
Lexie terpaku, langsung menatap mata Kevin, "aku ini bersiap membantuku atau bersiap menghentikanku?"
"Bersiap untuk menghentikanmu." Wajah Kevin menunjukkan raut kekhawatiran yang tidak bisa di tebak, dia menoleh melihat sekilas pada pintu, yang tampaknya tidak di jaga, dengan dingin berkata: "Aku sarankan kepadamu lebih baik tidak masuk, tetua Damian juga adalah salah satu yang aku hormati, karena dia berinisiatif membuat pilihan ini, dia pasti punya alasannya sendiri. Jika kamu pergi untuk melihatnya, itu hanya akan menambah kesedihan saja, sekarang, yang paling penting adalah mencari orang yang mencuri benar bukan"
Semakin kebun menghalangi, semakin menjelaskan bahwa situasi guru Damian tidak terlalu baik di dalam sana.
Lexie menggerakkan langkahnya, mengepalkan tinju dengan keras kepala ingin masuk ke dalam.
"Apa kamu benar-benar ingin masuk? Bahkan jika kamu melihatnya, memang kenapa? Dari pada mengganggu pikiranmu, lebih baik menghabiskan waktu untuk mencari pelaku. Dan lagi jika kamu masuk, juga belum tentu bisa menemuinya." Kevin mengulurkan tangan dan meraih lengan Lexie.
Lexie malah melepaskan diri dari pengekangannya, hanya mendengus sekilas, "Bahkan tidak memiliki keberanian untuk menemui guru, aku, Lexie tidak akan hidup dengan menyedihkan seperti itu!"
Setelah selesai berbicara, Lexie tidak mempedulikan halangan Kevin dan menerjang masuk.
Kevin menghela nafas, berbalik badan dan mengejarnya, "Baiklah, aku tahu aku tidak bisa menghentikanmu. Lebih baik aku yang membawamu masuk ke dalam, dibanding membiarkanmu membuat kekacauan."
Lexie menghentikan langkahnya, menatapnya dengan terkejut, kemudian mengangguk.
Ketika Alvaro dan Zacky tiba kebetulan mereka melihat adegan Lexie yang mengikuti Kevin masuk ke dalam, kedua pria itu dengan wajah pucat berlari dengan terburu-buru, dan mencoba mengejar Lexie.
Tapi mereka terlambat satu langkah, ketika mereka bergegas menuju ke gerbang, pintu gerbang itu sudah di tutup kembali.
__ADS_1
Ini adalah kedua kalinya Lexie memasuki pavilliun utama, terakhir datang itu ketika malam hari, jadi Lexie tidak melihat pemandangan di pavilliun utama ini, dan kali ini Lexie cemas, dan tidak punya waktu untuk melihat-lihat sekilas.
Mengikuti Kevin berjalan, melewati beberapa koridor akhirnya baru sampai di depan sebuah gunung palsu, Lexie bertanya-tanya, kemudian melihat Kevin memindahkan batu yang tampaknya tidak mencolok, kemudian gunung palsu itu mulai terpisah di kedua sisinya.
Ketika gunung batu itu terpisah, segera memunculkan lorong ke bawah.
Tapi yang mengejutkan Lexie adalah ada seseorang yang berdiri di ujung jalan itu, masih menggunakan pakaian sutra berwarna terang, masih merupakan wajah tampan itu, hanya sayangnya hanya Lexie yang tahu bahwa wajah tampan itu hanyalah topeng kulit semata, di bawah topeng kulit itu bahkan terdapat wajah yang jauh lebih baik di bandingkan topeng itu.
Victor berdiri di depan pintu masuk lorong, pandangannya menyapu sekilas pada Kevin, kemudian pada akhirnya jatuh ke wajah Lexie, tiba-tiba dia mencibir.
"Tuan Kevin, apa kamu ingin membawanya pergi ke penjara air?"
Victor hanya dengan datar menatap ke arahnya saja, tapi Lexie sudah tahu pikirannya saat ini, pandangan matanya itu jelas mengejeknya, mencibirnya karena ketika dia menemui masalah malah pergi mencari Kevin.
"Muka? Bukankah tuan Kevin sedang menyulitkanku, guru Samuel memberiku tanggung jawab untuk menjaga penjara air, bukan hanya karena percaya padaku, tapi juga sedang mengujiku, lagi pula aku juga adalah murid baru, dan juga memiliki kemungkinan menjadi tersangka pencuri, jika aku menjaga penjara air dengan baik, maka itu untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, jika membiarkan kalian masuk, takutnya aku akan sulit untuk tidak terlibat."
Ketika Victor berbicara dia menaiki tangga selangkah demi selangkah, perkataannya di ucapkan dengan sangat berat, tetapi langkah kakinya terlihat sangat ringan.
Tapi Lexie malah kaget penjara air ini malah di serahkan untuk di jaga oleh Victor?
Setelah Victor selesai berbicara, Kevin kesulitan, dengan ragu-ragu sekilas mengeluarkan buku dari balik lengannya dan menyerahkannya pada Victor, "Aku tahu ini menyulitkanmu, tapi aku juga tidak akan membuatmu merasa rugi, buku ini adalah pengalaman pembuatan senjata paling penting di pavilliun Heaven, setiap pemilik dan tetua akan menulis semuanya di dalam buku ini, buku ini hanya boleh di baca oleh pemilik pavilliun dan juga kepala pavilliun, aku tidak bisa memberikanmu buku ini, tapi aku bisa meminjamkan buku ini padamu selama 3 hari, seberapa banyak yang dapat kamu serap dalam 3 hari, itu bukanlah sesuatu yang bisa kuputuskan."
__ADS_1
Semua pengalaman dari para pemilik dan tetua dari pavilliun Heaven selama ratusan tahun, buku ini benar-benar adalah harta bagi pavilliun Heaven, benda seperti ini, sudah bukan benda yang bisa di ukur dengan harga lagi.
Lexie tampak terkejut dan memandang ke arah Kevin, benda seperti itu, ternyata dia berani mengambil resiko meminjamkannya? Hanya demi membiarkan Lexie memasuki penjara air dan menemui guru Damian?
"Haha." Victor mendongak dan tertawa, padangan matanya menjadi semakin dingin, tapi dia tidak segera mengulurkan tangan untuk meraih buku itu, sebaliknya, ketika dia melihat Lexie, memiliki makna yang begitu dalam, dia berjalan ke hadapan Lexie tersenyum dengan licik, "Aku benar-benar tak menyangka, hanya dalam beberapa hari, kamu bisa membuat tuan Kevin betkotban seperti ini demi dirimu, menurutmu, aku harus mengatakan bahwa pesonamu terlalu besar atau harus mengatakan bahwa kamu tidak menghormati aturan sebagai wanita?"
"..." Lexie menggigit bibir bawahnya, dia paham tempramen Victor, memikirkan itu, hatinya tiba-tiba memiliki rasa takut.
Tapi, Kevin tampaknya tidak menyukai sikap Victor terhadap Lexie, nada suaranya menjadi lebih keras: "Saudara Martin, Lexie adalah seorang gadis yang belum menikah, kamu berbicara dengan menggunakan nada seperti ini, bukankah itu terlalu keterlaluan?"
Victor memandangnya sekilas dengan dingin, tidak berbicara, hanya mendengus sekilas, mengambil buku itu dari tangannya, kemudian melewati kedua orang itu lalu pergi ke luar.
Victor mengambil buku, Kevin segera memanggil Lexie, untuk pergi ke penjara air, "Ayo cepat masuk, harus bergegas tidak boleh mengulur waktu."
Lexie mengangguk dan mengikuti, tapi baru saja berjalan beberapa langkah, Lexie tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang, hanya melihat Victor berdiri di pintu masuk gunung palsu, meskipun itu hanya sosok punggungnya, tapi Lexie tahu pada saat ini Victor tidak sabar untuk membunuhnya.
Namun, Lexie tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan begitu banyak hal.
Di dalam penjara air sangat gelap, hanya ada lampu minyak seukuran ibu jari yang menyinari, bahkan udaranya terasa lengket, air di sini tidak pernah di ganti selama bertahun-tahun, jadi setiap sudutnya penuh dengan aroma yang membuat mual.
Lexie mual, muntah beberapa kali, tapi tidak memuntahkan sesuatu, wajahnya pucat, berjalan maju dengan kaku, selangkah demi selangkah, dia hampir jatuh ke tanah melihat dengan jelas, ternyata benda yang membuatnya hampir jatuh adalah tulang manusia, tulang-tulang itu sepertinya baru tidak lama terpotong, masih ada jejak daging dan kulit di tulang itu, di atas daging itu terdapat belatung kecil berwarna putih.
__ADS_1
Mual yang baru saja di tekannya sekali lagi muncul, Lexie membungkuk kemudian muntah untuk beberapa saat sebelum meredah, dan langkah-langkahnya kemudian semakin cepat kembali, dengan cemas bergumam: "Guru, guru..."