Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
41


__ADS_3

"Kenapa kau baru muncul?"


Mata Eren langsung beralih ke arah Kiana yang sudah mendekat, wajah Kiana yang terlihat kusut itu terlihat jelas di malam yang penuh akan cahaya festival.


"Kau pikir pekerjaan ku hanya mengurus dirimu saja."


Kiana langsung menghentikan langkah kakinya saat Eren mulai angkat bicara, "Apa sulitnya bagi dirimu untuk mengirim surat pada ku? Padahal aku hanya bertanya bagaimana keadaan Istana, dan kapan aku bisa ke sana."


Eren terdiam menatap wajah Kiana, "Mau berapa kali aku harus bilang bahwa, saat ini keadaan Istana sedang tidak baik."


"Sedang tidak baik? Kau selalu mengatakan hal itu padaku sampai aku muak mendengarnya."


"Aku Capek... Aku capek jika disuruh untuk menunggu lagi, mau sampai kapan aku harus dibuat seperti ini?"


"Elsa juga sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan mu lalu apa lagi masalahnya?"


Eren terdiam menatap wajah Kiana, "Sebentar lagi akan ada pemberitahuan tentang alih waris di setiap keluarga bangsawan, dan Ratu menginginkan kau bisa mendapatkan alih waris kelurga Pervis."


"Apa?"


Kali ini tatapan Eren begitu tajam, bahkan tangannya sudah terulur menyentuh pundak Kiana, "Ratu hanya ingin melihat mu kuat, dan menilai apakah kau pantas atau tidak bersanding dengan ku."


"Alih waris? Tapi... Bukan kah itu sudah jelas, Alih waris keluarga Pervis akan jatuh pada Elsa anak kandungnya Tuan Duke bukan aku!"


"Justru itu!"


Deg


"Apa maksud mu justru itu?" Tanya Kiana dengan mata terbuka lebar.


"Justru itu Ratu ingin kau bertindak, Kiana... Kau harus buat bagaimana pun caranya alih waris itu bisa jatuh pada mu."


Kiana membesarkan kedua matanya tak percaya, "Tenang saja kau tidak akan bergerak sendiri, karena akan ada aku yang menemani mu, tenang saja Kiana alis waris itu pasti akan jatuh di tangan mu percaya padaku."


Dengan lembut Eren langsung memeluk tubuh Kiana yang hanya bisa diam mematung, jauh dari itu Elsa yang dari tadi berdiri dibalik pohon mendengar dengan jelas percakapan Eren dan Kiana.


Matanya terbuka lebar dengan tangannya yang terkepal kuat, jadi selama ini Eren sudah menjalankan hubungan dengan Kiana jauh dari dirinya membatalkan pertunangan, rasanya sakit sekali, ini seperti kutukan bagi dirinya kenapa setiap dia melangkah tidak ada perubahan dalam hidupnya yang terjadi, apa dewa sangat senang mempermainkan hidupnya.


"Kau sudah mendengar ya?"


Deg


Mata Elsa langsung terbuka lebar saat melihat Daniel berdiri dihadapannya, matanya yang berwarna ungu gelap itu terlihat jelas dimata Elsa, bahkan air mata Elsa pun tanpa sadar kembali keluar.

__ADS_1


Daniel berjalan lebih dekat ke arah Elsa, dengan lembut dia menghapus air mata Elsa yang keluar, hingga tangannya terulur mencium tangan Elsa yang dingin.


"Kau sengaja kan?" tanya Elsa dengan lirih.


Daniel hanya diam menatap penuh lekat wajah Elsa, "Jika tidak seperti ini, akan sia-sia aku mengorbankan satu mata ku."


Tangis Elsa langsung pecah, Daniel langsung memeluk tubuh Elsa dengan erat, membiarkan Elsa menangis sejadi-jadinya, sekarang dirinya bisa kembali tenang memperlihatkan sifat asli dari adik kandungnya itu dihadapan Elsa.


"Maaf kan aku... Aku terlalu lemah, tidak berguna, Hiks... kenapa.... kenapa... setiap aku melangkah tidak ada perubahan yang terjadi?" tanya Elsa.


"Itu karena hati mu yang masih mengharapkan sesuatu, apa kau tau Elsa... Saat ini dirimu hanya berfokus pada Eren, dan tidak ada rencana untuk balas dendam pada ibu dan kakak tirimu?"


"Apa?"


"Kalo pun ada itu hanya kecil, Elsa... Aku sudah memantau pergerakan mu selama 2 tahun ini, sosok mu yang dikenal orang sebagai gadis arogan dan pemboros itu, aslinya sangat takut melakukan kejahatan."


Elsa menatap sayu wajah Daniel yang begitu lekat menatap dirinya, "Mulai sekarang jangan ragu lagi melakukan hal jahat, mau sampai kapan kau akan diperlakukan seperti ini?"


"Cepat atau lambat mereka akan membunuh Duke Pervis ayah kandung mu, sebelum pengumuman alih waris itu diadakan."


"Kau harus bertindak secara cepat sebelum mereka duluan yang bertindak," bisik Daniel.


Kali ini tubuh Elsa terasa panas, tangannya terkepal kuat dan tubuhnya mengeras menahan emosi, jadi dia harus benar-benar jadi jahat dulu agar kehidupan masa lalunya bisa berubah.


Setelah Daniel berbisik seperti itu, sebuah sentuhan ringan mendarat dibibirnya, Daniel mencium bibir Elsa dengan ringan bersamaan dengan air mata Elsa yang keluar.


...~*~...


Tepat saat malam Festival selesai diadakan Daniel kembali mengantar Elsa pulang ke rumah dengan selamat, susana di kediaman Duke Pervis sudah terlihat sunyi bahkan penjaga di rumahnya pun sudah diperketat.


Elsa berjalan dengan pelan menuju kamarnya, jalan menuju kamarnya begitu gelap karena minimnya cahaya di sana.


"Rina?" Tanya Elsa bingung saat melihat Rina yang berdiri didepan kamarnya.


"Rina apa yang kau lakukan disni?" tanya Elsa yang sudah mendekat.


"Settt diamlah Nona, coba anda liat apa yang saat ini dia lakukan!" tunjuk Rina kedalam kamar Elsa.


Deg


Mata Elsa langsung terbuka lebar saat melihat seorang pelayan sedang membongkar isi meja riasnya, bahkan dengan penuh cekatan perempuan itu membuka laci-laci meja rias Elsa hingga beberapa berang miliknya berhamburan ke lantai.


"Rina apa dia baru saja masuk?"

__ADS_1


"Saya juga kurang tau Nona, saat saya ingin membersihkan kamar Nona, saya dikejutkan dengan kehadiran dia di sana."


"Nona," panggil Rina, Elsa langsung menoleh.


"Ini Hanya pemikiran saya saja, Sepertinya perempuan itu mengambil sebagian harta milik Nona."


Elsa hanya diam, apakah ini penyebab dari banyaknya berang miliknya hilang, bahkan bukan berlian saja yang hilang, gaun miliknya pun ikut hilang di lemari.


"Dia pelayan baru kan?"


"Benar nona," jawab Rina cepat.


Mata Elsa masih menatap tajam ke arah pelayan itu, yang masih sibuk membongkar semua barang miliknya.


"Apa hanya kamar ku saja yang dibuat seperti ini?" tanya Elsa.


"Ah... Saya juga kurang tau nona saya juga baru melihat."


Elsa kembali diam, lama mereka memperhatikan pelayan itu di dalam, sampai akhirnya pelayan itu telah selesai dengan urusannya di sana.


Dengan wajah tersenyum pelayan itu langsung membersihkan kamar Elsa, berharap bahwa jejaknya telah hilang.


"Bagus..."


Dengan wajah ceria, dia berjalan dengan tenang menuju pintu kamar Elsa.


Kerak


Pintu kamar terbuka bersamaan dengan munculnya wajah Elsa yang sedang menatap pelayan itu dengan tajam, senyum yang tadi terbit dibibir pelayan itu seketika menjadi luntur saat melihat ada kehadiran Elsa serta Rina dihadapannya.


"N... Nona?" tanya gugup.


Mata Elsa terlihat tajam menatap ke arah pelayan itu, "Sedang apa kau di kamar ku?" tanya Elsa dingin.


"S...Sa... Saya."


"Keluarkan."


"Iya?" tanya pelayan itu yang langsung menatap wajah Elsa.


"Keluarkan semua yang telah kau ambil!"


Deg

__ADS_1


TBC


__ADS_2