
Raut wajah Victor tidak berubah, hanya dengan datar melihat sekilas orang-orang yang membawa busur di belakang Samuel, pandangan matanya dingin, "Aku tanya padamu, apa kamu masih ingat Reza? Jika kamu ingat, seharusnya tahu untuk apa aku datang kemari."
"Kamu! Sebenarnya kamu ini siapanya Reza?" Pandangan mata Samuel ketika mendengar Victor mengungkit Reza sekilas tampak panik.
Victor menggelengkan kepalanya, "Itu bukan urusanmu, tapi aku ingat ada lukisan yang di tinggalkan Reza di sini, di mana kamu menyembunyikannya, kamu harus berdoa agar lukisan itu tidak terbakar oleh api, jika kamu tidak bisa menyerahkan lukisan ini, aku hanya akan menghancurkan pavilliun Heaven ini."
Demi sebuah lukisan, Victor bahkan tanpa belas kasihan akan menghancurkan pavilliun Heaven.
Lexie akhirnya tahu, tujuan Victor datang ke sini, dia telah merencanakannya begitu lama, bahkan secara pribadi berbaur di pavilliun Heaven ini hanya demi lukisan? Siapa sebenarnya Reza ini? Kedengarannya seperti seorang wanita, apa hubungan antara dia dan Victor?
Serangkaian keraguan menyesakkan jantung Lexie, tapi tidak bisa di lepaskan, raut wajahnya Perla menjadi pucat, ada 1 hal yang pasti, Reza itu setidaknya adalah orang yang penting bagi Victor.
"Ba, bagaimana kamu tahu Reza pernah datang ke pavilliun Heaven?" Samuel memandang Victor, tapi sayangnya tatapan itu bukanlah ancaman bagi Victor, dan jelas, Victor tidak harus menjawab pertanyaannya.
"Jangan omong kosong, cepat serahkan lukisan itu!" Victor sepertinya sudah kehilangan kesabaran.
Samuel.adalah pemilik pavilliun Heaven, mana mungkin begitu mudah untuk menyerah? Dia mengangkat tangannya, ratusan busur di belakangnya mulai mengencangkan tali busur, "Apa kamu pikir bisa menggertakku dengan puluhan orang saja?"
Victor menghela nafas, "Benar-benar tidak akan menyerah jika tidak mengalami kegagalan."
Ketika perkataan ini di ucapkan, ada sekelompok orang muncul, di belakang orang yang memegang busur itu, dan di tangan orang-orang itu juga memegang busur silang, di tangan mereka!
Samuel memandang busur silang itu dan dengan terkejut berkata: "Tidak mungkin! Busur silang itu di buat oleh pavilliun Heaven kami, sejauh ini belum di jual pada siapa pun, kamu tidak mungkin dapat memilikinya."
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin!" Victor mendengus tiba-tiba merangkul Lexie ke dalam pelukannya, "Ini harus berterima kasih pada murid pavilliun Heaven yang baik."
Lexie juga tidak menyangka, busur silang itu, akan di gunakan pada saat seperti ini sebenarnya Lexie sendiri juga sangat terkejut, dia membuat busur ini untuk Victor dalam kurang waktu yang tidak lama, tapi Victor sudah meminta orang untuk membuat begitu banyaknya, tampaknya pengrajin yang berada di bawah tangannya juga tidak biasa.
"Sekarang apa kamu ingin mempertaruhkan nyawa semua orang di pavilliun Heaven untuk sebuah lukisan?" Victor membuka mulutnya, pandangan matanya tajam seperti pisau, tidak tahu sejak kapan, aura pada dirinya menjadi lebih kuat.
Samuel tampaknya sedang bimbang, tapi dia tidak mau mengakui kekalahannya dengan mudah, dia melihat sekelilingnya, tampak sudah di rugikan, namun meski begitu wajahnya masih tidak memiliki maksud untuk menyerah.
"Aku sudah tidak punya kesabaran lagi." Victor menyelesaikan kalimatnya dan memberi isyarat, kemudian oang di belakangnya bergegas keluar dengan membawa pisau.
Samuel juga merespon dengan cepat, segera memerintahkan para pemanah untuk menyerang, sayangnya mereka yang memegang busur itu di belakangnya juga ada orang yang memegang busur silang, jadi seketika keadaan menjadi kacau, orang-orang Samuel jatuh satu demi satu, kekalahan sepertinya sudah tidak di ragukan lagi.
Saat pisau panjang pria berbaju hitam akan menyentuh tenggorokan Samuel, ada orang yang bergegas keluar dari rumah utama, yang memimpin adalah Kevin, yang di ikuti oleh tubuh atau delapan orang di belakangnya, di antaranya terdapat dua orang yang sedang menekan Alvaro yang sedang di tahan.
Kevin memegang lukisan di satu tangannya, tangan lainnya menarik Anita, sambil berjalan sambil berteriak, "Lepaskan ayahku, kalau tidak aku akan melempar lukisan ini ke dalam api!"
Di sampingnya memang terdapat api yang mengamuk, selama dia melemparkannya dengan kencang, maka lukisan itu akan jatuh ke dalam api dan akan di telan habis oleh api.
Kevin mengangkat lukisan itu, pandangan matanya tertuju pada Lexie yang sedang di peluk oleh Victor, ada kebencian di pandangan matanya, "Aku tidak menyangka membawamu masuk ke dalam pavilliun Heaven akan menyebabkan situasi seperti hari ini, jika aku tahu sedari awal ..."
Perkataan di belakang Kevin sudah tidak akan mengucapkannya, tapi siapapun bisa melihat penyesalan.
Lexie tidak menjelaskan dan tidak perlu repot-repot menjelaskan, Samuel membunuh guru Damian, ini adalah dendam yang mematikan, bahkan jika Kevin begitu baik, seumur hidupnya ini Lexie juga tidak akan memiliki kemungkinan menjadi temannya.
__ADS_1
Jadi, penjelasan sudah tidak perlu.
Victor memberi perintah untuk berhenti, jadi semua orang segera mundur di sekeliling, kaki Samuel terluka dalam kekacauan itu, dia menyeret kakinya yang terluka dan bergerak ke arah Kevin.
Kevin mengangkat gulungan lukisan itu dan mundur selangkah demi selangkah, ketika sudah akan hilang di depan mata semua orang, dia dengan kasar melemparkan lukisan itu ke depan, kemudian tidak tahu apa yang dia buka, sekelompok orang itu menghilang dari kerumunan.
Orang-orang Victor bergegas menyusul, tapi tidak menemukan jejak Samuel dan kelompoknya, di kediaman itu, ada orang yang memungut gambar yang jatuh ke tanah kemudian menyerahkannya pada Victor.
Victor memegang lukisan itu, ada ekspresi lembut di wajahnya yang belum pernah di lihat sebelumnya, dia tidak segera membuka lukisan itu, hanya membelai gulungan yang indah itu, ada tulisan hitam kecil di sudut gulungan lukisan itu.
Lexie hanya meliriknya sekilas, hanya sekilas melihat kata 'Victor' Lexie bingung apa gambar ini di buat oleh Victor? Hanya kemungkinan itu, Victor batu memastikan bahwa ini adalah lukisan yang dia inginkan hanya berdasarkan tulisan kecil itu.
Victor mendorong Lexie, membawa lukisan kemudian berbalik berjalan keluar di bawah perlindungan pria berbaju hitam itu, kali ini, arahnya adalah keluar dari pavilliun Heaven.
"Yang Mulia, kakak seperguruannku masih belum di temukan?" Lexie menarik lengan baju Victor dengan keras kepala.
Kesabaran Victor tampaknya sudah habis, "Ini adalah pavilliun Heaven, ada banyak jebakan yang dapat membunuh orang dimana-mana, orang-orangku sudah melakukan persiapan begitu lama, itu juga secara mengejutkan bisa mengendalikan kondisi saat ini, menurutmu berapa banyak waktu yang kita punya? Apa kamu berpikir kemampuan pavilliun Heaven selama ratusan tahun hanya ratusan busur itu saja? Sekarang kita masih bisa keluar, jika terlambat, maka kita tidak akan bisa selamat! Jika kamu masih mau tinggal di sini, maka aku tidak akan mempedulikanmu."
Setelah selesai berbicara Victor melepaskan tangan Lexie dan berjalan pergi.
Kekuatannya sedikit besar, Lexie terdorong mundur beberapa langkah, untungnya ada Zacky yang menahannya tepat waktu.
Zacky menoleh kebelakang melihat sekilas api besar yang masih menyala, dengan tercekat berkata pada Lexie: "Yang di katakan Yang Mulia benar! Sekarang bukan saatnya bagi kita untuk bersikap tidak rasional. Aku percaya kak Alvaro pasti akan hidup dan menunggu kita!
__ADS_1