
Lexie tidak menyangka bahwa fokus perhatian Daniel adalah hal itu, fokus perkataan Lexie adalah mengenai Santo bukan? Lexie bukannya mempedulikan hal mengenai Daniel yang bermain lada wanita!
"Aku ..."
Lexie ingin mengatakan hal ini, tapi sebelum Lexie selesai berbicara, Daniel langsung menahan dagu Lexie kemudian memaksa Lexie untuk menatapnya. Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan, menarik jarak mereka berdua, bahkan untuk sesaat Lexie bisa merasakan nafasnya yang memburu.
"Hei, aku memiliki satu hobi yaitu aku tidak akan menyentuh wanita yang bukan perawan, apa kamu mengerti?" Daniel berkata dengan dingin.
Lexie malah tiba-tiba merasa lega, jika Daniel memiliki penyakit kebersihan seperti itu, maka Lexie merasa beruntung, setidaknya bagi Lexie sekarang dia aman. Mungkin karena itu Lexie memiliki kepercayaan diri dan keberaniannya muncul kembali.
Lexie menyingkirkan tangan Daniel kemudian berkata dengan tegas: "Aku tidak peduli wanita seperti apa yang kamu suka, aku hanya ingin kamu melepaskan Santo mengenai apa yang kamu dan wanita itu lakukan, aku benar-benar tidak ingin tahu! Aku juga tidak tertarik untuk tahu!"
Nada dan ekspresi Lexie ketika berbicara tampak seperti tidak sedang bercanda, terutama pandangan mata Lexie, seolah-olah Lexie benar-benar tidak peduli mengenai hal itu, tidak tahu apa itu menyakiti harga diri Daniel yang tinggi atau tidak, yang pasti, raut wajah Daniel sudah tidak enak dilihat.
Sekian lama, Daniel tiba-tiba tersenyum jahat, kemudian tiba-tiba Daniel menarik Lexie ke dalam pelukannya, Danie meletakkan tangannya di pinggang Lexie, "Atau tidak, kamu temani aku semalam maka aku akan melepas Santo?"
Apa semua pria adalah mahluk yang berpikir dengan menggunakan tubuh bagian bawahnya? Mengapa setiap pria yang bertemu dengan Lexie itu yang ingin di dapatkan dari mereka adalah tubuhnya?
Lexie merasa sangat konyol, jadi dia benar-benar tertawa, hanya saja ketika senyum itu di ulas Lexie segera melayangkan tamparan ke wajah Daniel. Tamparan ini layangkan dengan cepat dan tegas, yang membuat Daniel benar-benar terpaku.
Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Daniel, ada seorang wanita yang berani menamparnya, tidak, tepatnya ini pertama kalinya ada orang yang berani menamparnya!
__ADS_1
Daniel hendak marah, tapi dia malah mendengarkan senyum aneh Lexie, perlahan-lahan Lexie berkata: "Tuan Daniel, benar-benar maaf, aku bukan perawan, aku khawatir aku tidak bisa melayanimu!"
Setelah Lexie selesai berbicara Lexie mendorong Daniel dan berbalik.
Daniel tidak mengejar, tidak berteriak, dan juga tidak membanting barang. Ruangan itu sangat sunyi, bahkan angin pun tidak ada.
"Bukan perawan ..." Kalimat ini bergema di benak Daniel, bahkan Daniel sendiri tidak menyadari perubahan raut wajahnya.
Pagi-pagi keesokan harinya, Lexie bangun pagi-pagi sekali, langsung ke kamar Santo untuk menjenguknya, Santo masih dalam keadaan koma, sepertinya tidak ada tanda-tanda Santo akan sadar, hanya ada satu pelayan yang tidur di kamar yang menjaga Santo. Lexie membangunkan pelayan itu, setelah Lexie bertanya baru mengetahui bahwa orang-orang Daniel yang memberinya uang, dan juga membayar akomodasi penginapan selama sebulan untuk Santo, selama periode waktu ini mereka meminta pelayan menginap untuk merawat Santo.
Mereka bahkan berencana untuk meninggalkan Santo sendiri di sini! Lexie benar-benar merasa marah, tanpa sadar Lexie mengepalkan tinjunya, mereka memberi waktu Santo sebulan, jika Santo tidak bisa melewatinya dalam waktu sebulan, maka apa Santo akan mati di sini? Apa mereka tidak khawatir pelayan di penginapan ini tidak melakukan tugasnya dengan baik? Apa Santo akan di beri makan tepat waktu, apa Santo akan di beri obat, dan bahkan apa Santo akan di usir dari penginapan setelah mereka pergi?
Mereka tidak khawatir karena mereka tidak membutuhkan orang yang tidak berguna!
"Nona Lexie, tuan memintaku untuk memanggilmu, kami sudah bersiap untuk berangkat, dokumen untuk keluar sudah di siapkan, sebentar lagi kita sudah bisa." Teman Santo yang kemarin berjaga di kamar Santo datang ke depan pintu kamar, dia bahkan tidak memasuki ruangan dan tidak melihat Santo sama sekali, tidak tahu itu karena takut tau merasa bersalah, dia bahkan tidak berani melayangkan pandangan matanya ke arah Santo sama sekali.
Lexie mendengus dingin menunjuk ke arah Santo di ranjang, kemudian bertanya: "Kenapa, kamu tidak membawa saudaramu untuk pergi bersama?"
Kalimat ini membuat wajah orang yang berdiri di pintu seketika memerah, bibirnya bergerak tapi dia tidak menjelaskan apa-apa, dia hanya menggertakan giginya dan berkata dengan wajahnya yang memerah: "Nona Rosie, tuan memintaku memanggilmu!"
"Aku sedang bertanya mengapa kamu tidak membawa temanmu ini bersama! Aku pikir kalian pasti pernah pergi berperang bersama, pasti pernah melewati hidup dan mati bersama! Sekarang dia terluka, kalian ingin meninggalkannya di sini, apa ini adalah persahabatan di antara kalian? Jika kamu terluka apa temanmu yang lain juga akan meninggalkanmu seperti ini?"
__ADS_1
Lexie begitu emosional, Santo kehilangan tangannya di karenakan Lexie, dan Lexie merasa bersalah, dan lagi Lexie masih harus melihat Santo di tinggalkan oleh mereka, jadi Lexie sangat tidak senang!
Mungkin karena perkataan Lexie menyentuh lukanya, ada air mata yang sekilas terlihat di mata pria itu, tapi pada akhirnya pria itu menahannya, dia menelan ludahnya dan berkata: "Jika aku terluka, mereka juga akan melakukan hal yang sama dan meninggalkanku, karena nyawa kami tidak lebih penting dari keselamatan tuan!"
Setelah selesai berbicara pria itu terpaku, sepertinya sedang menenangkan emosinya kemudian kembali bertanya, "Nona Rosie, tuan memintaku untuk memanggilmu, kita harus berangkat."
Lexie menghela nafas, Lexie tidak tahu harus mengatakan orang-orang ini bodoh atau mengatakan mereka itu setia, mungkin Lexie hanyalah seseorang tanpa iman, Lexie tidak pernah setia pada siapa pun, jadi Lexie tidak akan pernah bisa memahami sikap setia pada majikan semacam itu, bahkan hingga mengabdikan nyawa seperti itu.
"Kalian pergilah, tuan kalian bukanlah tuanku. Aku tidaklah meninggalkannya demi keselamatan tuan kalian." Lexie berkata seperti itu kemudian duduk di tepi ranjang.
Ketika pria itu mendengarkan kata-kata Lexie, dia sedikit terkejut, kemudian air mata di matanya itu mengalir tanpa dapat di tahan lagi, dia bergegas menyekanya dan berkata pada Lexie: "Kalau begitu, Santo kuserahkan padamu, dan ... Terima kasih!"
Setelah pria itu pergi, Lexie meminta pelayan penginapan itu memasak air panas dan membawanya ke kamar, Lexie mengambil kain, dan merendamnya di air panas, setelah itu Lexie menyeka wajah Santo, kemudian menyeka bagian darah yang masih tersisa di tangannya yang masih utuh.
Di luar penginapan, di dalam gerbong kereta kuda yang besar, Daniel sedang bersandar di kereta kudanya dengan raut wajah yang tidak enak di lihat, pikirannya masih memikirkan perkataan Lexie yang mengatakan, "Dia bukan perawan". Apa Lexie benar-benar ...
Perkataan ini benar-benar membuat Daniel sangat kesal, jadi sikapnya terhadap bawahannya bahkan jauh lebih tidak sabar, "Mengapa memanggil seseorang begitu lama? Kalian semakin lama, semakin tidak berguna!"
Beberapa orang di luar pintu tidak mengatakan sepatah katapun, sampai mereka melihat ada seseorang berlari keluar dari dalam penginapan, mereka baru mendesah lega, tapi sayangnya perkataan yang di ucapkan orang itu malah membuat mereka kembali khawatir.
"Nona Rosie berkata dia akan tetap tinggal untuk merawat Santo dan tidak pergi bersama kita."
__ADS_1
Ketika Daniel mendengarnya, dia meninju jendela kereta kuda, kemudian jendela itu langsung hancur berserakan, "Menjaga Santo! Dia memang begitu memiliki hati!"