
Kuda itu terbiasa berjalan maju perlahan, Lexie sudah terlalu lelah, dia hanya bisa meraih tali kekang dengan erat dan berbaring lemah di atas punggung kuda. Lexie tidak tahu berapa lama dia pergi, ketika matahari terbit, cahaya matahari yang hangat terpapar di kulitnya dan akhirnya Lexie tertidur lelap di atas kuda.
Lexie tidak tahu, bahwa ketika dia tertidur, kuda itu membawanya ke tepi sebuah sungai.
Pada saat itu ada sebuah kapal di tengah sungai itu, seorang pria sedang bermandikan cahaya matahari dan dengan elegan berdiri di sisi kapal. Pria itu menatap matahari di kejauhan dan tiba-tiba melihat seekor kuda. Kuda itu sedang meminum air dari tepi sungai, dan di atas kuda itu terbaring seorang wanita, ketika pria itu sedang bertanya-tanya, wanita itu menolehkan kepalanya tanpa sadar dan pria itu dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.
"Penjaga!" Pria itu begitu terkejut, ada kegelisahan dan juga kegembiraan yang samar-samar terdengar dari suaranya.
Beberapa orang bergegas keluar dari dalam kapal, di pimpin oleh seorang wanita yang berpenampilan sangat menawan, wanita itu datang ke belakang pria itu dan memberi hormat, "Tuan."
"Brenda, minta orang untuk menghentikan kapal di tepian." Suara pria itu sangat rendah.
Brenda terpaku untuk sesaat, berdiri kemudian mengikuti tatapan pria itu, dia juga melihat ada orang dan seekor kuda di tepi sungai, tapi Brenda tidak banyak bertanya dan segera meminta orang untuk menghentikan kapal di tepian.
Begitu sampai di tepi, pria itu dengan tidak sabar turun dati kapal, mungkin karena berjalan dengan terburu-buru, langkah kakinya tersandung. Jika bukan karena Brenda yang di belakangnya yang membantunya sepertinya pria itu akan jatuh ke dalam air. Brenda amat terkejut, dia telah mengikuti majikannya ini selama bertahun-tahun tapi dia belum pernah melihat majikannya ini bersikap seperti ini.
Ketika dia mencapai sisi sungai, pria itu mengulurkan tangan untuk menggendong wanita yang ada di atas kuda itu, seakan mengingat sesuatu gerakannya itu terhenti kemudian dengan dingin menoleh dan menginstruksikan pada Brenda, "Kamu pergilah lebih dulu, jangan muncul tanpa perintahku, oh iya, sekalian bersihkan jejak wanita ini, di sepanjang jalan, pastikan tidak ada orang yang mengejar kemari."
Brenda terkejut, ada kesedihan yang terlintas di matanya, dia memandang wanita yang ada di atas kuda itu, yang terlihat menyedihkan tapi parasnya itu sangat menawan, Brenda menggigit bibir bawahnya dan memberi hormat pada pria itu, "Aku undur diri."
Seelah brenda pergi, pria itu dengan hati-hati menggendong wanita itu turun dari atas kuda, hanya saja ketika pria itu pergi, dia tidak tahu bahwa sebenarnya Brenda bersembunyi di balik pohon besar berjarak sepuluh kaki jauhnya. Tindakan pria itu yang berhati-hati seperti itu bagai sedang memperlakukan harta berharga membuat Brenda bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Tuan, Brenda mengikutimu selama bertahun-tahun tapi masih tidak bisa di bandingkan dengan wanita ini?" Kuku Brenda tertancap dengan dalam di dagingnya, tapi Brenda hanya bisa menghela nafas dan berbalik untuk membersihkan jejak tapal kuda itu.
Malam datang dalam keheningan.
Air sungai memantulkan cahaya yang terpancar dari kapal itu, memantulkan cahaya bintang-bintang di langit, berkelap-kelip, ada kelip-kelip samar dari kejauhan, suara seruling terdengar begitu halus dengan sentuhan kesedihan. tampaknya seseorang yang memainkan seruling itu sedang dalam suasana hati yang buruk jadi itu juga membuat suara seruling itu terdengar begitu menyedihkan.
Lexie mengerutkan kening dan membuka matanya, menemukan bahwa dirinya sudah terbaring di kamar yang hangat, lantainya sedikit bergoyang, suara air mengalir datang di luar jendela, apa Lexie berada di atas kapal?
Ketika Lexie sedang bingung pintu itu terbuka, ada seorang pelayan yang membungkuk berjalan masuk ke dalam, mendapati bahwa Lexie sudah bangun, mata pelayan itu berbinar dan memberi hormat pada Lexie: "Baguslah jika nona sudah bangun, aku akan pergi melapor pada tuan. Mohon nona menunggu."
Lexie tidak keburu untuk bertanya pelayan itu sudah meletakkan mangkuk obat dan bergegas keluar, tidak lama suara langkah kaki kembali terdengar dan orang yang berjalan masuk saat itu begitu mengejutkan Lexie.
Dexter memegang seruling dan berjalan ke tepi ranjang, melambaikan tangannya ke arah pelayan di belakangnya. Pelayan itu segera membungkuk hormat dan pergi. Dexter membantu Lexie untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang, "Lexie, Kamu masih mengingatku, aku benar-benar sangat bahagia."
Bahagia? Lexie bahkan tidak melihat senyum di wajah Dexter, sama sekali tidak merasakan Dexter sedang bahagia saat ini. Hanya saja mengapa Dexter tidak senang, Lexie sama sekali tidak ingin tahu.
"Tuan Dexter terlalu segan, orang sepertimu ini tidak akan bisa di lupakan jika sudah pernah bertemu." Lexie bersandar ke ranjang tanpa mengubah raut wajahnya, menyingkirkan tangan Dexter yang masih berada di punggungnya.
Dexter tampak ragu-ragu, kemudian dengan marah berkata: "Jika kamu ingat, mengapa kamu tidak datang mencariku? Aku sudah berkata bahwa kamu bisa datang mencariku jika kamu dalam masalah."
Lexie tidak menjawab pertanyaannya dan hanya melihat ke lantai, tidak berani untuk mendongak.
__ADS_1
"Sudahlah, lagipula aku masih bisa bertemu denganmu ketika kamu berada di waktu yang paling sulit, ini mungkin adalah takdir. Jangan panggil aku tuan Dexter lagi, panggil aku kak Dexter saja. Jika kamu menolak aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa." Dexter tidak lagi melanjutkan masalah mengapa Lexie tidak datang mencarinya, ini merupakan rasa perhatian dan sikap lembutnya.
Setelah selesai berbicara, Dexter kemudian menoleh keatas meja dan mengambil mangkuk obat, menggunakan sendok untuk mengaduk obatnya dan meniupnya ke dekat bibirnya, sebelum menyerahkannya pada Lexie. Dexter menyuapi Lexie minum obat tapi sama sekali tidak menatap Lexie, hanya dengan datar berkata: "Karena kamu hamil maka kamu tidak seharusnya berlarian seperti ini."
Ada keterkejutan yang terlintas di mata Lexie tapi dalam sekejab langsung hilang, karena ada obat, sudah pasti tabib sudah memeriksanya dan menemukan bahwa Lexie hamil, itu sudah bisa di tebak.
"Aku sendiri saja." Lexie mengambil mangkuk obat itu, dan tidak membiarkan Dexter menyuapinya, hubungan mereka tidak sedekat itu dan juga Lexie bukan orang yang suka memainkan perasaan, Lexie tidak akan memberikan kesempatan itu.
Dexter menyerahkan mangkuk obat itu pada Lexie, tapi Dexter tidak pergi, masih duduk di tepi ranjang, "Anak itu... milik raja Victor?"
Gerakan Lexie minum obat terhenti, kemudian lanjut meminumnya hingga tandas, meletakkan mangkuk kosong itu kemudian Lexie menganggukkan kepalanya.
Wajah Dexter memucat seketika, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berkata: "Apa kamu ingin kembali ke sisinya?"
Lexie menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan sedih, "Jika aku ingin kembali, maka aku tidak akan berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri."
"Bisakah memberitahu apa alasannya? Pria seperti raja Victor itu banyak wanita yang menyukainya, karena kamu telah mengandung anaknya, jika Victor bersedia mempertahankan anak itu mungkin kamu akan memiliki kedudukan di kediamannya di kemudian hari?" Kata Dexter dengan suara yang sangat lembut, seperti seorang psikiater yang bisa selalu membantumu tanpa sadar mengatakan suara hatimu yang paling tulus padanya.
Lexie menarik sudut bibirnya dan tertawa sinis, "Kedudukan? Jika bukan pasangan satu-satunya untuk seumur hidup, maka aku lebih rela tidak menginginkan seorang pria dalam hidupku."
"Pasangan satu-satunya seumur hidup ..." Dexter membelalakkan matanya, menatap Lexie dengan tidak percaya, Dexter tampaknya tidak berpikir bahwa akan ada seorang wanita yang akan mengatakan hal seperti itu, seorang pria memiliki lebih dari 1 istri itu merupakan hal yang biasa, seorang wanita harus berbesar hati demi suaminya baru bisa di katakan sebagai istri yang berkualitas yang menjadi seorang wanita yang di cintai oleh suami dan mertuanya.
__ADS_1