Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Wanita Desa Yang Ramah


__ADS_3

Tubuh Lexie baru saja pulih, kemudian berkendara kuda selama dua jam, dirinya benar-benar sudah akan rubuh, jika terus seperti ini, takutnya sesuatu akan terjadi.


"Arlo." Suara Lexie tampak lemah.


Arlo mendengarkan suaranya memperlambat kecepatan kudanya, kemudian mendengar Lexie berkata: "Ayo kita cari tempat untuk beristirahat sebentar, tubuhku sudah tidak bisa bertahan."


Arlo mengangguk, berhenti di samping, kemudian setelah turun dari kuda dia mengulurkan tangannya untuk membantu Lexie turun, dia baru melihat wajah Lexie benar-benar sangat pucat, di kegelapan malam, pucat yang seperti ini menyerupai hantu.


"Gadis, kamu harusnya mengatakan lebih awal." Arlo terkejut dikarenakan wajah pucatnya, berpikir Lexie tidak tahan dengan angin malam yang dingin, segera mengambil botol alkohol dari pinggangnya, "Nona, minumlah dua teguk, anggur dapat menghangatkan badan, minum beberapa teguk bisa membuatmu lebih baik."


Lexie menggelengkan kepalanya tidak mengambilnya, "Aku tidak minum alkohol, apa ada air?"


Arlo mengangguk, pergi ke kuda untuk mengambil botol air dan memapah Lexie untuk duduk di sebuah batu di samping, membantunya membuka tutup botol sebelum menyerahkannya.


Lexie minum beberapa teguk, airnya sangat dingin, agak tidak nyaman meminumnya, namun akhirnya Lexie menekan rasa jualnya dan kembali meminum beberapa teguk, mengisi tubuh dengan air, Lexie kembali duduk sebentar kemudian perlahan menjadi lebih baik, "Arlo, kurasa kita sebaiknya mencari tempat untuk beristirahat sebentar baru kemudian melanjutkan perjalanan."


"Tapi tuan Julian berkata malam ini, setidaknya harus bergegas melewati tiga kota, jika tidak maka akan mudah di kejar." Wajah Arlo kesulitan, "Atau nona kamu bertahanlah sedikit lagi? Aku akan mengendarai dengan lebih perlahan."


Lexie menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, Lexie bukan orang yang manja, tapi Lexie juga bukan orang yang memaksakan diri, dia tahu bahwa tubuhnya sudah tidak bisa bertahan, dia bisa bertahan, tapi bagaimana dengan si kecil di dalam perutnya itu, apa bisa bertahan? Jika bersikeras dapat mengembalikan kembali penyesalan yang tidak dapat di perbaiki, maka Lexie akan memilih untuk bertaruh.


"Jika tidak begini saja, kita cari rumah petani di sekitar, kemudian aku akan istirahat di rumah petani, meskipun aku tidak tahu jalan tapi aku bukan orang yang buta arah, aku pergi ke negara Beiming sendiri dan bergabung denganmu. Hanya saja aku harus merepotkanmu untuk berkendara sepanjang malam demi menarik pergi pengejaran prajurit."


"Perkataan apa yang nona katakan, ini adalah tugas yang harus kulakukan, hanya saja meninggalkanmu seorang diri di sini, jika sesuatu terjadi ..." Arlo tidak berani mengambil resiko.


"Tidak akan ada apa-apa dengan tubuhku ini, seberapa jauh aku bisa berlari? Akan lebih aman jika kamu mengalihkan para prajurit itu bukan? Jangan khawatir, aku sudah begitu besar, aku mungkin akan membuat diriku hilang. Jika kamu benar-benar tidak bisa, maka setelah kamu yakin menghindari pengejaran itu kamu dapat kembali dan datang menjemputku lagi bukan.lexie selalu tahu bahwa sebenarnya dirinya sangat pandai membujuk orang, Arlo ini adalah orang yang jujur, mendengar Lexie berkata seperti itu, sepertinya tampak masuk akal, kemudian dia baru mengangguk dan menyetujuinya.


Setelah beristirahat untuk sementara waktu, Arlo membantu Lexie naik ke atas kuda, kemudian keduanya pergi menuju sepanjang jalan setapak di depan, dari kejauhan tampaknya melihat ada cahaya api di tengah gunung.


Arlo menyembunyikan kuda di hutan kecil sebelah jalan, kemudian berjalan ke atas gunung dengan Lexie.

__ADS_1


Api di gunung itu tampak dekat, sebenarnya tidak mudah untuk berjalan di jalan gunung, mereka berjalan selama satu jam, keduanya dengan terengah-engah akhirnya melihat sebuah rumah kecil.


Melihat ada cahaya di dalam ruangan itu berati ada orang yang tinggal, Arlo maju dan mengetuk pintu, tak lama kemudian, pintunya terbuka, seorang pria tua yang terbungkus rombi bulu terlihat, ketika dia membuka pintu, dia masih memegang pisau berburu di tangannya, melihat orang asing yang berdiri di luar pintu, rautnya penuh kewaspadaan.


"Kalian datang dari mana, apa yang kalian lakukan di sini tengah malam?" Pria tua itu jelas adalah seorang pemburu di pegunungan.


Arli bergegas menjelaskan, "Kami hanya lewat, ini karena kondisi adikku ini tidak terlalu baik, tidak ada desa atau toko di depan, jadi ingin bertanya apa bisa menginap semalam di tempatmu, kamu tenang saja adikku ini tidak akan tinggal dengan cuma-cuma, kami akan membayar harga sesuai harga penginapan apa bisa?"


"Pria tua, siapa yang datang?" Pemburu itu masih belum menjawab, sudah ada seorang wanita tua yang keluar dari dalam rumah, kewaspadaan wanita tua dan pemburu itu berbeda, melihat dua orang berdiri di pintu, wajahnya tertawa hangat.


Pemburu tua itu berbalik dan berbicara dengan wanita tua itu, kewaspadaan di wajahnya seketika berubah menjadi kelembutan, "Mereka berkata ingin menginap."


"Kalau begitu, untuk apa masih berdiri di ambang pintu? Sudah begitu malam, tidak mudah untuk berpergian di luar, jika mereka mau bermalam, maka biarkan mereka bermalam. Bukankah masih ada tempat tidur kosong yang tersisa." Kata wanita tua itu kemudian menarik pemburu itu ke samping.


Meskipun pemburu itu mundur, tapi wajahnya masih cemas, "Gadis itu tidak masalah, kelihatannya lemah dan tidak berbahaya, tapi pemuda itu tampaknya bisa bela diri, bukankah aku khawatir akan tidak aman."


Wanita tua sedang ingin mengoceh pada pemburu itu, ketika Arlo mendengarnya, dia bergegas berkata: "Paman, kamu salah paham, aku ada urusan penting, tidak tinggal di sini, hanya saja tubuh adikku ini lemah dan tidak bisa kelelahan, menyusahkanmu untuk mengijinkannya tinggal di sini selama satu malam, aku masih harus bergegas."


Arlo mengangguk, mengeluarkan sedikit pecahan perak untuk di berikan pada pemburu itu, tapi pemburu dan wanita tua itu melambaikan tangan secara bersamaan, tidak ingin menerima perak itu.


"Bukankah hanya tinggal selama satu malam, untuk apa memberikan uang, aku melihat wajah gadis ini begitu pucat, sudah pasti sangat tidak nyaman. Meskipun kami berdua adalah orang gunung, tapi juga tidak serakah." Wanita tua itu menyambut Lexie masuk ke dalam rumah.


Arlo masih ingin mengatakan sesuatu, Lexie menggelengkan kepalanya berkata: "Kulihat kedua orang tua ini adalah orang baik, kamu tidak perlu bersikap segan lagi, lebih baik bergegaslah."


Arlo berlikir, mereka memang sudah banyak menunda waktu, jadi tidak banyak bicara lagi, pergi setelah undur diri pada kedua orang tua itu.


Wanita tua itu membawa Lexie kamar kosong di sebelahnya, tempat tidur di kamar itu sangat bersih, wanita tua itu mengatakan bahwa ini kamar putranya tinggal, mereka pergi memburu seekor harimau di pegunungan dua hari lalu, jadi putranya itu menjual harimau ke kota, harus menunggu sampai terjual baru pulang.


Setelah berbicara dengan wanita tua itu, Lexie baru tahu bahwa barisan gunung itu adalah yang terbesar di antara gunung-gunung di dekat ibukota, karena Medan yang curam dan banyak binatang buas di hutan, jadi merupakan tempat para pejabat tingi untuk melakukan petualangan perburuan, karena ada terlalu banyak binatang buas, jadi tidak ada desa di pegunungan, hanya ada beberapa pemburu yang hidup secara menyebar.

__ADS_1


Keluarga mereka ini mengandalkan gunung untuk kehidupan, berburu untuk mencari nafkah, tingga di gunung ini untuk sebagian besar hidup mereka, jadi hanya sedikit orang yang datang, pemburu tua dan putra-putranya kadang-kadanh pergi ke kota menjual barang selama beberapa hari dan wanita tua itu ada di pegunungan selama bertahun-tahun, jadi, jarang melihat orang, sehingga sangat antusias ketika melihat Lexie.


Wanita tua itu sangat banyak bicara, dia menarik Lexie dan berbicara untuk sekian lama, sampai dia melihat kelopak mata Lexie sudah tidak bisa menahannya lagi, wajahnya juga kembali pucat, dia baru mengatakan beberapa kata menyuruh Lexie ke kamar untuk beristirahat.


Ketika wanita tua itu pergi, Lexie segera berbaring di ranjang, begitu tubuhnya menyentuh kasur dia langsung tertidur terlelap.


Tidurnya ini ternyata, tidur hingga keesokan siangnya.


Setelah Lexie bangun keluar dari kamar, dia melihat wanita tua itu sedang memotong kayu di halaman, wanita tua itu melihat Lexie kemudian segera tersenyum, "Nona kecil, sudah bangun, sepertinya benar-benar kelelahan, ternyata tidur sampai siang."


Wanita tua itu tidak bermaksud menertawakan Lexie, ketika dia berbicara, dia berbicara dengan tulus, wanita tua itu bangkit, menyeka tangan di pakaiannya, kemudian pergi ke dapur, "Pasti lapar kan, aku sudah mengisahkan sedikit bubur, kamu tunggu dulu, aku akan membawakan untukmu. Gunung tidak seperti kota, tidak ada yang enak, hanya ada bubur sayuran, nona jangan memilih makan, tubuhmu lemah jadi harus makan sesuatu."


"Ya, aku tidak pilih makanan, biasanya juga suka makan bubur." Terhadap wanita tua yang sederhana dan jujur ini, Lexie memiliki kesan yang baik jadi secara alami dia menunjukkan senyum cerah.


Wanita tua itu keluar dengan membawa bubur, memandang wanita yang tersenyum cerah di bawah sinar matahari, seketika dia terpaku: "Nona, kamu benar-benar berparas cantik, seumur hidupku ini aku belum pernah melihat orang yang terlihat begitu cantik sepertimu."


Lexie tertawa, mengucapkan terima kasih pada wanita tua itu, mengambil bubur di tangannya dan memakannya.


Makanan alam murni memang baik, bahkan walau hanya bubur sayuran memiliki aroma makanan paling asli,Lexie menghabiskan bubur itu hingga bersih. Dia berdiri dan pergi ke dapur untuk mencuci mangkuk yang kosong, kemudian melihat seseorang berlari kencang di hutan di kejauhan, orang itu bukan orang lain tapi sang pemburu tua.


Pada saat ini, wajah pemburu tua itu panik, di punggungnya memikul seorang pria, berlari sambil berteriak, "Wanita tua cepaat datang untuk membantu, cepat!"


Melihat wajahnya yang cemas wanita tua itu bergegas menghampiri, Lexie meletakkan mangkuk kosong dan berlari ke arah itu.


"Cepat bantu menurunkan orang ini." Pemburu tua itu berkata, dengan bantuan wanita tua dan Lexie, orang di belakangnya di turunkan.


Setelah pria itu di baringkan, Lexie melihat bahwa itu adalah seorang pria muda, parasnya sangat tampan bahkan walau dia terluka parah, masih bisa mengeluarkan tekanan berat pada tubuhnya.


Lapisan atas pakaian pemuda itu, dalam sekilas di lihat itu bukanlah kain yang bisa di beli orang awam, perut dan lengannya terluka, sepertinya terluka karena di gigit binatang buas, sudah ada sepotong daging yang terkoyak, tulangnya saja bisa terlihat, yang lebih buruk lagi, sebuah gigi tajam tersangkut di celah tulangnya, dia tampaknya telah terluka selama beberapa waktu, pakaian di tubuh atasnya benar-benar sudah basah, wajahnya juga sudah pucat, jelas sudah kehilangan terlalu banyak darah.

__ADS_1


"Jika luka-lukanya tidak di rawat takutnya nyawanya akan berada dalam bahaya." Lexie melihat adegan berdarah seperti itu, tapi tidak ada raut panik, malah terlihat sangat tenang, ini membuat pemburu tua di sampingnya tanpa sadar merasa kagum. Harus di ketahui, wanita tua itu ketika melihat adegan mengerikan ini sudah ketakutan hingga mundur beberapa langkah.


__ADS_2