
Untuk sesaat Lexie sangat membenci sistem feodal ini, membenci konsep pria terhormat dan wanita rendah di jaman ini! Membenci masyarakat ini di mana hal-hal itu sangat jelas-jelas salah, tapi malah diyakini.
Victor tidak tahu dari mana asalnya amarah Lexie, "Kamu masih tidak puas? Sebagai seorang wanita, kamu harus tahu untuk merasa puas, kamu harus tahu, memiliki anak dariku adalah berkah yang diinginkan banyak wanita tapi tidak mendapatkannya."
"Berkah?" Lexie pertama kali dalam-dalam memahami kata-kata "tidak bisa berkomunikasi", mungkin menurut pendapat Victor, dia telah menggunakan langkah mundur, tapi bagi Lexie langkah mundur ini sama sekali tidak cukup.
Jadi, Lexie tidak seharusnya memiliki harapan pada pria di jaman ini, semua orang mabuk dan hanya dia yang tersadar, perasaan semacam ini terlalu hampa dan sepi.
Lexie menghela nafas panjang, berbalik dan memunggungi Victor, dan tidak berbicara lagi.
Lexie tidak bisa memaksakan konsep pemikiran modernnya untuk di tanamkan dalam diri Victor, dan Victor juga tidak mungkin bisa memahami pikirannya, ketidakberdayaan ini, untuk apa di bicarakan.
"Sudahlah!" Victor turun dari ranjang, meninggalkan kamar setelah mengenakan sepatunya.
Lexie tidak menoleh, hanya saja ketika mendengar pintu kembali tertutup, air matanya mengalir melewati pipinya.
Di luar halaman, Zacky berdiri di bawah pohon beringin, memandang ke arah kamar Lexie, ketika dia melihat Victor keluar, dia bergegas menghampiri, dia tidak memberikan hormat, tapi langsung bertanya: "Yang Mulia, apa kamu akan memberi status pada Lexie?"
"Status?" Victor mencibir, melihat ke belakang tanpa jejak, tersenyum berkata: "Dia yang memintamu menanyakan hal ini?"
Zacky menggelengkan kepalanya, "Tidak, Lexie tidak pernah mengatakan ingin dirimu memberinya status, ini kutanyakan sebagai kakak seperguruannya. Sebelum guru Damian meninggal, dia mempercayakan Lexie pada kami, kami tidak bisa membiarkan Lexie teraniaya. Aku tidak bisa memaksa Yang Mulia, untuk memberinya status, aku hanya ingin Yang Mulia janji. Jika ... Jika Yang Mulia tidak bisa memberikan Lexie status, maka biarkan aku saja yang menikahinya!"
"Apa yang kamu katakan? Kamu ingin menikahi wanitaku?" Wajah Victor seketika langsung menggelap. Pandangan mata yang menatap Zacky penuh dengan aura membunuh, pada saat itu ada keanehan di jubah panjangnya.
__ADS_1
Zacky terkejut, hingga mundur satu langkah di karenakan momentum ini, tapi dia masih mengangguk, "Ya, aku ingin menikahinya, aku tidak peduli dengan cinta, aku hanya ingin memberinya status yang jelas. Dia hamil, jika masih merupakan gadis yang belum menikah, aku takut dia akan menerima perlakuan tidak hormat dari orang lain, aku tidak ingin melihatnya jatuh ke dalam kondisi seperti itu. Aku dapat menjadi suami dan istri hanya untuk status saja, aku hanya berharap dia dan anaknya bisa memiliki tempat yang aman."
Victor tertawa dingin, hanya tawa itu, tidak tulus, dia jelas-jelas tertawa, tapi tanpa ada alasan malah membuat orang ketakutan.
Melihat Victor tidak berbicara, Zacky menggertakan giginya dan berlutut dengan satu kaki, "Yang Mulia, kumohon padamu, jika Yang Mulia menyetujuinya. Aku, Zacky pasti akan menggunakan apa yang telah kupelajari untuk di gunakan bagi Yang Mulia!"
Tawa dingin Victor makin kencang, setelah tertawa beberapa sesaat, dia baru berhenti dan berkata dengan dingin, "Sejak kapan kamu mempunyai giliran untuk bertanggung jawab atas wanitaku ... Wanitaku, siapa yang berani berkata mengenai dirinya di dunia ini."
Setelah mengatakan itu, Victor melangkahkan kaki pergi ke luar kediaman, dia tampak sangat marah, bahkan Morgan mengejarnya dan memanggilnya beberapa kali bahkan Victor tidak menanggapinya sama sekali.
Zacky menyaksikan Victor pergi, tinjunya mengepal erat, ada kebencian di matanya, tapi lebih banyak perasaan tertekan.
Adik seperguruannya ini, apa akan terikat oleh pria seperti ini seumur hidup? Tidak bisa melarikan diri, juga tidak bisa kabur, hanya dapat hidup dalam bayang-bayang pria ini? Dia tidak tega pada Lexie!
Morgan yang sedang mengemudi segera menjawab, "Apa perintah Yang Mulia?"
"Menurutmu, mengapa wanita begitu serakah?" Victor menanyakan pertanyaan seperti itu.
Morgan mengatupkan bibirnya, langsung menebak masalah Victor dan juga Lexie, memikirkan wanita keras kepala dan juga cerdas itu, dia berpikir kemudian berkata: "Aku malah merasa nona Lexie tidak serakah, setidaknya dia belum pernah seperti wanita lain, yang meminta Yang Mulia untuk memberikan sesuatu."
"Tapi dia menginginkan sebuah status." Victor berpikir sangat lama, merasa kemarahan Lexie, itu semua hanyalah demi sebuah status. Victor tidak bisa memberikan status padanya, jadi tidak bisa memberikan anak Lexie memiliki posisi yang sah.
Sangat di sayangkan, pemikiran Victor ini benar-benar salah mengartikan maksud Lexie, Lexie juga tidak menyangka ternyata Victor membuat kesimpulan seperti itu.
__ADS_1
Mungkin ini hasil berbeda yang di hasilkan dari konsep yang berbeda di antara orang-orang.
Ketika Morgan mendengarkannya dia juga terkejut, hingga membelalakkan matanya, tapi kemudian berkata: "Tidak heran, wanita akan banyak berpikir jika memiliki anak. Dan lagi, wanita mana yang tidak ingin menjadi penguasa di kediaman Yang Mulia, nona Lexie berpikir seperti itu juga tidak bisa di bilang salah."
"Tidak salah, tapi aku sedikit kecewa, aku mengira di berbeda dari wanita lain, hasilnya masih sama seperti yang lainnya." Victor menggelengkan kepalanya, kemudian baru memejamkan matanya untuk beristirahat.
Morgan mengendarai kereta kuda ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak bisa mengucapkannya, dia mengikuti Victor selama bertahun-tahun, tentu sudah tahu Victor sudah sangat menggenakan hatinya pada Lexie, hanya saja, beberapa hal tidak cukup jika hanya menggenakan hati, orang-orang di jaman ini, tidak hanya menjadi diri sendiri saja.
Seperti Victor, dia bukan hanya seorang pria saja, dia juga adalah Raja dari negara Nanyue, dia adalah saudara kandung dari Kaisar saat ini, identitasnya itu terpapar di sana, dia di takdirkan tidak menikah dengan seorang wanita bordil, bahkan jika Victor mau, apa Kaisar akan memperbolehkannya? Victor mewakili sebagai keturunan kerajaan, mewakili wajah keluarga kerajaan.
Mungkin ketika dia memiliki pemikiran itu, itu adalah saat bagi orang-orang lain untuk bertindak bagi nona Lexie.
Morgan memikirkan keterlibatan ini, pada akhirnya dia hanya menghela nafas dalam-dalam.
Di dalam dapur sebuah panci kecil sedang menghasilkan gelembung-gelembung panas, di dalam panci itu, bahan obat bercampur bersama dan di masak dengan suhu tinggi untuk menghasilkan aroma yang kuat.
Tabib Gideon terus duduk di depan panci itu, mengawasi api dengan hati-hati, bahkan dia juga tidak mengedipkan matanya.
Zacky memasuki dapur, bersiap memasak air untuk memasak, melihat tabib Gideon yang sangat serius, tidak bisa tidak merasa kagum, dia merasa mereka seperti ini sedikit canggung, jadi dia mengambil inisiatif untuk mencari topik pembicaraan, "Kamu benar-benar tabib kerajaan di istana?"
Tabib Gideon memutar bola matanya, "Apa masih bisa di palsukan? Bahkan jika kamu tidak percaya padaku, juga seharusnya kamu percaya pada raja Victor."
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya merasa tabib kerajaan ada di sini untuk membantu adik seperguruanku memasak obat, sedikit merasa tersanjung." Zacky memasak air memasukan beras yang sudah di cuci ke dalam panci.
__ADS_1
Ketika mengungkit masalah ini, tabib Gideon tidak berdaya dan ingin menangis, "Benar buka, bahwa aku juga merasa ini mustahil. Aku setidaknya adalah kepala tabib di kerajaan, bahkan jika selir sakit saja, aku juga tidak harus pergi untuk memeriksanya, tidak kusangka malah di bawa kemari oleh raja Victor untuk menjadi tabib biasa."