Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
18 (Lain Sisi)


__ADS_3

Hari sudah semakin terik, Elsa terdiam melihat kedua kakak beradik itu yang sedang tertidur dengan nyenyak, melihat itu membuat Elsa seketika menjadi ngantuk, sudah beberapa kali kepalanya menghantam pundak Dawis, dan sudah banyak sekali Elsa membetulkan posisi duduknya agar dirinya tidak mengenai tubuh Dawis, hingga akhirnya Dawis dengan wajah datar menaruh kepala Elsa ke pundaknya.


Mendapatkan perilaku itu membuat Elsa menjadi lebih nyaman dalam beristirahat, matanya langsung terpejam dengan posisi kepalanya bersandar pada pundak Dawis.


"Tuan di simpang tiga nanti jalur kita berbeda, saya hanya bisa mengantar kalian sampai sana saja," ucap Kurir itu pada Lucas.


Mata Lucas langsung menoleh kebelakang, tanpa diberitahu Dawis pun sudah tau apa yang ingin Lucas sampaikan.


"Tidak apa, antar saja kami sampai sana," ucap Dawis, yang langsung disetujui oleh kurir itu.


Tanah yang lembab serta cuaca yang begitu terik membuat tenaga Dawis sedikit terkuras, apa lagi saat ini mereka belum ada makan siang.


"Kita sudah sampai."


"Terima kasih Tuan, atas tumpangannya," ucap Lucas yang baru turun dari gerobak.


"Tidak masalah Tuan, semoga hari anda selalu dalam perlindungan Tuhan, kalo begitu saya pergi dulu, sampai ketemu nanti."


"Sampai Jumpa," balas Lucas.


Melihat gerobak itu yang mulai menjauh, Lucas kembali berjalan mendatangi Dawis di sana, wajah Dawis terlihat serius menatap sebuah rumah yang begitu besar dari rumah yang ada disana.


"Ayo kita per_"


"Agh!"


Semua mata langsung tertuju pada Noah yang tiba-tiba saja merasa sakit di bagian kepala, Elsa dengan cepat langsung mendatangi Noah bermaksud untuk memenangkannya.


"Noah apa kau baik-baik saja?" tanya Elsa penuh khawatir.


"Sakit! Kepala ku sangat sakit!" pekik Noah menyentuh kepalanya.


"Hey... Ada apa dengan dirimu?" tanya Dawis.


"Tidak tau, rasanya... Aku dipaksa..."


"Dipaksa?" tanya Elsa penasaran.


"Agh! Kenapa rasanya begitu sakit, aku... Seperti dilarang untuk ketempat itu," ucap Noah menatap rumah besar itu.


"Apa maksud mu?" tanya Dawis bingung.


Noah tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, yang pasti rasa sakit yang dia rasakan saat ini begitu terasa, apa lagi jika matanya terus menatap rumah itu, maka rasa sakit pada dirinya semakin meningkat.


"Agh... Aku tidak kuat!" pekik Noah yang tiba-tiba saja pergi dari sana.


"Noah!" pekik Elsa saat melihat Noah yang sudah pergi.

__ADS_1


"Biar Saya saja yang kejar, silahkan anda pergi ke rumah itu," ucap Lucas.


"Baiklah Aku serahkan dia pada mu Lucas," ucap Dawis yang langsung pergi meninggalkan Lucas.


Elsa masih terdiam ditempat dengan Bima yang terus Menggenggam kuat tangannya, "Nona apa kakak akan baik-baik saja?" tanya Bima, Elsa hanya diam tanpa bisa menjawab.


"Kenapa kalian masih diam? Ayo cepat pergi, dia pasti aman bersama Lucas," ucap Dawis pada Elsa dan Bima.


Tanpa mau membatah Elsa dan Bima langsung berjalan mengikuti Dawis dari belakang, jalan yang begitu terjang serta cuaca yang begitu panas membuat Bima serta Elsa menjadi sedikit lelah.


"Penjagaannya ketat sekali," gumam Elsa saat melihat begitu banyak prajurit yang berjaga di kediaman kelurga Elbert.


"Bukankah itu sudah jelas, mereka kan baru saja selesai dari peperangan," jawab Dawis.


Mata Elsa langsung melirik ke arah Dawis, "Apa kita akan baik-baik saja pergi ke sana?" tanya Elsa.


"Apa kau khawatir?" tanya Dawis balik.


Dawis langsung tersenyum menatap wajah Elsa,"Tenang saja, kita pasti aman di sana aku jamin itu," Tambah Dawis yang kembali berjalan ke arah rumah itu.


"Nona apa kau takut?" tanya Bima menatap wajah Elsa.


Elsa langsung tersenyum ke arah Bima, "Jujur aku memang takut, tapi sekarang sudah tidak karena didekat kita sudah ada Pangeran, yang akan melindungi kita," ucap Elsa tersenyum.


...~*~...


"Maaf ada keperluan apa anda datang ke sini?" tanya salah satu penjaga di sana.


Dawis langsung tersenyum ke arah penjaga itu, "Tolong sampaikan pada Tuan Count bahwa Dawis datang untuk menemuinya," ucap Dawis pada kedua penjaga itu.


"Apa?"


Kedua pelayan itu saling lirik satu sama lain, wajah mereka nampak bingung dengan perkataan yang Dawis ucapkan.


"Katakan saja seperti itu, aku yakin Tuan Count akan paham dengan maksud ku," ucap Dawis lagi.


Melihat wajah Dawis yang nampak serius, membuat kedua pria itu langsung menuruti apa mau Dawis.


"Baiklah tunggu sebentar, saya akan pergi menemui Tuan Count," ucap salah satu prajurit di sana.


Dawis langsung menganggukkan kepalanya, tak lama prajurit itu pergi sosok Elsa yang sedang bergandengan tangan dengan Bima datang ke dekat Dawis.


"Bagaimana?" tanya Elsa.


"Mereka masih menyampaikan pesan, tunggu saja sebentar lagi," jawab Dawis.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya prajurit yang tadi menyampaikan pesan, datang menemui Dawis yang masih berdiri didepan gerbang.

__ADS_1


"Maaf sudah membuat anda menunggu Tuan, silahkan masuk Tuan Count sudah menunggu anda," ucapnya penuh hormat.


Wajah Elsa dan Bima nampak bingung dengan sikap dari prajurit itu, begitu juga dengan salah satu prajurit di sana, Dawis langsung tersenyum saat melihat sikap dari prajurit itu.


"Terima kasih, ayo kita masuk," ajak Dawis pada Elsa dan Bima.


Masih dengan tatapan bingung Elsa dan Bima berjalan mengikuti Dawis dari belakang, didalam rumah sudah banyak pelayan maupun prajurit yang menyambut mereka, hingga sebuah segerombolan orang datang menghampiri mereka.


"Aku tidak menyangka, bahwa anda akan datang secara langsung," ucap Ran menatap Dawis secara tajam.


"Bukankah itu bagus, jadi anda tidak perlu repot-repot mencari saya sebagai buronan," jawab Dawis tersenyum.


Elsa dan Bima terdiam dibelakang Dawis, suara mereka begitu mencekam hingga membuat suasana ruangan menjadi sedikit panas.


"Sekarang apa lagi tujuan mu ke sini? Pangeran!!" tanya Ran.


Dawis langsung tersenyum, "Ada banyak ingin aku sampaikan pada anda, pertama Anak anda yang anda anggap mati sebenarnya belum mati."


"Apa!" pekik Ran tak percaya.


Dawis kembali tersenyum melihat ekspresi dari wajah Ran, "Dan yang kedua, aku butuh bantuan dirimu."


"Bantuan ku?" tanya Ran mengulang.


"Iya aku butuh bantuan mu, untuk melenyapkan Ratu," ucap Dawis dengan tatapan yang begitu tajam.


...~*~...


Berbeda dengan Dawis serta lainnya, Lucas yang saat ini dekat dengan aliran sungai, menatap bingung wajah Noah yang sudah kembali tenang.


"Kau sudah baikan?" tanya Lucas.


Noah langsung menganggukkan kepalanya, dirinya berjongkok di depan aliran sungai dimana banyak sekali batu-batu besar di sana.


"Kenapa dirimu bisa seperti ini? Bukankah tadi kau baik-baik saja?" tanya Lucas.


"Aku juga tidak tau rasanya seluruh badanku merasa sangat panas saat melihat rumah itu."


"Panas?"


Noah langsung menganggukkan kepalanya," di kepala ku seperti ada sebuah ingatan yang memaksa ku untuk mengingatnya, tapi aku tidak bisa mengingat itu."


"Aku sungguh tersiksa, yang ku lihat hanya hitam dan merah, rasanya aku begitu tersiksa," ucap Noah dengan matanya yang terbuka lebar.


Lucas hanya terdiam, tangannya terulur menyentuh kelapa anak itu,"Baiklah sudah cukup jangan dipaksa lagi, kita akan berdiam disini, menunggu Pangeran datang menjemput kita," Ucap Lucas.


Noah hanya terdiam dengan pikiran yang masih campur aduk, "Maafkan saya Tuan, Saya telah menghambat pekerjaan kalian," lirihnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2