
Siapa pun yang memiliki tempramen yang baik jika berhadapan dengan tuduhan seperti ini juga akan menampilkan raut wajah tidak senang, Dexter tidak terkecuali, raut wajahnya langsung mengeras, dengan dingin berkata: "Bukan."
Dia hanya mengatakan kata itu, menurut Dexter, orang seperti ini yang langsung menuduh orang, tidak pantas untuk mendapatkan penjelasan darinya, terlebih lagi gelang langit yang sudah mengurungnya selama beberapa tahun dan hampir membuatnya menjadi orang cacat itu, dibuat oleh pavilliun Heaven, jadi terhadap orang-orang pavilliun Heaven, Dexter benar-benar tidak bisa mengeluarkan sikap yang baik.
Sebagai seorang pejabat dinasti Dexter tidak memiliki toleransi untuk mentolerir pemuda asing yang memaki dirinya di depan semua orang, tapi terkait kesantunan, dia tidak dapat balas memaki pemuda ini.
Pemuda itu tertegun, mendengarkan orang baik disekitarnya mengingatkan bahwa orang itu adalah pejabat dinasti, seketika wajahnya memerah, dia kembali melihat Dexter, dia sedikit malu, tapi tidak bisa merendahkan dirinya untuk meminta maaf.
"Sebenarnya siapa yang menantang pavilliun Heaven, keluar jika memiliki kemampuan!" Anita berteriak sambil berkacak pinggang di depan pavilliun.
Semua orang saling berpandangan, memandang orang-orang di sekitar mereka, seolah-olah mereka semua sedang menebak siapa yang berani mengambil resiko seperti itu.
"Sepertinya orang yang menantang tidak berani datang, kalau tidak bagaimana mungkin ..." William meminum teh dengan raut wajah penyesalan di wajahnya, tapi kata-katanya belum selesai di ucapkan, dia melihat Lexie yang ada di sebelahnya berdiri, William terpaku, "Genji, kamu ini ..."
Lexie memberi hormat padanya kemudian pergi ke pavilliun Champion tanpa memberi penjelasan, ketika dia berjalan ke depan Anita, William tiba-tiba tersadar, menunjuk ke arahnya untuk sekian lama tapi tidak bisa berkata-kata, "Kamu, kamu adalah ..."
"Aku adalah orang yang menantang orang-orang dari pavilliun Heaven." Kata Lexie dengan tenang.
Ketika Lexie muncul, kerumunan penonton menjadi memanas, siapa yang bisa berpikir bahwa orang yang berani berdiri dan menantang pavilliun Heaven ternyata adalah seorang pemuda yang sangat muda, banyak orang mulai menggelengkan kepala mereka, mengira paling-paling Lexie sedang mencari perhatian publik dan tidak memiliki kemampuan.
Hanya Dexter yang melihat Lexie berjalan keluar, ada raut terkejut di pandangan matanya, kemudian dia merasa lega, benar juga, menurut pendapatnya, orang yang dapat dengan mudah membuka gelang langit itu memang adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menantang orang miliki pavilliun Heaven. Kemunculan Lexie seharusnya tidak terduga, tapi juga masuk akal.
"Apa tuan Dexter mengenal orang ini?" Guru agama yang duduk di samping Dexter melihat perubahan raut ekspresi Dexter.
__ADS_1
Dexter mengangguk, "Pernah bertemu beberapa kali."
"Menurut tuan Dexter bagaimana pertandingan ini?" Tanya sang guru agama.
Dexter tersenyum, "Jika pemilik pavilliun Heaven yang datang untuk bertanding, maka sulit untuk menentukan kemenangan, tapi jika seorang pemuda yang keluar untuk bertanding, seharusnya orang yang kukenal ini kemungkinan akan menang."
"Bisa mendapatkan apresiasi dari tuan Dexter, kemampuan orang ini jelas tidak biasa, kalau begitu aku akan menunggu dan melihat." Guru agama mengutak-atik manik-manik di tangannya, senyum di matanya memiliki makna yang sangat tak terduga.
Para penonton tidak memiliki pemahaman seperti Dexter, mereka hanya melihat seorang pemuda kecil yang maju, kemudian mulai mengeluh, ada beberapa orang yang mengerang mengatakan perkataan yang tidak menyenangkan.
Bahkan pria yang berdiri di belakang Anita juga mengerutkan keningnya, mungkin dia juga tidak menyangka bahwa yang membuat langkah yang begitu berani itu ternyata adalah orang yang lebih mudah darinya.
Lexie tidak peduli, hanya dengan hormat memberi salam pada Anita, "Bolehkan aku bertanya siap orang yang dari pavilliun Heaven yang benar-benar bisa mewakili pavilliun Heaven?"
Penonton berseru. Lagipula sebagian besar orang di kerumunan membuat taruhan untuk kemenangan pavilliun Heaven, jika melihat orang dari pavilliun Heaven benar-benar datang, bagaimana mungkin mereka tidak bahagia?
"Baguslah." Lexie menurunkan tangannya, kembali bertanya, "Surat tantangan itu di keluarkan olehku, jadi jika aturannya ditentukan olehku, sepertinya itu tidak adil, aku juga tidak ingin menang seperti itu, bagaimana kalau tuan yang menentukan aturannya?"
"Aku yang menentukan?" Anita tertegun, ini tampaknya adil untuk dirinya, tapi juga merupakan masalah sulit untuknya, jika aturan yang dia tentukan terlalu menguntungkan dirinya, maka meskipun dia menang, itu tidak akan terlihat bagus, tapi jika membiarkan dia membiarkan pihak lain yang menentukan aturannya, maka sudah pasti akan masuk ke dalam jebakan orang lain, ini tidak terlalu baik.
Anita marah di dalam hatinya, merasa bahwa orang ini benar-benar berbahaya dan licik, tanpa sadar dia menatap sekilas pria di sampingnya, melihat pria itu mengalihkan pandangannya pada Dexter dan guru agama yang duduk di samping.
Anita juga seorang yang pintar, dia segera memahami maksudnya, dia berjalan dan berdiri di depan Dexter, berkata padanya: "Karena tuan Dexter beruntung berada di sini hari ini, agar adil aku meminta tuan Dexter untuk menentukan aturanya jangan sampai nantinya mengatakan bahwa pihak pavilliun Heaven menindas orang."
__ADS_1
"Aku hari ini datang hanya untuk menonton keramaian, tidak ingin berpartisipasi." Dexter mengerutkan kening, menolak tanpa berpikir.
Ketika Anita mendengarnya, dia sepertinya tidak dapat mengatur ekspresinya, ingin marah tapi merasa bahwa status Dexter sangat tinggi, bukanlah orang yang bisa dia provokasi dengan asal, jadi Anita hanya bisa menahannya, kemudian pergi untuk bertanya pada guru agama.
Guru agama itu merupakan teman lama Dexter, melihat Dexter tidak berpartisipasi dalam masalah ini, dia juga tidak berniat untuk berpartisipasi.
Dua orang yang memiliki status di pavilliun Champion mengatakan mereka tidak ingin berpartisipasi, apa mereka ingin Anita menanggung masalah sulit ini?
Jika itu adalah orang lain, maka dia akan menikmatinya, tapi bagi Lexie dia harus menang dari orang ini, jadi Lexie mengambil inisiatif untuk pergi ke hadapan Dexter dan memberi hormat: "Karena tuan Dexter datang untuk menonton keramaian, maka pertunjukan yang di tunjukkan haruslah meriah, jika tuan Dexter ingin melihat pertunjukkan yang sempurna, bisakah tuan maju dan menerapkan aturannya? Jika melihat keramaian, seharusnya harus mengeluarkan sesuatu bukan baru utu adil."
Bujukan seperti ini Dexter masih belum menjawabnya, tapi Anita mengerucutkan bibirnya tanpa malu berkata, "Benar-benar tidak tahu diri, bahkan aku saja tidak bisa mengundangnya ..."
Ketika kata-kata Anita belum selesai di ucapkan, dia mendengar suara Dexter yang rendah dan berat.
Dexter hanya mengucapkan satu kata dan berkata: "Baik."
Jika Lexie yang meminta bantuannya, maka tentu saja Dexter tidak akan menolak.
"Kalau begitu merepotkan tuan Dexter, aku sangat berterima kasih." Lexie membungkuk hormat, menunjukkan sopan santunnya.
Adegan ini benar-benar seperti tamparan di wajah Anita, pertandingan belum di Mulai tapi sudah di kalahkan oleh momentum, Anita melotot menatap Lexie, merasa orang ini tampak lebih menyebalkan.
Namun, pria di belakangnya tidak bisa menahan untuk tidak mengerutkan keningnya, tadinya dia hanya melihat bahwa orang ini adalah seorang pemuda kecil saja, dia meremehkannya tapi sekarang ketika melihat sikap tuan Dexter ...
__ADS_1