
Lexie tersenyum samar, mundur selangkah kemudian menarik jarak aman antara mereka, karena tadi berlari sekuat tenaga maka sekarang wajah Lexie sedikit pucat, perutnya juga sedikit sakit, tapi di bandingkan dengan semua ini, Lexie lebih mengkhawatirkan Santo bisa di selamatkan atau tidak.
"Ayo pergi, kita pergi melihat Santo." Daniel melihat ekspresi khawatir di wajah Lexie kemudian dia melangkah maju.
Tapi langkah kaki Lexie diam di tempat, "Tuan Daniel, aku benar-benar minta maaf, tubuhku tidak terlalu sehat, aku berlari dalam satu tarikan nafas tadi dan sekarang aku benar-benar merasa tidak nyaman, jika kamu mengizinkan maka aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat."
Daniel menatap wajah Lexie dengan penuh arti, tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya, tidak berbicara untuk sekian lama kemudian pada akhirnya hanya mengangguk.
Lexie memberi hormat padanya kemudian tersenyum pada wanita di belakang Daniel, baru Lexie berbalik dan keluar.
Tampaknya Daniel baru menyadari bahwa masih ada wanita lain di ruangan itu, melihat Lexie berbalik dan keluar, Daniel kemudian berteriak menghentikan Lexie, "Hei! Aku dan dia tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
Langkah Lexie terpaku, kemudian berbalik, "Hubungan di antara pria dan wanita, tuan Daniel tidak perlu menjelaskannya, aku bisa mengerti dan juga aku tidak akan menertawakanmu."
Setelah selesai berbicara Lexie berbalik dan kembali ke kamarnya, meninggalkan Daniel yang raut wajahnya sudah tidak enak di lihat.
"Masih tidak pergi?" Daniel dengan dingin melotot pada wanita itu, melepaskan kemarahan di dalam hatinya, kemudian wanita itu bergegas memberi hormat dan undur diri.
Lexie kembali ke kamar, segera melepas celananya di balik tirai untuk memeriksa, melihat tidak ada bercak merah di celananya itu, hati Lexie baru merasa tenang, Lexie kemudian bergegas berbaring di ranjang untuk beristirahat. Lexie menyentuh perutnya sendiri dan bergumam: "Sepertinya kamu adalah anak yang kuat, tahu bahwa ibumu ini dalam masa yang sulit, kamu begitu pengertian dan tidak memberi masalah untuk ibumu ini, tunggu ketika kamu sudah lahir, sudah pasti akan menjadi malaikat kecilku."
__ADS_1
Mengenai Santo, bahkan jika Lexie mengikuti mereka untuk menyelamatkannya pun Lexie tidak dapat membantu sama sekali, jadi sekarang Lexie hanya bisa berdoa untuknya.
Tapi untungnya Santo selamat dari bahaya, sekitar setengah jam kemudian orang-orang yang pergi menyelamatkan Santo sudah kembali, hanya saja Santi yang di bawa kembali sudah kehilangan salah satu tangannya. Santo dalam keadaan koma setelah tabib menghentikan pendarahannya dan membalutnya, teman-temanya terus menjaganya di depan ranjangnya.
Ketika Lexie mendengar kabar itu, dia bergegas pergi ke kamarnya, kemudian Lexie melihat Santo yang kehilangan satu tangannya itu berbaring di ranjang, pada saat itu, perasaan bersalah memenuhi seluruh hati Lexie.
Seseorang yang masih hidup di potong lengannya begitu saja seperti ini, di kemudian hari Santo hanya akan menjadi orang cacat dan ini semua di sebabkan oleh Lexie.
Tenggorokan Lexie sedikit tercekat, berjalan ke depan ranjang Santo dan membungkuk memberi hormat, tidak peduli, Santo bisa mendengarnya atau tidak, Lexie dengan tercekat berkata: "Maaf, maaf, maaf ..."
Pria yang berjaga di depan ranjang Santo ketika melihat Lexie yang bersikap seperti itu malah tidak berikan Lexie perlakukan yang baik, "Kamu memang harus mengatakan maaf, dia kehilangan tangannya dan masih harus menerima hukuman dari tuan, masih tidak tahu tuan memberikannya hidup atau tidak, jika dia mati maka itu semua di karenakan olehmu. Apa kamu tidak bisa tinggal di penginapan baik-baik, untuk apa kamu mengikutinya keluar? Jelas-jelas tahu di sini bukan negara Beiming, bukan lingkup wilayah kami, tapi kamu malah ingin Santo membawamu keluar! Sikapnya memang selalu lembut ..."
Apa yang pria itu katakan, di karenakan hati Lexie terlalu merasa bersalah jadi Lexie sedikit tida bisa mendengarnya dengan jelas, hanya saja Lexie mendengar ketika pria itu mengatakan bahwa Santo masih akan menerima hukuman dari tuannya, "Kamu berkata tuan kamu masih akan menghukumnya? Kenapa?"
Lexie tampaknya agak tidak bisa menerima kenyataan ini, masalah yang Lexie pikir tadinya sederhana malah memiliki konsekuensi serius seperti ini, hatinya agak sedih, tapi Lexie tahu bahwa dia tidak bisa membiarkan Santo mendapatkan hukuman di karenakan ini.
Lexie keluar dari kamar Santo dan langsung pergi menuju kamar Daniel, Lexie mengetuk pintu, tidak ada suara di dalam sana, Lexie berdiri di depan pintu dan dengan tercekat berteriak: "Daniel, aku tahu kamu belum tidur, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu!"
Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar itu akhirnya terbuka, Daniel membuka pintu dengan mengenakan jubah tidur, ketika melihat Lexie ada senyum jahat di wajah Daniel.
__ADS_1
Lexie tidak mempedulikan senyum Daniel itu dan Lexie juga tidak menunjukkan ekspresi malu yang biasanya wanita tunjukkan ketika pria mengenakan jubah tidurnya, jubah tidur di jaman kuno itu benar-benar tertutup, tidak ada yang layak yang bisa membuat wajah memerah di karenakan malu.
"Ini sudah larut malam, kamu yang seorang wanita datang ke kamarku dan berkata ada yang ingin di bicarakan denganku ..." Senyum Daniel makin dalam, kemudian dia melangkah ke samping dan menatap ke arah Lexie, artinya sangat jelas ingin mempersilahkan Lexie masuk ke dalam.
Seorang wanita yang rasional, jangankan tengah malam, bahkan di siang hati lun tidak mungkin akan masuk ke kamar seorang pria, terlebih ketika kondisinya itu hanya berduaan.
Daniel tidak menyangka Lexie berjalan masuk ke dalam tanpa rasa malu, pada saat itu senyum Daniel berubah menjadi kaku, tapi dengan segera Daniel menetralkan raut wajahnya.
"Daniel, aku menyelamatkan nyawamu sekali, kuharap kamu tahu balas budi." Lexie berkata secara langsung.
Ketika Daniel mendengarnya, dia mendongak dan tersenyum, "Rosie ... Tidak, mungkin tidur bukanlah nama aslimu, tapi aku tidak peduli, kamu tidak mungkin berpikir aku dengan baik hatinya membiarkanmu ikut denganku bukan, meskipun aku tidak tahu kamu sedang bersembunyi dari apa, tapi kamu yang seorang wanita meninggalkan kotamu sendirian, sudah pasti memiliki tujuan tertentu. Demi keadaan aku tidak tahu akan ada apa masalah yang muncul, aku menerimamu dan juga melindungi serta mengantarkanmu ke kota Campbell, apa ini tidak bisa di bilang balas budi? Jika bukan karena kamu sudah menyelamatkanku, apa kamu pikir bisa naik ke atas kereta kudaku?"
"Kalau begitu, mulai besok dan seterusnya aku bisa pergi tidak bersama dengan kalian , selama kamu bersedia membalas Budi padaku." Lexie berpikir sejenak kemudian berkata sambil menggerakkan giginya.
Daniel hening untuk beberapa saat, "Apa yang kamu inginkan?"
"Yang kuinginkan sangat sederhana, bagimu benar-benar sangat sederhana, aku hanya berharap kamu jangan mempersulit Santo." Lexie bergegas mengatakan pemikirannya, "Ini semua salahku dan tidak ada hubungannya dengan Santo, dan lagi jika ingin di katakan permasalahan ini muncul di karenakan dirimu."
Daniel menunjuk wajahnya sendiri dan tersenyum dengan aneh, "Apa hubungannya ini denganku?"
__ADS_1
"Jika bukan karena kamu yang menyewa pelacur di sebelah kamar kita yang berdekatan, mana mungkin aku akan pergi keluar di karenakan rasa canggung!" Mengungkit hal ini, Lexie juga sedikit marah, jika bukan karena Daniel yang berbuat sembarangan maka semua ini seharusnya tidak terjadi.
Daniel benar-benar terdiam, dia dengan marah kemudian menggertakan giginya dan berteriak, "Aku sudah mengatakannya padamu, aku dan wanita itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Dan lagi, kamu kira aku ini siapa, apa mungkin aku ini akan menerima wanita kotor seperti itu? Jangan bercanda!"