Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
13 (Awal Perang)


__ADS_3

Dawis berdiri dihadapan semua pasukan kekaisaran, dari mata memandang semua pasukan kekaisaran sudah siap akan penyerangan, yang telah kelurga Count Elbert berikan.


Dawis yang saat itu merupakan pangeran pertama oktavia hanya bisa terdiam di samping ketua pasukan kekaisaran, dirinya terdiam menatap seluruh pasukan kekaisaran yang sedang berdiri tegak menghadap dirinya.


Dari jauh Eren yang merupakan pangeran kedua Oktavia hanya bisa terdiam menatap tubuh kakaknya dari lantai dua, tidak adil memang bagi Dawis yang harus mati-matian berjuang membela negaranya, sedangkan Eren dirinya lebih diprioritaskan untuk dilindungi karena banyak orang tau, bahwa Eren orang yang paling layak dibanding Dawis untuk dijadikan pewaris tahta berikutnya.


"Kita akan mulai berangkat! Demi kejayaan Oktavia! Kita serahkan nyawa ini hanya untuk Oktavia! Hidup Oktavia!"


"HIDUP!"


"HIDUP OKTAVIA!"


"HIDUP!"


Teriakan dari para pasukan kekaisaran begitu jelas terdengar memenuhi halaman istana, Dawis tersenyum menatap ke arah Eren, Eren yang melihat Dawis tersenyum hanya bisa terdiam menatap wajah kakaknya itu.


"Pangeran apa anda baik-baik saja?" tanya salah ketua pasukan kekaisaran pada Dawis.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, kita berangkat sekarang!" balas Dawis yang sudah beranjak dari tempat dia berdiri.


Melihat seluruh pasukan Oktavia yang pergi meninggal istana, membuat tangan Eren langsung terkepal kuat, entah kenapa melihat senyum Dawis tadi dirinya seperti terhina akan itu.


"Kenapa aku tidak diperbolehkan ikut? Aku kan juga pangeran Oktavia!" kesal Eren.


...~*~...


Di lain sisi desa selatan, Lucas yang saat itu sedang mengendong tubuh anak laki-laki yang dia bawa, langsung menggenggam kuat tangan Elsa.


"Ada apa Lucas?" tanya Elsa.


"Nona, saya tau Kuil Suci merupakan tempat yang paling suci, tapi bisakah kita mencari rumah sakit saja," pita Lucas.


"Apa! Kenapa? Bukankah Kuil Suci ini merupakan tempat yang paling cocok untuk berobat, bahkan bertobat."


"Iya Nona saya tau, tapi anda juga harus tau, bahwa biaya untuk ke kuil suci itu sangat mahal."


"Apa?" tanya Elsa bingung.


"Mahal? Tunggu bukankah untuk berobat ke kuil suci itu gratis?"


Dengan cepat Lucas langsung menggelengkan kepalanya," Tidak nona, semua itu tidak gratis, bahkan untuk berdoa saja kita harus bayar."


"Benarkah? Lalu kenapa kau baru kasih tau aku sekarang?"


"Itu karena saya menganggap anda sudah paham cara kerja Kuil Suci," jawab Lucas.


"Apa selama ini anda tidak pernah tau cara kerja Kuil Suci?" tanya Lucas.


Elsa hanya terdiam, "Tidak, selama ini aku hanya berkunjung ke kuil suci seperti biasa, tanpa tau ada sistem bayar seperti ini," jawab Elsa.

__ADS_1


Lucas terdiam menatap wajah Elsa," mungkin anggaran untuk kuil suci akan diberikan langsung pada kelurga bangsawan yang berkunjung ke kuil suci, makanya anda tidak tau soal ini," ucap Lucas.


Elsa kembali diam, "Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi, bawa saja anak ini ke kuil suci, untuk pembayarannya biar aku yang urus," putus Elsa.


"Apa anda yakin?" tanya Lucas memastikan, "Lalu bagaimana anda membayar biayanya nanti?"


"Dengan ini!" ucap Elsa memperlihatkan tanda pengenalnya pada Lucas.


"Anda masih menyimpannya?"


"Ya... Untuk jaga-jaga," jawab Elsa melihat tanda pengenal miliknya.


"Cepat bawa anak ini sekarang, sebelum terlambat."


Dengan cepat Lucas langsung menganggukkan kepalanya, dirinya dengan cepat membawa anak itu masuk ke dalam kuil suci, dengan Elsa dan anak laki-laki itu yang ikut dibelakang.


"Maaf, ada perlu apa anda datang ke kuil suci?"


Elsa langsung berdiri dihadapan Lucas dengan memperlihatkan tanda pengenal miliknya ke arah pelayan kuil suci.


"Anak ini sekarat! apa kalian bisa mengobatinya?"


"Keluarga Prvis?" gumam pelayan tak percaya, "Ah... Ikuti saya, saya akan mengantar kalian ke ruang pengobatan," ucap pelayan itu, Elsa dan Lucas langsung tersenyum melihat sikap dari pelayan itu.


"Kita berhasil," bisik Elsa.


...~*~...


"Anda sudah berkerja keras Tuan Bam," ucap Dawis sambil memberikan segelas bir pada Bam.


"Terima kasih Pangeran, ini semua juga berkat bantuan anda, jika saja saat itu anda tidak ada, mungkin separuh pasukan kekaisaran akan mengalami banyak luka-luka."


Dawis hanya tersenyum, "Jangan berbicara seperti itu Tuan Bam, ini semua saya lakukan karena kita satu tim, bukannya sudah semestinya kita harus saling bekerja sama?" tanya Dawis tersenyum.


Bam hanya tersenyum mendengar ucapan dari Dari Dawis, " Anda benar Pangeran, Jujur saja saya masih sulit percaya bahwa Tuan Count melakukan pemberontakan terhadap keluarga kaisar, padahal yang saya tau Tuan Count itu orang yang sangat tegas dan tidak mungkin dia bersikap diluar nalarnya jika bukan karena sesuatu."


"Saya pun berpikir demikian Tuan Bam, pasti Tuan Count melakukan ini karena ada maksud lain," balas Dawis.


Tak terasa hari sudah sangat malam, semua penduduk desa yang berhasil diselamatkan, telah banyak yang tertidur lelap dan separuh dari pasukan kekaisaran pun juga ikut tertidur bersama dengan para warga, sedangkan sisanya masih terus terjaga untuk menghindar dari serangan musuh.


Disaat yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing Dawis dengan tatapan kosong, menatap ke arah langit malam yang penuh akan bintang, angin berhembus dengan sangat kencang menggoyangkan beberapa helai rambut Dawis.


Sebentar lagi...


Dawis memejamkan matanya, dia mulai berpikir untuk kedepannya, akan ada kejadian apa lagi yang akan muncul dikehidupannya nanti.


"SEMUA BANGUN! KITA DISERANG!"


"Egh?"

__ADS_1


Dawis membuka matanya secara perlahan saat mendengar ada suara prajurit yang sedang berteriak, membangunkan semua orang.


"SEMUA BANGUN!"


Dawis langsung berdiri dari duduknya saat dirinya melihat ada api yang begitu besar membakar isi hutan.


"Pangeran, apa anda baik-baik saja?" Tanya salah satu prajurit yang datang menghampiri Dawis.


"Aku baik-baik saja, lindungi para penduduk, aku akan mencoba memadamkan apinya."


"Baik pangeran," jawab prajurit itu yang langsung pergi dari hadapan Dawis.


Dengan percaya diri Dawis maju ke depan bersiap ingin membuat portal pelindung, untuk melindungi para warga.


"Pangeran apa anda baik-baik saja?"


Dawis tidak menjawab dia terus membuat portal yang sangat besar, hingga membuat semua mata di sana terpaku melihat kemampuan sihir dari Dawis.


"Tidak usah pedulikan aku, fokus saja pada para musuh di depan!" ketus Dawis yang membuat prajurit disana kembali fokus ke depan.


Si*l tenaga sudah mau habis.


Mata Dawis menatap ke atas, saat melihat ada banyak anak panah pembawa api datang menyerang mereka.


Mau sampai kapan perang ini berakhir?


"Pangeran!" panggil salah satu prajurit disana, saat melihat kondisi Dawis yang melemah.


"AKU BILANG FOKUS PADA PARA MUSUH! KENAPA KALIAN SUSAH SEKALI DIBERITAHU!" teriak Dawis.


Semua prajurit di sana langsung terdiam saat melihat Dawis yang mulai emosi, mata Dawis tidak sengaja bertemu dengan sosok prajurit dari para musuh, tanpa pikir panjang dirinya langsung memberikan serangan pada musuh itu.


Buk


"Kena?"


Dawis membesarkan matanya saat melihat prajurit itu tumbang akibat terkana serangannya, melihat prajurit kekaisaran yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing membuat Dawis dengan percaya diri berlari mendatangi para musuh.


Aku Ingin ini cepat selesai, agar aku bisa cepat bertemu dia!


"Di mana Pangeran?"


"Pangeran? Dia ada di..."


Semua prajurit terdiam saat mereka mulai menyadari bahwa tidak ada sosok Dawis lagi disana.


"Di mana Pangeran? Bukannya tadi ada disini?"


"Apa itu pangeran?" tanya salah satu prajurit di sana, saat melihat Dawis menyerang habis para musuh.

__ADS_1


TBC


__ADS_2