
Sabar... Sabar... Sabar...
...~*~...
Besok harinya dikediaman kelurga Pervis, Rina menandai wajah Elsa dengan sempurna sedangkan dua pelayan yang ada di sana menyiapkan gaun yang akan Elsa pakai.
"Nona anda ingin memakai gaun yang mana?" tanya pelayan itu memberikan dua gaun berbeda.
"Merah," jawab Elsa cepat.
"Baik Nona."
Tampilan Elsa sudah sangat sempurna dengan rambutnya yang sedikit di urai, Rina juga memasangkan beberapa perhiasan pada tubuh Elsa, agar dia terlihat lebih glamor.
"Sudah selesai Nona."
"Bagus, terima kasih sudah membantu ku," ucap Elsa pada ketiga pelayannya.
"Apa pun akan kami lakukan untuk anda senang nona," ucap Rina tersenyum.
...~*~...
Malam harinya semua kelurga Pervis sudah siap di lantai bawah, di sana sudah ada Kiana serta ibunya dengan ayahnya yang juga ada di sana.
"Aku sudah siap."
Elsa berdiri dibelakang Roan yang terlihat sibuk berbicara dengan tangan kanannya, Lisa yang saat itu sedang duduk dengan Kiana langsung menatap datar wajah Elsa.
"Kenapa kau lama sekali? Apa kau tau saat ini yang mengundang kita Yang Mulia?" tanya Lisa langsung.
"Saya tau, Maaf jika saya menghambat waktu kalian."
"Jika kau tidak punya niatan untuk ikut, lebih baik tinggal saja," celetuk Kiana.
Roan langsung menoleh ke arah Kiana yang terlihat sekali dia sedang membuang mukanya dihadapan Roan, Elsa terdiam menatap wajah ibu dan anak itu, tangannya terkepal kuat menahan emosi.
"Sudahlah tidak usah diperpanjang, ayo kita pergi sekarang," ajak Roan.
...~*~...
Selama perjalan Elsa hanya diam menatap ke arah luar, dia sangat malas jika masuk ke dalam obrolan Kiana bersama dengan Lisa dan Roan, jujur saja Elsa saat ini begitu muak mendengar antusias Kiana yang sangat percaya diri, bahwa dia sebentar lagi akan menjadi Putri Mahkota.
Lama mereka berjalan akhirnya kereta kuda kelurga Pervis telah memasuki halaman istana, seorang prajurit kekaisaran membuka pintu kereta kuda itu untuk Elsa turun.
"Terima Kasih," ucap Elsa tersenyum.
Elsa berdiri didepan anak tangga menuju pintu utama istana, di atas sana sudah ada Kitell serta Diana dan Eren yang akan menyambut mereka.
"Ayo," ajak Roan.
__ADS_1
Elsa ikut berjalan dibelakang Roan bersama dengan Kiana yang ada disebelahnya, saat sudah berhadapan dengan Kitell, Roan dengan sopan menundukkan kepalanya, yang diikuti oleh Kiana, Elsa serta Lisa.
"Salam pada cahaya Oktavia, Yang Mulia Kaisar," ucap Roan pada Kitell dan semua kelurga kaisar.
"Berdirilah."
Roan langsung berdiri diikuti oleh Lisa, Kiana dan Elsa dibelakang, mereka semua tersenyum Kitell langsung mengajak mereka semua masuk ke dalam istana.
Selama perjalanan menuju ruang makan, Kittel terus mengajak Roan mengobrol, tidak heran jika Kitell dan Roan akrab, itu karena mereka dari kecil sudah menjadi teman dekat, bahkan saat mereka masuk ke akademik yang sama.
Saat sudah di ruang makan semua para pelayan langsung melayani mereka dengan sepenuh hati, Elsa duduk dengan tenang dikursinya, sekarang dia seperti orang asing di sana, dimana tidak ada satupun orang yang mau mengajaknya berbicara bahkan pelayan sekali pun.
Sekumpulan pelayan datang mengisi meja makan, semua makanan di sana terhidang dengan kualitas terbaik, bahkan Elsa sendiri tergiur dengan itu semua namun, tidak dengan makanan yang dihidangkan pelayan untuknya.
"Apa ini?"
Wajah Elsa mengerut menatap bingung dengan makanan yang pelayan itu sajikan, lama Elsa menatap piring makanannya sampai sebuah suara yang membuatnya marah terdengar.
"Dasar bodoh, kenapa juga dia masih punya muka datang ke istana?"
"Shuttt diam jika dia mendengar bagaimana?"
"Biarkan saja lagian kan, sebentar lagi Nona Kiana yang akan jadi Putri Mahkota bukan dia."
"Kau ini."
"Sia*l"
***** makan Elsa langsung menghilang saat tau yang akan dihidangkan pelayan istana untuknya, hanyalah sebuah salad sayur dengan banyak saos tomat yang dia tidak suka.
"Aku mau muntah."
Prang
Sakin tidak kuatnya dengan rasa asam pada saos tomat itu, garpu yang saat itu Elsa pegang langsung terjatuh ke lantai membuat semua pasang mata menoleh ke arah dirinya.
"Saya akan mengambilkan garpu yang baru," sahut pelayan yang berdiri dibelakang Elsa.
Tak lama dari itu pelayan yang tadi berdiri dibelakang Elsa kembali dengan membawa garpu baru.
"Ini Nona garpu barunya."
Wajah Elsa terlihat datar melihat garpu itu, garpu itu terlihat bersih dengan dibungkus kain berwana putih.
Prang
Dengan sengaja Elsa menjatuhkan garpu baru itu lagi, "Ah... Maaf tangan ku sedikit licin."
"Tidak apa-apa Nona, saya akan bawakan garpu baru yang lain."
__ADS_1
Pelayan itu kembali ke dalam untuk mengambil garpu baru, kembali mata Elsa melirik ke depan, sejak kejadian yang dia buat sengaja tadi, tidak ada satu pun yang mau menoleh ke arah dirinya, bahkan Kittel sekali pun.
"Menyebalkan."
"Nona silahkan ini garpu barunya."
Prang
Dengan sekali hentakan garpu baru itu jatuh kembali ke lantai, sekarang semua pasang mata melirik ke arah dirinya bahkan Kitell sekali pun, pelayan yang memberikan garpu baru itu, langsung menunduk untuk mengambil garpu yang Elsa jatuhkan.
"Saya akan_"
"Tidak usah!" jawab Elsa cepat.
Mata Elsa langsung melirik ke arah pelayan itu, "Tidak usah ambilkan garpu baru."
"Iya?"
Mata Elsa kembali melirik ke arah Kittel yang sedang menatap dirinya.
"Yang Mulia, maaf menganggu makan malam anda, saya sudah selesai makan, apakah saya boleh pergi sekarang?"
Mata Kitell langsung melirik ke arah piring makan Elsa yang begitu banyak berisikan salad sayur di sana.
"Kenapa buru-buru sekali? Bahkan para pelayan belum menyediakan makanan penutup."
Elsa terdiam menatap Kittel, "Tidak apa-apa Yang Mulia anda tidak perlu mencemaskan saya, lebih baik saja pergi sekarang dari pada saya semakin kesal ada di sini!"
"Apa maksud ucapan mu Nona Pervis?" Sahut Diana tiba-tiba.
"Bukankah Ini sudah jelas Yang Mulia Ratu? Pelayan anda secara terang-terangan membicarakan saya, bahkan hidangan yang mereka sajikan untuk saya pun sama sekali tidak pantas."
"Tidak pantas?" Tanya Kittel mengulang.
"Benar harga diri saya terasa diinjak-injak saat mendapatkan perilaku seperti ini, terlebih di Istana!"
"Yang Mulia seharusnya anda bisa lebih bijak lagi dalam mengawasi pelayan anda, takutnya mereka akan melakukan hal yang sama pada tamu terhormat lainnya."
"A...Apa?" lirih beberapa pelayan disana.
Semua orang terdiam melihat ke arah Elsa, bahkan semua pelayan yang ada di sana pun berbuah menjadi tegang saat Elsa berkata seperti itu pada Kittel yang merupakan kaisar kerajaan Oktavia.
"Apa anda tidak mau bertindak Yang Mulia? Pelayan anda ini harus diberi pelajaran, agar dia tidak berbuat seenaknya, yang bisa merugikan kerjaan Oktavia," ucap Elsa dengan tegas.
Bruk!
"YANG MULIA! MOHON MAAFKAN KAMI! KAMI BERSALAH!" Sahut beberapa pelayan yang langsung bersujud ke arah Kittel.
TBC.
__ADS_1