Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Lampu Yang Hampir Padam


__ADS_3

"Lexie, apa kamu berpikir bahwa aku benar-benar orang yang baik?" Victor berkata dengan dingin, menoleh sekilas ke belakang tanpa sadar, "Mereka bukan apa-apa bagiku, aku tidak punya alasan untuk membantu mereka!"


"Mereka bisa berguna untukmu, bisa menjadi orangmu!" Lexie buru-buru berteriak, kemudian bergegas memberi isyarat pada Alvaro dan Zacky.


Alvaro dan Zacky memang orang-orang yang sangat cerdas, ketika melihat Lexie yang seperti itu, keduanya saling memandang dan berkata: "Kami Setuju."


"Oh? Perkataan saja tidak bisa menjadi bukti ..." Sudut bibir Victor mengulas senyum penuh arti, untuk sesaat Lexie merasa bahwa tampak dia sudah masuk ke dalam jebakannya lagi, Raja Victor yang licik seperti rubah tidak akan melakukan hal yang membuat kerugian, bahkan pada saat seperti ini, dia masih dapat menggunakan kelebihannya secara menyeluruh.


"Kami bisa menulis bukti untukmu." Alvaro mengerutkan kening sambil berkata seperti itu.


Siapa tahu Victor malah menggelengkan kepalanya, "Bukti? Tidak perlu, jika mau maka harus menulis perjanjian jual diri."


"Surat perjanjian jual diri? Martin kamu jangan begitu menindas orang disaat seperti ini!" Alvaro dengan marah mengepalkan tinjunya erat-erat.


Victor mendengus sekilas, menggendong Lexie, dan ingin berjalan maju, "Menulisnya atau tidak itu terserah pada kalian, bawahanku juga tidak akan bertambah banyak atau berkurang banyak di karenakan kalian saja."


Melihat Martin seperti sedang tidak membuat lelucon, menggendong Lexie dan telah mencapai pintu masuk, Alvaro dan Zacky menggertakkan giginya kemudian menyusul, "Baik! Kami akan menulis surat perjanjian jual diri!"


Melihat kedua pria yang harus dengan terpaksa membuat martabatnya turun, dan menjual diri mereka sebagai budak, saat itu, Lexie merasa agak sedih, hatinya memiliki semacam kebencian pada Victor, kebencian ini menghapus semua kesan baiknya pada Victor selama beberapa hari ini.


Kemampuan Victor memang tidak mengecewakan Lexie, dia membawa kita bertiga ke kediaman terpencil, kediaman ini terhubung dengan kediaman tempat Victor tinggal, tapi tidak ada yang mau tinggal di sini, karena terletak di lembah yang gelap dan lembab.


Victor menempatkan Lexie di atas jerami di halaman, kemudian memerintahkan Alvaro dan Zacky untuk berhati-hati menjaga Lexie di kemudian dia pergi, sebelum pergi, dia hanya mengatakan akan membawa guru Damian kemari.

__ADS_1


Ini adalah malam tanpa bintang atau bulan, tidak ada lentera di kediaman terpencil ini, hanya bisa melihat garis wajah samar satu sama lain.


Alvaro mencari beberapa kayu kering untuk menyalakan api, percikan api kecil ini, terpancar di wajah pucat ketiganya.


Mengelilingi api, Zacky tampak khawatir menatap ke arah Lexie, "Lexie, tampaknya kamu dan Martin memiliki hubungan yang tidak dangkal, apa dia benar-benar memiliki kemampuan membawa guru keluar dari penjara air?"


"Ya, Lexie rencana yang kuta pikirkan saja tidak dapat menjamin bahwa kita akan berhasil, apa dia bisa? Dan lagi, aku merasa Martin ini bukan orang yang baik." Alvaro juga berkata melanjutkan.


Tentu saja dia bukan orang yang baik, orang yang berhati hitam, tidak berperasaan dan kejam itu, tidak pernah meninggalkan seseorang yang tidak berguna di sampingnya, tidak akan melakukan apapun, yang tidak bermanfaat baginya, tapi ...


"Dia seharusnya bisa melakukannya." Setidaknya sampai sejauh ini, Lexie menemukan bahwa tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh Victor.


Lexie hanya mengatakan kalimat seperti itu dan tidak lagi berbicara, sepertinya juga tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, Alvaro dan Zacky melihat bahwa Lexie sudah tidak ingin membicarakan masalah ini lagi, jadi mereka tidak bertanya lebih lanjut.


Suara 'krekk' terdengar datang dari arah pintu, rumah ini sudah lama tidak di tinggali dan pintunya sudah rusak, ketika di buka maka akan menimbulkan suara derit keras yang tidak enak di dengar.


Ketiga orang itu menoleh secara bersamaan, melihat Victor yang berjalan di depan, ada dua orang yang memakai penutup muka di belakangnya membawa seseorang dan berjalan masuk, meskipun berjarak cukup jauh, tapi dengan meminjam cahaya api, ketiganya masih dapat dengan sekilas siapa orang yang diangkat itu, itu adalah guru Damian.


Victor benar-benar melakukannya.


Kemampuan Victor sekali lagi membuat pemahaman baru, tampaknya Victor melihat keanehan dan ketetkejutan di mata Lexie, Victor berjalan ke hadoan Lexie kemudian tertawa meremehkan, "Kenapa, kamu tidak akan berpikir bahwa aku akan memasuki pavilliun Heaven sendirian bukan?"


"..." Benar juga, bagaimana mungkin raja Victor akan menghadapi bahaya sendirian, tapi Lexie juga tidak menyangka di dalam pavilliun Heaven ini juga terdapat orang-orang Victor, dan juga yang dapat menyelamatkan orang dari penjara air sudah pasti merupakan orang-orang dari Victor. Lexie semakin penasaran kenapa Victor muncul di pavilliun Heaven?

__ADS_1


Setelah kedua orang itu mengangkat guru Damian masuk ke dalam , mereka kemudian meletakkan guru Damian di sisi api, di bawah instruksi Victor, keduanya bergegas mundur dari rumah itu, dan juga dengan hati-hati menutup pintu ruangan.


Di bawah cahaya api, wajah guru Damian begitu pucat, dan juga ke dua matanya begitu menonjol, tubuh yang tadinya sudah kurus itu sekarang begitu mengerikan hanya meyisahkan kulit dan tulang, di tambah dua lubang besar di dadanya, dan juga jejak darah di sekujur tubuhnya, makin membuat pandangan itu, menjadi makin suram.


Guru Damian benar-benar sudah mencapai kondisi sekarat.


Alvaro dan Zacky berada di sisi guru Damian, untuk sesaat mereka berdua gemetar dan tidak bisa berbicara.


Mungkin seakan merasakan sesuatu, guru Damian dengan perlahan membuka matanya, melihat sekilas pada Alvaro dan Zacky, kemudian menganggukkan kepalanya, bibir kering itu oerlahan-lahan terbuka, "Bagus, pria tua ini masih bisa bertemu dengan murid yang baik sebelum pergi, aku bisa pergi dengan tenang ..."


"Guru! Omong kosong apa yang kamu katakan, kamu tidak akan mati! Kamu mengatakan bahwa kita akan mencoba membuat senjata yang kuat dan tidak terkalahkan, jika kamu pergi sekarang maka jasa itu hanya akan di miliki oleh aku, kak Alvaro dan juga Lexie!" Zacky betkata dengan tercekat, ketika berbicara tanpa sadar dia meneteskan air mata.


Di katakan bahwa air mata seorang pria tidak akan dengan mudah menetes mungkin, tapi itu ketika mereka tidak dalam ke adaan yang sedih.


Guru Damian tersenyum menggelengkan kepalanya tanpa terlihat, "Aku sudah tidak bisa bertahan, tidak bisa bertahan, sudah tidak bisa melihat hari itu ..."


Alvaro meninju tanah disebelahnya, buku-buku jarinya seketika memerah, tapi itu tidak mengimbangi warna merah di matanya, dia memikirkan begitu banyak kata, tapi pada akhirnya hanya ada satu kalimat, Guru, kamu tidak boleh mati!"


"Sepertinya aku sudah bebar-benar akan mati, kalian berdua bahkan memanggilku guru ..." Ketika guru Damian berbicara, wajahnya terdapat senyuman, tapi matanya penuh dengan air mata, dia terbatuk beberapa kali, berusaha menolehkan kepala, melihat Lexie yang berdiri di samping, dengan lembut melambaikan tangan padanya, "Kemari nak, kemari ..."


Lexie sudah menangis sejak awal, sudah bergegas ke hadapan guru Damian, "Guru, aku bersalah padamu! Ini karena diriku! Jika bukan karena aku, mereka sama sekali tidak punya alasan untuk membawamu pergi!"


Guru Damian menjilat bibirnya yang kering, setelah bernafas dengan berat beberapa kali, dia mengumpulkan kekuatannya dan berkata: "Tanpa kamu mereka akan selalu punya alasan, dan lagi ..."

__ADS_1


Tatapan matanya tiba-tiba berpindah ke arah perut Lexie, "Aku tidak bisa melihat cucu muridku yang belum lahir tapi harus pergi untuk memakan nasi di penjara bukan ..."


__ADS_2