
Butuh waktu dua jam untuk mendaki dari kaki gunung ke puncak gunung, ada toko teh di setiap jarak tertentu, menjual teh herbal untuk orang-orang yang lelah mendaki.
Jarak ini bukan masalah besar bagi Victor dan Morgan yang memiliki ilmu bela diri, jangankan berjalan kaki naik gunung, bahkan menggunakan ilmu bela diri mereka untuk naik ke puncak gunung pun itu sangat mudah.
Tapi, ini bagi Lexie dan Lucas, cukup menguras tenaga.
Keduanya berjalan sambil melihat-lihat di sepanjang jalan, melihat-lihat di kios yang berada di pinggir jalan, ketika mencapai tengah gunung, keduanya sudah membawa banyak barang, ketika sudah di tengah gunung Lexie berkata bahwa dirinya sudah tidak bisa berjalan lagi, merengek ingin beristirahat.
Victor melihat dua orang terengah-engah dengan begitu menyedihkan, tapi tidak menolak, melihat toko teh sederhana yang di tempatkan di sisi jalan dengan pandangan remeh, jika ingin Victor duduk di tempat seperti ini untuk minum teh, itu tidak mungkin!
"Suamiku, kami benar-benar sudah tidak bisa berjalan, jika kamu benar-benar tidak ingin minum teh di sini, kamu bisa pergi lebih dulu, aku dan Lucas akan menghampiri nanti." Lexie mengabaikan wajah jelek Victor, menarik Lucas dan duduk di sisi toko teh herbal, lalu menuangkan semangkuk teh untuk dirinya dan juga Lucas.
Victor melihat Lexie yang sama sekali tidak masalah, dan juga meminum teh di mangkuk itu, tidak tahu mangkuk itu sudah di gunakan oleh siapa saja, alis Victor kemudian mengkerut, "Sudahlah, Morgan, kamu ikuti mereka."
Setelah selesai berbicara, Victor tidak melihat siapapun, langsung berjalan menuju atas gunung.
Lexie mengerucutkan bibir, sambil diam-diam menatap punggung Victor, tapi malah mengulas senyum ketika berbalik dan menatap Morgan, "Komandan Morgan, datanglah kemari untuk meminum teh?"
Morgan tidak begitu keberatan, jadi dia duduk bersama mereka.
"Komandan Morgan, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" Lexie menuangkan semangkuk teh untuk Morgan.
"Tentu saja, silahkan nona Lexie bertanya." Morgan adalah orang yang lurus, jadi dia langsung menyetujuinya.
Lexie tersenyum sedikit lebih cerah, "Komandan Morgan, menurutmu apa Lucas mempunyai bakat untuk belajar seni bela diri?"
__ADS_1
Tidak menyangka Lexie akan menanyakan hal ini, Morgan memandang Lucas, alisnya sedikit berkerut, dia tidak menjawab malah balik bertanya, "Apa nona ingin aku mengajari seni bela diri pada anak ini?"
"Haha." Lexie tersenyum dengan canggung, "Kulihat komandan Morgan adalah orang yang langsung, jadi aku tidak akan bertele-tele, jika komandan Morgan bisa membimbingnya, tentu saja aku akan merasa senang."
Morgan mendengarkan, menyesap teh, ketika dia meletakkan mangkuk teh, alisnya masih mengkerut, dengan kesulitan berkata: "Nona Lexie, bukannya aku tidak setuju, tapi tugasku adalah sebagai penjaga Yang Mulia, tidak ada waktu untuk mengajarkan anak ini, menyerahkan anak ini padaku malah akan mengganggu."
Morgan mengatakan secara langsung, Lexie memahaminya secara rasional, tapi perasaannya tetap saja merasa kecewa.
Morgan melihat tampilan Lexie yang seperti itu, berpikir sesaat kemudian berkata: "Tapi ... Jika nona Lexie benar-benar ingin anak ini belajar seni bela diri, aku bisa memikirkan cara lain, tapi apakah anak itu bisa menerimanya kesulitan atau tidak."
Mata Lexie seketika cerah, bergegas berkata: "Dia tidak takut kesulitan, selama dia bisa menjadi kuat, dia tidak akan takut pada kesulitan apapun, benarkan Lucas?"
Lucas yang tiba-tiba di panggil mengangkat kepalanya, memandang Lexie, kemudian menatap Morgan lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Morgan melihat bahwa mereka berdua sangat serius, menghela nafas dan berkata: "Kalau begitu beberapa hari lagi aku akan menulis surat pada saudaraku, melihat apakah dia bisa mengambil Lucas sebagai muridnya dan mengajarinya dengan baik, seni bela diri saudaraku itu sangat hebat, hanya saja orangnya terlalu tidak menentu, selalu suka berpergian jauh, jika dia bersedia menerima Lucas sebagai muridnya, takutnya Lucas harus mengikutinya berlatih selama beberapa tahun, setiap harinya hidup di luar, tidak tahu apa anak ini bisa bertahan atau tidak ..."
Lexie tidak tahu apa yang di pikirkan Lucas di hatinya, hanya mendengarkannya berbicara seperti itu, mengulas senyum bahagia, "Aku tahu Lucasku memang yang terbaik!"
Lucas malu hingga wajahnya memerah, tapi tidak menolak gerakan tangan Lexie yang menyentuh kepalanya.
"Baiklah, karena kulihat anak ini juga memiliki kemauan, tunggu ketika kembali ke kediaman, aku akan menghubungi saudaraku." Morgan akhirnya menyetujui, membuat Lexie dan Lucas mengulas senyum bahagia.
Setelah mereka istirahat beberapa saat mereka baru kembali memulai perjalanan.
Semua mengatakan bahwa gunung, awan dan angin tidak dapat di prediksi, kalimat ini benar, tadi masih sangat cerah, tapi setelah beberapa saat tertutup awan gelap, melihat situasinya sepertinya beberapa saat lagi akan turun hujan.
__ADS_1
"Di depan tidak ada desa dan juga toko, kita sebaiknya bergegas mencari tempat untuk berlindung dari hujan." Morgan memandang ke arah langit, berbicara pada dua orang di belakangnya.
Pejalan kaki hanya bisa bergegas turun gunung atau mencari tempat perlindungan dari hujan.
Victor sudah naik gunung, jadi mereka tidak bisa turun gunung, mereka hanya bisa menemukan tempat berlindung dari hujan, Lexie mengangguk setuju dan berkata: "Kulihat beberapa penduduk desa tampaknya tahu dimana tempat berlindung dari hujan, atau tidak mari ikuti mereka."
Morgan juga menyetujui usulnya jadi mereka mengikuti beberapa penduduk desa untuk mencari tempat perlindungan dari hujan menuju jalan setapak.
Mereka berjalan selama beberapa saat, benar saja, mereka melihat sebuah kuil Tao di depan, tapi kuil Tao itu sangat sederhana, tidak bisa di bandingkan dengan kuil-kuil yang sudah di perbaiki dengan hati-hati di kedua sisi jalan gunung yang tampak mencolok.
Hujan deras akhirnya turun, setiap tetesan hujan itu sangat besar, terjatuh menyentuh tanah, membuat rintik aliran air di tanah.
Penduduk desa bergegas menuju kuil Tao untuk menghindari hujan, tapi mereka terlambat, hampir sudah seluruh pakaian mereka basah karena hujan.
Morgan dan Lexie juga datang ke kuil Tao, berdiri bersama penduduk desa di bawah atap.
Gerbang kuil Tao itu di tutup, tapi penduduk desa itu tidak masuk dan mengetuk pintu, mereka hanya berdiri di bawah atap untuk bersembunyi dari hujan, masing-masing memeluk dirinya sendiri sambil menggigil.
Tubuh Lexie memang sudah sangat bagus, setelah basah oleh hujan, pakaiannya menempel di tubuhnya, membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.
Morgan meliriknya sekilas, bergegas menolehkan kepala: "Nona Lexie, atau kita masuk dan melihat apakah ada orang di dalam, jika ada orang, mungkin bisa menemukan pakaian ganti yang bersih untukmu."
Kedua tangan Lexie memeluk dadanya, perlahan-lahan merasakan pandangan mata panas dari orang-orang di sekitarnya, "Baiklah mari kita masuk dan melihatnya."
Mendapatkan persetujuan Lexie, Morgan berbalik dan mengetuk pintu kuil, setelah beberapa saat, mendengar langkah kaki dari balik pintu, raut wajah Morgan terlihat bahagia, tapi ketika pintu terbuka, senyum di wajahnya menjadi kaku.
__ADS_1
Ketika pintu itu terbuka ternyata dia adalah seorang bhikkuni!
Tidak mengherankan penduduk desa tidak masuk, jika yang membuka pintu itu adalah seorang bhikkuni, maka memang tidak nyaman bagi tamu laki-laki untuk masuk.