
Di dalam kereta kuda yang bergerak, Lexie tanpa sadar tertidur. Samar-samar Lexie tampaknya bermimpi dan dalam mimpi itu Lexie berlari mati-matian, tapi orang-orang di belakangnya terus mengejar, orang-orang itu memegang pisau, sepertinya merupakan orang dari kediaman jendral. Dan ada orang-orang yang menjulurkan pedang padanya yang tampaknya berasal dari kediaman Victor.
Lexie tidur dengan sangat gelisah, ketika terbangun matahari sudah terbenam.
Kereta kuda masih terus bergerak di jalan, di dalam kereta kuda sangat gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Lexie menggerakkan tubuhnya tapi sekujur tubuhnya begitu lemas tidak bertenaga. Benar juga jika Victor dalam keadaan emosional dia tidak pernah akan membuat Lexie mundur dengan tenang.
Lexie menggertakan giginya dan merangkak ke samping jendela, Lexie mengangkat tirai dan melihat prajurit di sekitar gerbong kereta lewat, satu persatu, prajurit yang dekat dengan kereta kuda itu melihat Lexie yang sudah bangun dan menatapnya dengan dingin, sama sekali tidak berniat untuk berbicara dengan Lexie.
"Maaf, bisakah aku meminta air untuk minum?" Lexie merasa tenggorokannya begitu kering dan tidak nyaman, jadi mau tidak mau dia membuat mulutnya berbicara.
Prajurit itu melepaskan botol yang tergantung di pelana kuda kemudian menyerahkannya pada Lexie, tapi dia sama sekali tidak menunggu Lexie mengembalikan botol itu dan langsung pergi ke depan dengan mengendarai kudanya.
Lexie menyibakkan tirai ke samping, membiarkan cahaya di luar jendela bersinar masuk ke dalam gerbong kereta. Lexie baru menyadari bahwa ini adalah sebuah gerbong kereta kuda kecil, tidak ada apa-apa selain selimut, dan hanya bisa menumpang satu orang. Lexie melihat ke arah pakaiannya, Lexie sudah tidak mengenakan pakaiannya yang dia kenakannya pagi tadi tapi sudah berganti dengan jubah yang agak lebar. Tekstur pakaian ini sangat bagus, Lexie mengenali bahan seperti ini, menggunakan kain yang lebih mahal dari pada sutra untuk membuat piyama, hanya Victor saja yang begitu pemilih seperti itu.
Ini adalah piyama Victor, Lexi menarik nafasnya dalam-dalam dan adegan ketika Lexie sedang menyenangkan Victor muncul di dalam benaknya, untungnya ketika pria sedang marah cara ini efektif mengurangi kemarahan pria.
Lexie tersenyum agak sedih, tidak menyangka dirinya pada akhirnya akan gagal melarikan diri sebagai alat untuk memuaskan hasrat.
Malam harinya kereta kuda berhenti di sebuah kota, kota ini bukan kota yang pernah di lewati Lexie sebelumnya, Lexie menduga Victor memilih jalan lain, ketika pergi saat itu Daniel tidak memilih jalan yang paling cepat dan mengira bahwa jalan itu adalah yang paling aman.
Jalan ini seharusnya merupakan jalan yang sebenarnya, jalan ini harusnya bisa tiba di kota Phoenix Lexie cepat dari pada ketika Lexie pergi.
Sebaai seorang raja yang memiliki kekuasaan yang paling kuat, para petugas pos sudah sejak awal membersihkan pos tempat mereka berjaga, bahkan lumut pada batu bata di depan pintu juga hati-hati di pindahkan.
"Tuan, bisakah meminta seseorang untuk mengantarkan pakaian yang pantas untukku." Lexie mengangkat tirai dan berbicara pada orang yang ada di luar gerbong kereta. Lexie tidak bisa keluar dengan mengenakan piyama Victor seperti ini, meskipun Lexie tidak peduli karena dia adalah seorang wanita modern dan juga piyama semacam ini bisa benar-benar menutupi seluruh tubuhnya. Tapi, ini bukanlah di jaman modern, bahkan wanita di rumah bordil pun tidak akan muncul di depan semua orang dengan piyama seperti ini, karena itu akan membuat orang merasa dirinya begitu tidak tahu malu.
Orang itu mendengarnya tapi tidak berbicara pada Lexie, hanya berbalik badan dan masuk ke dalam penginapan. Setelah beberapa saat dia membawa satu set pakaian wanita.
Lexie mengambil pakaian itu, kemudian mengangkat tirai setelah selesai berganti di dalam kereta. Di perjalanan ini semuanya adalah pria, jadi tidak ada yang bisa membantu Lexie turun dari kereta kuda. Lexie juga bukan orang yang manja jadi dia menginjak tumpuan kemudian melompat dari atas kereta.
Namun ketika Lexie mendarat, tiba-tiba sebuah pertanyaan terpikir di benaknya, karena tidak ada wanita di perjalanan ini, jadi siapa yang mengganti pakaian yang di kenakannya sebelumnya? Sulit bagi Lexie untuk membayangkan Victor yang mengganti pakaian Lexie dan mengenakan piyamanya sendiri pada Lexie.
Penginapan ini tidak besar, ada banyak yang menunggang kuda kemari, meskipun tidak lebih dari 100 orang seperti di pagi harinya, tapi yang tersisa jumlahnya juga tidak kecil. Penginapan di kota kecil ini benar-benar tidak dapat menampungnya jadi banyak dari para penunggang kuda itu pergi untuk menginap di rumah warga, hanya puluhan orang saja yang tinggal di penginapan.
Namun, puluhan orang ini, bagi sebuah penginapan kecil, tetap saja masih terlihat begitu sesak.
Lexie memasuki penginapan ingin bertanya di mana Santo berada dan bagaimana keadaanya sekarang, tapi setiap Lexie bertanya pada prajurit itu, tidak ada dari mereka yang menjawab pertanyaan Lexie, Lexie tahu para prajurit ini pasti mendapatkan perintah tidak di izinkan berbicara dengan Lexie.
Lexie menghela nafas dan juga tidak bisa memaksa, Lexie mencari di sekeliling dan masih tidak menemukan jejak Santo, jantungnya semakin gelisah.
Setelah beberapa saat pengurus penginapan datang dan berkata padanya, "Nona, Yang Mulia, ingin anda masuk untuk melayaninya."
Lexie mengangguk dan mengikuti pengurus penginapan itu ke kamar terpisah di lantai dua penginapan. Pengurus penginapan itu membawa Lexie ke depan pintu kemudian membungkuk hormat dan undur diri.
Lexie tidak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam.
Setelah pintu di buka, ada uap kabut yang mengelilingi, uap kabut ini mengelilingi tirai yang membuat seluruh ruangan panas dan lembab.
Lexie memasuki kamar dan menutup pintu, berjalan menuju balik tirai yang menutupi dan melihat Victor sedang bersandar di bak mandi sambil memejamkan matanya, dia mendengarkan perintah samar dari Victor, "Mandikan aku."
Sial! Sekarang memperlakukannya sebagai pelayan.
Lexie berjalan ke arah bak mandi kemudian mengambil kain dan merendamnya di dalam air di bak mandi lalu menyeka punggung Victor. Kulit Victor sangat halus tidak seperti kulit seorang pria. Lexie menggosok punggung Victor dengan sangat serius, begitu serius hingga sama sekali tidak memiliki pemikiran lain.
Di dalam kamar itu hanya terdengar suara air yang mengalir.
Setelah sekian lama airnya sudah menjadi agak sedikit dingin, Victor perlahan membuka matanya dan menoleh, kemudian meraih dagu Lexie tanpa mengatakan apa-apa langsung menggigitnya, Lexie begitu kesakitan tapi tidak berani bergerak.
Victor melepaskannya ketika ada rasa amis darah yang terasa di mulutnya, jari-jari Victor menyentuh luka di dagu Lexie dan tersenyum dengan jahat, "Aku pernah berkata akan memberimu status sebagai selir pelayan, tapi sepertinya kamu tidak puas dengan status ini. Katakan dan berikan alasan padaku. Oh iya ... Setelah kamu pergi, aku meminta orang untuk menanyakan tabib Gideon mengenai situasinya, sepertinya tabib Gideon mengatakan yang kamu inginkan adalah seumur hidup ingin berdua?"Mata Lexie terbelalak, tidak menyangka bahwa pemikirannya ini beralih ke telinga Victor melalui tabib Gideon. Lexie berpikir sepertinya dirinya pernah mengatakan hal ini di depan Ernie, mungkin Ernie secara tidak sengaja mengatakan hal itu di depan tabib Gideon.
"Bagaimana jika aku bilang benar." Bibir merah Lexie terbuka dan berbicara dengan pelan, nafasnya terhembus di telapak tangan Victor dan membuatnya merasa sedikit geli.
Lexie mengakuinya begitu saja, ini membuat Victor terdiam. Tangan Victor terus meremas Lexie dengan jari-jarinya, seakan ingin melihat sesuatu dari wajah Lexie tapi selain ketegasan tidak ada hal lain yang terlihat di mata Lexie.
Jadi Victor mengerti bahwa yang di katakan Lexie itu serius.
"Apa kamu tahu bahwa pemikiranmu itu begitu konyol! Tidak hanya akan aku saja bahkan jika itu pria lain yang memiliki latar belakang keluarga yang cukup baik, dia tidak mungkin hanya memiliki seorang wanita seumur hidupnya. Permintaanmu ini pada dasarnya sudah kelewatan." Victor melepaskan tangannya dan menarik Lexie masuk ke dalam air.
Airnya sudah agak dingin, jadi ketika membuat pakaian Lexie basah, Lexie menggigil karena kedinginan.
__ADS_1
Lexie mendongak untuk menatap Victor, "Aku tahu bahwa itu tidak mungkin, jadi aku tidak pernah berpikir untuk menikah dan menjadi istri seseorang di sini. Jadi, Yang Mulia status yang kamu janjikan ingin di berikan padaku itu sebenarnya aku benar-benar tidak membutuhkannya. Seorang selir pelayan, seorang gadis penghangat ranjang, atau bahkan wanita dari rumah bordil bagiku semua itu hanyalah mainanmu saja, tidak ada perbedaannya."
Perkataan Lexie begitu tegas, Victor hanya memeluknya seperti itu dan untuk sesaat Victor lupa untuk berbicara.
"Dasar gila!" Pada dasarnya Victor dengan marah mengucapkan dua kata ini, kemudian berdiri dan berjalan keluar dari bak mandi.
Victor mengambil piyama kemudian membungkus tubuhnya dengan asal lalu berjalan melewati tirai penutup.
Lexie terpaku di dalam bak mandi, begitu kedinginan dan menggigil kemudian baru dengan menyedihkan merangkak keluar. Setelah melewati tirai Lexie menemukan bahwa Victor sudah duduk di kursinya yang nyaman, melihat Lexie yang keluar dengan tubuhnya yang basah, Victor sedikit mengerutkan alisnya.
"Apa masih ada pakaian untuk kupakai?" Tanya Lexie.
Victor mendengus, "Kamu mengatakan bahwa kamu hanya mainan, ini di dalam kamar, apa kamu masih membutuhkan pakaian untuk di pakai? Lepaskan pakaianmu dan kemarilah."
Lexie kembali merasakan sebuah penghinaan, tapi Lexie masih melakukan apa yang Victor katakan. Mungkin karena sudah terlalu sering di perlakukan seperti itu jadi sekarang kekebalan Lexie sudah sangat kuat.
Keduanya berbaring di ranjang, Victor menarik Lexie masuk ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan tenang seperti itu.
Suasana yang begitu tenang dan hangat seperti ini dulunya pernah menjadi adegan yang di impikan Lexie. Lexie yang begitu naif sebelumnya memimpikan ketika tumbuh dewasa ada seseorang pria yang memeluknya seperti ini dan dirinya tidur dengan damai.
Hanya saja alasan mengapa itu di sebut mimpi adalah karena mimpi itu tidak akan terwujud dengan mudah.
"Yang Mulia, Santo dia ..." Sebelum Lexie selesai berbicara, Victor sudah berbalik dan menekan Lexie di bawah tubuhnya, Victor menggigit bibirnya dan tidak memberikan Lexie kesempatan untuk berbicara sama sekali.
Karena kedatangan raja Victor, malam di penginapan ini tidak tampak sepi di bandingkan biasanya, para prajurit terus-menerus berpatroli, bahkan pengurus penginapan pun tidak berani tertidur, takut di tengah malam Yang Mulia Victor membutuhkan sesuatu dan dirinya tidak bisa memenuhi permintaannya tepat waktu.
Hanya saja malam ini pengurus penginapan itu menunggu dengan sia-sia.
Sampai keesokan paginya ketika Victor dan yang lainnya berkemas dan kembali berangkat, pemilik penginapan baru kembali ke kamarnya sambil menguap untuk tidur.
Semua prajurit di perintahkan untuk tidak berbicara dengan Lexie, jika ingin mendapatkan berita dari mulut mereka itu adalah hal yang tidak mungkin, jadi Lexie dengan menebalkan mukanya naik ke gerbong kereta kuda milik Victor.
Terhadap tindakan inisiatif Lexie, Victor tidak pernah menolaknya jadi ketika Lexie menaiki kereta kuda Victor hanya mengangkat alisnya dan berkata, "Pose itu benar-benar sangat jelek."
Sepanjang jalan ini begitu membosankan, tapi sepertinya hidup Victor tidak membosankan, tumpukan kertas yang di letakkan di atas meja membuat Victor sibuk sepanjang hari.
"Tolong! Tolong!"
Ketika kereta kuda sampai di lembah, dari kejauhan terdengar suara seseorang yang berteriak dan suara itu adalah suara seorang wanita.
Sudut bibir Lexie berkedut, di pegunungan seperti ini ada seorang wanita yang berteriak meminta tolong, di benak Lexie langsung muncul wanita siluman yang biasanya muncul di dalam novel, Lexie merasa akan ada hantu wanita yang muncul.
Dan ketika dengan penasaran menyibak tirai kereta kuda dan melihat ke arah datangnya suara, Lexie melihat seorang wanita yang berlari tanpa menggunakan alas kaki menuju ke arah mereka.
Dari kejauhan paras wanita itu tidak begitu jelas, hanya bisa melihat dia mengenakan pakaian yang sudah robek, ada bagian tubuh wanita itu yang terlihat, pemandangan yang seperti itu membuat Lexie yang seorang wanita pun malu. Lexie menundukkan kepalanya dan tanpa sadar melihat ke arah daanya sendiri, meskipun dadanya bisa di anggap besar, tapi jika di bandingkan dengan wanita itu masih tampak jauh lebih kecil.
Ketika Lexie mengangkat kepalanya, dia melihat Victor menatapnya lekat. Sepertinya ketika adegan Lexie menatap dadanya sendiri itu juga dilihat oleh Victor.
"Kenapa, apa kamu merasa dadamu terlalu kecil jadi merasa bersalah padaku?" Victor tertawa mengejek.
Bersalah kepalamu!
Tentu saja Lexie tidak berani berbicara kasar seperti itu, jadi Lexie betoura-pura tidak mendengarnya.
"Tolong, kalian adalah tentara Estelar bukan, aku mengenal raja Victor, kumohon kalian menolongku! Yang Mulia pasti akan memberikan kalian hadiah!" Wanita yang meminta bantuan itu akhirnya berlari kebarisan depan tentara yang menunggang kuda.
Lexie menatap Victor dengan terkejut, "Yang Mulia, wanita yang mengenalmu itu mengalami masalah." Sulit untuk menyembunyikan rasa ingin menonton pertunjukkan dari nada suara Lexie.
Victor malah tidak marah dan hanya tersenyum, "Kenapa, kamu cemburu?"
Lexie memutar bola matanya dan tidak berbicara, terlalu malas untuk meladeninya. Lexie lebih tertarik pada wanita di luar gerbong kereta kuda, jadi Lexie kembali membuka tirai untuk melihatnya.
Di luar gerbong kereta wanita yang berpakaian robek itu ternyata memiliki paras yang mempesona, berbeda dari kecantikan Lexie yang menawan, kecantika wanita ini lebih indah dan murni.
Jika Lexie adalah siluman wanita penuh pesona, maka wanita di luar kereta kuda itu adalah Dewi yang turun dari surga, dia begitu putih dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan rambutnya pun begitu murni.
Lexie menyadari bahwa sekeliling itu menjadi sunyi karena semua tentara sedang terpaku menatap wanita itu. Tidak hean, bahkan Lexie saja tidak bisa menahan kekagumannya pada kecantikan wanita ini, apa lagi para tentara yang sepanjang tahun sangat jarang bertemu dengan wanita.
"Yang Mulia, ada seorang Dewi di luar gerbong kereta yang sedang meminta tolong bantuanmu." Para tentara itu begitu terpesona, hanya Lexie saja yang masih bisa tetap tenang sambil membuka tirai kemudian memberi tanda pada Victor untuk melihat keluar jendela.
__ADS_1
"Dewi dari mananya, omong ko..." Sebelum Victor selesai berbicara, dia berbalik dan melihat wanita di luar gerbong kereta, kemudian raut wajah Victor seketika berubah, terutama pandangan matanya, keterkejutan itu tidak bisa di tutupi sama sekali!
Bisa membuat Victor yang biasanya tidak memiliki ekspresi ini begitu terkejut, wanita ini sepertinya memiliki hubungan dengan Victor.
"Para tentara kumohon kalian untuk membantu, aku memiliki bukti aku mengenal Yang Mulia Victor, yang kukatakan semuanya benar, Yang Mulia Victor pasti akan memberikan kalian hadiah!" Dewi itu melihat para tentara masih dalam keadaan terpaku dan berpikir bahwa para tentara ini tidak akm membantunya. Jadi dia menjelaskan dengan cemas, mata kecilnya itu penuh dengan keluhan dan juga kesedihan, dia mengeluarkan sebuah batu giok dari balik lengan pakaiannya, di batu giok itu di ukir dengan nama "Victor".
Di bawah permohonan wanita cantik itu, akhirnya ada prajurit yang mendapatkan kembali akal sehatnya setelah terpanah pada kecantikan wanita itu. Kemudian seorang tentara maju untuk mengambil batu giok dari tangan wanita itu lalu menghampiri kereta kuda dengan mengendarai kudanya dan berkata melapor, "Yang Mulia, ada seorang Dewi, oh bukan, seorang wanita yang membawa giok milikmu dan ingin meminta bantuanmu..."
"Aku melihatnya." Suara Victor terdengar dari dalam kereta kuda.
Wanita yang berdiri tak jauh dari sana mendengar suara Victor yang terdengar dari dalam kereta kuda, dia begitu bersemangat dan bergegas menuju ke dekat kereta kuda dengan kakinya yang telanjang. Para tentara ingin menghentikannya tapi pakaian yang di kenakannya itu benar-benar sangat sedikit. Beberapa tentara ingin melangkah maju tapi tidak bisa mengulurkan tangan untuk memblokirnya. Jika benar wanita ini benar-benar memiliki hubungan dengan Yang Mulia maka mereka tidak akan berani menyentuh seujung rambut pun, walau pun di pukuli hingga mati.
Jadi walauoun kereta kuda itu di lindungi dengan ketat tapi wanita itu masih bisa maju ke depan gerbong kereta.
Dan dengan seni bela diri yang di miliki Victor, jika dia tidak mengijinkannya maka wanita cantik itu pun tidak bisa menghampirinya, wanita cantik itu bisa mendatangi Victor itu menunjukkan bahwa dia benar-benar memiliki hubungan dengan Victor.
Pada saat itu Lexie benar-benar menarik sudut bibirnya dan tertawa. Benar saja, Victor masih merupakan Victor pecinta wanita yang legendaris itu.
Wanita itu mengabaikan pandangan semua orang yang terkejut, dia menaiki kereta kuda dengan kedua tangannya lalu membuka pintu gerbong dan segera melihat Victor yang duduk di depannya. Kemudian wanita itu menangis dan menghambur ke hadapan Victor, di bawah pandangan mata Lexie yang terkejut, wanita itu masuk ke dalam pelukan Victor.
Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Lexie tahu bahwa jika orang biasa, jangankan mendekat bahkan dalam jarak sepulu kaki pun, Victor sama sekali tidak memperbolehkan untuk mendekat. Dan wanita ini malah masuk ke dalam pelukannya.
Hati Lexie gemetar dan menyusut di sudut, tidak bergerak dan mengurangi rasa keberadaannya sebisa mungkin, Lexie bahkan dengan serius mempertimbangkan apa sudah waktunya dia pergi dari sini dan membeti cukup waktu dan ruang pada dua orang ini yang sepertinya setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu kembali. Bagaimana pun yang Lexie perankan itu adalah seorang gadis pelayan penghangat ranjang yang penurut.
Tapi tidak tahu mengapa kaki Lexie tidak bisa bergerak, mungkin karena Lexie ingin melihat wajah sebenarnya dari pria ini, ingin membuat perasaan khusus di dalam hatinya itu bisa di hilangkan sebelum bertumbuh. Jadi Lexie tidak bergerak hanya menonton dengan tenang.
Raut wajah Victor tidak terlalu enak di lihat, Victor mengangkat tangannya untuk mendorong wanita itu menjauh, tapi ketika tangannya berada di bahu wanita itu Victor sama sekali tidak menggunakan tenaganya.
"Kakak ipar ... Akhirnya aku menemukanmu. Cepat pergi, dan selamatkan ayahku, kakak ipar ..." Wanita itu menangis sambil menyeka air matanya pada jubah Victor.
Victor memandangi jubahnya sekilas dengan jijik kemudian mendorong wanita itu menjauh, "Siapa kamu?"
"Kakak ipar... aku Tamia." Wanita itu merasa sedih, "Bahkan jika kamu tidak mengenalku tapi aku dan kakakku adalah saudara kembar, kami memiliki wajah yang sama. Jika kamu tidak mengenaliku, apa berati kamu melupakan kakakku. Kakak ipar ... Kakak itu sudah menikah denganmu!"
Lexie tidak bisa menahan tawanya, haha, ternyata raja Victor yang playboy ini memiliki masa seperti itu, sepertinya Victor menjalani hubungan dengan keduannya? Tiba-tiba Lexie merasa mual dan ingin muntah, Lexie tidak bisa menahannya dan merasa mual di sudut kereta, setelah beberapa saat Lexie tidak memuntahkan apa-apa, hanya saja minatnya untuk menonton pertunjukkan ini sudah tidak ada.
Lexie berdiri dan hendak pindah keluar kereta, siapa yang tahu baru saja Lexie bergerak, suara dingin Victor sudah datang dari arah belakangnya, "Berhenti! Apa yang kamu lakukan?"
Lexie dengan bingung menoleh ke belakang, menghadapi wanita cantik di hadapannya ini, Victor masih bisa melihat gerakan kecil Lexie, itu benar-benar membuat Lexie terkejut, "Yang Mulia bertemu dengan kenalan lama, jadi tentu saja aku secara alami mengerti harus undur diri, bagaimana jika mendengar sesuatu yang tidak boleh kudengar lalu di bunuh, itu benar-benar kematian tidak sepadan."
"Duduk!" Victor melotot pada Lexie dan Lexie hanya mengerucutkan bibirnya, kemudian kembali ke sudut untuk duduk, hanya saja kali ini Lexie dengan santai menuang secangkir teh untuk dirinya sendiri.
Tamia si wanita cantik bagai dewi itu tampaknya memperhatikan keberadaan Lexie saat ini, melihat Lexie memiliki paras yang cantik hatinya masam, kemudian kembali menangis, "Ternyata begitu, kakak ipar bisa melupakan kakak itu ternyata karena... ternyata karena ..."
Tamia mulai menangis dan meraih lengan pakaian Victor untuk menyeka air matanya, tindakan intim seperti itu tampaknya begitu harmonis, seolah-olah seharusnya sudah begitu.
Benar juga paras Victor juga tidak tertandingi dan itu begitu cocok dengan gadis kecil seperti Dewi di depannya ini.
"Sudahlah! Sebenarnya apa yang terjadi?" Victor menghela nafas dan bertanya dengan dingin, kemudian Victor menarik lengan bajunya itu.
Wajah Tamia seketika berubah, memegang lengan Victor kemudian mengayunkannya, "Kakak ipar, sesuatu terjadi di lembah, ada orang yang menerobos masuk ke lembah dan membunuh banyak orang, aku berhasil melarikan diri dengan tidak mudah, tapi ayah ... Kakak ipar, cepatlah kamu pergi untuk menyelamatkan ayah ..."
Victor terdiam, dirinya tidak berbicara untuk sekian lama dan tampak ragu-ragu.
Tamia yang melihat Victor tidak tergerak kembali menangis dan berkata, "Kakak ipar, saat itu kakak berkorban begitu banyak demi menyelamatkanmu, sekarang ketika keluarganya berada di dalam kesulitan, apakah kamu benar-benar akan mengabaikannya?"
"Pimpin jalan!" Victor akhirnya membuat keputusan.
Begitu Tamia mendengarnya dia segera berlari menuju depan pintu kereta kuda dan mulai menunjukkan jalannya, Victor mengerutkan kening kemudian mengambil jubah yang ada di sampingnya kemudian melemparkannya.
Tamia menerima jubah itu dan sepertinya baru menyadari bahwa pakaian di tubuhnya itu begitu memalukan dan bagian tubuhnya juga terlihat. Wajahnya seketika memerah dan dengan malu-malu mengenakan jubah Victor.
Tidak tahu mengapa melihat adegan itu Lexie tiba-tiba kembali merasa mual, ternyata pakaian Victor di butikan tidak hanya untuk di kenakan olehnya saja.
Pepatah mengatakan diantara 3 orang seharusnya ada yang bisa di pelajari, tapi saat ini di atas kereta kuda, malah menjadi di antara 3 orang pasti ada seorang musuh! Lexie tidak menganggap Tamia sebagai musuh, tapi tidak demikian dengan Tamia.
Membelakangi Victor, Tamia diam-diam tersenyum licik pada Lexie, dan senyum itu tampaknya seperti senyum kebanggaan dan juga kejam.
Pasukan itu berjalan cepat ke arah yang di tunjukkan oleh tamia, tidk berapa lama sudah sampai di daerah lembah yang dalam, ada jalan kecil di kedalaman lembah dan kereta kuda tidak bisa melewatinya, jadi Victor dan yang lainnya turun dari kereta kuda dan berjalan kaki. Sebelum mencapai dasar lembah sudah melihat asap tebal yang membumbung naik dari bawah.
__ADS_1