
"Memukul dan menendang ..." Langkah Lexie terpaku, "Itu lebih baik kita pergi menemui tetua keempat saja."
Seseorang yang memiliki sifat berbuat kekerasan, bukankah lebih bermasalah, dan lagi, dia adalah seorang wanita yang secara fisik sangat lemah, jika dia benar-benar ingin meninju Lexie, mana mungkin Lexie bisa menang melawannya?
"Apa kamu yakin?" Simon juga membelalakkan matanya, "Tetua keempat itu sifatnya sangat aneh, dan juga memiliki murid paling sedikit di antara para tetua, saat ini hanya ada dua, tapi ..."
"Tapi apa?" Lexie menatap Simon yang mengerutkan alis dan menghela nafas, benar-benar membuatnya penasaran dan cemas.
"Tapi juga merupakan yang paling hebat. Selain, pemilik pavilliun dan para tetua, kedua murid dari tetua keempat adalah yang paling hebat di pavilliun Heaven ini, sayangnya, jika bukan sifat yang mirip, maka tidak akan berkumpul menjadi satu, sifat kedua muridnya itu juga sangat aneh."
Tiga orang aneh?
Lexie tidak berdaya, "Sudahlah pergi menemuinya dulu, baru bicarakan lagi."
Simon melihat Lexie sudah memutuskan, Simon hanya bisa memimpin di depan jalan sambil membawa lentera.
Orang yang aneh, bahkan tempat mereka tinggal juga aneh, Simon membawa Lexie melewati jalan ke sudut bengkel, ada dua orang pemuda di bengkel itu yang sedang membuat sesuatu menggunakan cahaya lilin, melihat Simon datang, mereka menyapa dengan antusias.
Simon juga menanggapi kedua orang itu sambil tersenyum, bisa dilihat, koneksinya sangat luas, "Apa tetua keempat ada?"
"Kak Simon datang untuk mencari tetua keempat?" Salah satu dari mereka bertanya.
Simon mengangguk, menunjuk kearah Lexie di sebelahnya, "Kali ini melalui penyaringan murid, pemilik memintaku membawanya untuk di perlihatkan pada tetua keempat, melihat apa para tetua bisa menerimanya."
__ADS_1
"Ah ..." Pria itu membelalakkan matanya, sangat jelas merasa terkejut.
Lexie sudah bisa dengan keterkejutan mereka, jadi tidak ada rasa tidak senang, pria itu kemudian berkata setelah kembali fokus: "Tetua keempat ada, tapi ..." Dia memandang Lexie dengan kesulitan, tanpa sadar wajahnya memerah, "Itu, itu... tetua keempat sedang membuat benda aneh ... Aku khawatir itu tidak baik di lihat oleh seorang gadis."
Simon mendengarnya, wajahnya tenggelam, kembali membujuk Lexie, "Nona Lexie, kurasa lebih baik tidak menemuinya, aku akan membawamu ke tempat tetua ketiga, benda yang di buat tetua keempat selalu mengerikan, dan juga selalu mencari seseorang untuk mencobanya, aku benar-benar takut."
"Tidak masalah, karena sudah datang, maka aku akan menemuinya." Lexie tersenyum datar, sekarang hanya ada dua tetua yang berada di pavilliun Heaven, Lexie tidak ingin melepaskan dua kesempatan ini dengan mudah.
Simon menatapnya dengan tatapan sulit, ragu sejenak, dengan sangat malu berkata: " Nona, kalau begitu biarkan mereka membawamu masuk ke dalam, aku akan berada di sini menunggumu, jika tetua keempat tidak puas denganmu, maka aku akan membawamu pergi menemui tetua ketiga?"
Lexie mengangguk, "Baik."
Salah satu dari mereka membawa Lexie ke halaman belakang, Lexie berpikir bahwa tetua keempat itu sedang berada di belakang halaman, tidak menyangka pemuda itu membawanya ke halaman belakang dan kemudian pergi ke sebuah sumur, di bawah tatapan matanya yang bingung, kemudian melihat pemuda baru saja menghilang di sumur itu kemudian kembali keluar, "Nona, kenapa kamu diam saja, ikuti aku, jangan takut, sumur ini kering, ada terowongan di dalamnya."
Lexie mengikuti berjalan sampai ke tepi sumur, menjulurkan kepala dan melirik sekilas ke dalam, ternyata dinding sumur adalah tangga, hanya saja tangga itu sedikit curam, Lexie mengangkat gaunnya dan dengan hati-hati berpegangan pada dinding sebelum turun.
Terowongan itu sangat lebar, beberapa orang bisa berjalan berdampingan, ada lampu minyak di dalam, cahayanya sangat redup, menarik bayangan panjang dari sosok keduanya ketika sedang berjalan.
Setelah berjalan untuk beberapa saat, mereka sampai di ujung terowongan, di ujung terowongan merupakan dinding bata yang halus, Lexie menduga pasti ada mesin yang di gunakan untuk membuat dinding batu ini, lagi pula hampir semua film dan acara Tv seperti itu, secara logika seharusnya masih ada ruangan di balik dinding batu itu.
"Hei, nona, untuk apa kamu terus melihat dinding batu itu?" Pemuda itu berteriak padanya, dan melambaikan tangan, "Cepat kemari dan berdiri bersamaku."
Lexie menolehkan kepala, kemudian berjalan mendekat ke sisi pemuda itu, ketika Lexie mendekat, pemuda itu dengan keras menendang tanah empat kali, seolah-olah dia sedang menginjak sesuatu, tidak menunggu Lexie bereaksi, tanah itu terjatuh ke bawah, kemudian Lexie dan pemuda itu jatuh bersama-sama.
__ADS_1
"Ah!" Dengan teriakan kengerian Lexie, dia menghantam kapas yang lembut, ya, itu adalah kapas asli, kapas yang tidak berbahaya sama sekali!
Tunas-tunas kapas yang tercecer tersebar di rambut Lexie, Lexie terpaku dan menelan air liurnya, tertegun memandang pria yang hanya mengenakan ****** ***** di kejauhan.
"Ah!" Suara jeritan itu bahkan jauh lebih menakutkan di bandingkan jeritan Lexie tadi.
Pria bertelanjang dada itu berteriak sambil mengambil jubahnya yang tergeletak di tanah, kemudian memakainya, dia juga menunjuk ke arah Lexie dan berteriak: "Bagaimana bisa ada wanita? Bagaimana bisa ada wanita!"
Lexie mengerjakan matanya, tampaknya dia masih belum tersadar, tapi otot-otot perut pria itu ... Hei, sial, tubuh itu adalah tubuh berotot yang sering dia lihat di dalam film, tanpa sadar Lexie terpesona untuk sesaat.
"Guru! Sudah kukatakan aku tidak melepas pakaianku, tapi kamu ingin aku melepasnya, kamu masih mengatakan bahwa tidak akan ada orang luar yang masuk! Itu apa, lihat apa itu, Itu seorang wanita! Wanita, guru! Kesucianku sudah hancur di tanganmu!" Pria itu mengenakan pakaiannya sambil bergegas berdiri di samping pria tua yang sedang memegang kuas besar.
Lexie tampaknya baru memperhatikan bahwa masih ada seorang pria tua di sini, bagaimanapun pada pandangan pertama yang di lihatnya adalah pria yang bertelanjang dada, tertarik oleh pemandangan indah itu, apa yang ada di sebelahnya tentu saja otomatis terlewat.
Pria tua itu mengenakan jubah putih, satu tanganya memegang tinta dan tangan lainnya memegang kuas besar, jubah putihnya sudah terkena percikan tinta, terlihat menyedihkan, sepertinya sedang melukis, tapi tidak ada kertas di tempat itu.
"Bagaimana aku tahu akan ada seorang wanita yang datang? Haiya, kamu ini adalah seorang pria dewasa, apanya yang kesucian sudah hancur, lihatlah gadis itu berparas lumayan, jika kamu benar-benar tidak bisa menerimanya, paling-paling kamu tangkap dia dan memintanya bertanggung jawab." Pria tua berjubah putih itu meniup janggutnya sambil melotot dan memaki, berjalan sambil membawa tinta ke arah Lexie, "Hei, gadis kecil, apa kamu dengar? Apa kamu mau bertanggung jawab?"
Sial!
Lexie benar-benar ingin memaki, sial, jika harus bertanggung jawab karena melihat otot, berapa banyak orang yang harus di pertanggungjawabkan oleh Lexie.
Jadi Lexi menggelengkan kepalanya tanpa ragu, "Aku tadi terlalu terkejut, sebenarnya aku tidak melihat apa-apa."
__ADS_1
"Apa kamu membodohiku?" Pria tua berjubah putih itu melototkan matanya, berteriak dan berkata: "Kamu jelas-jelas tadi memandangi dada muridku, apa bisa tidak melihatnya dengan jelas? Gadis kecil ini, kamu bahkan lebih hebat dalam hal berbohong di bandingkan diriku ini!"