.
"Aku harap ucapan ku barusan bisa menjadi tolak ukur bagi kalian, hanya itu yang ingin aku sampaikan."
"Nenek!" pekik Elsa yang sedang mendatangi Vani.
"Apa kabar sayang?"
"Baik Nek," jawab Elsa.
"Penjaga siapkan satu kereta kuda untuk Nyonya Lisa dan anaknya, pergi ke Istana," perintah Vani.
"Baik Nyonya"
"Dan antarkan juga mereka ke sana pastikan mereka sampai di istana dengan selamat, kau tau kan saat ini Nona Kiana itu merupakan calon Putri Mahkota?"
"Saya sudah tau Nyonya, saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik."
"Bagus," jawab Vani tersenyum.
__ADS_1
Mata Vani kembali melirik ke arah Lisa dan juga anaknya, "Aku masih baik hati pada kalian, jika kalian diusir disini, bukan berarti di Istana kalian juga diusir kan?" ucap Vani tersenyum.
TBC