
Sejak hilangnya Elsa dari pandangannya Daniel yang saat itu baru keluar dari hutan langsung berlari menuju pusat kota dimana, Istana kerjaan Oktavia begitu dekat dari jarak ibu kota.
"Ibu... Liat!" pekik salah satu anak disana.
Suara pekikan dari para warga begitu jelas terdengar ditelinga Daniel, bahkan tidak sedikit dari mereka yang melirik Daniel dengan remeh.
"Apakah aku salah liat! itu kan..."
Tap
Tap
Tap
Langkah Daniel semakin cepat saat melihat alun-alun kota yang begitu ramai dengan banyak warga berkumpul disana, setelah dirasa sudah cukup dekat dengan alun-alu.
Deg
Bagai disambar petir mata Daniel langsung terbuka lebar menatap tidak percaya apa yang saat ini sedang dia liat.
Sebuah panggung dengan beberapa prajurit Oktavia berdiri di podium, dan yang lebih mengejutkan lagi disana ada Elsa yang begitu mengenaskan dengan pakaian yang sudah kotor melekat ditubuhnya.
"Apa-apaan ini? Elsa..." gumam Daniel saat melihat Elsa yang hanya diam diatas podium.
"Bukankah itu pangeran Daniel?" bisik salah satu warga disana saat melihat wajah Daniel.
"Ku rasa kau benar, kenapa pangeran Daniel ada disini, bukankah dia sudah di usir?" sahut yang lain.
Mata Daniel semakin terbuka lebar saat melihat Elsa yang secara kasar dibuat tunduk dihadapan para warga oleh prajurit disana.
"BUNUH DIA!"
"BUNUH DIA!"
"BUNUH DIA!"
Sebuah teriakan dari para penduduk begitu nyaring terdengar saat sosok prajurit dengan pakaian zirah naik ke atas podium membawa sebuah pedang panjang yang siap untuk mengesekusi Elsa.
"Apa yang sudah terjadi? Mau apa dia disana?" gumam Daniel.
Seorang prajurit yang berada di sebuah bangunan bertingkat berteriak dengan lantang, membacakan kasus yang saat ini sedang menimpa Elsa.
"Putri Duke Pervis! Atas perintah Yang Mulia kaisar, Anda dihukum mati karena berencana ingin membunuh Tuan Duke Pervis ayah kandungnya sendiri."
"Apa!" pekik Daniel tak percaya.
Matanya langsung beralih ke sebuah bangunan yang dimana ada Eren serta dua wanita yang tidak dia kenal disana.
"Eren..." gumam Daniel menatap wajah Eren yang terlihat datar.
Aku ini calon Putri mahkota tau... Ingat saja ya, jika aku sudah keluar dari sini, aku tidak akan lagi datang ke hutan ini.
__ADS_1
Tangan Daniel terkepal kuat saat sebuah ingatan akan Elsa terlintas dikepalanya, Elsa yang begitu percaya diri mengatakan bahwa dia akan menjadi putri mahkota jika menikah dengan Eren masih terlihat jelas.
Namun apa yang dia liat saat ini, Eren yang begitu dipuja oleh banyak orang bak pahlawan, dengan wajah datar menatap ke arah Elsa yang sudah siap dieksekusi, disamping Eren juga ada satu wanita yang tidak Daniel kenal sedang memeluk tubuh Eren.
"Berengs*k" tekan Daniel mengepalkan kedua tangannya.
Tak cukup dengan kehidupannya, bahkan hidup Elsa pun juga ikut dia hancurkan, kenapa manusia-manusia ini rela melakukan hal hina hanya untuk kenikmatan semata.
Aku sangat mencintainya
Sebuah pernyataan yang menyakitkan kembali Daniel ingat, entah apa yang Elsa sukai dari pria seperti Eren, dirinya juga bingung, orang yang suka bersandiwara itu entah kenapa banyak sekali orang yang memuja dirinya.
"Apa sekarang kau masih mencintainya Elsa?" kekeh Daniel.
Mata Daniel kembali ke arah depan, melihat prajurit pembawa pedang itu berjalan mendekati Elsa, membuat Daniel tanpa sadar berjalan dengan pelan kedepan.
"Tidak..." gumam Daniel.
Mata Daniel terbuka lebar saat melihat Elsa yang sedang tersenyum menatap ke arah langit menikmati betapa panasnya sinar matahari saat itu.
"Tidak..." gumam Daniel.
Daniel dengan bersusah payah mencoba untuk menerobos kerumunan warga disana yang sedang menonton hari dimana Elsa akan dieksekusi.
"BUNUH DIA!"
"BUNUH DIA!"
"BUNUH DIA!"
"Jangan..." lirih Daniel melihat pedang itu.
Tiba-tiba saja mata Daniel berbuah menjadi hitam gelap, sangat gelap bercampur dengan warna ungu.
Srak
Darah segar pun keluar dari tubuh Elsa, mata Daniel menatap tidak percaya apa yang saat ini dia liat, dengan mata yang masih terbuka, Daniel bisa melihat dengan jelas ada air mata dipelupuk mata Elsa.
"Elsa..." gumam Daniel.
"HIDUP KERJAAN OKTAVIA!" teriak Eren dari atas.
"HIDUP!" sahut para warga disana.
"HIDUP KERJAAN OKTAVIA!" teriak Eren lagi.
"HIDUP!" sahut para warga.
"DENGAN INI PARA PEMBERONTAK! ATAU PUN ORANG YANG MEMBAHAYAKAN PENDUDUK OKTAVIA! TIDAK AKAN ADA LAGI, INI MERUPAKAN TEGURAN, BARANG SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN KEJAHATAN DALAM JENIS APAPUN, MAKA HUKUMAN MATI AKAN DIJALAKANKAN! teriak Eren dengan lantang.
Daniel membeku didepan podium mendengar para warga berteriak dengan lantang, tangannya terulur menyentuh kepala Elsa yang sudah terpisah dengan badanya, sebuah air mata menetes, dia merasa sakit sekali, sangat sakit sampai-sampai dia ingin mati saja.
__ADS_1
Duar
Suara petir yang amat kuat terdengar memenuhi seisi kota Oktavia, tidak ada hujan saat itu namun langit sangat gelap dan semua penduduk disana terdiam saat melihat Daniel dengan pelan mengambil kepala Elsa, dirinya dengan wajah datar memeluk kepala Elsa seolah-olah Elsa masih hidup saat itu.
Daniel berjalan ke atas podium dengan banyak pasang mata yang melirik ke arah dirinya, saat ini perasaannya sangat kacau, antara marah dan sedih semua bercampur satu, Kitell yang merupakan Kaisar dari kerjaan Oktavia datang ke lokasi saat mendengar prajuritnya mengatakan bahwa Daniel ada di kota.
Lama Daniel terdiam diatas podium itu dengan air mata yang terus keluar, tangannya dengan lembut mengelus kepala Elsa dengan sayang.
"Saya.... Matan Pangeran Oktavia Daniel Courcus, bersumpah atas nama Dewa, bahwa karma itu pasti ada!" tekan Daniel.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Daniel, Mata Daniel langsung menatap ke arah Eren yang terlihat shock saat tau orang yang memakai jubah itu adalah Daniel, kakak kandungnya.
"Wanita yang kau bunuh ini... Sangat mencintai mu! Bahkan dia mati-matian untuk bisa keluar dari hutan itu!" ucap Daniel pada Eren.
"Wanita ini... Telah dibuang kehutan yang penuh akan kutukan oleh keluarganya sendiri!"
"Aku tidak bisa menerima ini... Hati ku sakit... KENAPA! KENAPA? KAU MEMBUNUHNYA HAH!" teriak Daniel.
"DANIEL!" teriak Kitell.
Mata Daniel langsung beralih ke arah Kitell ayah kandungnya yang sudah berdiri disamping podium menatap tajam ke arah Daniel.
"Hentikan!" tekan Daniel.
Daniel terkekeh mendengar ucapan dari Kitell, "Apa? hentikan? Yang Mulia... Kenapa? Kenapa? Anda selalu merebut kebahagiaan saya? kenapa? haha! Apa karena saya anak yang lahir dari seorang penyihir? makanya Anda memperlakukan saya dengan rendah?"
"Daniel!"
"YANG MULIA! Tidak ada anak didunia ini anak yang bisa memilih mau lahir dirahim yang mana, semua sudah dipilih sesuai kehendak dewa, lalu kenapa? kenapa? saya yang tidak tau apa-apa ini harus diperlakukan seperti ini?"
"Saya sudah lelah dengan semuanya, saya sudah muak! dengan isi dunia ini, aku akan korbankan apapun pada tubuh ini agar bisa menghidupkan Elsa kembali!" tekan Daniel.
Duar
Suara petir kembali terdengar, angin begitu kencang menyapu wajah-wajah mereka, Daniel membaca beberapa matra yang membuat Kitell menjadi panik.
"Daniel hentikan!" tekan Kitell yang sudah naik keatas podium.
"AGHH!" teriak Daniel.
Sebuah darah segar keluar dari kedua mata Daniel, yang membuat semua orang disana memekik ketakutan, Daniel jatuh ke bawah, menahan sakit yang luar biasa, tanpa dia sadari kepala Elsa yang tadi dia peluk terlepas begitu saja.
"AGH!"
Darah kental terus keluar dari kedua matanya dengan suara petir yang terus bersahutan mengeluarkan suara dahsyat.
"YANG MULIA KAISAR, AKU BERSUMPAH DIKEHIDUPAN BERIKUTNYA AKU AKAN MEMBALAS SEMUA PERBUATAN MU! DAN... PANGERAN OKTAVIA! AKAN KU BUAT HIDUPMU SEPERTI NERAKA! INGAT ITU."
Setelah berkata seperti itu petir-petir semakin kencang bersahutan, Daniel menaikan satu tangannya, dan petir pun mulai menyambar tubuhnya.
"Elsa... Tunggulah aku..." lirih Daniel sebelum akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
KEHIDUPAN TERDAHULU TAMAT