Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
49


__ADS_3

Tepat seminggu yang lalu Elsa meminta pada neneknya Vani Elisabet untuk membawa kembali Sofia ke rumah, Sofia adalah pelayan kelurga Pervis yang saat ini sedang bekerja dirumah neneknya.


Sofia adalah pelayan yang dikenal pendiam dan juga jarang berbaur dengan pelayan lain, Sofia yang memiliki sifat anti sosial itu sangat cocok jika diberi perintah dalam memata-matai kegiatan para pelayan yang ada di rumah.


Sifatnya yang pemalu dan juga penurut pasti tidak akan membuat banyak orang curiga bahwa Sofia adalah mata-mata yang selama ini Elsa tugaskan.


"Kau sudah bekerja dengan baik Sofia," Ucap Elsa menepuk pundak Sofia.


"Terima kasih Nona."


Elsa kembali berjalan melewati Sofia dengan Daniel yang ikut dengannya, saat ini tujuan mereka adalah ruang bawah tanah, wajah Elsa terlihat datar saat banyak para pelayan serta penjaga disana menundukkan kepala mereka ke arah Elsa dan juga Daniel.


"Semenjak kejadian tadi, sudah banyak para pelayan yang mulai menghargai mu ya," ucap Daniel tersenyum.


Elsa langsung tersenyum mendengar ucapan dari Daniel, "Ya... Sepertinya begitu, tapi aku masih belum puas dengan ini," balas Elsa.


"Aku yakin pasti masih banyak pelayan disini yang ingin menyingkirkan ku, terutama kepala pelayan yang baru," ucap Elsa dengan tatapan tajam mengarah kedepan.


Langkah Daniel dan Elsa terhenti tepat didepan sebuah pintu besar dengan dua prajurit yang menjaga pintu itu.


"Selamat datang Nona dan Yang Mulia," ucap Prajurit itu memberi salam pada Elsa dan Daniel.


"Tidak usah panggil aku Yang Mulia, karena sebutan itu sudah lama menghilang, sejak aku angkat kaki dari Istana," sahut Daniel.


Mata Elsa dan dua prajurit itu langsung melirik ke arah Daniel, " Ehem... Seterah kau saja," sahut Elsa acuh.


"Lalu ada di mana Lucas?" tanya Elsa yang langsung melirik ke kiri dan kanan.


"Lucas? Dia sudah ada didalam menunggu anda Nona," jawab Prajurit itu.


"Di dalam?" tanya Elsa mengulang.


"Wow.... Cepat tanggap juga dia," ucap Daniel tersenyum.


"Ya sudah ayo kita masuk," ajak Elsa.


Dua prajurit itu langsung menganggukkan kepalanya, mereka berdua berjalan memimpin Elsa dan Daniel menuju ruang bawah tanah.


"Lucas?"


Lucas yang saat itu masih diam menatap ke arah pelayan itu langsung menoleh ke arah Elsa, yang sudah berjalan mendekat.


"Selamat malam Nona," ucapnya memberi salam.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Elsa yang langsung melirik ke arah pelayan itu.


"Untuk sekarang dia sudah jauh lebih tenang setelah beberapa kali berteriak tidak jelas," jawab Lucas.


Elsa terdiam menatap ke arah pelayan itu, dirinya dengan pelan berjalan mendekati pelayan itu, yang terlihat sangat berantakan.


"Siapa nama mu?" tanya Elsa menatap rendah pelayan itu.

__ADS_1


"Nona? Nona! Maafkan saya, saya_"


"Aku tidak peduli dengan itu!" potong Elsa cepat.


"Iya?"


"Jawab saja apa yang aku tanya, dan jangan jawab jika aku tidak bertanya itu! Apa kau mengerti?" tanya Elsa.


Tubuh pelayan itu seketika menjadi lemas, "Baiklah Nona, saya mengerti," jawabannya dengan lirih.


"Kalo begitu," Elsa langsung berjongkok dihadapan pelayan itu, "Siapa nama mu yang sebenarnya?" tanya Elsa tersenyum.


"Saya... Nama saya Bella Nona," jawabnya dengan takut-takut.


"Bella? Nama yang bagus, boleh ku tau kenapa kau melakukan ini?"


Lidah pelayan itu menjadi kaku saat melihat senyuman Elsa, "Saya..."


"Kenapa diam? Apa kau diancam?" tanya Elsa menatap tajam pelayan itu.


Pelayan itu langsung membesarkan kedua matanya saat melihat ekspresi wajah Elsa, yang tiba-tiba saja berubah, "Maafkan saya Nona," lirihnya.


Tangan Elsa langsung terkepal kuat melihat wajah penuh sesal dari pelayan itu, Lucas mendekat ke arah pelayan itu, bersiap untuk menghukum pelayan itu.


"Tunggu Lucas, aku belum selesai dengan perempuan ini," ucap Elsa menenangkan.


Lucas yang saat itu sudah mengeluarkan pedangnya, dibuat menoleh ke arah Elsa yang sedang merentangkan satu tangannya.


"Bella! Jawab aku, siapa orang yang telah berani mengancam mu?" tanya Elsa.


Elsa menjadi semakin kesal karena pelayan itu sama sekali tidak mau memberitahu siapa pelaku sebenarnya.


"Tenanglah, jika kau semakin emosi, dia akan semakin tutup mulut," ucap Daniel menepuk pundak Elsa.


Mata Daniel langsung menatap tajam wajah pelayan itu," Aku dengar kau punya seorang putra yang sedang mengalami sakit keras, apakah itu benar?"


"Iya?"


"Ah... itu benar Tuan, tapi... Bagaimana Tuan bisa tau?" tanya Pelayan itu penasaran.


Daniel langsung tersenyum, saat melihat wajah penuh penasaran dari pelayan itu," Tau tidaknya itu semua tidaklah penting," jawab Daniel tersenyum.


"Lucas bawa tas itu kemari," perintah Daniel pada Lucas.


"Baik."


Tak lama kemudian Lucas datang mendekati Daniel yang saat itu masih berdebat dengan Elsa dan Bella.


"Apa itu?" tanya Elsa penasaran.


Daniel langsung tersenyum sambil membuka kancing dari tas itu, "Liat! Banyak kan?"

__ADS_1


Semua mata terbuka lebar saat melihat isi tas itu, begitu banyak koin yang ada didalam sana membuat semua orang seketika menjadi orang bodoh termasuk dengan Elsa.


"Daniel? Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" tanya Elsa penasaran.


"Apa lagi? Tentu saja untuk memancing pelayan ini," mata Daniel kembali menatap pelayan itu.


"Ku dengar putra mu sedang mengalami sakit keras, begini saja kau bisa menerima semua uang ini, dengan syarat kau harus memberitahu pada kami siapa orang yang ingin mencelakai Tuan Duke."


"Saya..."


"Jawablah dengan cepat, keselamatan putra mu ada pada dirimu."


Pelayan itu langsung terdiam, melihat begitu banyak uang yang diperlihatkan oleh Daniel membuat dia seketika menjadi gelap mata, uang sebanyak itu pasti bisa menyembuhkan putranya yang saat ini sedang mengalami sakit keras, termasuk dengan memperbaiki tempat tinggal dirinya.


"Apa ini masih kurang?" tanya Daniel tersenyum, "Bagaimana dengan ini, ini adalah kunci rumah yang ada di desa Barat."


"Apa?"


"Kau bisa menerima ini semua jika, kau mau berkata dengan jujur siapa pelaku sebenarnya, Jadi apa jawabanmu sekarang?"


"Jawaban..." gumamnya menatap isi tas itu.


...~*~...


Suara langkah kaki itu memenuhi isi lorong menuju ruang kerja Duke Pervis. Wajah Elsa nampak ceria saat sebuah fakta yang luar bisa, baru saja dia ketahui.


"Apa tujuan mu sekarang?" tanya Daniel.


Elsa langsung tersenyum, "Aku ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal, tapi dari pada itu, kita beritahu dulu pada ayah tentang fakta ini," ucap Elsa tersenyum.


Langkah kaki mereka langsung terhenti didepan ruang kerja Duke Pervis, sosok penjaga yang sedang berdiri depan ruang kerja Roan menundukkan kepalanya kehadapan Elsa.


"Beritahu ayah, aku ingin bertemu dengannya."


"Baik Nona."


Tak lama dari itu sosok prajurit yang tadi masuk ke dalam ruang kerja Roan kembali keluar, "Silahkan anda masuk Nona, Tuan Sudah menunggu anda didalam."


"Terima kasih," balas Elsa.


"Ayo kita masuk," Ajak Elsa pada Daniel.


Daniel langsung menganggukkan kepalanya, mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Roan, dimana Roan terlihat sibuk dengan beberapa dokumen yang ada diatas meja.


"Selamat malam Ayah," Sapa Elsa.


Roan langsung menolehkan kepalanya ke arah Elsa dan juga Daniel yang sudah berdiri dihadapannya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Roan langsung.


Elsa langsung tersenyum ke arah ayahnya, "Apa Ayah akan kuat mendengar hasil dari interogasi ini?" tanya Elsa tersenyum.

__ADS_1


"Iya?"


TBC


__ADS_2