Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Tanpa Proses


__ADS_3

Lexie terkekeh beberapa kali, menggigit ubinya dengan lahap, terlihat seperti tidak pernah makan, tapi hanya Lexie yang tahu di dalam hatinya, bahwa setiap gerakan yang di lakukannya sudah di pikirkan dengan matang, tidak peduli itu gerakan atau postur duduknya, bahkan arah api yang mengarah pada mereka sudah Lexie pertimbangkan, hanya dengan begini, dia baru bisa menyajikan sisi yang indah di hadapan Victor.


Seperti artis di TV yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah diet untuk datang ke acara itu, memakan apa yang mereka ingin makan, tapi apa itu mungkin? Itu hanyalah drama yang di perlihatkan pada semua orang saja, setelah pertunjukkan mungkin saja mereka diet satu hari di karenakan memakan sedikit makanan di acara itu, makan dan tidak gemuk, berapa banyak yang memiliki tubuh seperti itu di kehidupan nyata?


Lexie menempatkan dirinya sebagai wanita yang menawan, jadi dia tidak bisa menggunakan sisi seorang istri, istri dan suami harus hidup bersama selama beberapa dekade, bahkan jika mereka memulai memperhatikan image mereka, pada akhirnya mana yang tidak akan malu lagi jika pergi ke toilet? Tapi apa seorang suami benar-benar tidak keberatan dengan istrinya yang di karenakan sudah akrab dan merasa tidak malu lagi? Jika benar tidak keberatan, maka tidak akan banyak suami yang akan berselingkuh.


Tidak ada yang tidak suka melihat hal-hal yang indah, dan melihat hal-hal buruk, di depan Victor, bahkan jika Lexie berpenampilan tidak berambisi, tidak berpura-pura, itu semua hanyalah akting.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Victor melihat Lexie yang tidak berbicara untuk sekian lama, meletakkan ubi jalar di tempatnya dan bertanya. Benda seperti ubi jalar panggang ini adalah benda yang tidak mungkin di lihat oleh Victor.


Lexie melirik sekilas pada ubi bakar yang telah Victor lemparkan ke tanah, senyum di wajahnya hilang, "Tidak ada, aku hanya ingin bisa makan ubi bakar panggang di bawah bintang-bintang dengan Yang Mulia seperti ini, apa ini hanya sekali seumur hidup?"


Tentu saja hanya sekali! Lexie lebih suka kelaparan dibandingkan duduk dan makan bersama Victor.


Victor menarik sudut bibirnya, mengambil dahan di tanah, dengan seenaknya mengutak-atik api unggun yang terbakar, "1 kali itu adalah batasku."


Batasnya benar-benar membuat orang sangat terkesan.


"Oh." Lexie menjawab sekilas, berdiri dan menepuk-nepuk debu di tubuhnya dan berkata: "Cuaca sudah agak lebih dingin, atau kita kembali saja, tapi apa kita ingin berjalan memutar?"


"Memutar? Kenapa?" Victor tidak mengerti.

__ADS_1


Lexie menghela nafas dengan sedih, dia menggandeng tangan Victor, "Aku awalnya ingin pergi ke ruang makan untuk makan, tapi melihat Sullie dan yang lainnya di jalan, ada seorang penguasa kecil yang mengikuti Sullie, aku takut akan membuat masalah bagi Yang Mulia, jadi aku mengambil jalan memutar. Karena itu aku sangat lapar, dan menggali ubi jalar di sini untuk di makan."


Lexie mengatakannya dengan begitu menyedihkan, keluhan dan kesedihan dalam nadanya tidak di sembunyikan, "Aku hanyalah seorang pelayan, jika Raja kecil itu ingin menindasku, aku juga tidak bisa menghentikannya, jika aku melawannya sudah pasti akan membuat masalah bagi Yang Mulia, lagi pula, Yang Mulia masih harus berhubungan baik dengan ayah dari sang raja kecil itu."


Victor tiba-tiba terdiam, sepasang mata seperti rubah itu menatapnya, setelah sekian lama baru dia berkata: "Aku pikir kamu tidak takut pada apapun."


"Itu dulu." Lexie sudah menariknya berjalan ke depan ketika dia berbicara, "Dulu memang aku tidak takut pada apapun, tapi bukankah Yang Mulia sudah meminta orang untuk mengajariku? Sekarang, aku makin tahu keberadaan diriku, aku sudah bukan diriku yang dulu yang tidak takut akan apapun, Yang Mulia akan menyukainya bukan?"


Apa akan menyukainnya?


Victor tidak menjawab pertanyaan ini, tapi pandangan matanya agak redup, bahkan dirinya sendiri tidak menyadarinya, dia kembali mengerutkan kening.


Dalam kegelapan Lexie tersenyum tanpa jejak, tentu saja dia tahu, mengatakan begitu banyak itu hanyalah untuk memancing ketidakpuasan Victor saja. Lexie juga adalah orang pendendam, terakhir kali, orang-orang itu memprovokasinya, maka dia tidak keberatan untuk meminjam pisau untuk membunuh orang untuk di perlihatkan pada mereka.


Mengenai cara ini apa itu penting untuk mencapai tujuan yang di inginkan? Dari pada ditindas Lexie lebih memilih menjadi orang yang tidak berkompromi pada segalanya untuk mencapai tujuannya.


Lexie hanya berharap orang-orang itu masih di jalan dan belum pergi! Mengenai Victor, membuat Victor membalaskan dendamnya pada orang-orang itu juga sepertinya pilihan yang tidak terlalu buruk.


Dari kejauhan terdengar samar-samar suara nyanyian Opera di depan, suara nyanyian Sullie memang benar-benar bagus, di lingkungan yang sunyi ini, suaranya menjadi semakin tajam dan jernih, bagi orang yang tidak mengerti Opera seperti Lexie saja merasa suaranya ini enak didengar.


Lexie pura-pura membuat tubuhnya menjadi kaku, dengan tergesa-gesa melepaskan tangan Victor, "Yang Mulia, di hadapan orang-orang lebih baik aku menjaga jarak dengan Yang Mulia." Ini uang Victor katakan di hadapan orang lain, Lexie hanya pantas menjadi seorang pelayan.

__ADS_1


Jari-jari Victor bergerak tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Di kejauhan diantara pohon plum, seorang wanita berbaju merah tampaknya telah minum sedikit alkohol, parasnya yang awalnya sudah cantik di tambah dengan sikap bebasnya, dia menyanyi dan menari, tubuh dan tariannya sangat indah, tidak heran setiap pangeran yang hadir di sana mabuk kepayang.


Di antara para pangeran yang mabuk kepayang itu, Lexie melihat dua orang yang sangat familiar, Jeremy dan William keduanya bisa di katakan adalah orang-orang terkemuka diantara para orang terkemuka.


Namun Lexie agak penasaran, jika kekuatan semacam ini berhadapan dengan Victor maka bagaimana akhirnya.


"Yang Mulia, orang-orang ini hanya menargetkanku, atau aku lebih baik berpura-pura tidak mengenal Yang Mulia, jangan sampai orang-orang ini membuat marah Yang Mulia, meskipun aku tahu Yang Mulia tidak takut pada mereka, tapi demi pelayan sepertiku, itu tidak layak jika menimbulkan masalah. Lariku sangat cepat dalam satu tarikan nafas aku jamin bisa memastikan mereka tidak akan bisa menangkapku."


Ketika Lexie berbicara dia tidak memperhatikan ekspresi Victor yang ingin berbicara, Lexie berbalik dan bergegas menerjang melewati jalan itu, gerakan itu benar-benar seperti apa yang Lexie katakan, ingin melewati jalan ini dengan kecepatan tercepat.


Tapi, Lexie tidak mengerti seni bela diri, di hadapan sekelompok pangeran yang ahli dalam seni bela diri, Lexie bisa berlari beberapa langkah?


"Hei, bukankah ini pelayan yang terakhir kali itu?" Yang pertama kali menemukannya adalah Jeremy, dia berdiri kemudian melompat untuk menghentikan Lexie.


Kemudian tanpa berpikir lalu mengulurkan tangan menarik Lexie ke dalam pelukannya, dan juga berteriak pada orang-orang yang berada di sampingnya: "Kalian lihatlah, gadis ini yang terakhir kali membuatku menderita, hari ini dia datang sendiri ke sini, menurut kalian, jika aku membiarkannya pergi begitu saja, bukankah itu akan mencoreng namaku ini? Ayo, kalian berikan ide padaku, bagaimana memainkan gadis ini?"


Lexie menggigit bibir bawahnya dengan dingin menatap beberapa pangeran yang datang mengelilinginya, pandangan matanya takut tapi tidak pantang menyerah.


Karena kemunculan Lexie, penampilan Opera Sullie, dia melihat semua orang bergegas mengelilingi di sekitar Lexie, ada cahaya gelap di matanya, tapi tiba-tiba, dia menyadari pria yang perlahan-lahan mendekat di kejauhan, pria itu mengenakan jubah hitam, seolah-olah dia telah berbaur dengan malam, tapi ketika wajahnya terlihat, membuat orang lain tidak bisa mengabaikannya, wajah yang begitu tampan itu jarang di dunia.

__ADS_1


__ADS_2