Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Mohon Untuk Melepaskan


__ADS_3

Cucu!


Kata ini menghantam jantung Lexie, dia menatap perutnya seiring dengan pandangan mata guru Damian, Lexie teringat ketika dia sedang merasakan tidak enak badan, guru Damian saat itu memeriksa denyut nadinya, hanya memeriksa denyut nadi sekilas, guru Damian sudah merasakan sesuatu?


Ironisnya sendiri adalah bahkan Lexie tidak menyadarinya!


Jika bukan karena tidak percaya guru Damian akan bercanda disaat seperti ini, Lexie tidak akan mempercayai fakta yang kejam ini.


"Kamu, maksudmu aku ..." Lexie berkata dengan tercekat, mungkin karena terkejut, dia bahkan sedikit melupakan tangisannya.


Guru Damian ketika mendengarkan perkataan Lexie, dia menghela nafas dengan tidak berdaya, "Sepertinya kamu bahkan tidak mengetahuinya ..."


Kemudian guru Damian menoleh dan menatap pria yang sama terkejutnya di belakang, sepasang mata itu penuh dengan makna yang sulit, pada akhirnya tatapannya jatuh pada tubuh Victor, guru Damian berdehem, "Apa kamu adalah ayah dari anak itu?"


Victor yang tiba-tiba di tanyai oleh guru Damian, wajahnya begitu gelap, untuk pertama kalinya, dalam hidupnya dia tidak tersadar untuk waktu yang begitu lama dari keterkejutannya.


Langkah kakinya baru saja di gerakkan, mencoba mengatakan sesuatu tapi sudah di sela oleh Lexie yang berada di sisi guru Damian, dia dengan tercekat berkata: "Bukan dia."


Lexie tidak melihat ke belakang, tidak melihat raut wajah Victor, tapi dia merasa bahwa Victor tidak berharap Lexie memiliki anak ini, lagipula, apa identitas Victor dan apa identitas Lexie? Di mata Victor, Lexie tidak lebih hanya alat untuk memuaskan gairahnya saja, satu-satunya perbedaan adalah sampai saat ini dirinya sebagai alat masih sangat membuatnya puas.


Keanehan di mata tua guru Damian terlintas, jelas-jelas dia sudah begitu tua, tapi masih ada air mata di matanya, dengan terengah-engah dia berkata: "Sudahlah, sudahlah ... Dosa apa yang kau perbuat nak, seorang wanita memiliki anak tanpa status, bagaimana kamu hidup di kemudian hari, kamu ini, jika aku mati maka aku tidak akan Meti dengan tenang ..."

__ADS_1


Di malam yang hening, suara kesedihan guru Damian terdengar di indera pendengaran semua orang.


Lexie akhirnya tidak bisa menahan suara Isak tangisnya, hanya saja detik berikutnya Lexie dengan ketakutan membelalakkan matanya, karena mulut guru Damian secara bertahan tertutup, bahkan matanya juga secara bertahap meredup ...


"Guru!" Alvaro dan Zacky tahu apa arti perubahan guru Damian, mereka berdua bergegas menangis sejadi-jadinya bergegas mendekat.


Melihat mata guru Damian yang akan benar-benar tertutup, Alvaro meraih tangan Lexie kemudian berteriak kepada guru Damian: "Guru, kamu tidak perlu khawatir pada Lexie! Aku akan menikahinya! Aku akan menikahinya!"


Ketika perkataan ini di ucapkan, mata guru Damian akhitnya tertutup sepenuhnya, hanya saja kalimat yang terakhir Alvaro katakan, tidak tahu apakah guru Damian mendengarnya atau tidak.


Hening, hanya tersisa keheningan yang sunyi.


Penyesalan seperti ini, apa yang bisa dia perbuat untuk menebusnya?


Lexie tidak pernah merasa begitu menyakitkan seperti ini sebelumnya, sebagai orang yang sudah pernah mati sekali, dia sudah mengalami terlalu banyak, hatinya sudah lama di hancurkan oleh masyarakat yang begitu kejam ini, hanya menyusahkan ketidakpedulian, namun tiba-tiba muncul pria tua yang seperti ini, dengan tidak sengaja menghangatkannya, membuatnya mensapatkan kembali kebenaran yang hilang dari jiwanya.


Alvaro dan Zacky, kedua pria itu juga menangis, biasanya mereka selalu memanggil guru dengan sebutan pria tua, seakan tidak menghormati guru Damian, tapi hanya mereka pria tua ini adalah satu-satunya keluarga di dunia ini, mereka adalah anak yatim piatu, pria tua ini yang memberi mereka kehidupan lagi, dan juga mengajari mereka membuat senjata, dari orang yang tidak memiliki kemampuan hingga menjadi seorang yang tidak bisa di tindas seenaknya!


Hari ini, pria tua itu pergi begitu saja.


Saat ini ada beberapa hal di hati kedua pria ini yang benar-benar hancur, mereka sedang merenungkan, apakah mereka salah, dulu, mereka berpikir selama mereka membuat senjata terbaik, maka mereka akan mengorbankan hidup mereka di pavilliun Heaven, itu adalah hadia terbaik untuk pria tua itu, tapi sekarang ...

__ADS_1


Lexie menangis begitu menyedihkan, berulang-ulang menyeka air matanya, saat ini air pikirannya penuh dengan perkataan yang baru saja di katakan oleh guru Damian, sama sekali tidak memiliki suasana hati untuk memperhatikan orang-orang di belakangnya.


Lexie tidak tahu, tidak tahu sejak kapan Victor berada di belakangnya.


Victor tidak pernah melihat emosi Lexie yang begitu runtuh, Lexie selalu bersikap sebagai wanita yang berperilaku baik dan juga memahami, dan pada saat itu Victor hanya berpikir bahwa Lexie tidak merepotkan, bahkan Victor merasa bahwa penyamarannya itu terlalu licik, terkadang bahkan terlalu licik hingga Victor bertindak terlalu kejam padanya, kemudian dengan paksa mengeluarkan sisi asli Lexie, tapi kekeras kepalaan Lexie ini bahkan lebih keras dari yang dia bayangkan, selama ini Lexie tidak pernah memperlihatkan sisi aslinya di hadapan Victor.


Victkt tidak menyangka, pertama kalinya melihat sisi sebenarnya dti emosinya itu adalah ternyata pemandangan yang seperti ini, melihatnya menangis dengan begitu sedih, di wajah yang pucat itu, sangat pucat hingga sepasang mata besar itu cekung ke dalam, terutama pandangan matanya yang penuh dengan keputusasaan, itu benar-benar membuat Victor sakit.


Bahkan ketika Victor tidak mengerti mengapa bisa seperti itu, dia berjongkok dan menarik Lexie ke dalam pelukannya, merangkulnya, tidak menghiburnya, hanya dengan lembut menepuk-nepuk punggungnya.


Kelembutan seperti itu, untuk sesaat, bahkan dirinya sendiri juga merasa aneh.


Dan lagi, batu saja guru Damian mengatakan bahwa ada anak di dalam perut Lexie? Berita ini membuat Victor agak terpaku, alisnya berketut, tadinya dia seharusnya mengatakan, bagaimana mungkin wanita seperti ini melahirkan keturunannya, tapi ketika Victor melihat wajah putus asa Lexie, dia malah berkata: "Jangan bersedih, bahkan meski itu bukan hanya demi dirimu, kamu harus berpikir demi anak yang ada di dalam perutmu."


Lexie mendongak dengan tiba-tiba, sepertinya baru menyadari Victor sedang memeluknya dengan lembut, pandangan matanya terlalu kabur, sepertinya tidak dapat terfokus untuk sementara waktu, setelah sekian lama, pandangan mata itu secara perlahan-lahan menjadi jelas, Lexie berpikir sesaat, dengan tercekat berkata: "Kumohon pdamu, untuk jangan menyuruhku untuk menyerah akan dirinya, apa boleh?"


Lexie telah kehilangan seseorang yang telah peduli padanya, benar-benar tidak ingin kehilangan satu lagi, bahkan jika nyawa itu baru hidup di dalam perutnya.


Melihat pandangan mata Lexie yang memohon, mendengar permohonannya yang menyedihkan, alis Victor makin berkerut, jantungnya terasa sedikit sesak, tapi tidak dapat menemukan dari mana perasaan sesak itu berasal.


"Kumohon padamu, aku berjanji tidak akan meminta apa pun, kamu bahkan boleh tidak mengakui anak ini untuk selamanya, aku akan menyembunyikannya, aku tidak akan membiarkannya muncul di hadapanmu, tidak akan membiarkannya muncul di hadapan istrimu, aku hanya memintamu untuk membiarkan aku mempertahankannya. Kumohon padamu, kumohon padamu, kumohon padamu ..."

__ADS_1


__ADS_2