Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Majikan Berhati Serigala


__ADS_3

"Kemampuan?" Wilson mengatupkan bibirnya sangat tidak percaya.


Lexie juga malas menjelaskan, ada beberapa hal yang tidak berguna jika di jelaskan dengan mulut.


"Diam!" Martin berjalan di belakang Lexie, ketika dia berbicara di saat bersamaan dia sudah menarik Lexie ke dalam pelukannya, "Kalian dengar, apa suara itu?"


Lexie di tarik menabrak sebidang dada yang keras, meskipun di pisahkan oleh pakaian, tapi suhu yang panas itu membuat detak jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memerah, saat itu, Lexie seakan mendengar detak jantungnya di kedalaman dadanya, mengenai apa yang ada di sekeliling, Lexie tidak bisa mendengar apapun sekarang.


Lexie mengulurkan tangan dan mendorong tubuh Martin, tapi tampaknya maryi fokus pada sekitarnya, dengan keras kepala menggunakan tangannya untuk menekan bahu Lexie, bagaimanapun Lexie mengeluarkan tenaga, tubuh Martin sama sekali tidak bergerak.


Jelas-jelas itu adalah situasi yang sangat berbahaya, mungkin karena terlalu malu, membuat Lexie tidak gugup.


"Ada sesuatu yang bergerak ke tempat kita berada!" Wajah pria berbaju hitam menjadi serius, menarik pisau panjang yang di letakkan di pinggangnya, dirinya sudah siap dalam mode bertarung setiap saat.


Wilson juga gugup, tidak memperhatikan bahwa Martin dan Lexie terlalu dekat hari ini, "Kalian, kalian harus melindungimu nanti, aku tidak bisa bela diri."


Sayangnya kata-katanya tidak mendapat tanggapan dari siapapun.


Hanya melihat Martin mengerutkan alis dan berkata dengan suara dingin, "Sudah datang!"


Hampir pada saat kata-katanya di ucapkan, melihat sepasang mata hijau yang muncul dan mengelilingi disekitar mereka, di dalam kabut yang tebal, mata yang begitu tajam yang menembus mata hijau itu, membuat orang merasakan perasaan dingin dan takut.


Tangan Lexie yang mendorong Martin seketika tidak berani bergerak, tidak peduli jenis binatang seperti apa itu, dengan jumlah yang begitu banyak, dapat di katakan ini adalah situasi kritis.


Lexie tiba-tiba teringat Victor untuk sejenak, Lexie tiba-tiba merasa bahwa jika Victor ada di sini, tidak peduli seberapa sulit, maka Victor sudah pasti bisa menyelesaikannya, perasaan macam ini juga tidak tahu dari mana asalnya, tapi Lexie dengan keras kepalanya percaya akan hal itu.


Hewan-hewan yang ganas itu berjalan mendekat perlahan, bukan karena mereka sengaja meringankan langkah mereka, tapi jenis berburu dengan sabar, sebelum memberikan pukulan yang fatal bagi mangsanya, mereka tahu bahwa mereka harus menyembunyikan hati ingin membunuh.


Ketika mereka berangsur-angsur keluar dari kabut tebal, pria berbaju hitam itu tiba-tiba menarik nafas dingin, "Sial, bukankah ini adalah serigala darah yang hanya ada di gunung Utara? Ini adalah wilayah milik pavilliun Heaven, bagaimana mungkin ada serigala darah?"


Lexie tidak tahu apa itu serigala darah, tapi melihat Wilson sudah gemetaran, dia tahu itu sudah pasti bukan hewan yang baik.


"Kudengar ada seorang jendral di gurun utara, memiliki pasukan serigala darah yang terlatih." Suara datar martin terdengar dari atas kepala Lexie, hanya mengatakan satu kalimat seperti itu, tapi tidak mengatakan siapa jendral itu, dan bagaimana keberadaan pasukan itu.


Wilson juga hanya berani mendekat pada keduanya untuk bersandar, "Martin, kamu benar-benar hebat, bahkan aku saja belum pernah mendengar di gurun Utara memiliki pasukan serigala darah, bagaimana kamu bisa tahu? Berita ini bahkan tidak di ketahui oleh pasukan biasa."

__ADS_1


Martin tidak menjawab perkataan Wilson, tapi hanya mengambil belati dari sepatunya, menarik lengan Lexie dengan satu tangan dan memegang belati di tangan lainnya, Martin menundukkan kepalanya dan berkata pada Lexie: "Nanti ikuti aku!"


Martin memegang lengan Lexie begitu erat, bisakah Lexie tidak mengikutinya?


Serigala - serigala itu mengepung mereka, tidak langsung menyerang, tetapi seperti menunggu sesuatu, mereka menunggu dengan waspada, setelah beberapa saat mereka sudah basah kuyup kerena keringat.


Tiba-tiba di kedalaman kabut tebal, terdengar suara rendah yang berat, "Siapa orang dari pavilliun Heaven?"


Ternyata seperti yang di katakan Martin, para serigala ini memiliki tuan.


Wajah pria berbaju hitam itu berubah, tapi masih berdiri diam tidak bergerak, beberapa orang lain juga tidak mengambil inisiatif untuk berbicara.


"Huh! Tidak mau berbicara? Kelihatanya diantara kalian pasti ada orang-orang dari pavilliun Heaven. Orang-orang sebelumnya ketika di tanya langsung bergegas mengatakan bukan, untuk apa aku masih membiarkan mereka tetap hidup?" Orang itu berkata sudah seperti sepantasnya, hanya suaranya yang terdengar, tapi orangnya tidak terlihat, tapi semua orang tahu bahwa dia sudah pasti berdiri di belakang para serigala darah itu.


Martin mengerutkan kening, dan memaki rendah, melirik sekilas ke arah pria berbaju hitam itu, mengisyaratkan dia untuk berbicara, harus mengatakan sesuatu untuk bisa mendapatkan perkataan dari pihak lain dan mengetahui apa yang ingin di lakukan oleh pihak itu.


"Kita semua adalah orang-orang dari pavilliun Heaven, siapa kamu, untuk apa kamu berbuat keributan di wilayah pavilliun Heaven?" Pria berbaju hitam itu berteriak keras ke dalam kabut.


"Ternyata benar, tapi apakah aku akan percaya begitu saja pada apa yang kamu katakan? Siapa yang kamunggap bodoh? Karena merupakan orang dari pavilliun Heaven, kalau begitu tidak usah katakan apa-apa lagi, bawa kami ke pavilliun Heaven, apa-apaan pengaturan seperti ini, membuatku tidak bisa keluar untuk waktu yang lama. Tapi kesabaranmu juga tidak baik, aku memberimu waktu 15 menit, aku ingin pergi ke pavilliun Heaven, jangan katakan padaku bahwa itu tidak mungkin, aku tahu bahwa pavilliun Heaven sangat dekat dari sini!"


Pria itu mendekat pada mereka, pandangan matanya melintas seklias, akhirnya pandangan matanya berhenti di sosok Lexie, dia seperti sedang tertawa di balik topeng, "Hei, ada seorang wanita cantik? Apa pavilliun Heaven juga menyukai wanita cantik? Hei, wanita cantik, kukatakan padamu di dalam pavilliun Heaven kebanyakan di antaranya adalah orang tua, kamu seorang wanita dewasa untuk apa pergi ke sana, atau kamu ikuti aku saja, makan dan minum enak, dan juga ada pria kuat yang akan melayani sepanjang hari, bagaimana?"


Sudut bibir Lexie berkedut, Lexie tidak bisa berkata-kata terhadap godaan tanpa rasa malu dari orang ini, Lexie tidak berbicara, tapi dengan datar hanya menolehkan kepalanya, sedikit tidak ingin melihat orang itu.


Sekarang jika dipikirkan, setiap kali Victor menggodanya dia pasti memiliki semacam senyuman remeh, perkataan Tangi katakannya jelas-jelas sembrono, tapi malah membuat orang tidak bisa merasakan sedikit pun celah sembrono itu.


Apakah ini bedanya setelah melakukan kontak intim? Ketika dua irang sudah bertemu dan saling jujur, banyak hal akan menjadi berbeda.


Lexie tiba-tiba menyadari bahwa beberapa hari ini, dia sering memikirkan Victor, jika dipikirkan baik-baik, tampaknya selain di bagian itu, di mana Victor sedikit keterlaluan, setelahnya sepertinya Victor tidak memiliki kesalahan padanya.


Apa dia seorang masokis? Bahkan untuk hal semacam itu pun bisa dimaafkan?


"Hei, wanita sial, aku sedang berbicara, tapi kamu malah melamun? Dan lagi kamu sedang memikirkan pria!" Pria bertopeng itu marah, memandang Lexie bagai sedang memandang monster.


Lexie sangat jarang memutar bola matanya, terlalu malas untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


Lexie memang sedang memikirkan pria, tapi apa hubungannya dengannya?


"Kamu masih berani memutar bola matamu padaku!" Pria yang mengenakan topeng itu tampak sangat marah, tidak tahu saraf mana yang tertusuk, hanya bisa melihat bahwa dia sangat marah hingga tangannya gemetar, kemudian tanpa berpikir mengeluarkan sebuah alat musik bagai seruling, lalu segera meniupnya.


Serigala yang tengah menunggu dengan tenang sebelumnya, bergegas menerjang mereka ketika suara seruling itu terdengar, seperti seekor cheetah pemburu di dunia binatang, begitu kejam, dengan membawa tekad jika bukan kalian yang mati maka mereka yang mati!


"Ahh!"


Lexie masih belum berteriak, telinganya sudah mendengar teriakan yang datang dari Wilson yang ada di sebelahnya, Wilson berteriak dengan keras dan juga berlebihan, sangat berlebihan hingga Lexie yang awalnya terkejut dan dingin mengeluarkan suara, mulutnya terbuka, tapi tidak mengeluarkan suara apapun.


Mungkin teriakannya merangsang sifat ganas hewan-hewan itu, beberapa ekor serigala darah segera menerjang ke arahnya, Wilson tidak bisa bela diri, meskipun pria berbaju hitam dan teman-temannya bergegas menerjang ke sana, tapi masih tidak bisa memblokir semua serigala darah, salah satu serigala darah menggigit paha Wilson.


Suara daging yang di gigit, membuat punggung orang lain bergidik dingin.


Bahkan Lexie tidak keburu melihatnya, sudah merasakan ada darah panas yang memercik ke wajahnya, Lexie membelalakkan matanya terpaku, menyaksikan serigala darah itu menerjang ke arahnya.


Tapi kemampuan Martin jelas lebih kuat dari pada dua orang dari pavilliun Heaven itu, dia bahkan tidak mengerutkan alisnya, belati di tangannya langsung memotong leher tiga ekor serigala darah, setiap serangan adalah serangan mematika merenggut nyawa, sama sekali tidak ada gerakan sia-sia.


Gerakannya sangat tenang, tidak ada gerakan berlebihan, satu tusukan seakan satu nyawa itu seakan tidak ada artinya baginya.


Tidak tahu mengapa, Lexie tiba-tiba merasa orang ini sudah pasti telah membunuh banyak orang, ketika dia membunuh orang, apa sama seperti sekarang, bahkan alisnya pun sama sekali tidak berkerut?


Serigala darah itu sangat kejam, kedua orang dari pavilliun Heaven itu melawan selama beberapa saat dan tubuh mereka sudah penuh luka, keduanya perlahan-lahan merasa putus asa, tiba-tiba keduanya melihat ke arah Martin, dengan terkejut menemukan bahwa di bawah kaki Martin sudah terdapat puluhan ekor serigala darah.


Mereka seketika sangat kaget dan terkejut, bahkan lebih takut di bandingkan ketika mereka melihat serigala darah, seni bela diri mereka sudah merupakan yang terbaik pavilliun Heaven, di negara Nanyue ini, mereka juga sudah di hitung sebagai ahli seni bela diri, tapi mereka berdua bersama hanya bisa membunuh satu ekor serigala, terus melawan juga hanya bisa meringankan beberapa luka saja, tapi Martin itu bahkan pakaiannya pun tidak rusak sama sekali.


Orang yang bisa memiliki tingkat seni bela diri yang demikian tinggi, hanya bisa di hitung dengan sepuluh jari, tapi tidak ada yang pernah mendengar nama Martin!


Pria bertopeng itu menatap para serigala darahnya yang tergeletak di genangan darah, kedua matanya penuh dengan rasa tidak percaya, dia meletakkan alat di tangannya itu dan berteriak: "Siapa kamu!"


Jawabannya hanyalah dengusan dingin dan juga kepala serigala yang terbang melewatinya.


Hanya mendengar Martin dengan dingin berkata: "Tampaknya kali ini kamu datang dengan membawa serigala sebanyak ini? Tapi bagaimana ini, sepertinya aku kecanduan membunuh, seekor serigala ini setidaknya membutuhkan waktu lima tahun untuk melatihnya bukan, aku membunuh begitu banyak apa kamu sakit hati?"


"Kamu! Kamu!" Pria bertopeng itu menatap Martin dengan ketakutan, "Bagaimana kamu bisa tahu!"

__ADS_1


Martin tidak menjawab, sepertinya demi membuktikan kata-katanya, dia menusukkan belatinya kemudian kembali memotong tenggorokan 1 serigala darah, "Masih berapa banyak serigala yang kamu miliki, atau tidak panggil mereka keluar sekaligus?"


__ADS_2