Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Hari Yang Tenang


__ADS_3

Selama waktu ini, meskipun kota Phoenix adalah ibu kota negara Nanyue, tapi harga tanahnya tidak terlalu mahal, lagi pula di sini rumah di gunakan untuk hidup, bukankah untuk berinvestasi.


Lexie melihat beberapa rumah yang di tawarkan, itu semua adalah rumah yang indah dan harganya tidak mahal, paling tinggi harganya hanya 1000 perak. Ini juga yang membuat Lexie yang berasal dari jaman modern terpana, di ibu kot ini, dapat membeli rumah dengan harga yang begitu murah, apa ini bisa di katakan zaman kuno lebih maju dari pada zaman modern?


Selain itu, di sini sangat membedakan status kelas, kelas atas semuanya adalah pejabat, kelas menengah adalah pebisnis, yang lebih rendah adalah petani, jadi jika mencoba memasukan pejabat melalui ujian, maka itu akan memandang rendah para pengusaha, jika menjadi pejabat, bahkan jika kamu adalah negara-negara musuh yang kaya, Maka itu tidak ada artinya di mata para pejabat.


Lexie menghela nafas, karena dia adalah wanita yang melewati jaman, tidak mungkin dia menjadi pejabat, tapi dia bersedia untuk mencoba menghasilkan uang dari berbisnis, mungkin ini karena jiwanya berasal dari jaman modern, jadi dia berpikir uang adalah hal yang terbaik dan paling dapat di andalkan di dunia.


Ketika matahari hampir terbenam, Lexie akhirnya memilih sebuah rumah yang tidak besar dan tidak kecil, rumah itu hanya ada beberapa kamar, tapi cukup besar untuk Lexie dan Lucas, sisa beberapa kamar dia masih bisa mempekerjakan beberapa pekerja untuk membantu.


Pemilik rumah sepertinya baru saja meninggalkan ibukota, jadi benda-benda di dalamnya masih lengkap, keduanya menetap di rumah itu selama satu malam, kemudian keesokan paginya mereka pergi untuk membeli berbagai peralatan rumah.


Menyaksikan pekerja meletakkan leralatan satu per satu ke dalam rumah, Lexie yang berdiri di bawah balkon tanpa sadar mencubit wajahnya sendiri, sangat sakit, ini bukan mimpi.


Lexie benar-benar sudah meninggalkan kediaman Victor, dan juga bisa menjalani kehidupan yang tenang bersama Lucas.


Lucas juga sangat bahagia, setiap hati menemani Lexie membeli berbagai barang di kota, setelah menghabiskan lima hari, akhinya dia berhasil merapikan rumah seperti apa yang di inginkannya.


Dini hari tadi, sudah ada seorang bibi yang membawa beberapa gadis remaja yang datang ke rumahnya, dua hari yang lalu Lexie mencari seseorang dan berkata bahwa dia ingin merekrut pekerja, tidak disangka baru 2 hari, bibi ini sudah menemukan begitu banyak orang.

__ADS_1


Di depanya berdiri sekitar 7 sampai 8 orang gadis muda, Lexie sedikit mengerutkan kening, kemudian meminta semuanya membuat perkenalan diri secara singkat, mendengarkan perkenalan diri beberapa orang, alisnya mengkerut bertambah dalam.


Ternyata gadis-gadis ini semua berasal dari desa dekat pinggiran kota, banyak dari mereka dikarenakan banyak saudara di dalam keluarga dan juga kehidupan mereka sulit, jadi keluarga mereka menjual mereka, terutama gadis kecil yang berdiri di sudut, begitu kurus tidak memakai alas kaki, memakai pakaian katun tipis di musim dingin seperti ini, ketika angin berhembus sekujur tubuhnya gemetaran.


Lexie menghela nafas, menunjuk kearah gadis kecil itu, "Tinggalkan dia, aku akan memberikan 1 perak pada sisa yang lainnya dan sudah boleh pergi."


Memilih pekerja bukanlah sedang melakukan hal baik, Lexie bukan orang suci, dia secara alami tahu harus mencari pekerja yang sehat dan efektif, tapi jika melihat gadis yang gemetar kedinginan itu pergi dengan raut wajah kecewa, Lexie juga tidak tega.


"Apa nona benar-benar ingin memilihnya?" Bibi itu terkejut untuk sekian lama baru bereaksi.


Lexie mengangguk, mengeluarkan perak dari balik lengan pakaiannya dan meletakkan di tangan semua orang, 1 perak bagi keluarga seperti mereka ini bukanlah angka yang kecil, cukup bagi mereka untuk membeli makanan selama setengah bulan, jadi wajah mereka mengeluarkan raut wajah sulit di percaya, kemudian mereka kecewa. Sayang sekali mereka tidak bisa bekerja kepada majikan yang dermawan ini.


"Dengan mengambilnya aku hanya bisa mencari orang untuk mengobatinya, tentu saja hal yang baik jika dia masih bisa bertahan hidup, jika tidak bisa maka itu adalah nasibnya." Lexie menghela nafas dan bergegas berkata pada bibi itu, "Terima kasih atas niat baikmu, aku menginginkannya."


Bibi itu baru pertama kali bertemu majikan yang memiliki orang seperti ini, pada awalnya dia mengira gadis ini tidak mengerti bagaimana cara memilih orang, mendengarnya yang berkata seperti itu, raut wajah bibi itu sedikit kagum, "Nona benar-benar orang baik, bibi berharap nona akan mendapatkan balasan yang baik."


Lexie menjawabnya dengan segan, setelah bibi itu pergi dengan membawa sisa orang lainnya, Lexie kemudian memanggil gadis kecil itu untuk maju ke hadapannya, gadis kecil itu dengan ketakutan segera berlutut pada Lexie.


"Bangunlah untuk berbicara, di rumahku di kemudian hari tidak boleh berlutut." Lexie menghela nafas panjang, dulu ketika berada di rumah jendral atau di kediaman Victor, dia tidak bisa membuat keputusan sendiri terhadap tindakan yang memperlakukan orang sebagai budak, Lexie tidak bisa mengendalikannya dan tidak bisa menerimanya, tapi dia tidak bisa mmgubahnya.

__ADS_1


Sekarang ini, walaupun hanya rumah kecil, Lexie ingin mempertahankan apa yang ingin dia jaga, dia harus membuat dirinya ingat bahwa dia adalah seorang intelektual yang berasal dari jaman modern, bahkan jika berada dalam masyarakat feodal, pemikiran dan idenya akan menjadi berbeda dengan yang lainnya, tapi Lexie ingin dirinya mengingat dirinya yang awal, Lexie takut, takut jika dia lama tinggal di sini, maka dia akan lupa bahwa keberadaanya itu tidak lebih rendah dari siapapun di sini.


Gadis kecil itu mendongak dengan aneh setelah mendengarkan kata-kata Lexie, tapi dia tetap berdiri dengan patuh.


"Apa kamu memiliki nama?" Tanya Lexie.


Gadis kecil itu mengangguk dan berkata: "Ernie." Suaranya begitu kekanak-kanakan.


Lexie mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya, "Ernie, kamu akan bekerja untuk di kemudian hari, aku akan memberimu upah kerja setiap bulannya, jika kamu ingin pergi suatu hati nanti, maka beritahu aku sebelumnya, itu sudah cukup."


"Upah kerja?" Ernie membelalakkan matanya, "Bukankah aku di jual pada nona?"


Lexie tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak membeli budak, aku hanya mempekerjakan pekerja." Lexie berkata sambil merobek-robek kertas penjualan diri budak di tangannya di hadapan mereka berdua.


Ernie tertegun hingga tidak bisa berbicara, setelah beberapa saat, dia tiba-tiba meneteskan air mata tapi masih tetap tidak berbicara, hanya berlutut di depan Lexie dan menyembahnya beberapa kali.


Lexie menghela nafas lagi, orang-orang di masyarakat ini, jaman ini, jika ada apa-apa selalu berlutut, hal semacam ini Lexie masih tidak bisa menerimanya, "Apa, kamu baru saja melupakan apa yang baru saja kukatakan? Di kemudian hati tifak boleh sembarangan berlutut pada orang lain."


Ernie bergegas menyeka air matanya, kemudian segera berdiri, "Ya, apa yang di katakan nona itu benar."

__ADS_1


Lexie kemudian menggelengkan kepalanya, bagi orang-orang biasa yang telah sepenuhnya di perbudak oleh pemikiran feodal, yang bisa Lexie lakukan terlalu sedikit, mungkin, di mata mereka keberadaanya itu seperti jenis yang berbeda. Lexie tidak berharap Ernie memahami pikirannya, Lexie hanya mencoba yang terbaik untuk tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hatinya saja.


__ADS_2