Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Seharga Sebuah Harapan


__ADS_3

Lexie kembali fokus, mengambil alih kain putih yang diserahkan oleh Ernie, " Aku sedang memikirkan Kevin saat


ini memberikanku surat rekomendasi, waktunya sangat kebetulan, apa dia juga ingin aku ikut berpartisipasi dalam pemilihan itu? Tapi surat rekomendasi itu jelas-jelas tertulis bisa langsung berguru."


Tapi, Lexie tidak percaya pada kebetulan, Kevin tidak memberikannya di awal, tapi memberikan surat rekomendasi itu dalam beberapa hari terakhir, jika mengatakan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan pemilihan murid kali ini maka Lexie juga tidak akan percaya.


"Nona, apa yang harus kita lakukan?" Ernie kembali memasukkan kainya yang di pakai Lexie untuk menyeka wajahnya an membilasnya di air panas.


Lexie mengangkat bahu, sangat jarang menunjukkan raut wajah main-main, "Apa yang bisa di lakukan, ada surat rekomendasi maka langsung saja menunjukkannya, jika ada yang menghadang, nonamu ini juga bukannya tidak memiliki kemampuan, paking-paling hanya mengeluarkan upaya lebih menghabiskan tenaga saja."


Malam itu, Lexie tidak tidur dengan nyenyak, dalam tidurnya dia selalu merasa ada seseorang yang mengejar dirinya di belakangnya, Lexie terus berlari hingga tersudut pinggir tebing, Lexie berpikir dia akan jatuh dari tebing, tapi momen berikutnya dia malah muncul di kediaman Victor, dan Victor muncul di hadapannya, menjulurkan tangan padanya, telapak lebar itu terbentang di hadapannya ...


Pagi harinya, ketika Lexie bangun, tanpa sadar menghela nafas panjang. Apa dia sudah terbiasa di tekan oleh Victor si mesum itu, bahkan walaupun Lexie sudah pergi, tapi masih hidup dalam bayangan Victor? Mengenai mengapa Lexie memimpikannya karena merindukannya atau tidak, itu sudah pasti benar-benar mustahil.


Lexie datang ke restoran di depan penginapan untuk sarapan dengan membawa Ernie, keduanya memesan bakpao dan bubur sayuran, baru makan beberapa suap, mereka melihat seorang pemuda yang wajahnya memerah marah karena di sufutkan oleh pelayan toko.


"Aku bukannya tidak memberikan uang, tapi dompetku hilang, sarapan itu tidaklah seberapa, bagaimana aku tidak membayarnya?" Pemuda itu mengenakan pakaian dari bahan yang kasar, nadanya tinggi besar, tapi wajahnya benar-benar terlalu biasa, jika di tempatkan di kerumunan, maka sepertinya akan sulit untuk membuat orang lain menyadarinya.


Pelayan toko itu berkacak pinggang, wajahnya itu penuh dengan raut mengejek, "Aku sudah banyak bertemu orang sepertimu, sarapan itu tidak seberapa, tapi banyak yang tidak ingin membayarnya, berapa banyak seperti ini kulihat setiap bulannya? Jangan berbicara omong kosong, hari ini jika kamu tidak membayarnya, maka jangan harap bisa keluar dari restoran kami! Aku sudah banyak bertemu pembohong sepertimu."


Pemuda itu sangat marah hingga menggebrak meja, "Kamu bilang siapa yang pembohong?"

__ADS_1


"Kamu, kenapa tidak bisa mengeluarkan uang, bukankah itu pembohong?" Pelayan toko juga terbiasa dengan tamu yang seperti ini, jadi dia tidak bersikap lunak.


Pemuda itu panik, mencari di sekujur tubuhnya, tidak bisa menemukan uang sedikitpun, pada akhirnya dia dengan terpaksa mengambil sepotong liontin batu giok dari lehernya, warna liontin itu juga sangat biasa, juga tidak terlalu bernilai, tapi itu lebih dari cukup untuk sekedar uang sarapan saja.


Pemuda itu awalnya ingin memberikan liontin batu giok itu, sebagai jaminan makannya, tapi tangan itu kembali di tarik ketika mengulurkannya, "Mengapa aku harus menjunjung orang seperti kalian?"


Sambil berkata pemuda itu melihat sekeliling, kemudian melihat Lexie yang berwajah lembut, dia lurus berjalan menghampiri dan memberi hormat pada Lexie, "Nona, meskipun liontin ini bukan merupakan benda yang bernilai harganya, tapi setidaknya bernilai sepuluh perak, tidak tahu apakah nona bersedia menukarnya dengan uang padaku, permintaanku tidak tinggi, hanya berikan aku 2 perak saja sudah cukup."


Menggunakan satu dua perak di gantin dengan sepuluh perak, siapapun tidak akan merasa rugi.


Tapi Lexie menatap wajah pemuda itu dengan aneh, adegan seperti ini mengapa terlihat seperti penipuan, alis Lexie berkerut, tidak segera menyetujuinya.


"Nona, aku menderita kerugian cukup besar hanya satu atau dua perak saja, ini cukup menguntungkan, jika kamu tidak mau, aku akan mencari orang lain." Pemuda itu berkata sambil pergi ke arah meja lain.


Ketika pemuda itu mendengarnya, dia langsung bereaksi, "Nona, kamu mengganti liontin ini dengan satu kali makan, apa harganya ini terlalu tinggi."


Ya, niat baik Lexie di gantikan dengan sikap seperti ini.


Lexie menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menginginkan liontinmu, kamu simpanlah, anggap saja aku membayar ini makan."


Pemuda itu tertegun, kemudian bergegas menyimpan liontin giok itu, bersikap hormat kepada Lexie dan berkata: "Aku akan mengingat bantuan nona padaku, di kemudian hari jika ada kesempatan aku pasti akan membalasnya."

__ADS_1


Lexie menarik sudut bibirnya, tidak menanggapi perkataanya, maksud dari di kemudian hari jika ada kesempatan itu adalah tidak akan bertemu, Lexie tidak peduli, jadi tidak perlu merespon.


Setelah pemuda itu pergi, pelayan toko itu meludah terhadap sosok kepergiannya.


Setelah sarapan, Lexie kembali ke penginapan membawa Ernie, kemudian mencari kereta kuda untuk bersiap pergi ke kota kecil, di pinggir kota Eclipse, alamat terakhir yang di tulis di surat itu adalah kota kecil itu, di atas surat itu tertulis, jika sampai di kota itu dan mengeluarkan surat maka akan ada seseorang yang membawa mereka ke pavilliun Heaven.


Ketika mereka datang ke kota yang di tunjuk, mereka menemukan ada banak orang asing di jalan-jalan di kota itu, ada beberapa ternyata yang tinggal di penginapan yang sama dengan mereka sebelumnya, tampaknya orang-orang ini juga datang ke sini untuk menunggu sampai pemilihan murid pavilliun Heaven.


Lexie dan Ernie turun dari kereta kuda, berjalan ke satu-satunya restoran di kota itu, baru berjalan ke depan pintu, ada seorang pria berbaju hitam yang menghalangi mereka, "Nona, hari ini restoran ini sudah di pesan seluruhnya oleh pavilliun Heaven, hanya dapat menerima orang yang berpartisipasi dalam penerimaan murid pavilliun Heaven, jadi tolong nona pergi ke tempat lain."


"Tempat lain?" Lexie mengerutkan kening, "Di Kota ini hanya ada sebuah restoran, dimana aku harus pergi makan?"


"Ini ... Kami tidak mengurusnya." Pria berbaju hitam itu menggelengkan kepalanya dengan menyesal.


Lexie melihat sekilas ke dalam restoran, menemukan bahwa restoran ini hampir penuh dengan orang-orang yang paling tua berumur 60-70 tahun, yang paling muda berumur sekitar 12-13 tahun, sepertinya pengaruh pavilliun Heaven ini tidak bisa di remehkan.


"Bagaimana jika aku berkata, aku juga datang untuk berpartisipasi dalam pemilihan murid?" Lexie tiba-tiba tersenyum, wajahnya yang begitu cantik membuat orang berbaju hitam tanpa sadar terpaku.


Ketika pria berbaju hitam itu kembali fokus, Lexie sudah mengangkat gaun dan melangkahkan kakinya menaiki tangga, "Nona, tolong berhenti! Ini bukan lelucon, jika membuat lelucon terhadap paviliun Heaven, jangan salahkan aku karena berkata kasar, bahkan jika kamu adalah seorang wanita, kami juga tidak akan segan! Kamu mengatakan bahwa kamu datang untuk berpartisipasi dalam pemilihan murid pavilliun Heaven, apa memiliki undangan dari pavilliun Heaven?"


Lexie berbalik dan sedikit menoleh, langkah kakinya sudah masuk ke dalam restoran, dia tersenyum datar, "Aku memang tidak punya surat undangan, tapi apa aku tidak tahu apa surat rekomendasi ini berguna?"

__ADS_1


Ketika Lexie berbicara, dia mengambil surat itu dari balik pakaiannya dan menyerahkan pada pria berbaju hitam itu.


__ADS_2