Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Bantu Aku Menyampaikan


__ADS_3

Malam itu turun hujan lebat, hujan menyapu atap, jatuh seperti air terjun, jatuh ke tanah, membuat bunga-bunga yang mekar hancur berantakan.


Hujan dan kabut membuat malam yang gelap itu bertambah lebih tidak realistis.


Mungkin karena terlalu lelah dan terlalu sakit, jadi Lexie setengah sadar membuka matanya dan melihat sumber cahaya di luar jendela, tapi sayangnya yang masuk ke matanya hanyalah kebingungan semata.


Dia memiliki anak, tapi anak itu sudah menghilang ketika dia sendiri tidak menyadari keberadaannya.


Tidak tahu sudah sejak kapan dia menangis begitu menyedihkan, tapi, dia hanya sendirian di kamar kayu bakar ini, selain hujan deras di luar pintu, seberapa keras Lexie menangis, malah tertutupi oleh suara hujan yang deras itu.


Malam terlalu panjang baginya.


Victor! Victor!


Dalam keadaan setengah sadar, dia hanya meneriakkan nama itu berulang-ulang, ayah dari anaknya, pembunuh yang membunuh anaknya!


Ada semacam kebencian, yang jika sudah mencapai sumsum tulang maka itu menjadi mutlak!


Hujan terus, terus mengguyur hingga pagi hari berikutnya.


Suami bibi Julia yang datang untuk melihat Lexie, memberikan dua resep obat untuk di ambil bawahan bibi Julia, meskipun dia tidak pandai dalam keterampilan medis, tapi semua sapi, kuda dan sejenisnya di rumah ini, semuanya diobati olehnya, jadi dia mengerti beberapa.


Bibi Julia sudah menceritakan segalanya padanya, dia juga adalah orang yang lama di istana, ketika menghadapi hal sebesar itu, dia juga takut rahasia besar ini akan terbongkar, jadi dia bergegas mengambil kayu yang ada kemudian membuat Lexie pingsan.


Ketika Lexie sudah tersadar, itu sudah 3 hari kemudian, Lexie membuka matanya, sinar matahari di luar jendela begitu menusuk mata, pakaian di tubuhnya itu sudah amat sangat kotor, ada noda obat di bagian dadanya, seharusnya ini bekas obat yang tercecer, ketika dia berikan obat.

__ADS_1


Lexie menyeka kotoran yang tersisa di wajahnya, bangkit berdiri berjalan ke dekat jendela, ingin melihat apakah ada orang di luar, tapi di luar ruangan kayu bakar itu hanya ada halaman kosong, bahkan tidak ada sosok seorang pun.


Karena hujan lebat dalam beberapa hari terakhir, tanaman berharga di kediaman Victor ini juga hancur, jadi para bawahan yang ada di kediaman Victor ini, sangat sibuk akhir-akhir ini, demi memperbaiki tanaman berharga yang rusak itu, mereka juga secara khusus mengundang cukup banyak tukang kebun dari luar.


Lexie bersandar di tepi jendela dan tertidur untuk sementara waktu, akhirnya mendengar langkah kaki ketika matahari sudah akan terbenam, dia buru-buru bangkit dan melihat ke luar jendela, benar saja, dia melihat beberapa tukang kebun masuk, sepertinya ingin memperbaiki tanaman yang ada di sini.


"Kakak, kakak." Lexie berdeham, berteriak pada beberapa tukang kebun bunga di luar jendela, tukang kebun yang berjarak dekat dengannya baru berusia awal 20-an, tukang kebun itu menghampirinya ketika mendengar suara.


"Hei, di sini ada orang?" Tukang kebun itu terkejut, dengan sedikit ragu berjalan mendekat.


"Kakak, bisakah kamu menolongku?" Lexie tahu orang ini tidak mungkin akan membantunya, tapi setidaknya bagi Lexie, ini merupakan seutas garis harapan bukan? Orang setidaknya hidup dengan memiliki sedikit harapan.


Tukang kebun itu ragu-ragu sejenak, melihat Lexie yang begitu menyedihkan di ruang kayu bakar, "Kamu adalah pelayan yang di hukum bukan, kamu telah berbuatlah, aku tidak berani menolongmu, lebih baik kamu tidak membuang-buang energimu, dan juga jangan berbicara denganku, jika di lihat orang lain maka aku juga akan ikut sial."


Tukang kebun masih menggelengkan kepalanya, kemudian dengan cepat berjalan pergi menjauh.


Air mata Lexie jatuh pada saat tukang kebun itu berbalik badan, dia tidak menyalahkan tukang kebun itu, dalam masyarakat ini, hubungan antara orang-orang sudah sangat acuh tak acuh, demi orang asing, siapa yang mau membuat masalah untuk dirinya sendiri?


Ini adalah sifat manusia, Lexie mengerti akan kebenaran ini, tapi keputusasaan di hatinya makin menyebar tanpa bisa di cegah.


Lexie bersandar di dinding dengan tak berdaya, kemudian terduduk di lantai, kembali runtuh dan menangis, dia terlalu lemah, sangat lemah hingga siapapun bisa menindasnya dengan semena-mena!


"Nona kecil, kamu ingin mengatakan sesuatu pada siapa? Cepat katakan padaku, pak tua ini akan membantumu." Tiba-tiba ada seorang pria tua di luar jendela, pria tua itu juga seorang tukang kebun, berjalan paling akhir di antara semua orang, adegan tadi dia sudah melihatnya.


Lexie mendongak, tercengang sesaat, kemudian dia segera merangkak naik, "Terima kasih, terima kasih banyak."

__ADS_1


"Hei, jangan ucapkan terima kasih, ada banyak peraturan seperti di keluarga besar ini, menjadi pelayan di sini sangat sulit, memikirkan anaka gadisku, saat itu juga terbunuh hidup-hidup di karenakan membuat kesalahan di dalam sebuah keluarga besar, jika membantumu membawakan perkataan bisa menyelamatkanmu maka aku akan melakukannya! Kamu juga sudah begitu kesulitan?" Pria tua itu menghela nafas, sepertinya memikirkan kesedihannya, wajahnya terdapat raut sedih.


Lexie mengangguk, "Hanya satu kalimat saja, tolong bantu aku mengatakannya pada penjaga di depan bernama Hadi, tolong bantu aku untuk bertanya padanya, apa benda yang di inginkan Lexie sudah di kumpulkan, jika sudah maka sudah bisa memulai membuatnya."


Orang tua itu mendengarkan dengan seksama lalu mengangguk, "Baik, nanti aku akan menyampaikan kata-katamu ketika aku keluar. Baiklah, pria tua ini pergi dulu, nanti jika ditemukan oleh orang makan akan gawat."


Tukang kebun itu dengan cepat menyusul tukang kebun di depannya, beberapa orang meninggalkan halaman setelah sibuk untuk beberapa saat.


Lexie terus berjaga di jendela, menyaksikan matahari terbenam di ujung langit, kemudian akhirnya seluruh dunia tertutupi oleh malam yang gelap.


Angi, berhembus masuk melalui celah-celah di jendela, hawa dingin membuat jiwa Lexie terbangun, dia berpikir, dia harus berdiri di puncak dunia, kemudian akan membalas penghinaan hari ini, sepuluh kali, tidak seratus kali lipatnya!


Setelah hari gelap, sebuah kereta kuda perlahan memasuki gerbang kediaman Victor.


Kereta kuda yang begitu mewah, tidak banyak di kota Phoenix ini, karena hanya ada sedikit orang yang berani begitu sombong, dan Raja Victor adalah salah satunya.


Pelayan keluarga meletakkan bangku kayu di sisi gerbong kereta, pria di dalam gerbong kereta membuka tirai dan melangkah menginjak bangku kayu kemudian turun dari kereta kuda.


"Yang Mulia, kamu sudah lelah selama di perjalanan, air panas sudah di persiapkan, setelah mandi kamu bisa makan malam." Hadi sebagai pelayan di sisi Victor, di kediaman Victor ini dia juga memiliki nama sebagai manajer kecil.


"Ya." Victor menjawab sekilas, setelah melepaskan jubah dan memberikannya pada Hadi, Victor kemudian masuk ke dalam, "Beberapa hari terakhir mengikuti Kaisar pergi ke Mausoleum untuk menyembah leluhur, memang sepertinya sedikit lelah, nanti nyalakan beberapabdupa yang berasal dari wilayah barat."


"Baik Yang Mulia." Dupa itu merupakan benda yang sangat mahal, merupakan yang terbaik dari Cendana, memiliki efek menenangkan saraf, tidak semua keluarga besar mampu menggunakannya.


Hadi menjawab sekilas kemudian berpikir, lalu mengejar Victor, "Oh iya, Yang Mulia, nona Lexie berkata bahwa dia sudah bisa mulai membuat barang-barang kecilnya."

__ADS_1


__ADS_2