Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Tidak Dapat Berteman


__ADS_3

Lexie berjalan mendekat, memberi hormat pada pria paruh baya itu, kemudian berkata: "Saudaraku pergi, tidak ada di rumah hari ini, apa tuan ada urusan mencari kakakku?"


"Tidak ada di rumah ya, benar-benar sayang sekali." Raut wajah pria paruh baya itu sangat kecewa, mengeluarkan sebuah undangan dari tangannya, "Karena tidak ada, kalau begitu aku tidak akan mengganggu, tapi majikanku ingin memberikan undangan ini untuk tuan Genji, kuharap nona bisa menyerahkannya padanya. Majikanku sudah memerintahkan, hari ini adalah hari pertama tahun baru, jadi juga sudah menyiapkan hadiah untuk tuan Genji dan berharap dia menerimanya dengan senang hati."


Setelah dia mengatakan seperti itu, Lexie baru memperhatikan, bahwa ada sebuah kotak kecil disebelahnya, dia kemudian menyerahkan kotak kecil itu pada Lexie.


Lexie malah tidak mengulurkan tangan untuk menerimanya, "Tuan, kami menerima niat baik majikanmu, tapi kakakku tidak ada dirumah, aku tidak berani menerima hadiah ini dengan asal, kamu jangan mempersulitku."


"Tapi ini hanya benda yang tidak begitu bernilai, nona jangan segan, jika hadiah ini tidak dikirimkan, nantinya majikanku akan menyalahkanku." Pria patuh baya itu meletakkan kotak di depan Lexie, kemudian berbalik badan dan pergi.


Orang itu berjalan dengan sangat cepat, tidak berapa lama sudah menghilang kedalam jalan kecil. Lexie menghela nafas, harus bisa meminta Ernie membawa kotak itu kembali ke rumah.


Ketika memasuki rumah, Ernie membuka kotak itu untuk melihatnya, ketika dia melihat emas batangan di dalamnya yang berkilau, dia terpaku untuk sementara waktu, baru kembali tersadar, "Ini nona, ini semuanya adalah emas, dia tadi mengatakan bahwa benda itu tidak begitu bernilai, seberapa kaya majikannya itu."


Mata Ernie melirik kearah Lucas, Lucas kemudian mendekat dan melihatnya sekilas, dirinya juga tercekat, hanya Lexie yang secara tidak sadar mengerutkan alisnya, orang pertama yang datang mencarinya sedemikian murah hati, tampaknya jauh lebih besar dari yang Lexie harapkan, sepertinya para pejabat di kota Phoenix ini lebih peduli tentang pembuatan senjata di bandingkan yang dia kira.


Ketika ada orang yang begitu memandang penting pembuatan senjata, apakah itu mungkin akan ada sesuatu yang besar yang terjadi di kota Phoenix?


Ada kegelisahan di hati Lexie, jika dia masuk kedalamnya pada waktu seperti ini, bahayanya jauh lebih besar.


"Nona, apa yang sedang kamu pikirkan?" Ketika Ernie melihat Lexie tidak bergerak, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Lexie akhirnya tersadar, menggelengkan kepalanya dan tersenyum, masih belum sempat berbicara, terdengar seseorang mengetuk pintu, Ernie terpaku kemudian bergegas untuk membuka pintu.


"Maaf, apakah tuan Genji ada dirumah?" Sekarang pria tua yang bungkuk memandang ke dalam dari luar pintu.


Ernie menoleh kebelakang melihat ke arah Lexie, baru beberapa saat sudah ada yang datang lagi.


Tindakan pria tua itu mirip dengan tindakan yang di lakukan oleh pria paruh baya sebelumnya, dia juga mengantarkan hadiah tahun baru dan mengirimkan sebuah undangan.


Kali ini Lexie tidak keluar, hanya meminta Ernie untuk mengantarkan pria tua itu pergi sesuai dengan apa yang di katakan sebelumnya.


Hanya dalam satu hari sudah datang 4 sampai 5 orang.


Malam harinya Lexie memilah semua undangan yang di terimanya, menemukan tiga undangan diantaranya berasal dari para menteri, dua undangan berasal dari pengusaha kaya di kota Phoenix.


Para mentri itu juga bukannya Mentri Terbaik dan yang tertinggi, para pejabat seperti ini secara logika seharusnya mereka tidak akan tertarik pada pembuatan senjata, mereka mengirimkan undangan, seharusnya sedang melakukan hal-hal untuk orang yang ada di belakang mereka.


"Nona beberapa undangan ini apa nona akan pergi ke semuanya?" Ernie menambahkan minyak dalam lampu minyak, membuat lampu itu menjadi lebih terang.


Lexie menggelengkan kepalanya, "Orang yang baik, akan memilih pemimpin yang baik, yang paling tabu adalah menginjakkan kaki di dua perahu, jika aku pergi ke semua orang ini maka akan membuat orang yang ingin menggunakanku menjadi tidak tenang.


"Kalau begitu kamu akan pergi ke undangan mana?" Ernie ini merasa jika Nona-nya berbicara semakin filosofis, ada beberapa kata yang hanya dapat di mengerti setengahnya saja.


Lexie terdiam, berjalan ke jendela dan membuka jendela untuk sirkulasi udara, tidak segera menjawab pertanyaan Ernie, hanya saja ada makna yang dalam senyumnya.


Dini hari berikutnya, keluarga keman menyiapkan pemakaman sederhana untuk leman, putra sulung leman yang bernama Leon pagi hati datang ke rumah Lexie, untuk mencari beberapa orang untuk membantu, ternyata tukang kayu yang bernama Baim itu mengatakan masalah itu pada tukang kayu yang memiliki hubungan yang baik, ketika mendengar bahwa yang di provokasi keluarga leman adalah keluarga yang seperti itu makan tidak ada yang berani menghadiri pemakaman leman, takut akan membuat mereka terkena masalah.


Keluarga leman memang tidak begitu mengenal orang di kota Phoenix, bahkan beberapa pekerja yang memiliki hubungan baik satu sama lain juga tidak datang, pemakaman ini sangat sepi, jadi hanya bisa mencari Lexie untuk membantu.


Lexie juga tidak menolak, membawa Ernie dan Lucas untuk pergi membantu.


Di aula berkabung istri leman menangis dan pingsan beberapa kali, Leon membawa Rendi terus berlutut di depan peti mati leman, mereka juga sangat sedih. Awalnya peti mati itu harus diangkut pergi, tapi di sini hanya ada Leon seorang diri yang merupakan pria dewasa, jika sudah saatnya tiba dia memikul peti mati itu selangkah demi selangkah berjalan menuju kuburan dipinggiran kota.


Lexie menghela nafas, menggandeng Lucas, dan berjalan di belakang Leon, menyaksikan anak laki-laki yang baru dewasa dengan tegar memikul peti mati ayahnya, setiap langkah lututnya sedikit gemetar karena kekuatan yang di keluarkan terlalu berlebihan, hati Lexie tanpa sadar menjadi lebih suram.


Orang-orang yang hidup ditingkat bawah melakukan sesuatunya sangat sulit, mungkin dihadapan orang kaya, mereka bisa menyelesaikannya dengan mengeluarkan beberapa uang, tapi orang-orang ini harus bekerja keras. Lexie tidak memiliki andil dalam mengeluarkan uang mencari orang untuk membantu, masalah ini adalah masalah keluarga leman, jadi, harus Leon yang menghadapinya sendiri kalau tidak Lexie bisa membantu mereka 1 kali, tapi dia tidak bis menjaga keluarga leman untuk selamanya.


Kuburan di pinggiran kota di katakan sebagai kuburan, faktanya itu tidak lebih baik dari kuburan massal, ini adalah area yang di berikan pemerintahan untuk orang tidak mampu membeli kuburan, di arena ini kamu bisa menggali dengan asal untuk mengubur keluargamu sendiri.

__ADS_1


Leon memikul peti mati selama 1 jam baru bisa datang ke kuburan dia meletakkan peti mati, tidak mengambil istirahat, langsung menggali lubang, Rendi membersihkan wajahnya, mengambil cangkul untuk membantu.


Ernie dan Lucas juga bukan orang yang manja, mereka pergi untuk membantu, Lexie kemudian membantu memapah istri leman yang menangis hingga tidak memiliki tenaga, kemudian duduk di bawah pohon.


"Nona Lexie, terima kasih banyak, kali ini, jika bukan karena dirimu aku tidak bisa berbuat apa-apa." Istri leman menyeka air matanya dan berkata: "Hidup sampai saat ini, aku akhirnya mengerti, orang baik belum tentu mendapat karma baik. Nona Lexie, kamu adalah orang baik, jadi aku juga tidak bisa dengan egois meminta terus bantuanmu setelah pemakaman selesai, kamu jangan mempedulikan utusan keluarga kami, jika terjadi sesuatu dan bisa menyeretmu ke dalam masalah, aku bisa tidak tenang seumur hidup."


"Kak, kamu jangan berkata seperti itu, jika benar ada masalah dan aku tidak bisa menyelesaikannya, kamu tenang saja aku akan menarik diri, maka masih ada harapan." Kata Lexie sangat jujur, dia merasa tidak perlu menipu wanita yang berinisiatif untuk membujuk dirinya untuk mengabaikan utusan keluarganya, jujur, mungkin dipermukaan tidak terlihat baik, tapi setidaknya ini membuat hati orang lebih nyata.


Istri leman tidak menyangka Lexie akan berkata seperti itu, matanya langsung mengeluarkan air mata, tangan yang memegang Lexie makin lebih erat.


Di antara salju, Lexie menatap Leon yang meletakan peti mati leman ke dalam lubang, kemudian menumpuknya dengan lumpur. Leman sudah dimakamkan tapi yang menyedihkan adalah bahkan tidak ada batu nisan sama sekali.


Ini adalah kehidupan yang paling biasa saat ini, Ernie membawakan mantel untuk Lexie dan memayunginya, ketika pergi, bahkan orang-orang pun tidak menoleh ke arah kuburan.


Setelah leman dimakamkan, Leon kemudian pergi ke kediaman keluarga Wu sesuai dengan instruksi Lexie.


Lexie kembali ke rumahnya berganti menggunakan pakaian pria, kemudian keluar lagi, Ernie tadinya berpikir ingin mengikuti, tapi Lexie mengaturnya untuk menjaga istri leman.


Ada sebuah kedai teh yang terkenal di dunia di jalan timur kota Phoenix, teh yang di jual di dalamnya sangat mahal, harga setiap secangkir itu tidak murah, tapi tetap saja banyak orang yang pergi ke kedai teh ini setiap harinya, bukan karena teh di sini lebih enak diminum dibandingkan tempat lain, sebenarnya kebanyakan orang datang kesini bukanlah untuk minum teh, tapi untuk mendengarkan cerita.


Ada seseorang yang mendongeng, di dalam kedai teh bernama Markus, tuan Markus ini bukan pendongeng biasa, tapi merupakan seorang pengawas di kota Phoenix, dia memiliki banyak murid, banyak murid yang menjadi pejabat, dan dia sendiri memiliki hobi yaitu mendongeng. Dia akan datang ke kedai teh setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan untuk mendongeng, dongeng yang di ceritakan itu mengenai negara, terutama sebagian besar berita adalah informasi rahasia yang tidak dapat di dengar oleh kebanyakan orang.


Hari ini adalah tanggal 1, yang merupakan waktunya tuan Markus mendongeng tanpa bisa di halangi oleh angin dan hujan, jadi ketika Lexie datang ke kedai teh dia melihat seorang pria tua berjanggut putih sudah duduk di atas panggung.


Kedai teh sudah penuh, Lexie berputar satu kali, dan akhirnya menemukan tempat duduk di sudut lantai pertama, ada tiga orang yang duduk di sekitar meja, mereka semua adalah anak mudah berusia dua puluhan, Lexie memberi hormat sekilas kemudian duduk, tiga orang di sebelahnya sedikit mengangguk.


"Cerita bagus apa yang di bawakan pria tua hari ini?" Yang duduk di sebelah Lexie adalah seorang pria yang mengenakan topi, penampilannya sangat segar, tapi ketika berbicara, pandangan matanya sangat menghina.


Yang duduk di sebelah Lexie adalah pria yang sedikit lebih tua, memiliki kemiripan pada pria yang tadi berbicara: "Adik ketujuh, jangan meremehkan pria tua itu, dia sangat pandai bercerita, jika tidak percaya, kamu bisa tanyakan pada kakak ketiga."


"Memang cukup menarik untuk didengar, terutama cerita yang akan disampaikan hari ini, jika aku tidak salah menebak, itu juga pasti akan membuatmu tertarik." Pria yang di panggil kakak ketiga itu berbicara, ketika dia berbicara sambil meminum teh dengan elegan.


Tidak menunggu rasa penasaran Lexie, tuan Markus melihat orang orang yang berkumpul sudah cukup banyak, dia menyesal teh dan mulai berbicara, "Hari ini aku akan membicarakan pasangan yang saling tertarik, yang biasanya tersebar ke seluruh penjuru. Pasangan yang saling tertarik itu begitu banyak, kalian ingin mendengarkan kisah siapa terlebih dulu?"


Di awal tuan Markus memberikan inisiatif kepada para hadirin di bawah panggung, para pendengar ketika mendengar pertanyaan tuan Markus, ada beberapa anak muda yang mulai berseru: "Jika di dalam kota Phoenix ini, yang paling heboh akhir-akhir ini bukanlah tuan muda ketujuh dari keluarga Nangong dan juga putri dari keluarga Wei? Tuan Markus bukan ini yang ingin kamu ceritakan bukan?"


"Anak muda perlu untuk diajari." Tuan Markus menggelengkan kepala membuat semua orang penasaran kemudian baru lanjut berkata: "Keluarga Nangong telah melakukan bisnis selama beberapa generasi, merupakan orang terkaya pertama di negara Nanyue, yang merupakan kekaisaran pertama dan pebisnis utama, putra keluarga Nangong ini bisa di katakan sangat kaya, dan putri dari Wei ini adalah putri dari jendral Wesly Wei, pernikahan dari keluarga besar ini, bukankah merupakan cerita terbaik di kota Phoenix ini?"


"Tapi yang orang-orang tahu hanyalah permukaanya saja?" Tuan Markus menyeruput tehnya lagi, kemudian lanjut berkata: "Jika hanya sesederhana kelihatannya, untuk apa aku membicarakannya?"


"Tuan Markus, kamu jangan membuat kami penasaran lagi, cepatlah mengatakan kami sudah mendengar, putri keluarga Wei itu tampaknya membuat masalah di rumah karena kejadian ini, sepertinya dia tidak puas dengan pernikahan ini, sebenarnya ada apa?" Ada orang yang mulai berseru di bawah.


Lexie memandang sekilas pada orang yang berbicara, ada beberapa orang disekitarnya, salah satunya meskipun dia sudah menyamar tapi tetap saja di kenali Lexie dalam sekali lihat, Hadi? Bagaimana dia bisa muncul di sini, mereka berseru menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini, apa itu semua adalah maksud Victor?


"Hei, beberapa dari kalian sangat pintar, aku masih belum menceritakannya dan kalian sudah tahu?" Markus menunjuk beberapa orang kemudian berkata lagi: "Ya, kita akan membahas putri keluarga Wei hari ini, dikatakan bahwa putri keluarga Wei ini adalah putri haram jendral Wesly, dulunya di besarkan di kampung halaman jendral Wesly, kemudian batu di bawa kembali ke kediaman Wei tahun lalu, dan kampung halaman Wesly itu terletak di salah satu dari keempat kota besar di selatan, ada seseorang yang berbakat di situ, parasnya juga luar biasa, dan juga mahir menulis puisi terutama puisi cinta ..."


Kisah selanjutnya tidak harus di dengar juga tahu, merupakan pertemuan putri Wei dengan pria berbakat itu, tidak ada yang istimewa tentang kisah ini, putri keluarga Wei beberapa tahun lalu tidak di hargai, di bawah perhatian orang berbakat itu keduanya dengan cepat saling menerima, tapi pada saat ini putri keluarga Wei di bawa kembali ke keluarga Wei.


"Ini benar-benar pasangan yang saling tertarik, tapi sangat di sayangkan bahwa itu salah ..." Suara tuan Markus sangat jelas dan berkata: "Tapi kehidupan pernikahan sudah ditentukan sejak zaman kuno, pernikahan keluarga Wei ini juga tentu saja diatur oleh jendral Wesly, mana mungkin orang miskin berbakat itu bisa bersanding dengan putri dari keluarga Wei."


Ketika rahasia ini terkuat, para pendengar segera mendiskusikannya dengan penuh semangat, hanya tuan Markus saja yang berani menceritakan rahasia seperti ini di tempat seperti ini. Jangan memandang tuan Markus hanya sebagai pria tua berjenggot putih, dia juga tidak memiliki posisi resmi, tapi dia adalah seorang guru sejati, Kaisar sekarang yang menjabat juga pernah di ajari olehnya, mengenai hal tuan Markus suka bercerita, itu juga di puji oleh Kaisar dan juga secara khusus memberinya hak untuk berbicara selama dia mengatakan hal yang sebenarnya.


Jadi kata-kata ini Yuan Markus berani mengatakannya, maka tidak ada orang yang berani bertindak padanya. Tapi, tuan Markus juga tahu batasannya, rahasia yang dia sebutkan ini juga tidak pernah melibatkan politik, jadi orang-orang politik hanya akan menutup mata mereka.


"Jika benar-benar seperti itu, Wesly si jendral tua itu beraninya menyerahkan putri yang sudah seperti itu padaku! Apa dia benar-benar tidak menganggap keluarga Nangong kami di matanya." Pria yang duduk di sisi kiri Lexie menggebrak meja, membuat teh di atas meja sedikit tumpah.


"Adik ketujuh jangan bicara sembarangan!" Pria yang duduk disebelahnya segera memberitahu dengan nada dingin, dan juga memandang sekilas pada Lexie.


Ternyata beberapa orang ini adalah orang dari keluarga Nangong? Lexie tidak menyangka hanya sekedar meminum teh bisa bertemu para kolongmerat versi kuno. Sudut bibirnya berkedut menundukan kepalanya meminum teh, Lexie berpura-pura tidak mengerti akan apa yang di bicarakan.

__ADS_1


"Kak, apa aku tidak boleh marah? Mendengar maksudmu tadi, kamu sudah tahu dari awal?" Nando mengepalkan tinjunya erat, kemudian mengeluarkan uang dari balik pakaiannya dan melemparkannya pada Lexie, "Hei, kamu sekarang pergilah menjauh, uang ini akan menjadi milikmu."


Lexie sedang menundukkan kepalanya berusaha menurunkan rasa keberadaanya, tapi tiba-tiba dilemparkan uang oleh orang lain, uang itu terlempar terkena wajahnya itu tidaklah sakit, tapi itu juga sudah cukup membuat pandangan matanya menggelap.


Lexie mendengus dingin, mengambil uang itu, kemudian meremasnya di tangannya, melemparkannya kembali pada Nando yang sedang merasa kesal.


Seumur hidup Nando, ini adalah pertama kalinya dilempar uang oleh orang lain, dia terpaku ditempat.


"Dasar tidak tahu diri, apa kamu yakin tidak menginginkan uang itu? Apa kamu tahu seberapa besar nominalnya?" Nando sangat marah hingga wajahnya membiru, menunjuk ke hidung Lexie dan berteriak rendah, sepertinya dia melampiaskan kemarahannya keluarga Wesly pada Lexie.


Lexie tertawa, tidak tahu itu di sengaja atau tidak, ketika Lexie tertawa bahkan menyemburkan teh panas dan menyemprotkannya langsung ke wajah Nando, "Seberapa besar nominalnya? Maaf tuan aku tidak mengenal huruf, aku tidak mengerti." Lexie tersenyum dan berdiri, tidak meminta maaf karena sudah menyemprotkan teh, "Karena kamu ingin membicarakan sesuatu yang tidak ingin di dengar olehku, bukankah lebih gampang jika keluar?"


"Kamu berani mengusirku?" Nando marah ketika berdiri dan ingin memukul Lexie, Donny yang berada di belakangnya bergegas menahan pundaknya.


"Nando, jangan bertindak impulsif, dia hanya orang yang tidak terkait."


"Aku tidak peduli dia terkait atau tidak, yang pasti aku sangat tidak senang sekarang, paling aku akan meninjunya hingga cacat kemudian aku akan membayarnya!" Nando mendorong Donny kemudian melayangkan tinju ke arah Lexie.


Lexie secara naluriah mundur kebelakang untuk menghindar, ada kebimbangan di matanya kemudian berteriak keras: "Nando, kamu tidak bisa melakukan ini, kamu yang mengatakan bahwa kamu tidak keberatan bahwa aku adalah seorang pria, kamu juga mengatakan bahwa kamu menyukai pria dan tidak menyukai putri dari keluarga Wei itu, sekarang setelah mendengar putri keluarga Wei tidak menginginkanmu, kamu malah melampiaskannya kemarahannya padaku?"


Lexie mundur sambil berteriak, ketika mundur hingga pintu masuk kedai teh, dirinya dengan menyedihkan jatuh ke tanah, kemudian dengan gerakan berlebihan menunjuk dan berkata: "Nando, aku adalah anak dari keluarga miskin, kamu yang mengatakan selama aku tidur denganmu, maka kamu akan bertanggung jawab merawat orang tuaku, sekarang kamu ingin meninggalkanku, berbuat seperti ini, kamu akan mendapatkan karma!"


Awalnya ketika semua orang mendengar kata-kata "Nando", mereka semua terkejut dan menajamkan telinga mereka, demi dapat mendengar berita yang lebih menarik, banyak orang tanpa sadar memblokir jalan Nando, jadi mereka memberikan Lexie kesempatan untuk mengatakan lebih banyak.


Namun, mereka tidak menyangka akan bisa melihat keluarga Nangong di hadapan mereka, bahkan lebih tidak menyangka ternyata Nando ini menyukai sesama jenis.


Untuk sesaat kedai teh itu sangat ramai, jauh lebih ramai saat tuan Markus sedang berbicara.


Lexie sudah sampai di depan pintu, tanpa berpikir langsung berlari dengan buru-buru langsung melirik sekilas kebelakang melihat Hadi dan beberapa anak muda telah "tanpa sengaja" memblokir di depan pintu.


Sepertinya Hadi juga menyadari keberadaan Lexie.


Di dalam kedai teh sudah sangat kacau, mereka yang ingin mendekati keluarga Nangong bergegas maju, sangat ingin mengatakan beberapa kata pada orang-orang dari keluarga Nangong ini, bahkan jika keluarga Nangong membocorkan sedikit saja, sudah cukup untuk merekam makan seumur hidup.


Nando ingin menjelaskan, tapi dengan menyedihkan menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasannya, mereka telah menyatakan keyakinan mereka pada dirinya, pasti karena orang tadi yang sudah sembarangan bicara. Tapi, pandangan mata orang-orang itu jelas dipenuhi dengan rasa tidak percaya segera menunjukan posisi mereka, itu hanyalah demi bekerja sama dengan Nando saja.


Jika begini, bahkan jika Nando menjelaskan, juga tidak akan ada yang percaya.


Donny dan Kenzo saling melirik sekilas, di saat bersamaan melihat ke arah kepergian Lexie raut kedua pria itu juga sangat tidak enak dilihat, mereka sepertinya memandang rendah seseorang yang baru saja di temui, dalam dua kalimat sudah bisa membuat bando jatuh dalam situasi yang tidak bisa di jelaskan dengan jelas! Mereka dapat memperkirakan, dengan keributan ini, reputasi Nando sepenuhnya hancur.


Setelah Lexie berlari sepanjang jalan dalam satu tarikan nafas, dia akhirnya berhenti, Lexie tidak menyesal, memprovokasi keluarga Nangong, tipe orang yang tempramental seperti itu, untuk selamanya tidak akan pernah menjadi temannya.


Malam perlahan menjadi semakin dingin.


Ketika Lexie kembali ke rumah Ernie juga sudah kembali, dia baru saja memasuki rumah, Ernie yang berdiri di depan pintu menunjuk ke aula, "Yang Mulia juga baru saja tiba."


Lexie terpaku, mengangguk pada Ernie sekilas kemudian berjalan ke arah aula.


Setelah Lexie memasuki ruangan, Victor yang sedang duduk di kursi utama meliriknya sekilas, kemudian pandangan matanya tampak tidak senang, "Keluar dengan berpenampilan seperti ini?"


"Ya, memakai pakaian pria akan lebih nyaman, aku terlalu cantik jika memakai pakaian wanita takutnya akan ada terlalu banyak orang yang menyukaiku dan akan menyusahkan Yang Mulia." Lexie berjalan ke arahnya, menuangkan teh untuk dirinya sendiri, berlari sepanjang jalan membuatnya sangat haus.


Victor mendengus, "Kamu benar-benar percaya diri. Tapi, mengenakan pakaian pria pun bukankah membuat masalah pada keluarga Nangong?"


Begitu cepat Victor sudah mengetahuinya? Lexie terpaku, tapi kemudian kembali tenang, sebagai seorang Raja mengetahui informasi dengan cepat seperti itu tampaknya normal.


"Yang Mulia meminta orang untuk memprovokasi keluarga Wei dan keluarga Nangong, aku hanyalah menyulut api saja, aku tidak berpikir aku sedang membuat masalah. Aku berbuat demikian untuk Yang Mulia." Ketika Lexie berbicara Lexie berinisiatif untuk duduk di tubuh Victor, kemudian mengaitkan kedua tangannya ke leher Victor, dengan menggoda menghembuskan nafas di telinga Victor.


Mungkin karena inisiatif Lexie yang membuat Victor sekali lagi puas, tangan Victor kemudian merangkul punggung Lexie, "Sepertinya kamu bahkan lebih pintar dari yang kupikirkan, mengapa kamu merasa aku meminta orang untuk memprovokasi?"

__ADS_1


"Yang Mulia, kamu bahkan mengirim Hadi, apa mungkin aku tidak bisa melihatnya?" Ketika Lexie berbicara tangannya sudah masuk ke dalam melalui pakaiannya, Lexie tersenyum, tapi hatinya mencibir, mengatakan begitu banyak Victor datang ke sini, bukankah hanya ingin memadamkan api di tubuhnya? Lexie tahu hal itu, jadi Lexie lebih suka Victor mencapai tujuan lebih cepat kemudian pergi lebih awal.


__ADS_2