
Antara percaya dan tidak itulah yang saat ini Elsa rasakan, jantungnya berdetak sangat kencang dan tubuhnya seketika menjadi kaku saat tau siapa pria yang ada dihadapannya ini.
"Kau.." pekik Elsa.
Tunggu... Ini kan kehidupan baru ku, dia pasti belum kenal siapa aku.
Dengan cepat Elsa kembali membetulkan ekspresi wajahnya, pria yang ada dihadapannya itu langsung tersenyum menatap wajah Elsa.
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Elsa.
"Ada... Bisakah kau memberikan waktu mu sebentar untuk ku?" tanya Daniel.
"Iya?"
...~*~...
Di salah satu cafe yang dekat dengan galeri milik Elsa, Daniel dan Elsa sedang menikmati secangkir kopi dengan ditemani pemandangan yang cukup hangat.
"Bisa anda ulangi," lirih Elsa.
"Aku... Yang sudah mengembalikan mu ke masa lalu," ucap Daniel menatap Elsa.
"Apa?"
"Liat mata ku Elsa..." tunjuk Daniel pada mata kanannya.
"Aku sudah mengorbankan satu mata ku, untuk mengembalikan waktu."
Deg
Antara percaya dan tidak itu lah yang saat ini Elsa rasakan, sebuah menutup mata yang ada pada Daniel memang membuatnya merasa ganjil, dia mengira itu hanya sebuah hiasan teryata... ada sebab lain kenapa matanya seperti itu.
"Apa alasan mu melakukan itu?" tanya Elsa.
"Karena Cinta..."
"Apa?"
"Karena kamu, aku berani melakukan ini."
Seperti mimpi, seketika ingatan akan dirinya bersama dengan Daniel kembali terlintas, ini sulit dia percaya kenapa pria yang sudah beberapa kali dia sakiti masih mau bertahan dengan dirinya yang keras kepala ini.
"Apa Kau sudah gila?" Tanya Elsa.
"Kaulah yang membuat aku gila Elsa... Apa kau tidak bisa memahami diriku? Betapa gilanya aku saat melihat mu ada di pusat kota waktu itu?" tanya Daniel.
"Apa?"
"Sekarang aku tanya pada mu, Apa rasa cinta mu masih sama pada Eren?"
Elsa langsung diam, apakah waktu disaat dia dieksekusi ada Daniel di sana? apakah Daniel saat itu ada di kota? padahal sudah jelas sekali bahwa setelah kejadian itu selesai, Elsa bertekad akan meninggalkan Daniel sendiri di dalam hutan.
"Jika masalah status atau pun, harta aku pun juga bisa memberikannya Elsa," ucap Daniel.
"Kau ini bicara apa?" tanya Elsa bingung.
"Saat ini hubungan Eren dengan wanita itu memang belum keliatan, tapi aku yakin bahwa sebentar lagi Eren pasti akan membuang mu."
Deg
"Apa?" pekik Elsa tak percaya.
"Elsa selama ini aku sudah menggembala keseluruh tempat, dan pergi kesana-kemari untuk mencari pendukung."
"Lalu..."
__ADS_1
Daniel terdiam sesaat menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia hembuskan.
"Aku bukan Daniel yang akan tinggal di hutan lagi Elsa, demi bisa membahagiakan mu, aku sampai rela mempertaruhkan nyawa ku untuk mu."
"Apa?"
"Elsa... Aku bukanlah seorang Pangeran yang bisa membuat mu jadi Putri Mahkota, tapi... aku bisa menjadikan mu permaisuri sebagai Ratu dari kerjaan Taran."
"Iya? APA!" pekik Elsa tak percaya.
Mulut Elsa terbuka lebar bahkan dia masih tidak percaya dengan apa yang Daniel katakan, kerajaan Taran, bukankah itu kerjaan yang hampir runtuh karena ekonomi di sana menurun drastis, namun akhir-akhir ini kerjaan Taran, mulai bangkit kembali karena ditemukannya tambang berlian disana.
"Sulit di percaya.." gumam Elsa.
...~*~...
Di saat malam menjelang, Sebuah kereta kuda terparkir dengan sempurna di halaman kediaman keluarga Pervis, sosok laki-laki berpakaian serba hitam turun dari kereta kuda itu.
"Selamat malam Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan disana.
Pria itu terdiam sesaat melirik ke atas bangunan dimana kediaman kelurga Pervis terlihat begitu megah dan mewah dengan beberapa cahaya yang menyinarinya.
"Saya Ingin bertemu dengan Nona Pervis," Pitanya.
"Nona Pervis?" tanya pelayan itu mengulang.
"Benar... Nona Pervis, Putri Elsa, aku ingin bertemu dengan dirinya."
"Baiklah mohon tunggu sebentar tuan."
Setelah lamanya menunggu, akhirnya dirinya diberi izinkan juga untuk masuk ke dalam, pria itu langsung duduk di salah stau sofa yang ada di sana, wajahnya yang masih tertutup topeng itu belum ada dia buka, hingga suara pintu terbuka mengalihkan penglihatannya.
"Kau!" pekik Elsa.
"Selamat malam," jawab Daniel tersenyum.
Elsa berjalan mendekati Daniel, dan Daniel dengan cepat langsung mencium punggung tangan Elsa, membuat Elsa langsung membesarkan matanya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Elsa.
"Apa lagi? Tentu saja sedang mencium punggung tangan mu."
Elsa langsung menarik punggung tangannya dari tangan Daniel.
"Ada urusan apa kau ke sini?" tanya Elsa.
"Hanya jalan-jalan."
"Berhentilah berbicara omong kosong."
"Hahaha, baiklah, Elsa ku dengar kau ingin pergi ke suatu tempat dengan laki-laki yang tidak aku kenal apa itu benar?"
"Apa?"
"Aku tidak menyangka bertahun-tahun kita berpisah, saat bertemu aku mendapatkan berita seperti ini."
Tangan Elsa terkepal kuat menatap wajah Daniel, sejak kapan Daniel tau bahwa dia akan jalan dengan Noah.
"Kau tau itu dari mana?"
"Kau penasaran?" tanya Daniel tersenyum.
Wajah Elsa langsung berbuah kesal, "Terserah, yang pasti aku sudah berbuat janji dengan Noah akan pergi bersama."
"Jadi namanya Noah? mau Ke mana kalian?"
__ADS_1
"Apa peduli mu? kenapa kau tidak liat dengan mata mu saja, mata mu kan bisa melihat masa depan."
Daniel langsung terkekeh melihat respon Elsa, "Boleh aku ikut?"
Mata Elsa kembali terbuka lebar, "Tidak... Kau tidak usah ikut, kau kan Raja, mana ada seorang raja bisa santai seperti dirimu."
Wajah Daniel langsung berbuah sedih, "Tapi... Aku tidak senang jika calon ratu ku berjalan dengan pria lain."
"Hah?"
"Begini saja aku akan perintahkan beberapa orang-orang ku untuk melindungi mu dari jauh."
"Kau sudah gila ya?" pekik Elsa.
"Hahaha bukankah kau sendiri yang tau sifat asli ku ini Elsa?"
Dan benar saja sejak pagi menjelang sebuah kereta kuda berlambang kelurga Winterknight telah tiba di halaman kediaman keluarga Pervis.
Noah turun dari kereta kuda itu, saat melihat sudah ada Elsa di sana bersama dengan pria yang tidak dia kenal.
"Selamat pagi Nona Pervis," sapa Noah.
"Selamat pagi juga Tuan Winterknight," balas Elsa.
"Jadi kau orangnya?"
"Maaf Anda siapa?" tanya Noah bingung.
Daniel langsung memberikan tangannya pada Noah bermaksud untuk berkenalan, tanpa menolak Noah langsung menerima uluran tangan Daniel.
"Perkenalkan Aku Daniel Courcus mantan pangeran kerjaan Oktavia."
"Apa?"
Bukan hanya Daniel yang terkejut bahkan Elsa pun sama terkejutnya, bisa-bisanya Daniel dengan wajah yang tenang itu mengungkapkan jati dirinya dengan santai.
"Tapi itu dulu..." lanjutnya.
"Daniel..." pekik Elsa mencubit punggung Daniel dengan kuat.
"Kenapa? yang aku ucapkan itu sungguhan tau."
Daniel langsung melepaskan genggamannya pada tangan Noah, wajah Noah masih terlihat bingung dengan apa yang sudah terjadi.
"Hey... aku titip dia pada mu ya," ucap Daniel pada Noah.
"Karena aku sangat sibuk jadi... aku sudah memerintahkan beberapa orang-orang ku untuk melindungi kalian dari jauh," ucap Daniel mengelus kepala Elsa.
Dengan wajah datar Elsa langsung menepis tangan Daniel dari kepalanya, melihat itu membuat Noah hanya bisa diam mematung.
"Menyebalkan, Tuan Winterknight ayo kita pergi," ajak Elsa.
"Hati-hati di jalan..." pekik Daniel.
Elsa hanya diam saat dirinya sudah menaiki kereta kuda, Noah menundukkan kepalanya kehadapan Daniel sebagai tanda hormat sebelum dirinya ikut naik ke dalam kereta kuda.
Kereta kuda pun kembali berjalan meninggalkan Daniel sendirian disana yang masih diam menatap ke arah kereta kuda.
"Semoga perjalanan kalian menyenangkan," gumam Daniel.
Buk
Wajah Daniel langsung berbuah datar saat sosok pria berbadan tinggi berdiri dibelakang tubuhnya.
"Selamat datang Yang Mulia," sapanya.
__ADS_1
"Lucas? Laporkan semua yang kau dapat selama ada di sini," ucap Daniel pada Lucas.
TBC