Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Berputar Arah Untuk Mengantar Buku


__ADS_3

Bayangan pohon bergoyang, kuncup aroma samar yang kadang tercium, aroma ini mengelilingi aroma menggoda yang ada di bawah pohon, menjadi semacam godaan pamungkas.


Mata Lexie menyusut untuk sesaat.


Lexie benar-benar ingin menampar wajah Victor, kemudian berteriak padanya, "Apa kamu ini psyco?"


Tapi Lexie tahu, dia tidak bisa! Di mata Victor Lexie adalah mainan untuk melampiaskan gairahnya saja, dan mainan selalu semakin menantang yang semakin menyenangkan, sama seperti pria dan wanita yang berselingkuh, selalu mencari beberapa tempat menarik untuk melakukan hal-hal tidak senonoh.


Dan tampaknya Victor juga sedang mencari kegembiraan, Lexie teringat dulu ketika berada di asrama, temannya pernah menunjukkan sebuah film mesum dan mengeluarkan komentarnya yang tak terlupakan, dia berkata: "Kamu lihatlah, makin berbahaya tempatnya, makin berbahaya situasinya, semakin merangsang sekresi hormon manusia, para mesum ini bahkan bisa membayangkan trik seperti itu, dan juga sangat di cintai oleh orang-orang di dunia, yang berati bahwa bahkan pada orang normal terdapat hasrat untuk berbuat hal gila.


Di siang hari Victor melihat kakaknya melindunginya dengan erat, ini malah merangsang hormon Victor, jadi dia datang malam ini.


"Tanggalkan pakaian." Gerakan tangan Victor tidak berhenti, membenamkan kepalanya di antara leher Lexie, mengendus aroma rambutnya, suaranya sedikit panik dan serak.


Lexie dapat merasakan udara panas yang berhembus dari mulutnya di sekitar telinganya, Lexie menggigit bibir bawahnya, memaksa dirinya untuk rileks, kemudian pada saat berikutnya dua tangan kecil itu berinisiatif untuk merangkul leher Victor, "Yang Mulia, apa kamu yakin di sini?"


"Bukankah bagus di sini? Langit berbintang sebagai selimut, bumi sebagai ranjang." Ketika Victor berbicara bibir tipis itu, jatuh ke daun telinga Lexie, menyebabkan bulu kuduk Lexie merinding.


Ada kebencian yang terlintas samar di mata Lexie, tapi dia masih dengan patuh melepas pakaiannya, Lexie tahu jika sesuatu tidak bisa di hindari, maka segera akhiri, hanya bisa seperti itu baru dapat menjaga martabat sendiri.


Pakaian jatuh di atas tanah, saat itu, keindahan kulit seputih salju itu terhampar di depan pandangan Victor, bibirnya mengangkat senyum puas di bibirnya, jari-jarinya mengangkat dagu Lexie, kemudian menciumnya, "Siluman kecil, aku takut aku tidak bisa lepas darimu."


Haha ...

__ADS_1


Kebohongan terbesar di dunia adalah kata-kata manis yang di ucapkan oleh pria ketika wanitanya menuruti keinginannya.


Larut malam, bahkan walau itu musim semi, masih ada rasa dingin.


Di halaman, kue-kue yang di tempatkan diatas meja batu di bawah pohon besar sudah dingin, Lexie juga sudah merapikan pakaian duduk dengan tenang di atas bangku batu, tapi di banding sebelumnya, pandangan matanya menjadi lebih meredup.


Tiga sosok orang masuk ke dalam gerbang dengan diam-diam, melihat Lexie yang sedang duduk melamun di halaman, mereka terpaku.


"Adik seperguruan, sudah begitu larut, mengapa kamu masih ada di sini, apa sedang menunggu kami?" Alvaro melepas kain hitam penutup wajahnya, pergi ke meja batu dan duduk mengambil kue di atas meja menggigit kemudian meludahkannya, "Kue ini sudah dingin tidak enak."


Lexie menolehkan kepalanya, memaksakan dirinya untuk bersemangat, hanya saja tenggorokannya tercekat, ingin berbicara, batu mengeluarkan sebuah suara, bahkan merasa suaranya serak, bergegas berdehem beberapa kali untuk mencairkan kecanggungan.


Zacky juga ikut duduk, melihat tenggorokan Lexie yang tidak nyaman, dengan perhatian bertanya: "Adik seperguruan, kenapa, apa masuk angin dikarenakan duduk di sini terlalu lama?"


"Masuk angin?" Tetua Damian yang berjalan paling akhir bergegas menghampiri, mengulurkan tangan dan menarik pergelangan tangan Lexie, "Mengapa bisa begitu ceroboh, kemari guru akan memeriksamu."


"Guru tidak perlu, aku baik-baik saja, hanya saja terkena sedikit angin saja, akan sembuh setelah tidur beberapa saat." Apa Lexie dapat mengatakan kalau dia masuk angin, karena melepaskan pakaian di sini dan terkena angin hampir sepanjang waktu, jika tidak masuk angin maka itu adalah sebuah keajaiban bukan?


"Oh." Tetua Damian menarik tanganya, tapi ada kebingungan di matanya, masih menatap ke arah jari-jarinya.


"Oh iya, pergi ke tempat Kevin sana, apa mendapatkan benda yang kita inginkan?" Lexie bergegas mengalihkan topik pembicaraan.


Ketika Lexie bertanya Alvaro sangat marah, hingga menggebrak meja, "Jangan ungkit lagi, beberapa buku dasar saja, bocah itu menyembunyikannya dengan baik, tidak tahu kemana dia membawanya, mencarinya begitu lama di ruang kerja, tapi tidak menemukannya."

__ADS_1


"Oh, jika memang tidak bisa, aku akan meminjamnya besok." Lexie menghela nafas kemudian berkata: "Guru, kakak, ini sudah larut, kalian telah bekerja keras demi urusanku, lebih baik kalian beristirahat lebih awal saja."


Alvaro menguap dan mengiyakan, lalu menarik Zacky pergi.


Tetua Damian masih berdiri terpaku di tempat, bibirnya bergerak beberapa kali, sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia tersenyum canggung dan berbalik kembali ke kamarnya.


Lexie juga ikut bangkit, membereskan kue, di atas meja batu sebelum kembali ke dalam kamar, hanya saja, setelah menutup pintu, dia tidak bisa tidak memikirkan ekspresi di wajah tetua Damian tadi, ada kegelisahan yang kuat di dalam hatinya, ada sebuah jawaban yang ingin di keluarkan, tapi, Lexie tidak ingin mempercayai kenyataan itu.


Malam itu, Lexie tidur dengan tidak nyenyak, tidak bisa tertidur sampai subuh tiba.


Awalnya berniat mencari Kevin untuk meminjam buku, siapa tahu pagi-pagi sekali Kevin sudah datang membawa beberapa buku itu, kedatangannya secara alami tentu saja tidak mendapatkan perlakuan baik dari Alvaro dan Zacky, jadi mereka berdua kemudian masing-masing memegang mangkuk mie dan duduk di ruang makan untuk makan, bahkan kesopanan menyapa Kevin untuk makan saja mereka terlalu malas untuk mengatakannya.


Lexie membantu di dapur, baru saja keluar dengan semangkuk mie, dia melihat Kevin dengan senyum lembut, berdiri di depan pintu, "Tuan Kevin?"


"Ya, aku sengaja datang untuk mengantarkan buku untukmu." Kevin menjulurkan beberapa buku di tangannya, senyumnya menjadi lebih hangat dari pada angin musim semi.


Orang lain datang dengan begitu sopan untuk mengantarkan buku, Lexie benar-benar tidak bisa berbuat tidak sopan, hanya bisa dengan sopan bertanya, "Apa sudah sarapan? Apa kamu mau makan bersama?"


Tatapan mata Kevin jatuh pada semangkuk mie di tangan Lexie, tubuhnya sedikit maju ke depan, "Apa ini kamu uang membuatnya?"


"Oh ... hmm." Lexie merasa dia terlalu dekat ketika Kevin berbicara, sedikit canggung dan mundur selangkah ke belakang.


Kevin tidak keberatan, tersenyum kemudian mengambil mie di tangan Lexie, "Kalau begitu aku harus mencicipinya, ingin melihat apa kemampuan nona Lexie membuat mie sama hebatnya dengan kemampuanmu membuat senjata."

__ADS_1


Lexie masih belum bereaksi, Kevin sudah membawa semangkuk mie itu pergi ke ruang makan, sudut bibir Lexie berkedut, hanya sedikit menghela nafas, kemudian berbalik untuk pergi ke dapur, sepertinya dia harus membuat semangku mie lagi.


"Gadis kecil." Tetua Damian tiba-tiba muncul di belakang Lexie, membuat Lexie sangat terkejut, Lexie menoleh ke belakang, melihat raut wajah tetua Damian yang dengan serius menatap Kevin di ruang makan, dia bertanya pada Lexie, "Gadis kecil, apa dia adalah orang yang kamu sukai itu?"


__ADS_2