Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
16 (Pertemuan)


__ADS_3

Lucas serta kedua kakak beradik itu masih terus berjalan dengan mata mereka yang tidak pernah lepas melirik seisi hutan, suara dedauan yang kering menjadi nyanyian tersendiri dalam menemani langkah mereka.


"LUCAS!"


Lucas serta kedua anak itu langsung menoleh ke sumber suara saat telinga mereka ada mendengar sebuah suara yang tidak asing.


"Nona?"


Elsa dengan cepat berlari menghampiri Lucas serta kedua anak itu, wajah Elsa nampak senang saat tau bahwa Lucas serta kedua kakak beradik itu baik-baik saja.


"Kalian selamat?"


"Iya Nona, ini semua karena Tuan Lucas yang telah menyelamatkan kami," ucap salah satu anak itu.


"Benarkah? Syukurlah jika kalian baik-baik saja," balas Elsa mengelus kepala anak itu.


Dawis berjalan mendekati Lucas serta yang lainnya, mata Lucas dan Dawis bertemu membuat semua pasang mata langsung melirik ke arah Dawis.


"Pa... Pangeran."


Suara Lucas begitu paru saat melihat sorot mata Dawis yang begitu tajam, kedua anak itu nampak takut saat melihat wajah Dawis yang terlihat menyeramkan.


"Pangeran? Apa kalian saling kenal?" tanya Elsa yang pura-pura tidak tau.


Susah sekali bagi Elsa untuk menetralkan wajahnya agar terlihat lebih natural, walau dia sudah berusaha sebaik mungkin, namun tetap saja keanehan yang ditujukan Elsa begitu jelas terlihat dimata Dawis.


Lucas langsung menoleh ke arah Elsa, "Nona perkenalkan, dia adalah tuan saja, dan juga Pangeran pertama Oktvia," ucap Lucas memperkenalkan Dawis.


"Apa! Pangeran?" pekik kedua anak itu tak percaya.


Mata Dawis langsung menoleh ke arah dua anak itu, sakin sibuknya memperhatikan Elsa dirinya jadi tidak sadar bahwa ada orang lain yang ada didekat mereka.


"Lucas! Siapa mereka?" tanya Dawis menatap kedua anak itu.


Mata Lucas langsung menoleh ke arah dua kakak beradik itu, "Dia merupakan korban dari perbudakan, Pangeran."


"Apa perbudakan?" tanya Dawis mengulang.

__ADS_1


Lucas langsung menganggukkan kepalanya, Dawis berjalan mendekati kedua anak itu.


"Siapa namanya?" tanya Dawis.


"Dia belum memiliki nama Tuan, hanya nomor yang ada ditangan mereka saja, sebagai tanda pengenal mereka," sahut Lucas.


Mata Dawis langsung menoleh ke arah dua tangan anak itu, terdapat sebuah nomor disana serta banyak sekali bekas luka cambukan, yang ada pada tubuh kedua anak itu.


"Kalian bersaudara?" tanya Dawis.


Anak yang paling tua itu nampak ragu untuk menjawab ucapan dari Dawis, "Kam... Kami... Hanya saling kenal," jawab anak itu yang membuat anak yang muda itu menoleh.


"Saling kenal?" tanya Dawis mengulang.


Kepala anak itu langsung mengangguk, " Benar kami hanya saling kenal, kami bertemu 2 tahun yang lalu, saat kedua orang tua kami, membuang kami ke pasar budak," jawabnya yang membuat Elsa seketika membesarkan kedua matanya tak percaya.


"Tunggu! Kau bilang orang tua kalian?" tanya Elsa mengulang.


"Benar orang tua kami, kami telah dijual ke pasar budak, karena kelurga kami kekurangan pendapatan untuk menghidupi kami," ucapnya yang membuat semua orang terdiam.


"Mengerikan, usia berapa kalian saat itu?" tanya Elsa.


"7 Tahun," gumam Dawis, "Apa kau ingat nama asli mu?" tanya Dawis.


Sorot mata anak itu seketika berubah tajam, "Saya ingat, namun saya tidak mau memakai nama itu lagi," ucapnya dengan wajah yang begitu datar.


"Kenapa?"


"Karena nama itu pembawa sial bagi hidup saya," ucapnya dengan tegas.


Elsa nampak terkejut saat melihat perubahan ekspresi dari wajah anak itu, seketika sorot mata anak itu menjadi tajam, sangat berbeda dengan yang pertama Elsa liat.


Dawis tersenyum dihadapan anak itu, tangannya terulur menyentuh kepala anak itu," Mau nama itu pembawa sial atau bukan, yang pasti orang tua kalian masih mau menganggap kalian anak, walaupun kalian dibuang ke pasar budak," ucapan Dawis.


"Aku yakin didalam lubuk hati kedua orang tua kalian, tidak ada pemikiran untuk membuang kalian, apa lagi dengan alasan ekonomi."


"Dibanding membuang, orang tua kalian pasti terpaksa membuang kalian," tambah Dawis, wajah anak masih mengeras mendengar ucapan Dawis.

__ADS_1


"Untuk semetara kau akan ku beri nama Noah yang artinya bisa bekerja sama ingat nama ini ku berikan bukan untuk dipakai selamanya, aku berharap kedepannya kau mau memakai nama pemberian orang tua mu," ucap Dawis menatap wajah anak itu.


"Sedangkan untuk anak ini akan aku beri nama Bima yang artinya berani dan perkasa, aku berharap jika kedepannya kau tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang tinggi."


Anak yang diberi nama Bima itu nampak terharu saat Dawis memberikan dirinya arti nama yang sesungguhnya, sebuah ari mata keluar dari pelupuk matanya, dia sangat senang bisa mendapatkan sebuah nama yang luar biasa.


"Terima kasih Tuan," jawabnya dengan senang.


"Semoga kalian bisa tumbuh menjadi anak yang berguna," ucap Dawis tersenyum.


Elsa ikut senang saat melihat Dawis mengelus kepala Bima, suasana saat itu begitu hangat dengan banyak cerita yang disampaikan oleh Lucas, serigala yang tadi telah dibunuh oleh Lucas menjadi santapan siang untuk mereka.


"Banyak hal terjadi baru-baru ini, bahkan kinerja kekaisaran pun menurun."


"Apa yang menyebabkan kinerja kekaisaran menurun?" tanya Elsa.


"Kita mulai saja saat kejadian pertama ini," Dawis menjelaskan dengan menulis sebuah angka diatas tanah.


"Putri Kandung Duke Prvis meninggal, yang menyebabkan banyak sekali kehebohan, para kelurga bangsawan berlomba-lomba ingin menjodohkan putri mereka kepada Eren, bahkan tidak sedikit dari calon putri yang berasal dari negara tetangga."


Elsa terdiam mendengar penjelasan dari Dawis, "Jadi itu alasannya kenapa, Kiana belum dinobatkan sebagai putri Mahkota?" gumam Elsa.


"Ku dengar Nona Kiana itu bukan putri kandung Duke Prvis, mungkin karena itu para metri banyak yang tidak setuju bahwa Nona Kiana dinobatkan sebagai putri Mahkota," ucap Dawis menjelaskan.


Elsa langsung terdiam, dirinya hampir lupa dengan sebuah fakta yang baru saja dia ingat, dirinya seketika langsung teringat akan terjadinya masa lalunya yang menceritakan mengapa kenapa Kiana bisa menjadi Putri Mahkota.


"Jika alasannya karena dia berasal dari kalangan bawah, lantas bagaimana jika dia ditemukan dalam keadaan mengandung?" tanya Elsa.


"Maksud anda?"


"Ini hanya pemikiran ku saja, bagaimana jadinya jika Nona Kiana berbuat nekat dengan membuat dirinya hamil anak putra mahkota, apa pemilihan putri mahkota itu masih berjalan?"


"Kenapa pemikiran anda seperti itu Nona?" tanya Lucas heran.


Elsa langsung diam, dia bingung ingin menjelaskan bagaimana sifat asli dari kakak tirinya itu,"Ini hanya pemikiran ku saja, ka Kiana itu orang yang sangat terobsesi akan tahta, bahkan dia rela melakukan apa saja demi bisa berada di posisi itu, contoh saja diri ku ini dia bahkan rela menyerahkan nyawa ku pada pembunuh bayaran."


Dawis dan Lucas langsung terdiam mendengar ucapan dari Elsa, "Nona apa kau punya pemikiran, bahwa kakak tiri anda, akan melakukan hal bodoh itu?" tanya Dawis.

__ADS_1


TBC


__ADS_2