
7 hari kemudian, setelah hari pemakaman Elsa diselenggarakan, Oktavia mengalami keributan hingga sampai ke negara tetangga, Kiana yang saat ini merupakan anak tiri dari Roan tidak akan tinggal diam saat mendengar berita yang baru sampai ke telinganya.
Brak!
Semua barang terhambur berserakan, kondisi kamar Kiana pun begitu berantakan dengan banyaknya pecahan kaca serta barang miliknya yang berserakan, semua para pelayan yang ada disana hanya bisa diam saat Kiana terlihat emosi membaca sebuah berita yang baru saja datang padanya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?"
"Diam! Kalian semua tidak usah sok peduli padaku! Keluar semua!" pekik Kiana meneriaki semua para pelayan disana.
Tanpa mau membantah dengan cepat semua pelayan yang ada disana langsung keluar meninggalkan Kiana sendirian di kamarnya.
Setelah para pelayan pergi mata Kiana langsung menatap tajam ke arah depan, tak disangka kepergian Elsa ternyata bisa menambah ancaman bagi dirinya untuk bisa menjadi salah satu keluarga Kaisar.
Besar harapannya untuk bisa menjadi putri mahkota, bahkan dia sendiri pun rela membunuh Elsa melalui orang lain, hanya untuk bisa berada diposisi itu.
"Sial... Kenapa semuanya jadi seperti ini? Ku pikir dengan meninggalnya Elsa, aku bisa dengan muda berada diposisi itu."
Tangan Kiana terkepal kuat, "Jika dengan cara ini tidak bisa, bagaimana jika aku mengunakan cara lain, untuk bisa mencapai posisi itu!" gumam Kiana.
Mata Kiana langsung menatap tajam ke arah depan, "Baiklah akan ku coba mengunakan cara lain."
...~*~...
Berbeda dengan Kiana dilain sisi Istana Oktavia, Eren berjalan menuju menara sihir, tempat dimana salah satu keluarganya dikurung disana.
Brak!
pintu terbuka menampilkan sosok pria tampan dengan rambut berwarna hitam mengkilap menatap tajam ke arah Eren yang baru saja datang.
"Ada apa kau ke sini?" tanyanya dingin.
"Hanya ingin jalan-jalan saja, apa tidak boleh aku ke sini? Ini kan masih wilayah kekaisaran," ucap Eren yang langsung mendekati Davis.
"Berhenti disitu!" tekan Davis yang langsung menatap tajam ke arah Eren.
Tanpa membantah Eren pun langsung menghentikan langkah kakinya, "Memang apa yang akan terjadi jika aku terus berjalan?" tanya Eren.
"Apa kau ingin menantang ku?" tanya Davis menatap tajam ke arah Elsa.
"Tidak ka, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin mengobrol dengan mu, apa itu tidak boleh?" tanya Eren dengan sedih.
Tas!
Detik kemudian sebuah petir muncul dihadapan Eren yang sedang berdiri dihadapan Davis, melihat itu tubuh Eren langsung menjadi kaku matanya terbuka lebar menatap ke arah Davis, dengan Davis yang menatap datar wajah Eren.
__ADS_1
"Pergilah, sebelum aku berbuat yang bukan-bukan pada mu!" tekan Davis.
"Apa segitu bencinya kau dengan ku ka?"
"Berhenti memanggil ku kakak! Karena mau sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menganggap mu Adik ku!"
Wajah Davis langsung menoleh ke arah luar, "Kembalilah dan jangan datang lagi, tempat ini tidak cocok untuk orang seperti dirimu!"
Eren hanya diam menatap ke arah Davis, "Ka... Kenapa kita harus seperti ini? Padahal yang salah itu orang tua kita-,"
Tas!
Kembali mata Eren terbuka lebar, saat Davis kembali mengeluarkan kekuatannya dihadapan Eren, tubuhnya kembali kaku dengan matanya yang terbuka lebar menatap ke arah Davis.
"Jangan pernah kau samakan ibu ku! Dengan kedua orang tua mu itu, sudah pasti mereka semua berbeda apa kau paham!"
"Sekarang keluar! Atau aku akan berbuat lebih dari ini!"
Tanpa mau membatah Eren langsung keluar dari kamar Davis, melihat tatapan tajam dari Davis, membuat dirinya paham betapa bencinya Davis pada keluarganya sendiri.
"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?" tanya salah satu prajurit saat melihat Eren yang sudah keluar dari kamar Davis.
"Aku baik-baik saja, kalian kembalilah bekerja!"
Tanpa mau bicara lagi, Eren langsung berjalan melewati segerombolan prajurit itu yang sedang berkumpul didekatnya.
Matanya kembali menoleh ke atas tempat pada jendela kamar Davis, entah kenapa setiap dirinya ingin menjalankan hubungan baik dengan Davis, selalu saja Davis bersikap dingin padanya.
"Apa hubungan kita benar-benar tidak tertolong lagi ka?" gumam Eren.
...~*~...
Jauh dari kota Oktavia ditempat terpencil yang berada didesa Oktavia, Elsa terduduk disalah satu pandang rumput menatap ke arah aliran sungai, yang cukup deras.
"Anda sedang apa?" tanya Lucas yang tiba-tiba saja datang.
"Apa kau sudah melihat beritanya Lucas? Melihat berita ini, membuat diriku merasa tidak adil."
"Tidak adil?"
"Iya... Disini tertulis, bahwa sebentar lagi kompetisi pemilihan putri Mahkota akan segera diselenggarakan, entah kenapa membaca berita ini membuat diriku marah!" kekeh Elsa.
"Apa Anda marah, karena semua ini tidak adil?"
"Ya... Menurutku begitu, dari kecil aku sudah dituntut untuk menjadi perempuan yang sopan serta berbudi yang baik, setiap hari aku belajar pelajaran orang dewasa, bahkan batin serta fisikku ini sudah hampir mati rasa karena itu semua."
__ADS_1
"Dan sekarang dengan gampangnya, Para mentri memberi sebuah keputusan yang tidak masuk akal, kompetisi Putri Mahkota! Sekarang mau sampai kapan lagi kekaisaran ini ingin membunuh para putri secara perlahan."
"Padahal aku sudah sangat yakin, bahwa para Mentri pasti akan memilih Kiana sebagai putri Mahkota."
"Kenapa Anda sangat ingin sekali kakak tiri anda menjadi putri Mahkota?"
"Kenapa? Bukankah ini sudah jelas. karena aku ingin membuat mereka semua mengalami hal yang sama, seperti yang pernah aku alami dulu."
"Aku ingin memberitahu pada orang itu, bahwa menjadi keluarga kaisar bukanlah ide yang bagus untuk bertahan hidup," Tekan Elsa.
Mata Elsa semakin tajam menatap ke arah depan, Lucas terdiam menatap tubuh Elsa dari belakang.
"Aku tidak tau harus menjawab apa, tapi aku akui kelurga tiri anda itu semuanya tidak ada yang waras!"
"Hem... Kau berpikir seperti itu?" kekeh Elsa.
"Ya... Karena dari mata ku memandang wajah kakak serta ibu tiri anda itu terlihat tidak ada yang peduli terhadap keluarga Nona."
"Jadi Nona, melihat berita ini apa Nona punya rencana lain?" tanya Lucas.
"Rencana lain? Entahlah aku masih fokus pada kelurga ku dulu, karena aku takut bahwa saat ini kedua orang itu semakin berbuat seenaknya pada kelurga ku terutama pada ayah!"
"Lalu Lucas ini sudah lebih dari satu bulan, mau sampai kapan lagi aku harus menunggu untuk bisa bertemu dengan tuan mu itu?" tanya Elsa.
"Saya sudah menulis surat untuk tuan saya, namun belum ada satu pun balasan dari beliau, mungkin jika kita menuggu lebih lama lagi balasan dari surat saya akan datang."
Mendengar itu Elsa hanya diam, dirinya kembali kalut pada pikirnya, "Lucas apa surat dari Leo sudah datang?"
"Belum, bahkan surat dari Tuan Leo pun belum ada datang." jawab Lucas.
"Hah... Lalu mau sampai kapan aku harus menunggu disini?"
"Tenanglah Nona, hanya butuh waktu saja, saya yakin tuan saya akan segera datang menemui anda."
"Ya... Teri-"
Hauuu!
"Suara apa itu!"
Mata Elsa langsung terbuka lebar begitu juga dengan Lucas,"Tolong! Tolong!" teriak seseorang disana.
"Lucas apa yang telah terjadi disana?" pekik Elsa saat melihat segumpal asap tebal muncul dari arah desa.
TBC
__ADS_1