Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Tidak Berencana Untuk Hidup


__ADS_3

Mata Zacky memerah, menatap Lexie dengan tegas, kemudian menyalakan api dan menyalakan kayu, api terpantul di wajahnya, membuat ekspresi wajahnya menjadi sedikit lebih kejam.


"Kita harus terus hidup! Guru akan mengerti, terlalu sulit bagi kita untuk melarikan diri membawa guru ..." Ketika Zacky berbicara tenggorokannya tercekat, menenangkan emosinya kemudian dia baru melanjutkan, "Kita akan membawa abu guru keluar."


Lexie tidak menyalahkan cara Zacky melakukannya, karna Lexie tahu hati Zacky pasti lebih sedih di banding dirinya, jadi Lexie hanya berlutut menatap peti kayu yang terbakar, kemudian memberi hormat 3 kali.


Peti mati itu terbakar, hanya dalam beberapa saat, bau daging yang terbakar tercium dari balik api, bau itu memenuhi hidung Lexie, membuat matanya letih dan sakit, bau terbakar seperti itu, bertahun-tahun kemudian masih muncul di dalam mimpinya, Lexie tidak bisa mengingat beberapa kali dia terbangun dengan terkejut oleh aroma yang menyengat itu.


Zacky berlutut di tanah, memberi hormat dengan meletakkan kepalanya di tanah, dia tidak mengangkat kepalanya sampai peti mati itu terbakar habis, hingga hanya abu putih yang tertinggal, Zacky batu bangkit kemudian mengambil toples, untuk memasukkan abu itu.


Gerakkannya sangat tegas dari awal hingga akhir, hanya saja ketika mengangkat abu itu, tubuhnya tanpa sadar terhuyung beberapa saat.


Setelah membereskan abu, zacky pergi ke kamar untuk mengemas beberapa benda, kemudian ketika dia keluar dia berkata kepada Lexie: "Ayo kita pergi."


"Pergi?" Lexie bingung, "Ke mana kita akan pergi? Apa akan mencari benda penting itu?"


Zacky menatap Lexie sekilas dengan pandangan mata dingin, "Kita tidak tahu benda apa itu, bagaimana mencarinya? Dan lagi, ketika guru meninggal dia bahkan tidak menyebutkan benda apa pun pada kami, itu berati dia tidak ingin jatuh ke tangan Samuel, jika begitu, bahkan jika aku mati, aku juga tidak akan menyerahkan benda itu."


"Hei ... Lalu bagaimana dengan kak Alvaro?" Lexie agak bingung, tiba-tiba memikirkan ketika Alvaro pergi ke arah Samuel, pada waktu itu, dia tampaknya melihat sekilas ke belakang, pandangan mata itu terdapat keengganan, tapi lebih ke arah pelepasan, jika di pikirkan sekarang, ekspresi Alvaro pada saat itu jelas-jelas adalah ekspresi mengantarkan kematian, Lexie berkata dengan gemetar: "Kak Alvaro tidak berniat kembali untuk hidup-hidup?"


Lexie terkejut, terkejut akan keputusan Alvaro, bahkan lebih terkejut dengan informasi yang saling di tukarkan oleh kedua pria itu pada saat itu, mereka hanya berpandangan sekilas, sudah bisa membuat pilihan seperti itu dan lagi mereka bekerja sama satu sama lain.

__ADS_1


Perasaan sedalam apa yang bisa membuat keputusan dengan begitu kompak seperti itu?


Jadi, Lexie tidak akan menyalahkan kekejaman Zacky, dia hanya sedih, sedih karena kedua pria ini membuat keputusan yang menyakitkan seperti ini.


Terhadap pemahaman Lexie, Zacky menepuk-nepuk pundak Lexie, "Jangan sedih, aku pikir hal yang paling ingin di lihat kak Alvaro adalah kita bisa melarikan diri dari sini, dengan begitu tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. Jika aku yang nenjadi sandera aku juga akan berpikir seperti itu, jadi Lexie kamu jangan sedih, bagi kami, selama kami bisa membalas dendam guru di kemudian hari, semua ini layak."


Lexie terisak, dan menyandarkan kepalanya di dadanya, air mata membasahi pakaian di depan dadanya, Lexie hanya menggigit bibir bawahnya dan mengangguk.


Zacky menghela nafas lega, membawa Lexie untuk keluar dari rumah, tahu bahwa sudah pasti ada orang yang mengikuti dalam kegelapan jadi Zacky tidak pergi ke arah lembah, tapi pergi ke kediaman Victor.


Lexie dengan patuh mengikuti di belakangnya, tidak berbicara, hanya melihat cakrawala di kejauhan, satu jam lagi langit sudah akan cerah.


"Datang sedikit lebih lambat." Victor berkata dengan dingin, jelas tidak senang.


Victor sudah mengira mereka akan datang? Lexie dengan cepat memulihkan ketenangannya, setelah bingung sesaat, dia adalah Victor, pria yang bisa dengan mudah membaca hati orang, dia bisa menebak bahwa mereka akan datang padanya di saat seperti ini, itu tampaknya bukan hal yang sulit baginya.


Zacky datang ke hadapannya menyerahkan kontrak jual diri yang sudah di siapkan ke tangan Victor, berlutut dengan satu kaki, dan betkata memohon: "Yang Mulia,mulai saat ini, aku Zacky, bersedia menjual diri sebagai budak, aku hanya memohon untuk hari ini Yang Mulia bisa membawaku dan adik seperguruanku ini keluar dengan selamat."


Pada saat itu, ujung jari Lexie bergerak, memiliki keinginan untuk meraih kontrak jual diri itu, dia sudah menjadi budak di tangan Victor, bagaimana dia bisa membiarkan Zacky juga jatuh ke tangan Victor yang kejam ini? Namun, Lexie tidak bergerak, karena dia tahu bahwa dia tidak bisa.


Tidak ada ekspresi tak terduga di wajah Victor, hanya mengambil kontrak jual diri itu, kemudian dengan nada tidak terkejut berkata: "Membawamu keluar dan juga menjadikanmu budak di istanaku, ini tiidak merugikan, hanya saja dia ... Dia adalah wanitaku, merupakan wanita untuk menyenangkanku, wanitaku sendiri, aku tidak perlu dirimu memintaku untuk menyelamatkannya."

__ADS_1


Wanita untuk menyenangkannya, kalimat ini diucapkan dengan sangat berat, bahkan di saat seperti ini, Victor tidak lupa mengingatkan Lexie akan identitasnya. Dia juga mengingatkan Zacky, identitas di sini.


Rasa penghinaan, rasa menyedihkan, rasa malu, emosi ini sudah banyak di terima oleh Lexie, mungkinbegitu banyak hingga dia mati rasa. Pada saat ini, Lexie tidak memiliki perasaan apapun, seperti boneka kayu yang hanya berdiri diam di sana dan tidak mengatakan apa-apa.


Hatinya malah menjadi tenang, karena Victor sudah mengiyakan, tampaknya nyawa mereka sudah terselamatkan.


Ketika langit baru cerah, tampaknya dari kejauhan ada api yang mengamuk, nyala api yang setinggi puluhan meter membuat langit yang baru saja fajar itu bersinar terang.


Pavilliun Heaven ini menjadi kacau karena kebakaran ini, seluruh jalan di kota ber struktur kayu, setelah beberapa saat kebakaran disaat yang bersamaan, api menyebar dengan sangat cepat, hanya dalam sekejam mata seluruh kot, tampaknya menjadi sebuah neraka dengan api penyucian.


Ada puluhan orang berbaju hitam keluar, tidak tahu dari mana mereka berasal, mereka mengelilingi Victor dan mengiringi Victor berjalan keluar.


Lexie berpikir orang -orang Victor datang untk menyelamatkannya, tapi Victor membawa mereka bukan ke arah keluar pavilliun Heaven, tapi pergi ke arah kediamm Samuel.


"Yang Mulia, apa kamu akan bertarung dengan Samuel?" Lexie bergegas mengikuti di sisinya, tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan keraguan di hatinya.


Victor tertawa dingin, suaranya sedikit meninggi, "Bertarung? Apa Samuel layak bertarung denganku?" Victor menggelengkan kepalanya, membawa orang berjalan langsung ke tempat Samuel, setelah beberapa saat dia sudah sampai di kediaman Samuel.


Ternyata di kediaman Samuel juga sudah terbakar dan juga itu bukan api biasa, tapi api ganas yang di nyalakan menggunakan minyak, sama sekali tidak bisa di padamkan hanya dengan beberapa barel air.


Samuel bergegas keluar dengan membawa orang, melihat Victor di depan kediamannya, dia terkejut sambil menunjuk ke arah Victor dan berteriak: "Martin! Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2