Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Mencari Jalan Kematiannya Sendiri


__ADS_3

Wajah Lexie sangat dingin, tidak tahu sudah berapa lama duduk di sini.


Lucas membersihkan hidungnya, melihat Lexie yang tidak merespon, khawatir dan ingin menangis lagi, tapi ketika air matanya sudah hampir jatuh, Lexie tiba-tiba kembali terfokus, membantu Lucas menyeka air mata di sudut matanya.


"Ya, aku baik-baik saja, aku hanya sedang berpikir harus bagaimana baru bisa membuat diriku kuat dan hebat. Aku memikirkannya sepanjang malam, juga merasa bahwa selain bakatku untuk membuat senjata, tampaknya yang lainya tidak bisa. Untungnya sekarang beberapa negara terlihat damai, tapi di baliknya masih begitu pasang surut, selama aku mempergunakan kesempatan dengan baik, aku juga bisa menjadi orang yang sangat di perlukan."


Nada suara Lexie terdengar sangat tenang, tidak seperti orang yang baru saja mengalami sisi gelap tadi malam, mungkin hanya orang yang hatinya kuat saja yang bisa menghadapi segalanya di depan rasa takut.


Lucas masih kecil tidak begitu mengerti akan kata-kata Lexie, tapi dia penasaran dengan kata membuat senjata ini, "Kak, maksudmu kamu bisa membuat senjata?"


"Ya, aku sangat pandai dalam hal itu." Lexie menyentuh kepala Lucas, semacam perasaan sayang dalam hati yang penuh cinta hingga membuat hati Lucas merasakan kehangatan.


"Kak, kamu benar-benar berbeda dari para putri yang hanya berbaik hati tapi hanya di oetmukaannya saja." Lucas terpaku, kemudian kembali berkata: "Kak, lalu bagaimana kita bisa menemukan seseorang yang mendukungmu untuk membuat senjata?"


Lexie tersenyum dan berkata: "Jika tidak datang mencariku, aku bisa datang mencarinya?"


Lexie mengucapkan kalimat itu dengan penuh arti, kemudian dia kembali ke kamar, tapi setelah beberapa saat Lexie berjalan keluar dengan tampilan sebagai seorang pangeran yang tampan.


Ernie yang baru saja keluar dari dapur melihat 'pangeran tampan' ini, dia terkejut dan menumpahkan sup di tangannya, tapi dia dengan cepat memanggilnya, "No, nona ..."


Lexie yang mengenakan pakaian pria, menghiasi kontur wajahnya dengan makeup, selain orang yang akrab dengannya, sulit untuk mengetahui bahwa dia adalah seorang wanita, untungnya, ketika dia pindah kemari, Lexie sudah mempersiapkan beberapa pakaian pria, lagi pula tidak nyaman jika seorang gadis keluar, dengan mengganti pakaian pria maka akan mengurangi masalah.

__ADS_1


Lexie mencari sebuah jubah hitam setelah memakainya dia pergi keluar, mengingatkan Ernie untuk merawat Lucas baik-baik, Ernie dan Lucas tadinya ingin ikut dikarenakan khawatir, Lexie menolak, ada beberapa hal yang cukup Lexie lakukan seorang diri, membawa dua orang anak malah membuatnya tidak nyaman, Ernie dan Lucas tidak dapat menang dari Lexie, jadi hanya bisa tinggal di rumah.


Kota Phoenix pada hari ini sangat ramai, setelah beberapa hari berbaur Lexie mulaik akrab dengan kota kuno ini, bagaimanapun kota kuno itu meskipun makmur, dalam hal skala dan jalan jauh lebih kecil dari jaman modern, di depan Lexie yang memiliki IQ tinggi, tidak sulit untuk mengingat jalan dan yang lainnya.


Sisi timur kota Phoenix adalah sisi campuran, juga sangat ramai, dan lagi merupakan tempat di mana penyebaran berita paling cepat.


Lexie datang ke sebuah pasar di sisi timur ada sebuah papan di pasar itu, di papan itu sering di pasang pemberitahuan dari beberapa keluarga besar, ada yang mencari seorang tabib, ada yang mencari seniman bela diri, ada yang membeli dan menjual informasi, singkatnya, apapun yang dapat di pikirkan, selalu dapat melihatnya di papan pemberitahuan ini pada hati biasa.


Lexie melihat-lihat papan itu, benar melihat bahwa ada seorang yang sedang mencari pengrajin, tapi hari ini Lexie tidak datang untuk mencari pekerjaan, jadi dia mengeluarkan lembaran pemberitahuan yang sudah di persiapkan dari balik pakaiannya, kemudian langsung menempelnya.


"Surat tantangan?"


Pria dengan penampilan terpelajar di sebelahnya membaca kata-kata pada surat pemberitahuan Lexie, segera melemparkan pandangan aneh.


"Tempat apa itu pavilliun Heaven, itu adalah surga bagi para pengrajin, apa otak kakak bermasalah?"


"Benar, lihatlah surat tantangan yang di tulisnya, bahwa dia menantang semua orang di pavilliun Heaven dengan kekuatan satu orang! Ckck ini bukan penyakit ringan. Tampangnya terlihat baik-baik saja, mengapa bisa begitu bodoh?"


"Ini adalah pertama kalinya, belum ada orang yang menantang pavilliun Heavean, menurutmu apa orang-orang dari pavilliun Heaven akan menyambutnya?"


"Sulit untuk di katakan, lihatlah surat tantangan ini juga mengatakan bahwa jika orang-orang dari pavilliun Heaven tidak keluar untuk bertarung, maka mereka pengecut.

__ADS_1


"Tapi ini hanyalah pendekatan radikal saja, para pengrajin di pabilliun Heaven bukanlah orang bodoh, mana mungkin terjebak begitu mudah?"


Ada banyak diskusi di sekitar, hanya wajah Lexie yang terus menampilkan senyum tipis, setelah dia menempelkan surat pemberitahuan, dia langsung berbalik dan pergi, tidak memiliki niat untuk berdebat dan membenarkan apa yang sedang mereka diskusikan.


Tantangan itu dilaksanakan sekitar tiga hari kemudian di pavilliun Champion. Pavilliun Champion selalu suka di datangi oleh para cendikiawan. Lexie membetika tempat seperti itu juga karena ini memberikan tekanan kepada orang-orang di paviliun Heaven, lagi pula, perkataan dari para sastrawan ini tidak semua orang mampu menanggungnya.


Lexie tahu dengan cara ini sama saja dengan mencari sensasional, dia juga tahu yokoh-tokoh penting di pavilliun Heaven tidak mungkin keluar berhadapan dengannya, hanya karena pemberitahuan biasa seperti ini, tapi pavilliun Heaven sangat besar ada banya orang di dalamnya, tempat di mana banyak orang maka ada banyak kemungkinan, pasti akan selalu ada beberapa orang muda yang begitu mudah terprovokasi amarahnya.


Tidak sampai setengah hari sudah ada orang yang menyebarkan surat tantangan ke pavilliun Heaven ke seluruh penjuru jalan kota Phoenix.


Di pavilliun Champion para sastrawan yang sedang mendengarkan diskusi seorang guru agama dan pejabat dinasti, sang guru agama adalah seorang biksu tua yang melakukan perjalanan ke kota Phoenix, meskipun dia tidak terkenal, tapi malah di hormati oleh pejabat dinasti, pada dasarnya banyak kesamaan pengajaran antara agama dan sastra, jadi ketika mereka membicarakannya, mereka langsung menarik perhatian ratusan orang.


Ada seseorang yang menyebarkan berita bahwa pavilliun Heaven di tantang, guru agama itu terpaku, mengangguk dan kemudian berkata: "Tidak heran merupakan ibukota negara Nanyue, ternyata banyak orang-orang berbakat."


"Belum tentu benar orang itu berbakat atau tidak, tapi memiliki keberanian seperti ini patut di apresiasi." Dexter juga memuji, "Dan lagi orang yang menantang itu memilih tempat di pavilliun Champion, tadinya aku dan guru juga ingin membuat janji untuk berdiskusi lagi tiga hari kemudian, jika begitu, maka kita akan melihat pertunjukan yang bagus."


Guru agama itu mengangguk, "Aku yang merupakan biksu tua ini, meskipun tidak tertarik dengan pembuatan senjata, tapi semua yang ada di alam semesta itu patut untuk dilihat."


Mendengarkan keduanya berkata demikian, ratusan siswa di tempat itu seketika langsung tertarik, mereka semua berkata bahwa mereka harus datang ke pavilliun ini tiga hari kemudian.


Di kediaman Victor, Victor yang memakai pakaian setelan brokat bersulam hitam sedang membaca dokumen yang di kirimkan oleh merpati, Morgan masuk ke dalam. Ragu-ragu sejenak sebelum mengatakan kepadanya: "Yang Mulia, pagi ini nona Lexie mengganti pakaiannya dengan pakaian pria dan menempelkan sebuah pemberitahuan di pasar di bagian timur, dia ... Dia ingin menantang para pengrajin dari pavilliun Heaven, apakah kita akan menghentikannya?"

__ADS_1


Victor mendongak menatap lekat Morgan, bahkan ekspresinya tidak tidak berubah sedikitpun, setelah beberapa saat, Victor mendengus, "Mencari jalan kematiannya sendiri, untuk apa di halangi? Orang yang tidak kenal takut berpikir bahwa dirinya memiliki sedikit ketrampilan lalu begitu hebatnya? Yang benar-benar memiliki kemampuan di dunia ini, berapa banyak yang selamat?"


__ADS_2