
Martin mengambil satu langkah ke samping, berkata dengan dingin: "Jika kamu adalah seorang wanita cantik, kamu bisa berdiri di sisiku, kalau tidak, pergi atau mati!"
Dalam kabut tebal, uap airnya terasa dingin, tapi uap air yang dingin itu tidak seberapa, jika di bandingkan dengan nada bicara Martin.
Pada saat itu, Lexie dan Wilson terpaku, keduanya belum beraksi, Martin sudah menarik Lexie berjalan ke dapan.
"Hei, apa-apaan kamu, lepaskan Lexie, pria dan wanita tidak boleh saling berdekatan!" Wilson kembali tersadar dan mengikuti, tapi sikapnya juga tidak terlalu baik.
Karena kata-kata Martin, atmosfir yang awalnya sudah tegang menjadi bertambah mencekam, ketiganya berjalan maju ke depan, tidak ada yang berbicara.
Tiba-tiba Martin menarik Lexie mundur beberapa langkah ke kiri, dan Wilson yang malang tidak merespon dan berjalan ke depan langsung meluncur keluar. Ternyata bagian depan adalah lereng yang curam, hanya terdengar suara Wilson yang berteriak sambil meluncur menjauh.
"Bagaimana ini?" Terhadap rekan satu timnya, tidak peduli bagaimanapun Lexie tidak akan duduk diam.
Martin malah tidak khawatir, menarik lengan Lexie dan berkata dengan dingin, "Tidak bagaimana, kemiringan lereng ini tidak akan membunuh orang, hanya akan sedikit mengalami kesulitan saja."
Ketika perkataanya baru di ucapkan, terdengar suara keluhan Wilson dari bawah, "Apa yang sedang kalian berdua lakukan, cepat turun, ada orang mati disini!"
Lexie dan Martin saling bertatapan, kemudian mereka saling memapah menuruni lereng yang curam.
Ditempat yang begitu berkabut, benar-benar tidak tahu bagaimana Martin bisa mengetahui jalan di depan. Lexie memiliki keraguan dalam hatinya, tapi tidak terlukis di wajahnya.
Ketika keduanya tiba di dasar lereng yang curam, mereka melihat Wilson yang duduk di tanah dengan memegang kedua kakinya, ketika melihat keduanya tiba, dengan wajah pucat menunjuk ke arah samping.
Di sisi Wilson, ternyata sudah terbaring beberapa mayat, mayat-mayat itu tampaknya terkena serangan, setiap mayat itu terdapat jejak serangan yang begitu mengerikan di tubuhnya.
__ADS_1
Ketiganya terpaku di antara orang-orang ini jelas ada orang-orang yang menertawakan Lexie, jika di pikirkan, orang sebelumnya itu adalah yang berhasil melarikan diri, sisa orang lainnya ternyata sudah mati di sini, bahkan salah satu dari mereka adalah orang yang sudah memenuhi syarat sebagai seorang pengrajin perak.
"Sebenarnya apa yang melukai mereka?" Wilson bergerak ke sisi mereka dengan ketakutan, "Sebenarnya ada apa dengan pavilliun Heaven, bukankah hanya merekrut murid, mengapa bisa terjadi kejadian seperti ini, bertahun-tahun aku tidak pernah mendengar ada orang yang meninggal karena ujian penyisihan murid!"
"Memang benar, meskipun pavilliun Heaven bukan keluarga terkenal, tapi beberapa tahun juga tidak melakukan hal yang tidak bermoral, kematian tragis orang-orang ini bukan gaya dari pavilliun Heaven." Kata Martin dengan suara dalam.
Lexie mengangguk sebagai orang yang sudah di tunjuk, tidak ada alasan baginya untuk berpartisipasi dalam penyisihan yang berbahaya seperti ini, tampaknya pemilihan murid pavilliun Heaven kali ini jauh lebih rumit dari yang di harapkan.
"Sekarang apa kita akan terus bergerak maju?" Wilson sedang meminta pendapat dari yang lainnya, tapi tidak terlihat keinginan untuk mundur dari wajahnya.
Lexie ragu-ragu sejenak kemudian berkata: "Aku akan maju, mengenai kalian, aku tidak akan memaksa."
Martin mengerutkan alisnya dan juga berkata: "Aku juga."
"Karena kalian ingin maju, aku juga hanya akan mengikuti kalian, kalau tidak jika aku sendirian, siapa tahu aku malah telah terbunuh lebih dulu, sebelum aku keluar." Wilson berkata sambil sudah berdiri, kakinya tampaknya terluka, tertatih-tatih saat berjalan.
Tidak beberapa langka Martin seakan teringat sesuatu, mengeluarkan belati dari balik pakaiannya kemudian menyerahkan ke tangan Lexie, "Bawalah untuk melindungi diri."
"Oh ..." Lexie terpaku, tapi tidak menolak niat baiknya.
Ketiganya kemudian berjalan untuk beberapa saat, mereka melihat dua orang berjalan ke arah mereka dari kejauhan, langkah mereka sangat mendesak, seakan sedang mencari sesuatu, karena ada kabut tebal yang menghalangi, tidak dapat melihat dengan jelas tampang dari keduanya, juga tidak tahu apa itu musuh atau kawan, jadi ketiganya masih hati-hati bersembunyi di balik pohon besar.
"Nona Lexie! Nona Lexie!" Kedua orang itu berjalan sambil berteriak.
Lexie terpaku, hanya dia seorang wanita yang datang untuk berpartisipasi dalam penyaringan para murid, ketika mereka berdua berteriak memanggil, Lexie bisa mendengar bahwa salah satu dari mereka adalah pria berbaju hitam yang memimpin penyaringan murid.
__ADS_1
Lexie buru-buru menyahut, "Aku di sini."
Kedua pria itu keluar dari kabut tebal, salah satunya adalah pria berbaju hitam itu, ketika melihat Lexie dia menghela nafas lega, "Akhirnya kami menemukanmu, jika terjadi sesuatu padamu, pemilik sudah pasti akan menguliti kami."
Wilson melihat pria berbaju hitam itu, tiba-tiba menatap Lexie dengan curiga: "Kenapa, ternyata kamu memiliki hubungan dengan atasannya? Pemilik itu adalah ..."
Kekasihmu?
Lexie tersenyum dengan canggung, tidak menjawab tetapi hanya bertanya pada pria berbaju hitam dan berkata: "Sebenarnya apa yang terjadi di hutan ini?"
"Tidak menyembunyikan darimu, awalnya tidak ada bahaya di hutan ini, kecuali medannya yang rumit, tapi hari ini tidak tahu apa yang sedang terjadi sering terdengar teriakan di dam kabut tebal, orang-orang kami menemukan mayat berdasarkan pada suara teriakan itu, lalu batu mengetahui keseriusan masalah ini, tapi apa sebenarnya yang menyerang mereka, kami masih menyelidikinya. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu, jadi bergegas membawa orang untuk membantu mencarimu, ayo pergi, aku akan membawamu keluar sekarang."
Pria berbaju hitam itu menjelaskan masalah itu, ternyata seperti yang mereka tebak, seharusnya masalah seperti ini tidak ada hubungannya dengan pavilliun Heaven.
"Maaf merepotkan mu." Lexie dengan sopan membungkukkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa, nona akan menjadi murid pintu dalam dikemudian hari, jika ada kesempatan maka bantu kami saja sudah cukup." Pria berbaju hitam itu tersenyum lebar.
Lexie terpaku, tiba-tiba mendengarkan beberapa poin dari kata-katanya, "Murid bagian dalam? Apakah murid pavilliun Heaven masih terbagi menjadi pintu bagian dalam dan pintu bagian luar?"
Pria itu berjalan maju dengan waspada sambil menjelaskan: "Tentu saja, murid-murid pintu dalam memenuhi syarat untuk membuat senjata, para murid luar hanya membantu beberapa tugas kecil. Penyaringan murid ini akhirnya juga hanya ada tiga orang yang bisa menjadi murid pintu bagian dalam, sisa orangnya hanya bisa memulai dari menjadi murid pintu luar."
Lexie tiba-tiba mengerti, searusnya pria berbaju hitam ini adalah murid pintu luar, jadi sedikit lebih sopan terhadap orang dari pintu dalam.
Wilson mendengar dialog keduanya, datang ke sisi Lexie dengan tidak puas an bertanya: "Sepertinya kamu sudah melewati pemilihan murid?"
__ADS_1
Lexie menggelengkan kepalanya, "Bukan, aku juga mengandalkan kemampuan, hanya saja lebih awal melewati penilaian dari pemilik pavilliun Heaven." Lexie tidak berbohong bisa menang dari Kevin dalam pembuatan senjata, itu sudah menjadi kualifikasi untuk menjadi murid pintu dalam.