Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Kejanggalan


__ADS_3

"Kelompok lain?" Tetua Damian dengan raut wajah suram berjalan ke samping Samuel, mendekatinya dan berbisik bertanya: "Pemilik, apa kamu merujuk pada orang yang terakhir kali membeli busur silang?"


Samuel memandangnya sekilas, pandangannya menyapu orang-orang di sekitarnya, tetua Damian seketika mengerti apa yang dia maksud, ada banyak orang di sini, memang bukan saatnya untuk mengatakan ini di sini.


Perhatian orang-orang di sekitar itu tidak terpaku pada dirinya, Lexie mengambil kesempatan menuangkan teh dan mendekat ke sisi Victor, dia tidak berbicara, hanya menatapnya dengan mata penuh tanya.


Victor sedikit mengangkat sudut bibirnya, menggelengkan kepalanya pada Lexie.


Bukan dia yang melakukannya?


Lexie mengerutkan alisnya, tapi hatinya masih bingung, lagi pula jika itu benar-benar di lakukan oleh Victor, apa Victor akan memberitahunya? Pandangan mata penuh tanya miliknya, dia tidak mengharapkan Victor untuk memberinya jawaban, tapi ternyata Victor memberikan jawaban padanya.


Lalu apa Lexie harus percaya padanya?


Sebagian besar orang yang memasuki untuk melakukan pencarian di dalam dengan cepat keluar, mereka menggelengkan kepala pada Samuel, menunjukkan bahwa tidak ada penemuan, Samuel mengangguk, sepertinya dia sudah menduganya, hanya tersisa ruangan terakhir orang itu masih memeriksanya, orang itu adalah pria umur 50 tahunan, akhirnya berjalan keluar dari pintu, dia juga menggelengkan kepalanya pada Samuel, tapi tangannya memberi isyarat pada Samuel saat yang lainnya tidak mengetahuinya.


Ada keterkejutan sekilas di pandangan mata Samuel, tapi dia dengan cepat menutupinya, setelah dia berpamitan pada tetua Damian, dia pergi dan membawa sekelompok orang.


Setelah mereka pergi, guru Damian masih duduk di halaman dengan raut wajah sedih, "Kulihat mencari seperti ini juga bukan jalannya, orang yang mencuri itu mana mungkin akan meletakkan barang curiannya di rumah, dia juga bukan orang bodoh."


"Aku juga merasa seperti itu, tapi tidak ada petunjuk sedikitpun sekarang, hanya bisa mencoba yang terbaik saja." Alvaro mengambil sepotong kue dan melemparkannya pada Zacky, tidak tahu apa yang dipikirkan Zacky, kue dilemparkan dan dia benar-benar lupa untuk menghindar, langsung mengenai dirinya, "Zacky, apa yang kamu pikirkan? Kita sedang mengobrol dan kamu malah melamun?"


Zacky kembali tersadar, mengerutkan keningnya, "Aku merasa ada yang tidak beres dengan masalah ini."

__ADS_1


"Di mana yang tidak beres?" Alvaro bertanya.


Zacky menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak bisa mengatakannya, hanya saja merasa hal ini terjadi terlalu tiba-tiba. Tetua Tobias telah berpergian untuk waktu yang lama, sekarang tidak ada berita sama sekali, ini sudah sangat aneh, tetua Adrian mengurung diri selama lebih dari setahun dan juga belum pernah keluar, biasanya empat tetua berada di sini, sekarang malah tersisa setengahnya, apa itu benar kebetulan?"


Alvaro mengambil sepotong kue dan menggigitnya di mulutnya, "Ini bukan masalah besar bukan, tetua Tobias pergi melakukan perjalanan setiap tahunnya, tetua Adrian mengurung diri juga merupakan hal yang biasa, bukankah dia akan selalu mengurung diri setiap tiga atau lima tahun?"


"Tapi kali ini waktunya terlalu panjang." Ada kegelisahan di dalam hati Zacky, tapi dia tidak tahu apa alasannya, hanya bisa mengingatkan berkata: "Singkatnya kita harus hati-hati, kalau tidak aku merasa sedikit cemas."


"Baiklah, kamu jangan khawatir terlalu berlebihan." Alvaro menghibur dan menepuk-nepuk pundaknya, menuangkan secangkir teh panas untuknya, "Minum teh untuk menghangatkan lambungmu, maka tidak akan berpikiran macam-macam."


Guru Damian yang mendengarkan pembicaraan antara kedua pria itu, alisnya makin berkerut, bibirnya beberaoa kalo bergerak, tapi dia tidak bisa mengucapkan apapun.


Hati Lexie juga cemas, ketika dia melihat tampilan guru Damian, dengan lerhatian bertanya: "Guru, apa kamu memiliki pemikiran yang ingin di ungkapkan?"


Setelah tetua Damian selesai berbicara, dia berbalik berjalan masuk ke dalam rumah.


Melihat sosok punggungnya, Alvaro berkata dengan santai: "Orang tua ini juga terlalu khawatir, sudah berapa lama dia tidak istirahat sepagi ini? Masih ada pekerjaan yang harus diserahkan dalam beberapa hari lagi, sekarang masih ada waktu untuk istirahat? Guru beristirahat, Zacky, malam ini sepertinya kita akan kembali sibuk."


"Kak, apa pekerjaan yang kalian ambil, adalah pekerjaan membuat senjata?" Lexie mengerjakan matanya dan bertanya dengan tulus.


Alvaro mengangguk, "Ya, pavilliun Heaven merupakan tempat penjualan dan pembelian pembuatan senjata, sebagai murid, tentu saja kita harus mengambil pekerjaan, itu hanya pekerjaan yang di serahkan pada kita, semuanya adalah pekerjaan besar, adik seperguruan kamu baru datang, meskipun mungkin tidak banyak membantu, tapi ada baiknya untuk melihatnya dan mempelajarinya. Tapi, jangan menambah kekacauan untuk kami."


"Jangan khawatir, aku tidak akan menambah kekacauan." Alvaro tidak tahu kemampuan Lexie, jadi normal ketika dia memiliki beberapa keraguan, Lexie tidak pernah menyalahkannya, lagi pula dia memiliki kemampuan, akan ada hati di mana dia bisa membuktikannya."

__ADS_1


Zacky tersenyum, takut Lexie sedih jadi dia berkata menghibur: "Adik Lexie, jangan khawatir, jika tidak ada yang kamu mengerti maka bisa tanyakan padaku, jika tidak bisa maka bisa mempelajarinya dengan perlahan-lahan."


"Ya, terima kasih kak." Lexie mengangguk dengan patuh.


Setelah minum teh sebentar, ketiganya melihat bahwa waktunya sudah larut mereka pergi, ke bengkel di belakang halaman, bengkel itu secara khusus di buat untuk pembuatan senjata, sedikit seperti sebuah toko besi kecil.


Lexie mengikuti keduanya masuk ke bengkel kecil, ada puluhan lemari di bengkel itu, di kemarin penuh dengan semua jenis bahan, dari kayu logam, tendon daging sapi dan berbagai bahan lainnya, yang paling banyak adalah bahan logam. Lexie tidak menyangka, di jaman seperti ini, ternyata ada tidak kurang dari sepuluh jenis bahan logam, dan lagi ada banyak bahan campuran.


Tidak heran, jika teknik pembuatan senjata di pavilliun Heaven menempati urutan pertama dari dunia, dari sisi material saja, mereka sudah berada di posisi jauh di depan.


Ada meja persegi besar di tengah bengkel, ada kuas dan tinta di atas meja, dan ada beberapa kertas gambar, ini harusnya adalah gambar desain mereka.


Alvaro dan Zacky benar-bebar memasuki bengkel dan mereka baru keluar dari sikap bercanda mereka, keduanya mengambil beberapa bagian kecil dan sedang merakitnya bersama.


Lexie berjalan ke depan meja persegi, dengan asal mencari kursi untuk duduk dan mulai melihat-lihat gambarnya, meskipun gambar yang mereka lukis tidak seakurat gambar lukisan modern, tapi secara garis besar desain gambarnya itu sama.


"Zacky! Aku sudah mengatakan bahwa di sini tidak benar, jika kamu membuat ring kunci di sini, jika di bagian sini terbuka, maka di bagian belah akan tersendat, jika seperti itu maka tidak akan bisa berhasil!" Alvaro menggelengkan kepalanya, menyerahkan bagian-bagian di tangannya pada Zacky.


Zacky tidak marah, tapi masih dengan tenang mengerutkan kening dan merenung, dia berpikir, "Tapi jika kamu tidak memasang ring cincin di sini, maka alur ini tidak bisa di perbaiki, bahkan jika diluncurkan kekuatannya tidak akan cukup."


"Hei, orang tua itu malah tidur di waktu seperti ini, jika dia ada di sini, dia masih bisa memberikan ide." Alvaro mengeluh sambil merakit bagian-bagiannya.


Zacky malah tidak setuju, "Kita bertiga telah memikirkan masalah ini beberapa hari, tapi masih belum memikirkan solusi yang sempurna, tidak akan berpengaruh hanya beberapa jam, guru sedang pusing biarkan dia beristirahat."

__ADS_1


__ADS_2