
2 Minggu Kemudian
Siang yang begitu damai, dengan cuaca yang begitu terang, Elsa terduduk dikursi taman dengan beberapa tukang kebun yang sedang merapikan taman milik ibunya.
Saat ini Rina sedang tidak ada bersama dirinya dikarenakan sedang sibuk mengawasi Lala kepala pelayan baru dirumahnya, Elsa meminta Rina mengawasi Lala karena menurutnya, Lala itu sangat aneh akhir-akhir ini bahkan dia pernah kedapatan keluar masuk ruang kerja ayahnya secara diam-diam.
"Nona!"
Elsa langsung menoleh saat Rina berjalan ke arah dirinya, dengan sedikit terengah-engah, Rina memberikan laporan pada Elsa.
"Duduklah Rina kau pasti kelelahan," ucap Rina.
"Terima kasih Nona," ucapnya yang langsung duduk disamping Elsa.
Tanpa membantah Rina langsung duduk disamping Elsa, Elsa tersenyum menatap wajah Rina yang terlihat kelelahan.
"Jadi apa yang sudah kau temukan?" tanya Elsa penasaran.
"Hosh... Seperti kata Nona, pelayan Lala itu pasti punya maksud lain bekerja disini."
Rina nampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Elsa, "Tadi... Saya melihat pelayan Lala kembali masuk ke ruang kerja Tuan, tapi kali ini dia tidak sendiri nona."
"Tidak sendiri?"
Rina langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, "Iya Nona, dia... Masuk dengan Nona Kiana."
"Apa!" pekik Elsa tak percaya.
"Saya juga tidak yakin sih Nona, hanya saja Saat saya ingin mengawasi Pelayan Lala, tiba-tiba saja Nona Kiana datang menghampiri pelayan Lala di ruang kerja Tuan, saya mengira Nona Kiana akan menegur Pelayan Lala, ternyata mereka malah berkerja sama dalam membongkar ruang kerja Tuan," ucap Rina menjelaskan.
"Lalu?" tanya Elsa penasaran.
"Entahlah ini hanya pemikiran saya saja Nona, sepertinya... Pelayan Lala dan Nona Kiana sudah saling kenal, karena tidak akan mungkin mereka begitu dekatnya dalam hubungan pelayan ke majikan," ucap Rina menambahkan.
Elsa langsung tersenyum mendengar penjelasan dari Rina, jika semua pengikutnya tau sifat asli dari Kiana dan Lisa pasti mereka semua terkejut terlebih lagi ayahnya yang selalu melindungi Lisa dan Kiana.
"Begitu juga yang aku pikirkan, kita tunggu saja laporan dari Lucas seperti apa, Untuk sekarang Aku minta kau untuk terus memantau penggerakan dari pelayan Lala, pantau terus penggerakkannya jika kau menemukan hal yang aneh segera lapor pada ku."
"Baik Nona."
"Tidak ada lagi yang perlu aku sampaikan sekarang pergilah."
Dengan patuh Rina langsung menundukkan kepalanya dihadapan Elsa sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Elsa sendiri disana.
Setelah kepergian Rina, Elsa kembali beranjak dari tempat duduknya, saat hari sudah mulai malam, cuaca di sore itu begitu dingin dikarenakan langit, disaat itu begitu gelap karena ingin hujan.
"Kenapa banyak sekali kereta kuda?" tanya Elsa bingung.
__ADS_1
langkah Elsa terhenti saat dirinya melihat begitu banyak kereta kuda terparkir di halaman belakang Mansion, bukan hanya dua melainkan lima kereta kuda terparkir disana, dia bingung kenapa banyak sekali kereta kuda terparkir disana, bahkan orang-orang yang tidak dia kenal pun terlihat keluar masuk dengan gampangnya.
Dengan begitu penasaran Elsa berjalan kesalah satu kusir disana, kusir itu nampak diam saat beberapa orang yang tidak dia kenal memasukan barang milik keluarganya kedalam kereta kuda.
Ini semua! Barang milik keluarga ku, kenapa dibawa semua?
"Permisi!" ucap Elsa pada kusir itu.
Kusir yang tidak disebutkan namanya itu langsung menoleh ke arah Elsa, yang sedang tersenyum kearahhya.
"Selamat Sore pak," sapa Elsa ramah.
"Selamat Sore nona," jawabnya tersenyum.
"Pak, boleh saya bertanya? kira-kira barang-barang ini mau dibawa ke mana ya?" tanya Elsa penasaran.
Kusir itu nampak bingung melihat Elsa bertanya, "Maaf Nona, sebelumnya Nona ini siapa?" tanya Kusir itu.
"Ah... Maafkan saya, saya belum memperkenalkan diri, Kenalkan pak, saya Elsa orang yang ingin melamar kerja di kelurga ini," ucap Elsa tersenyum.
Kusir itu menaikan satu alisnya menatap bingung wajah Elsa yang terlihat sangat tidak cocok jika dikatakan sebagai orang bawah, dari penampilannya saja kusir itu bisa menilai bahwa pakaian yang digunakan Elsa pasti mahal.
"Melamar kerja? Nona ini berasal dari mana?" tanya Kusir itu penasaran.
"Ah... Saya dari desa selatan pak, dulu saya pelayan di kelurga Elisabeth, hanya saja saya dipindahkan kerja disini untuk melayani nona dirumah ini."
"Benar pak, mereka dipecat karena ketahuan meracuni nona di rumah ini."
"Astaga! ku kira itu hanya gosip teryata itu benar ya, tega sekali mereka meracuni nona disini, padahal untuk bekerja saja sangat susah."
"Hm... pasti mereka melakukan itu karena terpaksa, Anda kan tau sendiri, uang itu segalanya," jawab Elsa tersenyum.
Mata Elsa kembali terbuka menatap ke arah kusir itu, "Jadi pak, apa bapak tau mau dibawa kemana barang-barang ini?" tanya Elsa.
Kusir itu kembali menatap ke arah Elsa, "Barang-barang ini mau dibawah ke rumah kelurga Count Ferca Nona."
"Apa! Count Ferca kenapa?" tanya Elsa penasaran.
Mata Elsa langsung terbuka lebar Count Ferca, Elsa kenal dengan orang itu dia merupakan kelurga bangsawan yang baru saya dilantik sebagai kelurga bangsawan baru, Count Ferca juga sangat terkenal dengan orang yang suka berbuat onar bahkan banyak rumor yang mengatakan bahwa dia sering merampas harta rakyat tingkat bawah hanya karena asalan membayar pajak keamanan desa.
"Barang-barang ini kan masih bagus? kenapa dijual? keluarga Duke juga saya dengar baik-baik saja ekonominya?" tanya Elsa penasaran.
"Kalo itu saya juga kurang tau Nona, saya hanya menuruti perintah saja, karena barang ini ada atas perintah dari Nyonya disini."
"Nyonya di sini? Apa yang anda maksud itu Duehees Pervis?"
"Benar Nona, barang-barang ini dijual atas nama beliau."
__ADS_1
Mendengar itu tangan Elsa langsung terkepal kuat, nafasnya seketika naik turun saat melihat banyak sekali barang milik keluarganya dijual.
Wanita itu makin dibiarkan dia makin menjadi.
"Baiklah pak, terima kasih atas informasinya, kalo begitu saya pergi dulu," ucap Elsa.
"Sama-sama Nona semoga hari anda menyenangkan," balasnya.
Elsa langsung masuk kedalam Mansion dengan mata yang menatap datar ke arah depan, melihat begitu banyak orang asing yang keluar masuk mansion membuat dirinya merasa sangat sesak.
"Itu kan?"
"Tunggu!" pekik Elsa menyentuh pundak seorang pria yang sedang membawakan sebuah kotak.
"Ada apa Nona?" tanyanya bingung.
Ini barang milik ibu
"Berikan itu padaku!" ucap Elsa menyerahkan tangannya pada pria itu.
"Apa? Maaf Nona saya tidak bisa memberikannya karena barang ini sudah terjual."
"Apa! terjual!" pekik Elsa tak percaya.
Matanya langsung terbuka lebar, dengan tangan yang langsung terkepal kuat.
"SEBENARNYA KENAPA SEMUA BARANG INI DIJUAL!" teriak Elsa.
"Nona..." ucap pria itu takut-takut.
Dengan cepat Elsa melangkah menuju ruang kerja Lisa yang dekat dengan ruang kerja ayahnya, deru nafasnya begitu kencang saat kakinya sedang melangkah menaiki tangga.
"Nona?" panggil Rina.
Namun Elsa tidak peduli dia terus melangkah dengan Rina yang menatap bingung tubuh Elsa.
"Nona mau ke mana? wajahnya terlihat sangat mengerikan," gumam Rina.
"Apa sebaiknya aku mengikuti Nona?" tanya Rina.
Tanpa berpikir panjang Rina langsung berjalan mengejar Elsa yang sudah masuk kedalam ruang kerja Lisa, mata Rina langsung terbuka lebar saat melihat Elsa dengan kasarnya membuka pintu ruang kerja Lisa dengan kasar.
"Elsa?" ucap Kiana saat melihat Elsa datang ke ruang kerja ibunya.
"Kalian!" tekan Elsa menatap tajam wajah Kiana dan Lisa.
TBC
__ADS_1