Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Jalan Atau Tidak


__ADS_3

Lexie menangis, sambil berkata memohon, mungkin karena kematian guru Damian memberikan pukulan terbesar bagi dirinya, Lexie yang sekarang benar-benar takut akan ada nyawa yang lain yang akan menghilang di depan matanya, jadi bahkan jika dia harus berlutut di hadapan Victor, selama Victor bisa melepaskannya, maka Lexie tidak akan ragu untuk berlutut!


Victor awalnya menepuk-nepuk punggung Lexie dengan lembut, tapi karena Lexie menangis dan memohon padanya, tangannya menjadi kaku, tangannya menekan di punggung Lexie, tanpa sadar dia menggunakan kekuatannya, ada amarah yang menyala tiba-tiba di pandangan matanya, kelembutan yang tadi ada seketika menghilang, "Di matamu, apa aku adalah orang yang tidak akan ragu untuk membunuh anak di dalam perutmu?"


Entah mengapa, persepsi Lexie yang seperti itu membuatnya merasa tidak tidak nyaman.


Lexie menangis dalam diam, ingin mengatakan sesuatu, bibirnya sedikit bergerak, tapi tidak bisa mengatakan apapun, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya, Lexie bisa melihat amarahnya.


Alvaro dan Zacky yang berada di samping, awalnya masih tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mendengar sampai di sini keduanya terkejut di saat yang bersamaan, kedua mata Zacky memerah dan dengan dingin menggeram rendah: "Dia adalah ayah dari anak itu? Kalian berdua ..."


Alvaro bahkan lebih marah hingga wajahnya memerah, dia menarik Lexie, kemudian mengayunkan pukulan kepada Victor, "Ini anakmu! Ketika guru Damian sekarat, mengapa kamu tidak berani berkata apapun!"


Tinju Alvaro tentu saja tidak dapat menyentuh Victor, Victor hanya sedikit mengangkat tangannya, dengan mudah menahan kepalan tangan Alvaro, detik berikutnya Victor membalas memukulnya.


Hanya melihat kepalan tinju di lepaskan, hidung Alvaro segera meneteskan darah segar, zacky melihatnya dia segera menyerang ke arah Victor, tapi baru saja dia ingin bergerak, Victor sudah menendangnya, dan membuatnya terguling ke tanah.


Darah Alvaro dan rintihan Zacky akhirnya membuat Lexie yang secara emosional sedang runtuh itu tersadar, tiba-tiba dia menarik Alvaro dan Zacky yang sedang ingin bangun dan ingin memukul Victor, Lexie kemudian berteriak kencang, "Jangan berkelahi lagi! Jangan berkelahi lagi! Aku hanyalah pelayan penghangat ranjangnya, dia tidak wajib menikahiku!"


Alvaro dan Zacky dengan terkejut menoleh menatap Lexie, pandangan matanya yang tidak percaya itu seperti pisau yang tertancap di jantung Lexie.


"Ya, kalian tidak salah dengar, aku hanyalah pelayan penghangat ranjangnya saja, tidak memiliki identitas yang bersih dan membuat kalian kecewa, aku minta maaf." Setelah mengatakan hal itu, Lexie datang ke hadapan Victor kemudian berlutut dan berkata, "Lepaskan mereka ..."

__ADS_1


Victor secara sadar mengepalkan tinjunya, dia sudah terbiasa dengan kenyataan orang yang memandang tinggi ke arahnya dan menjadi bawahannya, tapi tidak tahu mengapa, ketika Lexie berlutut di depannya, demi Alvaro dan Zacky dia tidak hanya tidak terbiasa tapi juga sangat marah.


Victor tidak mengatakan apa-apa dan juga tidak menjelaskan, berbalik badan dan pergi keluar ruangan, dia tidak akan menjelaskannya, bahkan jika kedua pria itu berani memprovokasinya dan menyerangnya, Victor juga tidak menginginkan kedua nyawa pria itu.


Alvaro dan Zacky melihat Lexie yang menempatkan posisinya hingga seperti itu, mereka sangat marah, "Lexie! Bagaimana bisa kamu memohon pada orang itu? Dia pikir dia siapa, apa bisa dengan sesukannya menginginkan nyawa kami? Siapa yang hidup dan siapa yang mati itu masih belum ..."


"Dia adalah Raja Victor." Lexie dengan tidak bertenaga terduduk di tanah, kemudian mengatakan perkataan itu.


Lalu Alvaro dan Zacky pertama-tama terkejut, lalu keduanya sama-sama seperti orang yang hancur.


Raja Victor, jika itu adalah raja Victor, maka dia benar-benar dapat menginginkan nyawa mereka, dengan hanya menggerakkan jarinya saja.


Victor tidak menoleh ke belakang, berjalan lurus ke depan rumah, dia mendorong pintu, melangkahkan kaki keluar, tiba-tiba melihat pemandangan di pintu dan mengerutkan keningnya. Langkah kakinya kembali mundur, sudut bibirnya mencibir, "Pemilik pavilliun datang begitu cepat."


Victor mendengus, "Murid yang sesungguhnya? Hanya dirimu, layak menjadi guruku? Kamu masih tidak memiliki kualifikasi itu."


Karena sudah seperti itu, Victor masihlah Victor seperti itu.


"Siapa kamu sebenarnya?" Samuel sebagai pemilik pavilliun Heaven, bukanlah generasi yang santai, dalam satu kalimat, dia sudah mulai menebak identitas Victor, "Ketika Simon mengatakan kamu membunuh serigala darah di hutan, aku masih tidak percaya pada saat itu, orang yang bisa memiliki jenis seni bela diri seperti itu, bisa di hitung menggunakan jari, tapi tidak pernah ada yang mendengar nama Martin.


"Haha ..." Tiba-tiba Victor tertawa, sambil melangkah mundur dengan berkata pelan, "Kamu belum pernah mendengar nama Martin, tapi mengingat Reza bukan?"

__ADS_1


Setelah menyelesaikan kalimat ini, Victor berbalik dan kembali ke hadapan Lexie dan yang lainnya.


Beberapa orang itu juga melihat situasi di luar rumah, seketika tidak tahu apa yang harus di lakukan, meskipun Alvaro dan Zacky adalah jenius dalam pembuatan senjata, tapi keduanya sama sekali tidak memiliki seni bela diri, mengenai Lexie bahkan sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


"Bangun, aku akan membawamu keluar." Victor berkata pada Lexie.


Lexie tersadar, tapi malah menggelengkan kepala, menggigit bibir bawahnya tanpa ragu, "Tidak perlu menyusahkan Yang Mulia, aku akan tinggal dan mati bersama kakak seperguruan."


Bola mata Victor memicing, dia dengan baik hati kembali untuk menyelamatkan wanita ini, tapi Lexie malah tidak menghargainya, "Apa kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Di luar tidak hanya ada puluhan orang, tapi juga ada ratusan busur, kami tinggal di sini, pa bedanya dengan kamu mencari mati? Hanya demi beberapa orang yang baru kamu kenal, beberapa hari, apa itu layak?"


"Layak." Lexie tidak ragu untuk mengatakannya, pandangan matanya sangat tegas.


"Benar-benar tidak tertolong!" Victor sangat marah hingga dia ingin berbalik dan pergi, tapi baru berjalan beberapa langkah, dia malah menghentikan langkahnya, menoleh dan bertanya: "Aku tanya sekali lagi, pergi atau tidak?"


Lexie tidak menjawab, hanya dengan pelan menggelengkan kepalanya.


Pada saat itu cahaya api terpancar di wajah Lexie, membuat air mata di pipinya terlihat mengkilap, wajahnya sangat cantik, terutama saat jiwa terkumpul kembali di tubuhnya, membuatnya begitu nyata, begitu hidup, Lexie tidak tahu betapa cantiknya dia saat itu.


"Lexie, pergilah dengannya. Jika kami tidak dapat keluar hidup-hidup dari sini hari ini, maka kamu ingat ... Balas dendam untuk kami." Alvaro dan Zacky berdiri, menarik Lexie berdiri, kemudian mendorongnya ke arah Victor.


Langkah Lexie dengan tetatih di dorong ke arah Victor, Victor mengulurkan tangan dan meraihnya, ketika Lexie menoleh dia melihat Alvaro menggendong tubuh guru Damian kemudian berdiri berdampingan dengan Zacky.

__ADS_1


Sampai bertahun-tahun kemudian, Lexie masih mengingat adegan itu, Alvaro menggendong tubu guru Damian dengan lutut yang sedikit melengkung, kedua tangan Zacky yang gemetar mengeluarkan sebuah belati, seperti sebuah benih yang berakar dalam jiwa, yang tidak akan hancur untuk selamanya.


__ADS_2