Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Aku Tidak Takut Sakit


__ADS_3

Lexie terkejut dan hampir menjerit, dia bergegas mencengkram ujung pakaiannya, dan akhirnya Lexie menahannya.


"Morgan, anak ini tidak sopan pada guru Horald, bawa dia dan cambuk 10 kali." Victor memerintah dengan datar pada Morgan, Lexie mendongak menatap Victor, kemudian kembali menunduk.


"Yang Mulia, Lucas masih kecil dan tidak mengerti, bisakah kamu tidak menghukumnya, dia adalah adikku, aku ..." Pandangan mata Lexie sudah penuh kabut air mata, menarik lengan Victor, jika Lexie tidak salah menebak, meskipun biksu tua ini tampak seenaknya pada Victor, tapi dia sepertinya sangat penting bagi Victor.


Victor mengangkat tangannya, menggosokkan jarinya di bibir Lexie, "Ada hadiah dan ada hukuman, bahkan seorang anak kecil pun tidak boleh menyalahi aturan." Victor menambahkan: "Mengenai apa kamu bisa menjadi bencana atau tidak, selama aku rela maka kamu adalah bencana, jika tidak, apa kamu memiliki kualifikasi untuk menjadi pembawa bencana?"


Di mata Victor, Lexie hanyalah wanita yang seperti binatang peliharaannya, jika Lexie patuh, maka Victor bisa mengangkatnya, jika tidak patuh juga Victor bisa membiarkannya jatuh ke lumpur.


Ini adalah kepercayaan diri yang sangat kuat, sangat percaya diri bahwa dia bisa mengendalikan segalanya!


Lexie tahu bahwa ini adalah Victor yang sebenarnya, tampaknya lembut padanya tapi hanyalah rasa kasihnya pada seekor hewan peliharaannya saja, jadi Victor tidak keberatan Lexie memainkan beberapa trik kecil di hadapannya, karena Victor memiliki kepercayaan diri! Benar-benar percaya pada Lexie? Atau membiarkan Lexie bertindak seenaknya itu hanyalah palsu? Apa itu penting?


Mungkin ini tidak penting bagi victor, benar atau palsu, selama masih berada dalam genggamannya, memangnya itu ada artinya?


Di luar pintu suara cambuk yang menyentuh daging terdengar.


Victor berdiri dan berjalan ke depan guru Horald, "Sudah, kamu juga sudah cukup melihatnya, temani aku bermain catur."


"Baiklah, lagi pula kamu juga tidak pernah mendengarkan saranku." Guru Horald menghela nafas, menoleh dan melirik kembali ke arah Lexie, mengerutkan kening kemudian pergi.


Ketika mereka pergi, Lexie dengan asal memakai pakaiannya dan bergegas keluar, dia melihat Morgan yang sedang memegang cambuk dan melepaskannya di punggung Lucas.

__ADS_1


Lexie bergegas menerjangnya dan menahan tangan Morgan, "Sudah."


"Maaf nona Lexie, aku harus menjalankan perintah Yang Mulia." Dia mendorong Lexie dengan kesulitan, kemudian mencambuk Lucas.


Lexie mengabaikan cambuknya dan bergegas memeluk Lucas, menoleh dan berkata: "Kalau begitu aku yang akan menggantikannya, aku adalah kakaknya, dia tidak mengerti, aku yang salah."


"Nona Lexie, kamu jangan menyulitkanku. Lagi pula kamu sudah bersama Yang Mulia selama beberapa hari, kamu juga harusnya tahu jika ada jejak cambuk di tubuhmu, Lucas? Mungkin akan menerima hukuman yang lebih berat. Lagi pula hanya cambukan, aku tahu menahan kekuatanku, lagi pula, anak ini juga akan menjadi adik seperguruanku di kemudian hari."


Morgan benar-benar sangat menyukai Lucas, anak ini yang memiliki darah istimewa dan kemauan yang kuat seperti Lucas, Paling cocok untuk belajar seni bela diri dari saudara seperguruannya.


Lexie tahu apa yang di katakan Morgan benar, jadi dia ragu-ragu sejenak melepaskan tangannya yang memeluk Lucas, menyentuh kepalanya dan berkata: "Tahan sebentar oke?


Lucas mengangguk dan berkata: "Aku tidak takut sakit."


Kalimat yang sederhana, entah bagaimana bisa membuat hati Lexie begitu sakit, dia hanyalah seorang anak yang berusia 6 atau 7 tahun, yang harus di tanggung ya begitu banyak.


Setelah 10 kali cambukan, Lucas meras kesakitan hingga pingsan.


Lexie menyeka air matanya, tiba-tiba dia tidak ingin menangis, dia menggertakan giginya dan menggendong Lucas masuk ke kamar, kaki Morgan bergerak dan ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya dia hanya menghela nafas, dan tidak mengatakan apa-apa.


Karena hari ini adalah hari perayaan di kuil, dan juga turun hujan lebat, jalan di gunung menjadi basah dan licin, di hari hujan para pendatang akan tinggal, jadi banyak peziarah yang tinggal di kuilbudha. Untungnya di bawah perlindungan kerajaan, kuil ini begitu spektakuler dalam skala maupun tempatnya, bahkan bisa di bandingkan dengan rumah keluarga besar biasanya.


Langit berangsur-angsur gelap, aroma makanan tercium dari arah dapur kuil.

__ADS_1


Ruangan ini adalah ruangan yang paling dekat dengan kuil belakang kuil Budha, dan juga merupakan ruangan terbersih, dengan hubungan Victor dan guru Horald, ruangan ini secara alami di berikan kepada Victor dan yang lainnya.


Lexie mendapatkan keuntungan dari Victor, dia juga tinggal di ruangan ini, tapi karena ini kuil, jadi tidak mungkin ada orang yang akan mengantar makanan ke sini seperti di kediaman Victor.


Setelah Victor pergi dengan guru Horald dia tidak kembali, luka di punggung Lucas tidak ringan, setelah mengolesi obat Lucas kemudian tertidur lelap.


Tubuh adalah hartanya yang paling berharga, Lexie sangat rasional, sangat amat rasional hingga dia tidak akan pernah merugikan tubuhnya sendiri untuk bersedih, jika tidak ada orang lain di dunia ini yang peduli padamu, jadi bukankah kamu harus lebih mencintai dirimu sendiri, benar bukan?


Puncak gunung sedikit dingin, Lexie memakai sebuah jubah tebal kemudian keluar, bersiap untuk pergi ke ruang makan untuk mencari sesuatu untuk di makan, ketika dia keluar dari halaman kecil, pergi ke ruang makan, baru berjalan sebentar dia sudah mendengar suara pria dan wanita yang sedang tertawa.


Lexie menghentikan langkahnya, mendongak, tiba-tiba melihat wajah yang familiar. Di kejauhan, di bawah pohon plum, seorang wanita berbaju merah tertawa sambil menutup mulutnya, parasnya sangat cantik jadi sulit di lupakan oleh Lexie.


Kenapa Sullie bisa ada di sini? Apa kuil Budha ini juga mengundangnya untuk bernyanyi? Jika ada Sullie bukankah Jeremy juga akan ada di sini?


Tidak ingin berhubungan dengan orang-orang ini, Lexie kemudian berbelok dengan tegas kemudian melewati jalan kecil lain yang jauh, tidak peduli apakah jalan itu bisa atau tidak menuju ruang makan, selama dia bisa menghindari orang-orang itu ini sudah cukup.


Setelah berjalan beberapa saat, langit benar-benar sudah gelap, tidak ada lentera di sekitar jalan itu, untungnya, ada sedikit cahaya bintang malam ini, sehingga Lexie masih bisa melihat jalan di bawah kakinya.


Perutnya sangat lapar, karena tertunda beberapa saat takutnya sudah tidak ada makanan di ruang makan, di kuil Budha ini juga tidak lebih baik dari tempat yang familiar baginya, tidak mudah menemukan sesuatu untuk di makan, tidak berdaya, Lexie harus bisa menyentuh perutnya.sendiri sambil menghela nafas.


Mungkin Tuhan berbelas kasihan padanya, ketika Lexie bersiap untuk berbalik kebetulan dia tersandung, ketika melihat lebih jelas, benda yang menghalangi itu ternyata ubi jalar, memperhatikan baik-baik ternyata tempat ini adalah tempat menanam ubi jalar, sepertinya ini adalah bidang bagi kuil untuk menanam kebutuhannya.


Memikirkan kehiduoan masa lalu di jalan di musim dingin, membeli beberapa ubi jalar panggang dari penjaja di jalan, kemudian membawanya ke tempat kerja dalam waktu kurang 2 menit, teman-temanya sudah menghabiskan makanan lezat yang alami itu.

__ADS_1


Memikirkan hal itu, Lexie sedikit tergiur, menggulung lengan bajunya dan mengambil beberapa ubi, kemudian menyalakan api di sisi batu besar, ketika apinya sudah cukup dia kemudian menguburkan ubi itu dalam tumpukan arang api.


Menunggu ubi itu selesai di masak, Lexie mendongak, memandangi bintang-bintang di langit, dia tanpa sadar menyanyikan lagu favoritnya sejak dulu, "Jika salju dingin membekukan segalanya, aku akan menunggu di tempat yang sama, menunggumu muncul ..."


__ADS_2