
Di kabarkan tuan Dexter adalah orang yang paling cerdas, strateginya tidak tertandingi, ketika melihat orang juga sangat hebat, jika tuan Dexter memandang pemuda ini, maka sudah pasti ada sesuatu yang di miliki pemuda ini.
Pemuda ini takutnya tidak mudah untuk dihadapi. Dia ingin mengingatkan adiknya, tapi baru ingin menarik lengan baju adiknya, dia sudah melihat Anita telah pergi.
"Tuan Dexter, bagaimana menurutmu cara kita bertanding?" Anita bertanya dengan marah.
Dexter berdiri tanpa ragu-ragu, tidak mempedulikan pertanyaannya, sebaliknya dia makin ke depan pavilliun Champion dan berkata pada orang-orang di sekitarnya, "Aku Dexter, meskipun tidak berniat untuk ikut campur tangan dalam pertandingan ini, namu irang-orang dari kedua bela pihak memintaku untuk menerapkan aturan demi menunjukkan keadilan, aku merasa sangat jarang bisa melihat pertandingan semacam ini di negara Nanyue, kalau begitu aku akan menjadi saksi. Setelah aku memikirkannya dengan hati-hati, merasa karena pavilliun Heaven paling terbaik dalam pembuatan senjata, lebih baik kita bertanding untuk membuat senjata."
Dexter berkata sambil mengambil langka ke depan pavilliun Champion, mengambil dua buah pir di sebuah meja, mengangkat tangannya dan berkata: "Kalau begitu kita akan membiatkan kedua pemuda yang bertanding ini membuat alat untuk menembak pir ini dalam waktu dua jam, senjata siapa yang memiliki kemampuan yang lebih mematikan, senjata siapa yang lebih akurat, maka dia yang menang, bagaimana menurut kalian, apa cara ini baik?"
Di sinilah perbedaan Dexter dan pejabat yang lainnya, di bawah sistem feodal, dia belajar untuk meminta pendapat dari orang-orang biasa, terhadap pejabat yang mau meminta pendapat mereka, orang-otang tentu akan mendukung dan menghargai, Dexter bisa mendapatkan hati dari banyak orang itu bukan hanya bergantung pada keberuntungan.
Ketika para penonton mendengar Dexter meminta pendapat mereka, apa lagi yang bisa mereka katakan, mereka segera berkata: "Baik! Baik! Baik!"
Ratusan orang penonton berkata di waktu bersamaan, adegan ini membuat orang semakin memanas.
Untuk sesaat, Lexie tampaknya melihat Dexter yang berbeda, tadinya dia berpikir pria yang elegan itu sudah berubah menjadi pria yang mempesona.
__ADS_1
Mungkin dia awalnya sudah mempesona, hanya menyamarkan dirinya terlalu baik, membuat orang-orang mengira bahwa dia adalah manusia yang tidak berbahaya.
Karena semua orang setuju dengan metode ini, Lexie juga tidak memiliki pendapat.
"Memangnya begitu mudah untuk membuat senjata? Tidak hanya harus menggunakan alat khusus, tapi juga bahan khusus, membuat senjata di sini dalam waktu dua jam, benda yang di buat apakah bisa disebut sebagai senjata?" Anita tampaknya tidak puas dengan metode ini.
Lexie menggelengkan kepalanya, menghela nafas dan berkata: "Karena tuan adalah orang dari pavilliun Heaven, bagaimana bisa berprinsip bahwa membuat senjata harus memiliki bahan dan alat khusus? Senjata ataupun alat tajam, selama itu adalah benda yang memiliki kemampuan yang mematikan diwaktu tertentu maka itu sudah bisa menjadi senjata. Kali ini kita di minta untuk menargetkan pir, pir bukanlah benda yang keras, jadi senjata yang bisa menargetkan pir tidak harus terbuat dari bahan baja, membuat senjata sederhana dalam 2 jam, kurasa itu cukup, jika kamu merasa itu tidak cukup, maka kamu bisa mengakui kekalahan secara langsung."
Lexie tidak menyangka bahwa seorang yang berasal dari pavilliun Heaven ternyata mengucaokan hal seperti itu, apa Lexie terlalu tinggi memandang pavilliun Heaven?
Anita di katai seperti itu oleh Lexie, wajahnya merah karena marah, ketika dia ingin berdebat dengan Lexie, tiba-tiba lenganya di tarik oleh pria di belakangnya, pria itu berbisik di dekat telinganya: "Jangan katakan lagi, yang dia katakan benar, jika kamu masih ingin mempertahankan harga dirimu, maka terima pertandingan ini dan menang darinya."
Karena dua belah pihak setuju, kalau begitu pertandingan bisa di katakan sudah bisa di mulai, Dexter meminta orang untuk mencatat waktunya.
Dua orang yang bertanding sudah mulai sibuk, Anita masih bingung pada awalnya, benar-benar tidak tahu benda apa yang bisa di gunakan untuk membuat senjata, akhirnya, pria di belakangnya berdiri sambil menghela nafas, pria itu bukanlah orang lain tapi itu adalah kakak kandungnya, Kevin.
Awalnya Kevin tidak berniat untuk ikut campur dalam masalah ini, tapi melihat momentum Lexie, Kevin merasa Anita mungkin bukanlah Kawanua, Kevin tidak bisa melihat reputasi pavilliun Heaven hancur seperti ini, jadi dia akhirnya maju pada saat yang genting.
__ADS_1
Kevin menelusuri jalan kembali, setelah beberapa saat, dia mengeluarkan sebuah kotak dari kereta kudanya, kotak itu mirip dengan kotak obat, ketika dia membuka nya membuat mata orang-orang bersinar.
Ternyata kotak itu berisi beberapa alat aneh dan juga beberapa logam yang halus, bahannya tidak banyak, tapi cukup untuk menciptakan sebuah benda untuk menargetkan pir itu.
Ketika semua orang melihat adegan ini, sekali lagi ledakan sorakan terdengar, dalam pandangan mereka, kedua orang ini memang adalah orang-irang dari pavilliun Heaven, lihatlah, bahkan alat-alat yang di gunakannya begitu profesional di mata mereka, kemenangan tampaknya sejak awal adalah milik paviliun Heaven.
Lexie tidak terburu-buru hanya melihatnya sekilas dengan datar, kemudian mulai mengumpulkan benda-benda yang dirasanya berguna di sekelilingnya oavilliun Champion, untungnya ada banyak orang yang datang ke sini hari ini, banyak orang yang membawa benda-benda kecil, ketika Lexie bertanya pada mereka untuk meminjamnya, mereka semua sangat dermawan.
Kevin melirik sekilas ke arah Lexie secara tidak sengaja, melihat lexie meminta setengah manisan Hae pada seorang anak, Lexie juga membeli gelang perak yang sudah menghitam milik seorang wanita tua, kemudian bertanya pada seorang pemburu, yang sedang menonton dan meminta beberapa kawat besi ...
Melihat Lexie yang mencari-cari benda yang aneh, sepertinya itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembuatan senjata, Anita mendengus dengan dingin dan berkata: "Ternyata memang tidak sepadan, apa yang dapat di buat dengan benda-benda seperti itu? Benar-benar konyol."
Tapi raut wajah Kevin semakin suram, terhadap kata-kata Anita, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa daya, adiknya ini tidak begitu memiliki bakat dalam pembuatan senjata, sudah di manja sejak usia dini, jadi ayah dan ibunya baru membiarkan adiknya ini mengikutinya ke kota Phoenix untuk membuka mata melihat dunia.
Seperti apa yang di katakan orang, bahwa akan ada orang yang lebih hebat di atas orang hebat, seseorang yang bisa membuat senjata dengan menggunakan benda biasa barulah benar-benar mengerikan, karena itu berati dia bisa menciptakan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri atau membunuh musuhnya kapan saja.
Kevin ragu-ragu jika membiarkan Anita membuat senjata ini, kemungkinan kalah terlalu besar, jika saat ini dia yang maju ...
__ADS_1
Tapi pemikirannya belum dilaksanakan, Dexter sudah berjalan ke hadapannya, Dexter menatapnya dengan sepasang mata yang tajam, sudut bibirnya terdapat senyum yang samar.
"Adik kecil, sepertinya merupakan orang dari oavilliun Heaven kan." Dexter tidak bertanya padanya, tapi berkata menegaskan, dia tidak menunggu Kevin untuk menjawab, kemudian dia lanjut berkata: "Tapi karena pertandingannya sudah di mulai, jika mengganti orang di tengah-tengah sepertinya pavilliun Heaven tidak akan sanggup menanggung malu bukan, karena sudah menyetujui pertandingan, maka harus memiliki keberanian bertanding sampai akhir, adik kecil ini, menurutmu apa yang kukatakan benar bukan?"